Setelah membiarkan Kak Ken beberes lebih dulu, gue mulai membuka lemari untuk nyari baju ganti, beberapa hari sebelum pernikahan, Bunda juga udah ngewanti-wanti gue untuk beberes kamar dan ngosongin sebagian lemari gue, gue harus memberikan ruang untuk beberapa pakaian dan barang Kak Kendra juga, awalnya Bunda malah udah nawarin untuk ngerombak kamar habis-habisan dan beli lamari sama peralatan kamar yang baru tapi gue larang, gue bicara dulu sama Kak Ken jadi nanti Kak Ken juga bisa memberikan pendapatnya sendiri, bisa ngikutin seleranya Kak Kendra juga karena kalau cuma mau ngikutin selera gue, bisa sangat perempuan banget, anak-anak malah jadinya dan syukurnya Bunda gue bisa ngerti dan mau mendengarkan pendapat gue.
Membereskan apa yang gue rasa sedikit berantakan, waktu berlalu tanpa terasa dan sekarang Kak Kendra udah selesai beberes, saling menatap canggung, gue langsung berjalan lurus masuk ke kamar mandi, gue nggak tahu Kak Ken ngebawa baju ganti atau enggak tapi harusnya ada soalnya Kak Ken ada nerima nentengan tadi dari Tantenya jadi gue nggak nanya banyak, lagian kalaupun nggak bawa, nggak mungkin gue kasih baju guekan? Gue kasih sarung aja masih mendingan, sarung banyak soalnya.
"Hati-hati." Ucap Kak Ken spontan begitu gue hampir aja kepleset begitu masuk ke kamar mandi, masih dengan raut wajah yang sedikit kaget, gue menutup pintu kamar mandi dengan sedikit terburu-buru, bukan kagetnya yang bikin gue risih tapi malunya yang kebangetan, sampai sebegitunya, di dalam kamar mandi gue langsung beberes dan nggak mau mikirin apapun, malu yang udah gue tanggung ya biarin gitu ajalah dulu, jangan kebanyakan mikir, nggak boleh mikir sembarangan juga, gue harus bisa fokus, beberes dan langsung keluar dari kamar mandi sesegera mungkin, nggak usah mikir aneh-aneh sendiri, yang penting itu cari aman dulu, banyak hal yang harus gue sama Kak Ken bicarain ketimbang cuma bengong nggak karuan di kamar mandi kaya gini, nggak ada mamfaatnya.
Setelah yakin kalau gue udah rapi, gue membuka pintu kamar mandi perlahan dan keluar dari mandi dengan kepala tertunduk, gue nggak natap kemanapun, gue nggak mau ngelirik kemanapun, yang gue mau lakuin sekarang adalah duduk dan bicara apa yang perlu gue bicarain sama Kak Kendra, bagusnya Kak Ken juga keliatan punya pemikiran yang sama kaya gue jadi begitu gue keluar kamar mandi, Kak Ken udah nepuk sisi samping ranjang di tempat Kak Ken duduk sekarang, gue mengikuti apa yang Kak Ken omongin dan beranjak pelan untuk duduk di tempat yang Kak Ken maksudkan sekarang, duduknya aja antara yakin nggak yakin gue ini.
"Kamu udah makan? Atau mau makan dulu? Banyak hal yang harus kita omongin jadi mungkin akan memakan waktu lama." Ucap Kak Ken membuka obrolan, gue menggeleng pelan untuk pertanyaan Kak Ken barusan, gue tahu maksudnya jadi kalau gue belum makan, Kak Ken menyarankan gue untuk makan lebih dulu karena pembicaraan kita berdua bakalan sedikit lebih lama, jangan sampai gue kelaperan di tengah pembicaraan kita berdua nanti, gue paham dan biarpun gue belum sempat makan tapi gue juga nggak laper, fokus gue sekarang malah ke hal lain dan hal yang harus gue fokuskan itu adalah apa aja yang bakalan dibicarain sama Kak Kendra.
"Kakak ngomong aja, Aya nggak papa." Jawab gue seadanya, ada begitu banyak hal yang gue rasa harus kita berdua bicarain tapi gue nggak tahu kalau Kak Ken bakalan membuka pembicaraan dengan hal apa lebih dulu, terlalu banyak yang haris dibahas soalnya tapi kalau memang harus gue nebak, gue akan berpikir kalau Kak Ken akan membahas masalah kehadiran Bang Riza lebih dulu, kenapa? Karena ucapan Bang Riza tadi sedikit mengganggu dan setelah itu keadaan gue sama Kak Kendra juga balik jadi sedikit canggung, ya tapi balik lagi, ini cuma sekedar tebakan gue aja.
"Kamu mau membahas apa lebih dulu?" Tanya Kak Ken ke gue, lah gue yang di tanya juga bingung mau jawab apa, memangnya kita berdua mau ngebahas apa lebih dulu? Kita semua mau ngebahas banyak hal soalnya jadi gue ikut keputusan Kak Ken aja.
"Karena Aya rasa banyak hal yang harus kita omongin, Aya ngikut aja Kak, Kakak mau ngebahas apa aja juga jadi." Jawab gue lagi, ya gue istri jadi gue ikut aja tapi andai Yuni denger alasan yang gue pikirin sekarang, gue yakin kalau Yuni bakalan nyubit lengan gue lagi, alasannya nggak berbobot soalnya, kalau alasan ikut suami yang gue jawab, Yuni bakalan mikir kalau gue cuma bisanya ikut-ikut doang, kalau suami salah ya gue ikutan salah, ujung-ujungnya bodoh lagi, terlalu mengkhawatirkan kayanya, karena mikirin Yuni juga ni tanpa sadar gue malah menyunggingkan senyuman nggak karuan, alhasil Kak Ken malah ikutan senyum memperhatikan gue.
"Kamu senyum kenapa?" Tanya Kak Ken masih dengan senyum yang sama cuma raut wajah kebingungannya juga keliatan jelas sekarang, Kak Ken pasti kepikiran gue mau ngebahas apa aja sekarang tapi apapun gue lagi-lagi menggeleng pelan, gue bukan ngetawain Kak Kendra sekarang, beneran, gue lagi mikirin Yuni aja, kalau inget kelakuannya tu anak suka bikin gue salah fokus, kaya sekarang contohnya.
"Nggak papa Kak, Aya lagi inget Yuni aja, ada hal lucu soalnya, maaf ya, gagal fokus malah jadinya sama Kakak." Cicit gue nggak enak, gue nggak tahu harus ngomong gimana ke Kak Ken tapi Kak Ken malah tersenyum kecil sekarang, haduh, kacau banget.
"Kamu sahabatan sama Yuni? Kakak lihat dia sibuk banget hari ini, dia juga yang Kakak lihat pas ketemu kamu nggak sengaja waktu itukan?" Tanya Kak Ken yang gue iyakan, ya memang Kak Ken bener, Yuni sahabat gue dan karena dia sahabat guelah makanya dia keliatan sibuk banget hari ini, sibuk banget malah sampai makanya aja harus gue tanyain lebih dulu.
"Iya Kak jadi kalau sikap Yuni agak berlebihan sedikit, Kakak jangan marah ya, Yuni aslinya baik kok Kak cuma kelakuannya aja kadang yang suka begitu." Jawab gue ke Kak Ken, Yuni baik cuma kadang kelakuannya memang suka rada nggak beres, kelakuannya mengkhawatirkan, gue kesulitan karena itu.
"Nggak papa, Kakak paham." Syukur kalau memang Kak Ken paham dan nggak salah paham sama gue.
"Jadi kita mau ngomongin apa dulu sekarang?" Gue juga nggak mau buang-buang waktu lama, kalau memang banyak hal yang harus kita berdua omongin, kita bisa langsung bicara sekarang, gue bakalan dengerin.
"Jadi kamu tipe yang kaya gini? Kakak juga, jadi hal penting yang mau Kakak bicarain sekarang, ini adalah salah satu hari paling bahagia untuk Kakak." Kak Ken masih menyunggingkan senyuman.
"Kenapa?" Gue masih mendengarkan.
"Itu karena hari ini adalah hari dimana Kakak menatap mata kamu untuk pertama kalinya." Dan hening.