"Lo serius? Orang tua Kak Ken dateng ke rumah lo mau ngapain? Silaturrahmi atau gimana?" Tanya Yuni kaget begitu gue cerita omongan Bunda gue semalam, jangankan Yuni, gue sendiri sampai bingung sama tujuan orang tuanya Kak Ken dateng, gue udah nanya juga sama Bunda tujuannya apa ya Bunda gue nggak tahu, bilangnya cuma mau dateng, anehkan, gue jadi curiga sebenernya Bunda gue bukannya nggak tahu tujuan orang tua Kak Ken dateng itu untuk apa cuma pura-pura nggak tahu aja biar gue nggak banyak nanya dan nggak rusuh sendiri, karena gue sadar diri, kalau gue sampai tahu alasannya apa, gue udah heboh duluan.
"Gue nggak tahu dan katanya Bunda gue juga nggak tahu, gue pribadi juga nggak mau memperpanjang nanya, udah cukup gue diomelin semalam soalnya." Ini adalah pemikiran gue, gue udah cukuo di omelin karena masalah Bang Riza di awal jadi kalaupun gue penasaran sama alasan orang tua Kak Ken dateng, tetap aja nggak bakalan gue lanjutin obrolannya, tar kalau gue salah ngomong, omelan Bunda bakalan lebih panjang lagi, udah malam juga jadi gue mutusin untuk menyimpan semua rasa penasaran gue berakhir dengan tidur dengan penuh pemikiran, curiga dan nebak sendiri, kebiasaan buruk gue banget sih memang kalau yang beginian.
"Kenapa gue nggak yakin kalau Bunda lo beneran nggak tahu? Tapi apapun itu nggak terlalu penting toh mau lo tahu atau enggak alasannya orang tua calon suami lo juga bakalan tetap dateng, nah pertanyaan lainnya sekarang lo itu diomelin duluan sama Bunda lo kenapa? Masalah apalagi yang lo perbuat kali ini? Buruan cerita mumpung kelas kosongkan? Dosennya kaya beneran nggak dateng, apa masalahnya?" Tanya Yuni yang sepemikiran sama gue mengenai Bunda tapi kalau mengenai alasan gue diomelin itu apa, kayanya Yuni bakalan bereaksi lebih parah dari gue, Yuni bakalan lebih heboh dari gue setelah gue cerita sekarang, ini kebiasaan ni anak.
"Kemarin pas lo nganterin pulang ternyata ada Kak Ken sama Riri di rumah, sebenernya salah gue juga sih karena termakan omongan lo untuk jujur masalah Kak Ken, nah gue dengan nggak pikir panjangnya ngomong ke Bunda kalau Kak Ken titip salam, otomatis Bunda kaget dong dan nanya gue sama Kak Ken ketemu dimana? Bunda udah mikir aneh-aneh sampai ngiranya kita berdua janjian." Jelas gue awal-awal, Yuni mengangguk pelan dan masih fokus mendengarkan omongan gue kaya sekarang.
"Terus Bang Riza nanya gitu Kak Ken itu siapa?" Sambung Yuni yang gue iyakan, itu pertanyaan wajar karena udah gue bahas lebih dulu sama Bunda mengenai Kak Ken yang nitip salam, kalau Bang Riza nggak nanya itu siapa nah itu baru aneh namanya.
"Awalnya gue sempat ngelak dan minta sama Bunda supaya nggak cerita dulu, biar gue langsung yang cerita tapi ya namanya Bang Riza kalau gue ngelak dan nyari alasan doang ya pasti bakalan ketahuan langsung, mau nggak mau gue udah nggak bisa ngulur waktu, gue harus cerita semalam juga, di tagih penjelasan di depan rumah semalam." Ini juga kenyataan, gue yang berusaha nyari alasan aja ketahuan sama Bang Riza, niat hati mau mancing dikit aja biar Bang Riza nggak kaget banget pas gue cerita masalah Kak Kendra nanti tapi nyatanya malah rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
"Jadi sekarang Bang Riza udah tahu dong masalah perjodohan lo? Pertunangan lo juga? Reaksinya gimana? Pasti kecewa bangetkan?" Tanya Yuni yang terdengar seperti nanya dan malah jawab sendiri pertanyaannya barusan, gue udah menggelengkan kepala memperhatikan kelakuan Yuni sekarang, gue benerkan? Reaksi Yuni memang bakalan lebih heboh ketimbang reaksi gue semalam? Mungkin karena ini juga kita berdua bisa sahabatan, kelakuan sama soalnya, ngaur mulu.
"Ya seperti tebakan lo, Bang Riza kecewa dan seakan nggak percaya dengan apa yang di dengarnya semalam, Bang Riza menyalahkan gue kenapa gue malah bertunangan dengan laki-laki lain padahal gue udah tahu dari awal perasaannya Bang Riza gimana? Tebakan lo bener semua Yun, reaksi Bang Riza sama persis, kebih kacau mungkin." Jelas gue pasrah, semua yang Yuni omongin terasa semakin jelas begitu gue melihat dengan mata kepala gue langsung gimana sikapnya Bang Riz semalam, kecewa, terluka dan keliatan sedih banget, gue melihat semua itu tanpa bisa berbuat banyak, gue nggak bisa melakukan apapun.
"Pas Bang Riza nyalahin lo, lo jawab apa? Apa lo jelasin kalau lo sama Kak Ken didasari oleh perjodohan, itu bukan keinginan lo sepenuhnya, apa lo ngomong kaya gitu sama Bang Riza? Siapa tahu Bang Riza bisa ngerti dan kekecewaannya seidkit berkurang." Gue diam menanggapi pertanyaan Yuni sekarang, gue nggak ngerti harus ngasih jawaban gimana, gue rasa gue udah ngomong dengan sangat jelas kalau pertunangan gue itu karena dijodohkan tapi memberikan alasan perjodohan sebagai penghilang kekecewaannya Bang Riza, itu juga nggak guna sama sekali.
"Gue ngomong kok ke Bang Riza kalau alasan gue bertunangan itu karena perjodohan tapi reaksi Bang Riza yang nggak seperti pemikiran lo barusan, bukannya rasa kecewanya berkurang tapi Bang Riza malah nanya kalau memang karena perjodohan kenapa gue nggak ngebatalin pertunangannya dan nerima perasaan Bang Riza? Apa itu wajar menurut lo? Gue nggak mungkin ngebatalin perjodohan gue gitu ajakan Yun? Lagian gue juga nggak mau." Mau perjodohan atau bukan, membatalkan pertunangan bukan pekara gampang, ada banyak hal yang harus gue korbankan, nggak cuma waktu dan biaya tapi juga perasaan, perasaan orang tua gue sama Kak Ken, perasaan gue sendiri juga.
"Gue nggak nyangka kalau Bang Riza bakalan meminta hal nggak masuk akal kaya gitu Ay! Mungkin Bang Riza beneran sayang dan suka sama lo makanya dia bisa melakukan apapun." Itu juga mungkin, ucapan Yuni nggak sepenuhnya salah, semakin besar perasaan Bang Riza ke gue, sebesar itu pula rasa kecewa yang harus di tanggungnya, cuma gue bisa apa? Gue hanya bisa menolak dan mengucapkan permintaan maaf, gue nggak bisa mengabulkan permintaan Bang Riza, gue nggak bisa ngelakuin hal itu.
Alasan perjodohan terlalu sederhana untuk gue jadikan alasan ke Bang Riza, gue sendiri harusnya menjelaskan hal ini ke Bang Riza memang lebih awal tapi walaupun begitu, nggak akan banyak yang berubah, kenapa? Karena dasarnya bukan cuma perjodohan yang mengikat hubungan gue sama Kak Kendra tapi apa perasaan juga, gue merasakan banyak hal setelah tahu kalau Kak Kendra orangnya, gue nggak bisa memikirkan laki-laki lain, apa gue salah?
"Jadi lo mau gimana sekarang? Bang Riza pasti bakalan ngebahas masalah ini lagi sama lo nantikan Ay? Lo juga nggak akan bisa terus menghindar, lebih-lebih orang tua Kak Ken mau dateng ke rumah, setidaknya masalah lo sama Bang Riza kudu lo selesaikan sesegera mungkin, biar nggak makin ribet tar." Yang ini gue juga paham, gue mencoba yang terbaik tapi kalau Bang Riza tetap nggak bisa terima, gue juga nggak tahu harus berbuat apa, itu perasaan Bang Riza dan gue nggak bisa mengubah perasaan Bang Riza sesuai dengan apa yang gue mau.
"Seharusnya nggak akan ada masalah kalau Bang Riza bisa ngerti tapi maksain juga nggak bisakan? Gue nggak punya hak untuk mengatur perasaan orang lain termasuk perasaan Bang Riza." Gue mau berpikiran sederhana sekarang, nggak mau membebani hidup gue sendiri berlebihan.
"Kalau Bang Riza tetap nggak bisa terima gimana Ay? Lo bakalan ngelakuin apa?" Tanya Yuni lagi.
"Tapi kalau memang Bang Riza tetap nggak bisa ngerti dan terima keputusan gue, gue juga nggak bisa melakukan apapun, sama halnya perasaan Bang Riza yang nggak bisa gue atur, Bang Riza juga nggak bisa ngatur perasaan gue, itu hak gue pribadi mau milih siapa." Ini adalah pemikiran gue sekarang, mengenai perasaan nggak ada yang bisa dipaksakan, baik perasaan gue ataupun Bang Riza itu sama, kita berdua hanya ingin memiliki seseorang yang bener-benar kita berdua inginkan bukan orang lain inginkan.