"Calon suami? Tunangan? Kamu becanda sama Abang kan Ay? Itu nggak mungkin." Bang Riza bahkan tertawa dengan pertanyaannya sekarang, gue masih berekspresi seperti biasa, gue masih berdiri di posisi yang sama, nggak ada hal yang bisa gue omongin lagi sekarang, melihat sikap Bang Riza malah membuat gue semakin merasa bersalah.
"Bang! Apa Aya keliatan becanda sekarang? Aya nggak becanda sama sekali, Aya memang udah punya tunangan dan Kak Kendra itu calon suami Aya, itu kenyataannya." Gue nggak akan memaksakan Bang Riza untuk percaya tapi yang gue sampaikan barusan memang kenyataannya, gue nggak mungkin membuat becandaan yang susah di jelasin kaya ginikan? Itu terlalu berlebihan.
"Kenyataan? Kalau memang ini kenyataan, kamu nggak akan setega itu sama Abang, kamu tahu gimana Abang memperlakukan kamu selama ini, kamu tahu kalau Abang sangat sayang sama kamu dan Abang yakin kamu juga paham dengan apa yang Abang rasain selama ini tapi gimana bisa kamu malah milih laki-laki lain gitu aja Ay? Apa kamu nggak mempertimbangkan perasaan Abang sama sekali?" Tanya Bang Riza yang mulai merubah raut wajahnya, Bang Riza terlihat jauh lebih tegas bahkan terlihat marah sekarang, raut kekecewaannya nggak akan bisa ditutupi dengan apapun, perasaan Bang Riza sekarang terlihat jelas.
"Karena Aya tahu perasaan Abang, karena Aya mempertimbangkan perasaan Abang makanya Aya mau Abang tahu dari mulut Aya sendiri, lagian, walaupun Aya sadar dengan perasaan Abang selama ini, Abang nggak pernah mengungkapkan apapun dan itu artinya kita juga nggak punya hubungan apapun, Aya sangat-sangat menghargai kehadiran Abang dalam hidup Aya, Aya juga sayang sama Abang tapi sayang sebagai keluarga Bang." Gue hanya bisa menganggap Bang Riza selayaknya keluarga gue dan nggak bisa lebih dari itu, Bang Riza yang gue kenal adalah sosok seorang saudara, bukan sosok seorang laki-laki yang akan menemani gue sampai tua nanti.
"Tapi Abang menganggap kamu lebih dari sekedar keluarga Ay! Ya mungkin Abang juga salah karena Abang nggak pernah berterus terang dengan perasaan Abang ke kamu selama ini tapi Abang melakukan itu semua bukan tanpa alasan, kamu selalu ngomong kalau kamu nggak mau pacaran, karena Abang terus mendengarkan ucapan kamu itu makanya Abang meragu, Abang berpikir kalau Abang akan mengungkapkan perasaan Abang setelah Abang siap untuk menikahi kamu, apa itu salah?" Gue menggeleng cepat dengan pertanyaan Bang Riza barusan, Bang Riza memang nggak bersalah tapi gue juga nggak mau disalahkan, gue nggak merasa mengkhianati siapapun sekarang tapi kenapa gue harus terlihat menyedihkan kaya gini?
"Abang nggak salah, Aya memang nggak mau pacaran tapi kalau Abang nggak ragu dan ngomong terus terang sama Aya, mungkin Aya akan yakin dengan perasaan Abang dan cerita masalah pertunangan Aya lebih awal." Kalau seandainya Bang Riza berterus terang tentang perasaannya mungkin gue juga akan berterus terang lebih awal tentang pertunangan gue, Bang Riza juga nggak akan merasa tersakiti separah ini.
"Memangnya apa yang akan berubah kalau Abang jujur lebih awal? Apa kamu akan menolak lamaran laki-laki lain dan menerima perasaan Abang? Jawabannya enggak kan Ay? Kamu nggak akan ngelakuin itu, baik sekarang atau lebih awal, hasilnya akan tetap sama." Gue terdiam tanpa jawaban sekarang, memang hasilnya akan sama, nggak akan ada berubah, gue akan tetap bertunangan dengan laki-laki lain dan gue akan tetap menyakiti Bang Riza.
"Kalau memang nggak akan ada yang berubah, terus Abang mau Aya ngelakuin apa sekarang? Abang mau Aya berbuat apa untuk membuat Abang merasa jauh lebih baik?" Apa yang Bang Riza mau? Apa ada hal yang bisa gue lakuin ke Bang Riza sekarang? Apa ada hal yang bisa gue perbuat untuk meringankan penderitaannya?
"Apa kamu cinta sama calon suami kamu sekarang? Apa alasan kalian sampai harus menikah? Anak temen Ayah sama Bunda? Apa karena perjodohan?" Tanya Bang Riza yang mengalihkan pembicaraan, bukan ini yang mau gue tanya sama Bang Riza tadi.
"Heum, itu memang karena perjodohan dan mengenai cinta, Aya nggak punya jawaban pastinya Bang." Jawab gue jujur, ya gue memang bertunangan karena alasan perjodohan dan mengenai cinta, gue belum bisa memastikan apapun, gue sama sekali nggak membayangkan arti cinta yang sebenernya itu apa.
"Kalau memang karena perjodohan dan kamu belum cinta sama calon suami kamu itu, Abang mau kamu meninggalkan calon suami kamu, apa kamu mampu? Batalkan pertunangan kalian dan terima perasaan Abang, itu adalah cara untuk mengurangi penderitaan Abang sekarang, apa bisa kamu ngelakuin itu?" Gue semakin tercekat dengan pertanyaan Bang Riza sekarang, gue hampir nggak percaya kalau Bang Riza bisa melayangkan pertanyaan kaya gitu, pertanyaan yang sama sekali nggak pernah terpikirkan oleh gue.
"Kalau Aya membatalkan perjodohannya, orang tua Aya gimana Bang? Ayah sama Bunda pasti nggak akan setuju, Aya nggak mungkin mengecewakan Ayah sama Bunda." Membatalkan pertunangan itu bukan hal mudah lebih-lebih gue sama Kak Kendra udah dijodohkan dari kita berdua kecil, kalau memang gue berencana membatalkan pertunangannya kenapa nggak dari awal gue menolak di jodohkan? Orang tua gue nggak akan menanggung malu separah itu nantinya? Apa Bang Riza belum sadar juga dengan permintaannya barusan?
"Takut mengecewakan? Orang tua kamu akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia Ay! Kamu cuma perlu ngomong sama Ayah dan Bunda kalau kamu mencintai Abang dan Abang yakin, masalahnya akan terselesaikan begitu aja." Bang Riza terlihat sangat yakin dengan ucapannya sekarang, Bang Riza memang sangat yakin tapi entah kenapa gue yang nggak yakin sama sekali, gue yang nggak bisa ngerti dengan alasan Bang Riza bersikap kaya gini.
"Tapi kenyataannya Aya nggak cinta sama Abang, sayang antar saudara itu beda dengan cinta Bang, nggak sama." Bukannya tadi gue udah ngomong kalau gue hanya menganggap Bang Riza itu layaknya keluarga gue sendiri? Gue nggak akan bisa menganggap Bang Riza lebih dari itu.
"Baik kalau memang kamu nggak bisa nerima Abang karena kamu nggak cinta terus alasan kamu bertahan dengan pertunangan kamu sekarang itu apa Ay? Apa kamu cinta sama tunangan kamu? Enggak jugakan? Lalu apa bedanya?" Ya gue mungkin memang nggak cinta sama Bang Riza dan gue juga nggak cinta sama Kak Kendra tapi ada suatu hal dalam diri Kak Ken yang nggak pernah gue pikirkan akan ada dalam diri Bang Riza, gue nggak akan mendapatkan hal itu sama sekali.
"Abang tahu apa bedanya? Keyakinan, Aya sama sekali nggak yakin untuk memulai sebuah hubungan pernikahan sama Abang tapi Aya bisa yakin kalau Kak Ken orangnya, apa itu menjawab pertanyaan Abang barusan?" Jawab gue menatap Bang Riza datar.
"Maksud kamu apa?" Maksud?
"Aya nggak pernah membayangkan laki-laki lain yang akan menjadi suami Aya nanti melainkan Kak Kendra." Mungkin ini alasannya.