"Ck! Kamu jatuh cinta dengan laki-laki tersebut Ay." Bang Riza tertawa dengan mata yang sangat berkaca-kaca, gue sendiri yang menyadari hal tersebut juga terdiam tanpa kata, apa mungkin yang Bang Riza omongin barusan itu adalah kenyataan, tanpa sadar gue malah udah mencintai calon suami gue, tanpa sadar hanya dari sikap dan nama, gue jatuh cinta dengan Kak Kendra.
"Mungkin." Satu kata yang gue yang langsung membuat Bang Riza mengalihkan pembicaraannya dan pergi meninggalkan gue gitu, bukan cuma pergi meninggalkan gue tapi Bang Riza langsung meninggalkan rumah gue tanpa berpamitan dengan orang tau gue lebih dulu, bahkan Riri juga masih ada di rumah gue.
Mungkin Bang Riza juga butuh waktu tanpa setidaknya gue udah jujur mengenai pertunangan gue, walaupun masalahnya belum bisa gue katakan selesai tapi setidaknya perasaan gue sedikit jauh lebih lega karena gue udah nggak nutupin apapun dari Bang Riza, semakin cepat Bang Riza tahu, lukannya akan segera membaik, ini hanya masalah waktu, gue mungkin akan merasa nggak nyaman dan merasa bersalah dengan Bang Riza tapi kenyataannya gue juga nggak melakukan kesalahan apapun, gue nggak bisa membuat diri gue terbebani dan berakhir dengan menyakiti diri sendiri juga, itu nggak adil.
"Loh Bang Riza kemana Kak? Bukannya tadi lagi ngomong sama Kakak ya?" Tanya Riri yang sekarang udah berdiri di samping gue, gue mengusap pipi gue pelan dan berbalik menatap Riri sekilas, gue memang sedikit kaget dengan kedatangan Riri barusan.
"Bang Riza udah pulang duluan, barusan aja, susulin gih, kasian sendirian di rumah." Jawab gue mencoba sebiasa mungkin, harusnya memang nggak akan ada masalah yang serius dengan pertanyaan Riri barusan juga, Bang Riza memang udah pulang.
"Mendadak? Tanpa pamitan sama Om, Tante dulu didalam? Itu bukan kebiasaan Bang Riza, kalian kenapa? Berantem ya? Kaya anak kecil banget berantem terus." Tebak Riri yang entah kenapa terdengar sedikit lucu sekarang, melihat ekspresi Riri pas nanya barusan memang membuat gue ikut menyunggingkan senyuman tapi rasanya kurang pas kalau keadaan gue sama Bang Riza sekarang dihitung lagi berantem, kita berdua nggak ribut soalnya.
"Bukan! Nggak papa, nanti Bang Rizanya Kakak pamitin sama Ayah Bunda didalam, kamu ni langsung pulang sana, Kakak tungguin sampai kamu masuk ke rumah." Ucap gue ke Riri, pasalnya adalah, Riri itu penakut, kalau nggak ada temannya dia nggak akan berani pulang sendirian ke rumah malam-malam kaya gini, padahal mah tetangga tapi tetap aja, Riri nggak akan mau kalau harus sendirian, bakalan milih nginep ni anak kayanya dari pada gue suruh pulang.
"Kakak cuma mau nungguin disini? Kenapa nggak nganterin sekalian? Kakak tahukan kalau Rin penakut, masa Kakak tega, ayo anterin sampai depan rumah, tar Kakak pulang lagi." Hah? Riri mulai menggandeng lengan gue sekarang sedangkan gue malah menatap Riri nggak yakin, gue gitu yang nganterin Riri pulang terus gue disuruh balik sendirian, wah, kenapa jadinya malah begini?
"Kenapa diam? Ayo Kak, Riri udah ngantuk ini, kalau nggak Kakak telfon Bang Riza aja deh, suruh jemput jadi Kakak nggak harus nganterin lagi." Saran Riri yang membuat gue berpikir sejenak, gue mengernyitkan kening gue mempertimbangkan saran Riri barusan, gue mana berani nelfon Bang Riza setelah berdebat kaya tadi? Nggak berani banget gue.
"Kenapa nggak kamu aja yang nelfon Ri, bisa telfon sendirikan?" Kenapa harus gue? Riri yang nelfon juga bisa, nggak harus melalui gue kalau cuma untuk nyuruh nelfon duluan.
