bc

DOKTER GANTENG JADI STALKER

book_age18+
54
IKUTI
1.6K
BACA
HE
sweet
city
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Karina si dokter hewan tidak menyangka dibenci oleh seorang pria hanya karena bersikap ramah terhadap salah satu orang tua di rumah sakit.

Agus yang terkenal sebagai dokter Rangga sang ahli kecantikan sangat membenci Karina si dokter hewan yang dianggap sudah mengubah sifat ayah kandung Agus.

Agus putuskan mengorbankan pekerjaan untuk menguntit si dokter hewan dan membenarkan semua prasangkanya.

Tidak disangka, dia harus menemukan fakta yang mencengangkan dan terkait dengan nasib keponakan kecilnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
NAMA KEREN
Agus pulang ke rumah dengan perasaan khawatir, sang ayah telepon karena Ica menangis terus dan tidak diberitahu penyebabnya. Tidak lama setelah sampai di rumah, dia tidak hanya melihat Ica yang menangis heboh di ruang keluarga, bapaknya menangis sambil memeluk kambing kesayangannya. "Rambo, anak bungsu Ayah kenapa? Kok lemas gini sampai tidak mau makan?" Tangis ayah Agus. Rasanya Agus ingin pergi dari rumah dan menelepon kakaknya saja, tapi begitu teringat perjuangannya menghadapi macet untuk sampai ke rumah. Ah! "Ayah," panggil Agus. "Agus!" Ayah Agus mengangkat kepala, air mata dan ingus keluar bersamaan. "Rambo lemas, tidak mau makan!" Agus kesal dengan dua hal, ayah yang masih panggil dia Agus dan kelakuan ayah yang kekanakan seperti ini. "Yah, malu dilihat orang banyak. Jangan nangis, Rambo masih napas, dia mungkin capek dengar Ayah nangis makanya pura-pura tidur." Tangan gemuk ayah Agus memukul lengan atas putranya dengan keras. "DASAR ANAK KURANG AJAR! AYAHNYA SEDIH MALAH DIUSILIN!" Agus menggosok tangannya yang dipukul. "Aduh. Sakit, pukul anak kok sekuat tenaga gini?" "Rambooo!" Ayah Agus berteriak histeris sambil memeluk kambing jantannya yang tiduran di lantai. Agus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ayah panggil Rangga buat apa sih sebenarnya?" Ica yang mendengar itu langsung menangis histeris. Agus sontak menutup kedua telinganya. "Aduh, Ica kenapa sih malah ikut-ikutan?" Ayah Agus memukul Agus berkali-kali dengan geram. "Rangga, Rangga- nama kamu itu Agus! Bukan Rangga!" Agus berusaha menghindari pukulan bapaknya tapi sia-sia. "Aduh! Sakit! Mana ada dokter namanya Agus." "Ada! Ayah pernah ketemu dokter hewan bernama Agus. Mau apa kamu?!" "Dia dokter hewan, Rangga dokter kecantikan. Ayah, berhenti pukulnya!" Mohon Agus sambil berusaha melindungi diri sendiri. "Ayah tidak akan berhenti pukul sampai bantu bawa Rambo dan hamster Ica ke dokter hewan!" "Iya, Ayah. Oke! Rangga ke dokter hewan! Tolong jangan pukul! Rangga masih harus kerja!" Ayah Agus berhenti lalu memanggil pegawai di rumah untuk membawa Rambo ke mobil alphard. Agus ingin menasehati bapaknya lalu teringat dengan keras kepala si ayah. Ica lari memeluk Agus, ingusnya menempel di celana sang paman. "Hamster Ica di dalam terus, Ica juga ikut." Agus menghela napas. "Ya, kita pergi sama-sama." Agus sudah pasrah dengan kelakuan bapaknya yang absurd. "Ayah, harusnya bilang dari awal kalau mau ke dokter hewan. Tidak perlu seperti ini." "Lalu siapa yang mau bawa Rambo? Cuma kamu yang bisa diandalkan, lagipula kalau Ayah bicara jujur, mana mau kamu pergi antar Adik kamu." "Ada pegawai di rumah, ayah juga bisa pergi." Jawab Agus yang tidak habis pikir dirinya disamakan dengan kambing. "Mereka bisa antar Ayah." Ayah Agus tiba-tiba memegang pinggangnya. "Aduduh, pinggangku sakit sekali, sudah tua begini harusnya diurus anak tapi malah tidak ada yang mengerti perasaan Ayahnya sendiri." Agus menghela napas pasrah. --------------- Karina masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal, penyebabnya adalah salah satu pemilik anjing yang tidak terlalu memperhatikan kesehatan ke-sembilan anjingnya. Untung sekarang di Jakarta sudah ada peraturan pembatasan memelihara hewan, meskipun tidak tahu terpakai atau tidak peraturan itu. Kasihan para anjing yang tidak diperhatikan si pemilik. Bi Murni yang dari tadi melihat kekesalan nona kecilnya hanya meletakan es sirup di depan meja ruang keluarga, sudah menjadi kebiasaan Karina pulang kerja minum es sirup. Kebiasaan jelek tapi mau bagaimana lagi, Jakarta panas. Mau nyalakan ac di siang hari malah kepikiran biaya listrik. Bi Murni membuatnya sejak pagi dan diletakan di kulkas jadi tinggal dikeluarkan begitu nona kecilnya pulang ke rumah. "Non Karina cantik, manis nan imut, pulang-pulang kok malah jelek gitu. Kenapa sih non?" tanya Bi Murni penasaran. "Masa ya bi, si owner itu panggil aku buat kupir pitbullnya! Aku memang gak ada masalah dengan itu karena hak tiap owner tapi masalahnya aku gak bawa obat bius, bi! Terus tau ownernya bilang apa?" ujar Karina yang meluapkan kekesalannya. Bi Murni menggeleng. "Udah langsung dikupir aja dok, gak usah dibius!" Karina menirukan gaya bicara sang owner. "Kita aja digigit semut sudah jerit kesakitan apalagi anjing yang dikupir pas sadar! Mana dia punya sembilan anjing jenis sama tapi gak diperhatikan kesehatannya, yang diperhatikan hanya penampilannya untuk dijual! Salah satu kena distemper gak dirawat malah dibiarin! Kalau nyebar gimana? Untung saja tidak menyebar. "Parahnya lagi, dia punya channel - You know lah - dengan pengikut banyak dan menampilkan anjing-anjingnya, dia-" Karina tidak bisa berkata-kata. "Padahal anjing hewan setia dan memberikan hidupnya ke pemilik, tapi ternyata pemilik mereka b***t dan hanya memanfaatkan kondisi." "Ya susah sih Non kalau gitu." "Aku benci! Aku benci! Aku benci!" teriak Karina yang duduk di ruang keluarga sambil memukul-mukul bantal sofa untuk melampiaskan kekesalannya. "Aku benci tidak bisa melakukan apa-apa! Kenapa sih di dunia ini ada orang jahat?" "Yah, kalau semuanya baik. Tidak ada namanya polisi dong," sahut bi Murni dengan tatapan polos. Karina tidak bisa membalas perkataan bi Murni setelah menatap tatapan polosnya. ARGH! Drrrrtttt... Bi Murni melihat handphone Karina di samping sofa bergetar. "Non, ada telepon." Karina melihat handphonenya dan muncul nomor yang tidak dikenal. Mungkin salah satu owner pasiennya. "Hallo?" "Dokter Karina!" Panggil seseorang di seberang dengan suara nyaring dan sedikit panik. "Oh, Len! Ada apa?" tanya Karina. Ternyata yang menelepon asistennya. "Dokter bisa ke pet shop?" tanya Len. "Bukannya aku kesana jam 7 malam ya?" tanya Karina sambil melihat jam dinding di atas bufet tv. "Ini, Dok. Ada pasien yang butuh perawatan segera, Hamster. Yang punya nangis-nangis di telepon makanya saya nanya dulu dokter bisa kesini sekarang?" tanya Len lalu menurunkan suaranya. "Kami tidak bisa menenangkan si kecil karena dia khawatir dengan hamster kesayangan, satunya juga malah ngotot tidak mau balik sampai ada dokter." Karina melihat jam sekali lagi, jam sebelas siang. Jam segini biasanya jalanan arah ke pet shop macet. "Ok, satu jam lagi ya soalnya aku baru nyampe rumah buat ngambil obat yang ketinggalan." Karina membuat alasan supaya terdengar sibuk, padahal hanya ingin rebahan sebentar setelah menghadapi pemilik hewan konyol. "Iya, Dok. Saya sampaikan ke pemilik pasien," tutup Len. Karina menghela napas dan berdiri, "Bi, aku berangkat dulu." "Non, hati-hati ya! Jangan ngebut nyetirnya." Nasehat bi Murni. "Iya. Karina 'kan naik motor. Dah bi-" Karina melambaikan tangan. "Sirupnya nggak dihabisin?!" Seru Bi Inah. Karina balik ke ruang keluarga dan menghabiskan es sirupnya. "Makasih, ya, bi." "Iya. Hati-hati ya, Non."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook