Mendengarkan ucapan Bunda, gue sama Yuni berakhir dengan saling tatap kaya sekarang, nggak usah gue jelasin intinya adalah isi otak gue sama Yuni sekarang udah sama, kita berdua tetap bakalan sejalan pemikirannya dan gue yang semakin nggak karuan juga keliatan jelas, Yuni bahkan udah nyikut-nyikut lengan gue kaya sekarang.
"Kamu mau nungguin apalagi Ay? Atau kamu mau Bunda nyuruh Kendra yang dateng jemput kamu kemari? Apa itu yang kamu mau?" Tanya Bunda yang langsung gue balas dengan gelengan cepat, iya kali gue mau Kak Ken yang dateng jemput gue ke kamar, bisa makin jantungan gue nanti, sekarang aja jantung gue detakkan itu udah nggak beraturan nah ini mau nyuruh Kak Ken yang dateng, Bunda gue nggak salah?
"Aya ikut turun sama Bunda aja, nggak harus di jemput kok Nda, Bunda jangan aneh-aneh." Gue memaksakan senyuman gue dan bangkit dari duduk gue sekarang, gue juga udah melirik Yuni dengan tatapan penuh tanya gue.
"Lo ikut turun bareng gue kan Yun?" Tanya gue tanpa sadar, pertanyaan gue kayanya salah banget sekarang, terbukti dari reaksi Yuni yang malah mwnghembuskan nafas panjang mendengarkan pertanyaan gue barusan, sebegitunya ni anak sama gue sekarang.
"Kalau gue nggak ikut turun bareng lo, terus gue mau ngapain disini sendirian? Ngejagain kamar lo biar nggak di rebut orang? Yaelah Ay, sadar Ay sadar, lo mau ketemu suami bukannya malah di suruh masuk medan perang sampai kudu bereaksi kaya gini." Balas Yuni yang semakin menatap gue dengan tatapan nggak habis pikirnya, Bunda gue yang mendengarkan jawaban Yuni barusan juga ikut menggelengkan kepala nggak karuan, sebegitu menakutkannyakah ekspresi gue sekarang? Perasaan nggak separah itu.
"Lo mah ngasih jawaban sampai sebegitunya banget, kaya nggak tahu sejarah gue sama Kak Ken aja, Bunda juga, sabar Nda, hati butuh persiapan ini mah lebih dulu." Gue menatap Yuni sama Bunda bergantian setelah ucapan gue tadi, gue ikut narik nafas dalam dan menghebuskan nafas panjang juga sekarang.
"Kamu mah kebanyakan mikir, tinggal turun, itu tamu udah pada nungguin Ay, ayo turun sekarang." Nggak bisa membantah banyak, gue melangkah turun didampingi Bunda sama Yuni juga, sepanjang perjalanan langkah kaki gue turun menuruni tangga, gue udah nggak ngelirik kemanapun, gue lebih banyak nunduk, alasannya karena dua hal, pertama karena gue malu kalau harus ngeliatin dan diliatin banyak orang, yang kedua adalah, gue mau orang pertama yang gue lihat pas turun adalah Kak Kendra, lelaki yang menyandang status suami gue sekarang.
"Orangnya udah di depan mata lo sekarang Ay, gue nganterinnya sampai disini doang." Cicit Yuni ke gue sebelum melepaskan gandengan di lengan gue gitu aja, gue langsung menatap Yuni sekilas dan Yuni berpindah duduk di barisan keluarga terdekat gue.
"Salim sayang." Dua kata dari Bunda yang memporak-porandakan pemikiran gue sekarang, walaupun masih rada nggak yakin, gue melirik Bunda gue sekilas sebelum memberanikan diri untuk mengangkat kepala gue, hal pertama yang gue lihat sekarang adalah tatapan teduh sekaligus berkaca-kacanya Kak Kendra, ini adalah pertemuan pertama kami, lebih tepatnya tatapan secara langsung kami berdua untuk pertama kalinya, tanpa sadar mata gue ikut berkaca-kaca juga menatap Kak Ken sekarang.
"Hai!" Ucap gue begitu selesai nyalim sama Kak Ken, nyalimnya sebentar tapi sesi fotonya yang bikin lama, gue juga merutuki kalimat pertama gue sekarang, dari sekian banyak kalimat yang bisa gue omongin, kenapa malah kata hai yang keluar dari mulut gue sekarang? Padaha masih banyak kata yang lain, assalamualaikum atau apa gitu, haduh.
"Hai juga." Dan parahnya lagi Kak Ken malah menanggapi sapaan ala-ala nggak mikir gue, Kak Ken bahkan tersenyum kecil sekarang disela tatapannya, apa yang selucu itu sampai membuat Kak Ken menyunggingkan senyuman semanis itu? Ini juga kali pertama gue melihat senyuman Kak Ken secara langsung dan rasanya beneran beda.
"Kalian bisa lanjut sesi tatap-tatapannya nanti tapi sekarang, kita lakuin prosesi yang ada dulu dan terakhir temuin tamu-tamu yang ada aja, mereka dateng untuk ngucapin selamat ke kalian berdua, setelah semuanya selesai, kalian bisa ngobrol panjang lebar selama yang kalian berdua mau." Kalimat Bunda yang mengakhiri tatapan gue sama Kak Kendra sekarang, gue juga mulai mengedipkan mata gue berkali-kali dengan harapan kalau mata gue yang tadinya sangat berkaca-kaca bakalan berkurang, nggak enak juga kalau ketemu tamu tapi mata berkaca-kaca bahkan hampir kaya nangis begini, tapi ya nggak papa juga, kalaupun gue nangis sekarang, ini tu air mata bahagia jadi orang nggak akan salah paham sama gue atau Kak Kendra juga.
"Mau Kakak bantuin?" Tanya Kak Ken yang sadar melihat gue yang sedikit kerepotan berjalan karena baju, gue menggeleng pelan.
"Nggak papa Kak, aman, tenang aja." Jawab gue santai, sangking santainya sama gugup beda-beda tipis, jadi jatuhnya gue malah kaya lagi ngomong sama Yuni, sesantai itu, padahal gue lagi ngomong sama Kak Ken yang beberapa detik sebelumnya masih gue tatapan dengan rasa canggung dan mata yang berkaca-kaca, mata yang terlihat sangat canggung tadi malah udah hampir nggak keliatan sama sekali sekarang, mungkin kenyataannya rasa yakin gue membuat rasa nyaman yang bisa gue rasakan dalam waktu secepat itu.
Setelah kalimat tanya jawab yang super singkat, gue sama Kak Ken mulai semua prosesi yang ada hari ini sampai berakhir dengan menyalami tamu undangan yang hadir, banyak orang yang memberikan selamat ke kita berdua tapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hati gue sekarang, tatapan dan sikap Mamanya Kak Ken, gue mau nanya alasannya tapi seperti yang di omongin sama Bunda tadi juga, gue harus lebih fokus sama tamu yang ada sekarang baru nanti membicarakan banyak hal berdua sama Kak Ken lagi, tentang apapun dan mau seberapa lamapun, itu nggak akan ada masalah.
Masih gue menyalami beberapa tamu, tatapan yang di layangkan sama Yuni dari kejauhan membuat gue menyipitkan mata pelan, gue mulai mengikuti arah pandang Yuni sekarang dan dari kejauhan gue ngeliat ada Bang Riza yang bangkit dari duduknya dan berjalan pelan ke arah gue sama Kak Ken sekarang, seketika gue langsung paham sama maksud tatapan Yuni tadi, ternyata kehadiran Bang Riza yang membuat gelagat Yuni jadi kaya gitu, gue juga langsung melirik Kak Ken sekilas.
"Kenapa?" Tanya Kak Ken ke gue lembut, gue menggeleng pelan, gue nggak mungkin ngomong kalau gue kaget sama kedatangan Bang Rizakan?
"Selamat ya Ay, bahagia selalu." Ucap Bang Riza mengulurkan tangannya lebih dulu memberikan selamat untuk gue, gue mengangguk pelan dan menyambut uluran tangannya sembari tersenyum tipis.
"Selamat juga, jagain Aya baik-baik." Kali ini Bang Riza beralih mengulurkan tangannya lebih dulu ke Kak Kendra.