(38) Tanya dengan Tuduhan

1061 Kata
Setelah pembicaraan gue sama Kak Ken berakhir gitu aja, Kak Ken memilih untuk membiarkan gue beristirahat lebih awal tadi malam, pasalnya adalah, masalah bisa dibicarain keesokan harinya karena waktu gue sama Kak Ken masih banyak tapi yang lebih gue butuhkah semalam adalah istirahat, yang gue butuhkan adalah waktu untuk tidur, gue bisa bicara keesokan harinya tapi kesehatan itu yang jauh lebih penting, makanya itu gue sama Kak Ken memilih untuk beristirahat lebih awal semalam, hal-hal lainnya bakalan kita bicarain nanti. "Suami kamu mana Dek?" Tanya Bunda begitu melihat gue nurunin tangga, gue mengedipkan mata gue berkali-kali mendengarkan pertanyaan Bunda gue barusan, biasanya Bunda nanya Ayah kemana Ay? Kenapa Ayah belum turun? Coba tolong lihatin ke kamar sebentar, nah sekarang malah suami gue yang di tanya kemana? Berasa banget kalau status gue udah berubah sekarang. "Gak tahu Nda, tadi malam kan nggak sekamar, Kak Ken tidur di kamar tamu disebelah kamar Aya soalnya." Jawab gue santai, seketika tatapan Bunda gue langsung berubah, Bunda kenapa lagi? Tatapannya kudu sebegitunya amat natap gue sekarang padahal harusnya ya biasa aja, nggak harus di rame-ramein, gue juga ngasih jawaban biasa barusan, gue jawab jujur malah jadi harusnya Bunda nggak ada masalah apapun. "Jadi kamu sama Kendra nggak sekamar semalam? Apa kamu nyuruh Kendra tidur di tempat lain kaya gitu Ay? Kamu ini bener-bener ya, nggak baik kaya gitu sama suami." Dan ternyata ini adalah alasan kenapa tatapan Bunda gue nggak karuan sama sekali, ini adalah alasan kenapa Bunda menatap gue sampai sebegitunya, padahal gue jawab jujur ya karena memang harus jujur, nggak ada yang harus gue tutup-tutupi karena Bunda jelas tahu kondisi gue sama Kak Ken itu gimana sekarang, kalau menurut gue tidur misah juga nggak papa, kan nggaka ada yang keberatan, gue nggak nyuruh juga, jadi apa masalahnya sekarang? "Nda! Bunda apa-apaan coba? Kapan Aya nyuruh Kak Ken tidur dikamar lain? Kapan Aya nyuruh Kak Ken tidur di kamar orang lain? Nggak ada juga, Kak Ken sendiri yang pindah kesana sewaktu Aya udah tidur, Aya aja tahunya cuma pas di kirim pesan, salah Aya dimana lagi sekarang? Bukan Aya yanag nyuruh tapi pertanyaan Bunda udah macem-macem kaya gitu." Gue nggak nyuruh Kak Ken tidur di kamar tamu dan gue sendiri juga nggak tahu kenapa Kak Ken pindah kesana, padahal semalam tidurnya masih disebelah gue tapi subuhnya Kak Ken udah nggak ada, apa itu juga karena kesalahan gue? "Kan Bunda cuma nanya Ay, Bunda kaget tahu kalian tidur misah kamar kaya gitu, Bunda pikir ada apaan coba, kalian berdua itu ada-ada aja." Jelas Bunda gue sambilan geleng-geleng kepala, apaan nanya modelan begitu, nggak ada, Bunda bukannya nanya barusan tapi ngegas, Bunda nanyanya nggak santai, udah nuduh gue duluan tadi itu. "Nanya sama nuduh beja jauh Nda, jangan kira Aya nggak tahu, Bunda selalu aja kaya gitu, Bukannya nanya baik-baik sama Aya tapi langsung narik kesimpulan sendiri, selalu kaya gitu." Ini adalah Bunda gue dan gue udah hafal, gue udah hafal sama sikap Bunda gue makanya gue tahu kalau Bunda bukan sekedar nanya sama gue tadi. Gue yang awalnya niat turun untuk makan malah nggak jadi, perut gue kenyang mendadak, setiap kali ada yang aneh, selalu aja gue yang disalahkan, selalu aja gue yang kena duluan, apa nggak malas kalau udah kaya gini, niat hati apaan eh sampai di bawah malah di kasih apaan, alhasil gue malah balik masuk ke kamar dan nggak ngerespon apapun lagi, gue di kamar malah ngubek cemilan di lemari dan udah nggak ngomong apapun, gue laper tapi kalau udah kaya gini mana bisa gue makan di bawah dengan tenang, tatapan Bunda gue aja udah nggak enak, mood gue apalagi. "Kamu kenapa balik ke kamar Ay? Bukannya tadi udah turun mau makan?" Tanya Kak Ken yang sekarang udah masuk ke kamar gue, gue hanya melirik Kak Ken sekilas sebelum kembali tertunduk dengan nafas berat, ini ni maksud gue, padahal Kak Ken sendiri aja nggak keberatan dan keliatan nggak punya masalah sama sekali, Kak Ken keliatan adem banget, kalau Kak Ken ada bisa bersikap biasa walaupun tidur misah sama gue semalam jadi kenapa Bunda gue yang kerepotan? Kenapa Bunda gue yang jadi ngegas kaya tadi? Makanya gue berakhir kaya sekarang, duduk tertunduk dengan tatapan pasrah, gue nggak mungkin nyalahin Kak Ken jugakan? Gimanapun tar jadinya malah makin nggak enak cuma kalau nggak jujur sekarang itu sama aja gue mulai nggak terbuka, masa baru sehari gue udah ngelak kesana kemari. "Tadi Bunda nanya kenapa Kakak sama Aya tidur di kamar yang terpisah, Bunda udah ngomong dan nanya aneh-aneh sebelum denger jawaban Aya lebih dulu, Aya nggak mau ribut makanya Aya balik masuk ke kamar, udah nggak laper soalnya." Jawab gue jujur, yaemang begini keadaannya, gue nggak mau nerusin perdebatan gue sama Bunda makanya gue milih narik diri mundur, kalau mood gue udah lebih baik, gue nggak akan terlalu mikirin lagi omongan Bunda juga. "Kalau kamu udah nggak laper, kenapa kamu malah ngemil sekarang?" Tanya Kak Ken yang udah melayangkan tatapan nggak karuannya ke gue sekarang, Kak Ken malah tersenyum kecil melihat tatapan kebingungan gue, apaan maksudnya coba? Gue juga nggak ngerti sama sekali, ada yang lucukah dari jawaban gue barusan? "Ya gimana, laper Aya memang hilang mendadak Kak cuma perut aja yang mulai ngeluh minta diisi makanya Aya ngemil kaya sekarang, entar kalau perasaan Aya jauh lebih baik dan nggak inget lagi omongan Bunda, baru aja turun, takut salah sikap soalnya." Lebih baik mengalah lebih dulu sebelum tar jadi masalah baru yang nggak jelas arah dan tujuannya, gue milih mundur selangkah supaya bisa lebih leluasa. "Jadi ini semua karena Kakak tidur di luar semalam? Kakak minta maaf kalau udah ngebuat kamu di tanyain macam-macam sama Bunda." Tanya Kak Ken menatap gue serius, Kak Ken nanya tapi tatapannya beneran mengecewakan, heran gue jadinya, untuk apa Kak Ken minta maaf coba, heran gue, kan gue nggak nyalahin Kak Ken. "Aya nggak nyalahin Kakak, Bunda memang selalu nanya kaya gitu, harusnya Aya bisa paham cuma ya tadi, mood Aya aja nggak karuan, maaf ya Kak jadinya malah kaya gini, memangnya kenapa Kakak pindah tidur di kamar tamu semalam? Kakak kenapa?" Apa ada dari sikap gue yang mengganggu Kak Ken? Apa ada yang salah dari gue makanya Kak Ken sampai pindah ke kamar sebelah setelah gue tidur? "Kamu mau Kakak jawab jujur? Kakak pindah karena terlalu banyak hal yang Kakak inginkan setiap kali melihat wajah kamu, Kakak nggak mau istirahat kamu terganggu." Jawab Kak Ken mengusap kepala gue sekilas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN