ANAK DURHAKA

1124 Kata
Setelah bi Murni dan Karina masuk ke ruang dokter, tak lama Agus mencari Andre setelah membaca pesan dari kakaknya. Kata perawat ruang bersalin, mereka melihat Andre sedang duduk di ruang tunggu praktik dokter Jen. Setelah menemukannya duduk di tengah-tengah, dia langsung menghampiri. "Ayah." Agus hendak mencium tangan Andre. Andre menyembunyikan tangan dan melengos melihat putranya datang. "Anda siapa?" Agus tahu dirinya bersalah karena lupa jadwal kunjungan rutin Andre, biasanya yang mengantar mommy atau Andreas. Namun mereka berdua di Jerman jadinya tugas jatuh ke Agus. "Maaf, lupa." "Lupa, lupa! Besok ayah mati kamu juga lupa?!" bentak Andre. "Yah. Jangan berdoa gitu!" "Alesan kamu! Ayah lagi antri dokter jen! Kamu kerja sana! Sibuk sama kegiatan sendiri!" "Mommy sama Andreas nyerahin tugas ini ke Agus." "Terus kalau mommy sama adik tidak menyerahkan tugas ke kamu! Kamu tidak mengantar dan menemani bapak?!" Andre menepuk dadanya, "Bapak saja ambil rapot kamu enam bulan sekali tidak pernah lupa!" Agus ingat di jaman saat mommy sakit sehingga bapak yang jadi merawat semua anaknya sekaligus bekerja. Agus jadi merasa bersalah. "Agus minta maaf!" "Ogah!" Andre memunggungi Agus. "Ayah." Agus melirik beberapa perawat lalu lalang memperhatikan dirinya sambil tertawa, termasuk para pasien yang sedang duduk di ruang tunggu. "Jangan begitu, malu diperhatikan orang." "Malu, malu. Ayah duduk di pinggir jalan jualan kambing tidak ada rasa malu tuh. Demi sekolah kedokteran kamu!" tunjuk Andre. Agus memonyongkan bibirnya. "Iya, ya." "Sudah balik sana ke ruang kerja kamu! Kamu palingan malu lihat penampilan ayah seperti ini." Agus melihat penampilan ayahnya yang seperti biasa tapi agak rapi, "Benar tidak mau ditemani? Ayah ke rumah sakit naik apa?" "Mobil!" Jawab Andre singkat sambil tetap memunggungi Agus. "Mobilnya ayah sama mommy 'kan masuk bengkel." "Memang angkot itu bukan mobil?" "Kenapa tidak naik TAXI? Kalau tidak ada uang 'kan aku bisa bayar." "Ini yang ayah gak suka! Mentang-mentang kamu bisa menghasilkan uang jadinya ngatur-ngatur ayah! Jadwal check up saja kamu lupa!" Agus menghela napas dan berdiri, percuma berdebat dengan bapaknya, yang ada makin dosa. "Ya sudah, Agus kerja tapi bapak naik TAXI ya. Nanti Agus minta tolong sama bagian pendaftaran." "Tidak usah! Ayah punya kaki buat jalan!" Tak lama Karina dan bi Murni keluar dari ruang praktik. Agus yang terkejut melihat mereka menjadi gelagapan, dia memanggil perawat NICU yang tiba-tiba lewat di depan Karina. "Nia!" Perawat itu berhenti dan menoleh. "Ya, dok?" Karina melihat Agus menghampiri perawat yang dipanggilnya sekilas lalu mendekati Andre. Andre yang melihat sikap putranya menjadi terkejut. "Pak Andre, kami sudah selesai. Kami mau balik," Bi Murni buka suara. Andre melihat bi Murni. "Ah, iya bu." "Pak, kesini naik apa?" tanya Karina yang tidak tega melihat sandal jepit lusuh Andre. "Naik angkot," jawab Andre. Karina bertukar kode lewat mata minta persetujuan bi Murni, bi Murni mengangguk. "Di luar mataharinya terik pak. Mau saya antar pulang?" Andre terkejut dengan tawaran Karina. "Tidak usah, tidak apa, tidak usah repot-repot!" Agus memberi instruksi gak penting ke Nia sambil mengawasi sang ayah. "Jadi ada salah satu pasien yang takutnya..." "Ah, tidak repot kok pak, saya tidak tega saja bapak datang ke rumah sakit sendirian berobat seharusnya sama cucu atau anak bapak," ujar Karina. Andre bersorak dalam hati, sekarang waktunya memberikan pelajaran ke putra songongnya ini. "Tapi apa mau nunggu saya? Tinggal 3 antrean sih. Saya sudah pesan antrean sama tukang parkir disini." Andre menunjukan nomor antrean untuk dipanggil. "Tidak apa pak. Bi Murni disini, sementara saya membayar tagihan bi Murni." Karina meletakkan tas bi Murni di kursi yang tadi di duduki, "Mau sekalian Karina tebus obat bi?" "Aduh, bibi jadi ngrepotin Non saja, tapi tidak apa deh, kan tiap hari mbak ngrepotin bibi," canda bi Murni. "Iye." Karina jalan menuju bagian pembayaran melewati Agus dan Nia. "Baik ya, anak majikan ibu." Andre sengaja meninggikan suaranya supaya di dengar putranya. Agus menghela napas. "Itu saja. Kamu bisa kembali." Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meninggalkan Agus. Bukannya instruksi itu sudah dibicarakan kemarin ya? Agus menatap bapaknya degan kesal lalu pergi tanpa bicara sepatah katapun. ______ Setelah membayar tagihan dan menebus obat, Karina menunggu Andre menyelesaikan check up. Karina sendiri juga membantu menebus obat supaya Andre tidak kecapekan. Jarak apotik rumah sakit dengan ruang pembayaran sangat jauh, harus bolak balik. Setelah selesai, Karina segera mengantar Andre pulang ke rumah mengikuti instruksi Andre. "Kalau saya punya anak perempuan seperti nak Karina, saya pasti senang setengah mati," kata Andre berulang kali di dalam mobil. Karina melirik bi Murni yang ketiduran di kursi penumpang belakang. "Terima kasih." "Ngomong-ngomong nak Karina kuliah di Jakarta?" "Di Afrika selatan pak." "Afrika selatan?" tanya Andre terkejut. "Jauh sekali, setahu saya Indonesia juga punya sekolah kedokteran hewan 'kan." "Kalau itu iya. Alasan saya kuliah disana untuk menemani mama, waktu itu mama ambil kuliah S2 zoologi disana jadi sekalian saja sama Karina. Tapi semester akhir, semester awal saya di Indonesia, Bali." "Oh," Andre mengangguk. "Mama nak Karina perawat hewan, ya?" "Iya, buat membantu papa. Papa professor." "Hooo, sudah sekolah tinggi, cerdas, cantik, rendah hati pula. Saya suka sama nak Karina, belum punya pacar?" "Belum," Karina mulai berpikiran buruk. Waduh. "Kebetulan anak saya cari kenalan, kalau menikah sama nak Karina pasti saya tenang di alam kubur nanti." "Saya masih belum kepikiran sampai kesana pak." "Masa? Sudah besar masa tidak ingin menikah?" Karina memaksakan diri tertawa, ia melihat di spion kaca, sudut bibir bi Murni sedikit terangkat. Nih bibi pasti pura-pura tidur! Andre mengeluarkan handphone jadulnya dari peci. "Berapa nomor nak Karina? Siapa tahu kalau Rambo sakit saya bisa langsung ke tempat nak Karina." Rambo? Karina memiringkan kepalanya. Sepertinya pernah dengar, ah sering dengar kok, banyak sekali pasiennya yang diberi nama Rambo oleh ownernya. "Kartu nama Karina ada di dashboard, bapak bisa ambil, maaf agak berantakan ya." Andre membuka dashboard dan mengambil sebuah kartu nama. "Karina Putri Rodzi Tsoejipto." "Itu nama eyang kakung saya, papa saya namanya Tsoejipto. Papa sayang banget sama abinya jadi nama belakang Karina dan kakak Karina ada nama eyang kakung yang bagian Rodzi." "Ohh, keluarga Rodzi. Arab ya?" Karina mengangguk, "Iya, eyang kakung asli sana." Andre memasukan kartu nama Karina dan handphone jadul ke dalam pecinya kembali. "Lurus setelah itu belok kanan. Langsung ke pojokan sudah rumah saya itu." Karina mengikuti instruksi Andre. Karina baru menyadari kalau dia masuk ke kawasan rumah mewah di Jakarta. Jangan-jangan bapak yang duduk disampingnya ini seorang pejabat? Saat sudah sampai di depan rumah megah dengan taman yang luas, Karina mengerutkan kening. "Ini rumah bapak?" "Bukan. Ini rumah kenalan saya, yah begitulah hidup numpang." Andre tertawa dan hendak membuka pintu mobil. "Mampir nak." Karina melihat bi Murni yang sudah pulas sungguhan. "Terima kasih pak, saya pulang dulu, kasihan bi Murni." Andre turun dari mobil. "Terima kasih banyak ya nak Karina, saya benar-benar tertolong." "Iya pak, tidak masalah." Setelah Karina memastikan Andre masuk ke dalam rumah megahnya, dia langsung menjalankan mobil pulang ke rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN