LELAH

1242 Kata
Karina duduk di depan meja kasir pet shop. Sore ini tidak ada pasien datang setelah si hamster, kambing dan Doberman. Jadi dia bisa bersantai bersama pegawai pet shop lainnya. Karina sudah terlalu malas balik pulang, lebih baik mandi di ruang pegawai pet shop sambil menunggu jam praktiknya, jam 7 malam. "Dokter sudah sholat Ashar?" tanya Len sambil meletakan segelas teh hangat dan gorengan yang dibelikan Karina di dekat pet shop. "Sudah dong," jawab Karina sambil menyeruput tehnya. Hari ini Karina lega karena bisa rehat sejenak setelah pasien terakhirnya yang bernama Rambo selesai diperiksa, sementara ownernya belanja makanan anjing dan hamster lalu pulang setelah membayar dan memastikan Rambo baik-baik saja, Ica mengeluarkan kepalanya di kaca sebelah bangku sopir dan melambaikan tangan mungilnya sambil berteriak, "Terima kasiiiiih bu dokteeeerrr!" "Dokter tahu nggak siapa omnya Ica itu?" tanya Ririn, kasir pet shop. Karina menggeleng. "Memangnya kenapa, Rin?" "Awalnya Ririn nggak nyadar, tapi setelah diamati detail. Dia itu dokter bedah plastik yang terkenal di kalangan selebriti." Ririn menyampaikannya dengan heboh. "Sayangnya Ririn nggak sadar pas dokter itu sudah naik mobil." "Terus?" tanya Karina. "Yah, Dokter. Memangnya Dokter nggak tertarik? Dia cowok tampan, kaya dan terkenal lho!" ujar Ririn sambil mencomot pisang goreng. "Ririn pengen punya suami seperti itu." "Kalau kamu pengen punya suami gitu ya kerja keras, ini malah malas-malasan," sindir Len. "Contoh dokter Karina ini, kerjanya gak berhenti-berhenti." Ririn berdecak. "Memang malam Dokter nggak tidur?" "Saya mengurus klinik kakak dan temannya, klinik hewan 24 jam. Kami bergantian jaga, kadang Len bantuin saya atau kadang kalau ada telepon emergency, mau tidak mau ya harus datang," jawab Karina sambil mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Seperti dokter manusia ya, Dok." Len menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kapan Dokter merawat diri kalau sibuk terus?" Karina melirik penampilan dirinya di kaca dekat kasir. Penampilannya yang sekarang tidak seperti dulu. Kalau dulu peduli dengan penampilan sampai ke salon bolak balik untuk ganti model atau warna rambut. Sekarang? Dia malah lebih peduli pada pasiennya, meskipun hanya hewan. "Yah, mau bagaimana lagi, namanya pekerjaan." "Seharusnya dokter mengambil libur sehari dalam seminggu lalu merawat diri," saran Ririn. Karina menghela napas. Senin sampai sabtu ia mengurus pasiennya di klinik bersama temannya dan klinik pet shop lalu hari minggu kadang kalau sempat ia pergi ke shelter, membantu mengurus hewan-hewan disana. Jangan tanya berapa jumlahnya ya. "Sepertinya memang saya harus ambil libur." "Nah gitu dong dok, supaya dokter bisa menikah cepat. Masa usia 25 tahun belum menikah? Saya saja usia 17 tahun sudah menikah." Ririn tersenyum senang. Karina tertawa. "Kalau saya menikah secepat itu, saya tidak bisa menjadi dokter dong, sekarang 'kan tuntutan pria adalah istri di rumah mengurus anak, sementara saya?" "Dokter terlalu baik sama hewan-hewan tapi saya salut dengan dokter." Len mengangkat kedua jempolnya. "Hari minggu seperti biasa dok?" "Kamu nggak ambil libur?" tanya Karina. "Enggak dok. Daripada bengong di kamar kos, mending bantuin dokter mengurus hewan-hewan shelter." Karina mengangkat kedua jempolnya. Dia salut dengan Len, meskipun hanya lulusan SMP, Len suka kerja keras. Tahun ini dia mau mengambil paket C meskipun usia Len setahun lebih tua dari dirinya. Motto Len adalah Belajar tidak mengenal waktu. "Hmmm, kenapa kamu tidak tidur di rumah saya saja, daripada ngekos?" tiba-tiba muncul ide seperti itu di benak Karina, "Gaji kamu 'kan bisa disimpan." "Waduh, mggak enak sama orang rumah bu dokter. Apalagi kata tetangga." "Sekalian kamu temenin bi Murni, kasihan sendirian di rumah," ucap Karina. Len berpikir-pikir, Ririn menyenggol tangan Len. "Udah kamu terima aja, nggak rugi juga kok tinggal di rumah dokter." "Saya sudah bayar lunas 2 bulan, dok. Selesai itu saya masih bisa ditempat bu dokter 'kan?" tanya Len. Karina mengangguk. "Untuk Len. Semua siap." "Ah, bu dokter ini." Len tersipu malu digoda Karina. Di saat Karina sedang istirahat, Agus dan keponakannya tiba di rumah. Andre yang duduk di teras depan dengan tidak sabar, menyunggingkan senyum ketika melihat mobil yang dikenalnya sudah tiba. "Kakeeeekkk-" Ica lari memeluk kakeknya yang duduk menunggu putra dan cucu kesayangan. "Cucu kakeeekkk-" Andre merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menerima pelukan dari tubuh mungil Ica. "Ayah, kok disini? Pakai kaos dan sarung pula!" tegur Agus ke ayahnya. "Oh! Berani kamu perintah ayah, ya? Malu kamu lihat ayah seperti ini?" Andre memukul lengan putranya. "Gus! Kamu itu lahir di peternakan! Dibesarkan, digendong ayah. Pakai baju seperti ini tidak ada yang komentar, kok kamu malah tidak terima!" "Iya tuh, si om." Ica ikut-ikutan kakeknya. "Ayah, jangan panggil Agus dong pak di depan umum." Agus menggosok lengannya yang sakit karena dipukul ayahnya. "Lagian 'kan cuma tanya." "Heh! Nama kamu itu sudah Bagus! Agus itu nama paling Bagus di kampung kita!" "Nama ayah sendiri jauh lebih bagus, Andre!" Agus memberikan kunci mobil ayahnya dan masuk ke mobil sendiri dengan kesal. "Sudah ah, aku mau balik ke rumah sakit. Rambo, Bunga sama Matahari biar diturunin pegawai ayah!" "Ye! Dikasih tahu malah balik merajuk." Andre menunjuk pegawai yang sedang mencuci burung perkutut kesayangannya. "Kamu! Tolong turunin Rambo, Bunga sama Matahari." Pegawai itu memasukan burung perkutut ke dalam sangkar dan lari ke alphard Agus yang tidak dikunci. "Kek, kata bu dokter- Bunga makan sapu tangan kakek!" celoteh Ica di pangkuan kakeknya. Andre mengerutkan kening sambil menatap Ica. "Sapu tangan?" Ica mengeluarkan sapu tangan yang sudah dibungkus plastik di tas selempang mungilnya. "Ini kek." "Astagfirullah." Andre memegang plastic yang diberikan Ica. "Ini kakek cari-cari, malah tinggal potongan." "Memangnya kakek taruh dimana?" tanya Ica. "Sepertinya ini jatuh pas kakek ambil jengkol di kebun belakang. Sudah bilang terima kasih ke bu dokter?" "Sudah dong kek!" Jawab Ica dengan riang. "Cucu kakek memang pinter." Andre memeluk gemas cucunya. Tak lama Rambo berlarian ke dalam rumah bersama Bunga. Andre senang melihat Rambo sudah kembali bersuara riang. "Kakek harus terima kasih sama bu dokter." "Kakek, kata bu dokter, Rambo jadi pendiam karena Bunga sakit, terus- bunga dikasih obat sampai muntah, nah sapu tangannya jadi keluar, om Agus juga gitu sama Ica, mata Ica ditutup." Ica menutup kedua matanya dengan tangan Andre. "Terus dikasih resep sama bu dokter, om sudah beli sih tadi buat Bunga, untuk Rambo gak perlu katanya." "Supaya Ica tidak jijik ngeliatnya tapi syukurlah Bunga gak papa, Bungakan kesayangan nenek." "Iya kek." Angguk Ica. "Untungnya Bunga tidak apa-apa, tapi kasihan juga sampe keluar semua, kata bu dokter Bunga harus dikasih makan banyak." "Nanti kakek bilang ke mbak supaya Bunga dikasih makan." Ica melihat pegawai kakeknya membawa kandang mungil Matahari. "MATAHARIIII!" "Kata bu dokter Matahari kenapa?" tanya Andre. "Katanya Matahari butuh teman. Kek, cariin teman buat Matahari yuk. Om sih sudah janji, tapi 'kan tidak tahu kapan dapatnya. Om kan sibuk terus," keluh Ica. "Kalau begitu, hari minggu kita cari hamster yuk, kali ini yang jantan. Supaya punya anak banyak." "Ica tidak mau banyak-banyak, Ica takut nggak bisa rawat." Andre melihat pegawainya yang memberikan kandang Matahari ke Ica dan melanjutkan pekerjaannya. "Yah, nanti anaknya dikasih aja ke orang-orang." "Tapi kasihan kalau dipisah sama orang tuanya. Ica aja sedih gak ada mama." Raut wajah Ica berubah murung. Andre membelai kepala cucunya. "Kakek juga kangen sama nenek, tapi mau bagaimana lagi, kitakan gak bisa mengurus banyak-banyak, hamster besar pasti ingin cari istri." Mata bening Ica menatap kakeknya. "Kalau papa? Kalau papa mau cari istri?" Ica tahu kata 'istri' dari film Barbie yang selalu diputar ulang tiap hari tanpa bosan. "Memangnya Ica mau punya mama baru lagi?" selidik Andre. "Ica mau punya mama kayak bu dokter, jadi bisa langsung periksa Matahari, Rambo sama Bunga." "Ica mau punya mama dokter hewan?" Ica mengangguk semangat, "Iyaaa-" "Kalau gitu nanti kita tanya papa Ica ya," tawa Andre. Ica mengangguk lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN