"Maaf malah jadi ngerepotin Abang lagi." Cicit gue begitu Bang Riza balik mengantarkan gue pulang, awalnya gue berpikir kalau gue akan mendapatkan respon yang baik karena udah berusaha buka suara lebih dulu tapi nyatanya Bang Riza malah nggak memberikan respon apapun, Bang Riza hanya berjalan beriringan dengan gue dalam keadaan masih tetap diam, kacau ini mah.
"Bang! Aya minta maaf kalau memang Aya mengecewakan Abang tapi selama ini Aya nggak pernah bermaksud un_"
"Kita bicarain lain kali, Abang nggak mau ngomongin apapun sekarang, Abang takut malah akan menyakiti kamu dengan ucapan Abang sendiri nanti, lebih baik kita istirahat dulu, sekarang udah malam, kamu masuk ke rumah, Abang tungguin disini." Potong Bang Riza untuk ucapan gue.
Karena memang melihat ucapan Bang Riza yang sangat serius, gue juga nggak mau memperpanjang apapun dan beralih membuka pintu pagar rumah, pamit ke Bang Riza dan mengucapkan terima kasih sekali lagi karena Bang Riza udah bersedia mengantarkan gue pulang sekarang, sebenernya antara iya sam enggaknya gue dengan ucapan terakhir Bang Riza tadi, kita bicarain lain kali itu apa maksudnya? Memang yang tadi masalahnya belum kelarkah? Kan gue udah ngomong jujur? Apalagi masalahnya yang bakalan Bang Riza omongin nanti?
"Kamu dari mana aja Ay?" Tanya Bunda gue yang ternyata memang nungguin gue masuk kayanya.
"Dari rumah Bang Riza, tadi niat hati mau nganterin Riri pulang tapi apa daya setelahnya Aya sendiri yang harus dianterin pulang, Bunda sendiri kenapa belum tidur?" Jawab gue sekaligus nanya sama Bunda gue balik, kenapa Bunda belum istirahat udah jam segini? Padahal biasanya kalau udah selesai makan malam, Bunda udah jarang keliatan dibawah, biasanya langsung istirahat setelah isya.
"Gimana Bunda mau istirahat kalau belum ngeliat kamu masuk ke rumah?" Tanya Bunda yang gue balas dengan senyuman, gue mengerti maksud ucapannya Bunda barusan.
"Nah sekarang Aya kan udah dirumah, udah Bunda istirahat sana, Aya mau beberes dulu." Gue berniat langsung naik ke atas sebelum tatapan Bunda gue sekarang membuat penglihatan gue terganggu, gue menghembuskan nafas panjang dan berbalik menatap Bunda gue lagi, kali ini Bunda mau nanya apa sebenernya? Kalau Bunda udah melayangkan tatapan langkanya yang kaya gini, itu artinya Bunda ingin membicarakan sesuatu sama gue, sekarang.
"Mau mau nanya apa sebenernya sama Aya sekarang? Yaudah tanya, Aya dengerin." Ucap gue balik berdiri dihadapan Bunda gue, melihat gue paham dengan maksud tatapannya, kali ini malah Bunda gue yang menghembuskan nafas dalam sebelum benar-benar melayangkan tatapan fokusnya ke gue, siap nanya kayanya.
"Kamu belum cerita sama Riza mengenai perjodohan kamu? Mengenai pertunangan kamu? Mengenai Kendra?" Tanya Bunda gue sangat-sangat jelas, basa-basi memang bukan caranya Bunda gue menyelesaikan masalah, gue paham dengan caranya yang satu itu, masalah yang ada harus benar-benar dibicarakan secara jelas sama gue, nggak harus narik kesimpulan sesuka hati sebelum nanya dan mendengarkan jawaban pasti, ini sistemnya dan itu bagus, ada nilai lebih tersendiri.
"Belum Nda." Jawab gue menggelengkan kepala pelan, ya memang belum gue ceritain sama Bang Riza selama ini.
"Kenapa belum Ay? Kamu nggak seharusnya nutupin masalah kaya gini dari Riza, Bunda yakin kamu tahu perasaan Riza yang sebenernya gimana, kalau Bunda aja tahu jadi nggak mungkin kamu nggak tahu, Riza harusnya tahu masalah ini lebih awal kalau memang kamu menganggap Reza itu penting, nggak seharusnya Riza yang nanya lebih dulu kaya tadi." Jelas Bunda gue yang terlihat sedikit kecewa sekarang, gue mengernyitkan kening gue menatap Bunda, kenapa Bunda harus melayangkan tatapan kecewanya? Memang salahnya gue dimana coba?
"Nda! Kalau memang iya Aya belum ngomong apapun sama Bang Riza mengenai perjodohan, pertunangan bahkan tentang Kak Ken sekalipun, salahnya Aya dimana Nda? Kenapa kesannya malah Bunda nyalahin? Memang Aya tahu perasaan Bang Riza itu gimana tapi Bang Riza juga nggak ngungkapin apapun sama Ayakan? Kalau Aya nggak cerita masalah ini lebih awal memang salahnya apa? Bang Riza bukan siapa-siapa Aya juga." Tanya gue balik yang jujur aja juga ikutan kesal sendiri, kenapa kesannya kaya gue yang salah banget padahal gue nggak selingkuh? Gue nggak ngasih harapan apapun juga.
"Bunda bukannya nyalahin kamu Ay tapi seharusnya kalau kamu sadar sama perasaan Riza, kamu bisa berpikiran lebih terbuka, terlepas dari alasan Riza belum mengungkapkan apapun mengenai perasaannya tapi bukan berarti kamu nggak mau tahu apapun, setidaknya kalau kamu cerita lebih awal, kekecewaan Riza nggak akan terlalu parah, ini maksud Bunda, cerita awal sekalipun nggak ada ruginya di kamu tapi itu akan menjadi keuntungan untuk Riza, lebih cepat Riza tahu, lebih cepat Riza belajar mengikhlaskan, apa kamu tahu bedanya dimana sekarang?" Gue nggak mengiakan ataupun menggeleng untuk ucapan Bunda sekarang, gue mencoba mengerti tapi tetap aja separuh diri gue ngerasa kalau gue juga nggak ngelakuin kesalahan apapun.
"Iya, tadi Aya juga udah ngomong semuanya sama Bang Riza jadi Bunda jangan khawatir juga, Aya udah jujur tentang semuanya dan Aya harap kalau Bang Riza bakalan mau ngerti." Apa jawaban gue sekarang sangat membantu Bunda gue, gue udah memberikan apa yang mau Bunda gue dengarkan, Bunda mau gue jujur sama Bang Riza? Gue udah ngelakuin itu, sekarang semuanya tinggal gimana respon Bang Riza aja, kalau Bang Riza lebih mudah paham dan mengerti, gue akan sangat bersyukur tapi kalau belum juga, gue mungkin harus berusaha lebih keras lagi untuk membuat Bang Riza mengerti.
"Kalau Riza belum mengerti, kamu yang harus membuat Riza mengerti, tanpa ada salah paham, tanpa ada kekesalan apapun lagi, harus banyak bersabar sama Riza, gimanapun yang dikecewakan itu dia, hilangin sedikit rasa nggak bersalah kamu itu Ay, kamu nggak harus dikecewakan dulu supaya paham gimana rasanya kecewakan?" Tanya Bunda yang gue balas dengan plototan, Bunda bahkan nepuk pipi gue pelan begitu gue melayangkan tatapan nggak karuan kaya gitu, kalau Bunda gue aja bisa kaget, nah gue apalagi pas denger omongan Bunda gue barusan.
"Bunda kenapa malah jadi ngedoian Aya ngerasain kecewa? Masa kaya gitu ke anaknya sendiri sih Nda? Harusnya itu Bunda doain yang baik-baik, Bunda doain yang bagus-bagus, Bunda mah bener-bener." Ucap gue sedikit kesal, gimana enggak, Bunda ngomongnya sembarangan banget begitu, Bunda malah ngomong yang enggak-enggak kaya tadi, siapa yang nggak kaget.
"Bunda bukannya ngedoain tapi Bunda mengingatkan, udah sana masuk ke kamar istirahat." Usir Bunda setelah ngomong kaya tadi, gue masih berdiri di tempat dengan tatapan kaget sekaligus kesal, kenapa kesannya malah kaya asal jeplak banget ya Bunda gue?
"Oya Ay satu lagi, katanya minggu depan orang tua Kendra bakalan dateng ke rumah." Dateng ke rumah? Ngapain?