"Riri nggak bawa handphone Kakak, Kakak sendiri kenapa nggak mau nelfon? Kalian berantemkan? Iyakan?" Desak Riri sekali lagi, Riri makin beranjak dewasa ternyata cukup membahayakan juga, ni anak udah banyak tahu dan suka nebak sesuka hati, gue yang kesusahan kalau begitu ceritanya.
"Handphone Kakak dikamar Ri, males ngambilnya." Alasan gue, nggak sepenuhnya alasan juga karena rasa malas memang ada.
"Jadi Kakak mau gimana? Kalau nggak Riri teriak aja minta di jemput sama Abang, kan deket tu jadi pasti Bang Riza denger." Lah ini adalah saran yang lebih nggak masuk akal lagi, malam-malam kaya gini Riri mau teriak, bisa diomelin sama tetangga sekomplek gue besok pagu, dikata rusuh malam-malam tar cuma karena teriakan ni bocah.
"Ah Kakak kelamaan mikir, ayo kita berdua aja, kalau berdua Riri juga berani." Tanpa menunggu respon gue lagi, Riri langsung narik lengan gue untuk jalan, menggandeng lengan gue, Riri membuka pintu kamar rumah gue dan berjalan santai menuju ke rumahnya, Riri mah santai, nah sekarang malah gue yang nggak bisa santai, gimana gue pulangnya nanti coba? Masa iya gue pulang sendirian? Riri bener-bener.
"Kak! Kak Kendra itu beneran cuma anak temennya Om sama Tante? Kenapa pas nitip salam begitu kaya kedengeran akrab?" Tanya Riri mendadak, gue melirik Riri sekilas yang sekarang menatap langit, gue juga ikut tersenyum sekilas, Riri juga nanya hal yang ada dalam pemikirannya tanpa mengkhawatirkan apapun, itu adalah satu point bonus.
"Heum, karena keluarga kita berdua dekat mungkin makanya keliatan akrab Ri, keluarga kamu juga akrab sama keluarga Kakakkan?" Tanya gue balik, Riri menatap gue dengan raut wajah datarnya sekarang.
"Itu beda Kak, keluarga kita dekat ya karena kita tetangga, sering ketemu dan lain sebagainya tapi kalau anak temen ya pasti nggak bakalan sering-sering bangetkan? Jadi beda dong." Heum beda ya, beda sedikit tapi yang Riri omongin juga masuk akal sih, anak teman orang tua belum tentu seakrab itu kalau nggak sering ketemu tapi kayanya gue nggak harus menjelaskan apapun sama Riri dulu, suatu saat Riri akan tahu sendiri.
"Kamu kebanyakan mikir, udah masuk sana, kamu katanya ngantuk banget tadi." Ucap gue membuka pintu pagar rumah Riri sekarang, Riri mengangguk pelan dan melepaskan gandengannya di lengan gue, gue juga mau langsung pamit tapi gue masih menimbang, bingung sendiri lebih tepatnya, ini gue pulangnya gimana coba? Kaki gue udah gemetar duluan.
"Kenapa masih disini? Kakak nggak mau pulang?" Tanya Riri ke gue yang nggak kunjung ninggalin rumahnya juga.
"Kakak la_"
"Kalian berdua ngapain malam-malam disini?" Tanya Bang Riza yang tiba-tiba keluar dari rumah, gue sama Riri sepakat menatap Bang Riza dengan tatapan canggung kita berdua.
"Kak Aya nganterin Riri pulang, Abang sendiri kenapa malah keluar lagi?" Tanya Riri menanggapi, Bang Riza nggak menatap gue sama sekali sekarang, beneran marah kayanya sama gue, duh.
"Abang keluar ya karena mau jemput kamu, yaudah kamu masuk sana." Bang Riza bergeser dari ambang pintu dan membiarkan Riri masuk ke rumah sekarang.
"Tutup pintunya." Ucap Bang Riza yang membuat Riri nahan lengannya di gagang pintu.
"Terus Abang memangnya mau kemana lagi? Nggak masuk sekalian?" Tanya Riri bingung.
"Mas nganterin Aya, kamu nggak tahu kalau Aya penakut? Ini kenapa malah kamu suruh nganterin kamu pulang? Kalian berdua itu sama penakutnya." Jawab Bang Riza santai dan berjalan membukakan pintu pagar rumahnya untuk gue.