(34) Akad

1031 Kata
Tiga minggu berlalu, hari ini adalah hari pernikahan gue sama Kak Kendra, masalah anak-anak yang ngatain gue di kampus sayangnya juga udah ketahuan sama Bunda tapi Alhamdulillahnya Ayah belum tahu, gue minta tolong sama Bunda supaya nggak ngasih tahu Ayah dulu, gue sama Yuni masih nyari tahu orangnya, walaupun sampai sekarang belum ada kepastian tapi setidaknya keadaan masih cukup aman terkendali, keadaan masih cukup santai untuk gue jadi harusnya memang nggak ada masalah, kalau cuma soal dikatain dan digosipin di kampus, udah tiga minggu berlalu, beritanya juga mulai hilang sendiri, telinga gue bisa jauh lebih awan sediki dan nggak harus pusing mikirin apapun lagi. Hari pernikahan tiba, begitu banyak juga hal gue rasain sekarang, degdegan nggak karuan dan rasa bahagia yang udah pastinya, gue ingin menebak gimana perasaan Kak Ken sekarang, apa dia juga sama bahagianya atau memang gue yang terlalu bahagia sendiri, gue memikirkan itu semua dengan perasaan yang begitu harap-harap cemas, gue ingin bertanya dan membahas banyak hal dengan Kak Ken tapi gue urungkan, gue akan menunggu pesta hari ini selesai lebih dulu dan gue bisa bicara setelahnya nanti, sekarang baru selesai ijab kabulnya doang di bawah sedangkan gue hanya menunggu di kamar jadi secara nggak langsung, gue sama Kak Ken memang belum ketemu. Gue sama Kak Ken memang belum ketemu tapi anehnya, gue udah ketemu sama Bang Riza, Bang Riza dateng dari semalam bahkan sebelum akadnya di mulai di bawah, Bang Riza sempat nemuin gue di kamar, kita bukan cuma berdua, asa Yuni sama Bunda juga tadi, Bang Riza terlihat baik-baik aja tapi tatapannya juga nggak bisa bohong, Bang Riza terlihat sangat terluka dan gue nggak bisa berbuat banyak, disaat Bang Riza memaksakan senyumannya untuk menatap gue, gue juga harus melakukan hal yang sama, gue harus memaksakan senyuman gue juga untuk membuat Bang Riza merasa lebih banyak, walaupun nyatanya, rasa bersalah gue kembali muncul kalau melihat keadaan Bang Riza, gue hanya mengingatkan diri gue sendiri kalau ini bukan salah gue juga jadi rasa bersalah gue akan sedikit berkurang. "Lo udah siap turun ke bawah belum? Gimana rasanya? Gimana perasaan lo sekarang Ay? Gue penasaran." Tanya Yuni yang sekarang terlihat sangat bahagia dan antusias, Yuni terlihat sangat-sangat cantik juga, kalau Bang Riza dateng nemuin gue dari kemarin dan ngebantuin acara pernikahan gue sebisanya, nah Yuni malah nginep di rumah gue dari dua hari yang lalu, alasannya itu macem-macem, yang katanya mau bantuin gue jadi kalau ada apa-apa nggak harus bolak balik, sama satu lagi, mungkin itu kemarin sama semalam adalah kesempatan terakhir Yuni untuk tidur berdua sama gue, karena setelahnya kesempatan kaya gitu bakalan berkurang atau bahkan hilang selamanya, Yuni memang sedramatis itu, gue juga mengiakan yang itu berarti, gue sama dramatisnya. "Perasaan apaan dulu ni? Perasaan rasa bersalah karena ngeliat mukanya Bang Riza atau perasaan gue yang nggak karuan sekarang kalau harus ketemu langsung sama Kak Ken untuk pertama kalinya? Lo nanya perasaan gue yang mana satu?" Tanya gue balik, kan barusan aja gue ngomong kalau begitu banyak perasaan yang gue rasain sekarang, banyak banget malah, nggak terhitung cuma nggak mungkin gue ungkapin satu persatu juga, nggak mungkin gue jelasin ke semua orang tentang apa yang gue rasain sekarang dan seberapa campur aduknya perasaan gue saat ini, semuanya berubah jadi satu dan itu tu nggak bisa gue jelasin rinciannya gimana. "Dua-duanya tapi kalau soal Bang Riza kayanya udah terlalu sering kita bahas, gimana kalau soal perasaan lo ke Kak Ken aja? Gimana rasanya berubah status? Dari anak gadis orang ke jadi istri orang? Perasaan lo sekarang gimana? Itu yang bikin gue panasaran banget Ay, mau tahu gue dan lo harus jelasin sekarang juga, sebelum lo turun ke bawah, singkat aja." Ck, gue malah tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Yuni barusan, ni anak nanya memang selalu kaya gini modelannya, asal-asalan ngomong yang penting inti dari yang mana dia tahu itu tersampaikan, itu yang paling penting, gimana gue nggak ketawa coba kalau punya temen kelakuannya begini. "Kalau perasaan gue setelah menikah? Lo nanya gue dan gue juga nggak ngerti harus ngejelasinnya kaya apa Yun, perasaan gue sekarang ya campur aduk, lo nggak lihat tangan gue sekarang aja udah dingin banget, ini bukan cuma sekedar persoalan berubahnya status gue tapi ini lebih ke soal pertemuan pertama gue secara langsung sama Kak Ken setelah gue menghindar sekian lama, udah ketemu aja gue masih harus kabur-kaburan dan sekarang gue bisa ketemu secara langsung, ngeliat wajahnya langsung dan bicara secara langsung juga jadi bisa lo bayangin rasanya gimana? Gue aja nggak tahu harus ngomong apaan Yun." Jelas gue panjang kali lebar. Walaupun terkesan berlebihan dan nggak sedrama itu tapi nyatanya memang inilah yang gue rasain sekarang, ini adalah perasaan gue yang sangat-sangat sulit gue jelaskan ke orang lain, karena apa? Karena mereka nggak tahu seberapa sulitnya gue menahan rasa ingin bertemu, seberapa sulitnya gue menahan rasa rindu, gue bahkan nggak mau ngeliat foto Kak Ken terlalu sering karena gue takut kalau rasa ingin bertemu gue semakin besar dan setelah menunggu sekian lama, hari ini adalah harinya, hari dimana gue akan menatap wajah Kak Ken secara langsung dengan kedua mata gue sendiri, hari dimana gue bisa puas-puasin ngeliat wajah suami gue nantinya, bukannya wajar kalau perasaan gue sekarang berubah jadi beneran nggak karuan? "Wah! Sebegitu antusiasnya perasaan lo sekarang, selamat-selamat, tapi terlepas dari itu semua, gue sebagai sahabat dan salah satu orang yang mau hidup lo bahagia, gue mengucapkan selamat menempuh hidup baru, lo harus terus bahagia kedepannya karena apa? Alasan lo untuk bahagia bertambah satu, udah ada laki-laki yang akan terus nemenin lo mulai sekarang dan itu artinya, beban hidup gue juga berkurang jadi selamat untuk diri gue sendiri juga." Tangan gue tanpa sadar langsung melayang ke kepalanya Yuni sekarang, kacau ni anak, gue yang awalnya udah terharu parah sama semua kata-katanya malah dibikin ngakak sama kalimat terakhir, udah bagus-bagus doanya selamat untuk pernikahan gue dan semoga gue selalu bahagia eh ujungnya malah ngatain gue sebagai masalah dalam hidupnya, kan beneran minta di timpuk, ngeselin. "Ini ni alasannya kenapa gue sangat bahagia, setelah lo menikah, alasan lo untuk bisa nimpuk kepala gue akan semakin berkurang, gue benerkan?" Tanya Yuni mengedipkan matanya ke gue. "Yak! Lo mah begitu amat sama gue, lo kalau nggak ikh_" "Dek! Ayo turun." Ucap Bunda yang membuka pintu kamar gue sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN