BERTENGKAR

1074 Kata
"IBU RIRIN!" Teriak perawat di depan pintu ruangan klinik tujuan Ririn dan Karina. Ririn mencolek Karina. "Dok, giliran kita." Karina mengikuti Ririn masuk ke ruang praktek dokter plastik. Saat Agus mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat salah seorang perempuan yang dikenal masuk bersama temannya. Pria itu berdehem dan pura-pura tidak mengenal Karina. "Jadi begini dok, wajah saya inikan ada jerawatnya. Saya pengen menghilangkannya tanpa meninggalkan bekas." Ririn menunjukan pipi berjerawatnya. "Kadang kala juga suka gatal." Agus mengangkat dagu Ririn dan memperhatikannya dengan seksama sementara Karina memperhatikan plat nama. Dokter A. Rangga T. Gumam Karina dalam hati. "Saya berikan resep salep ya, patuhi aturan dan jangan menggaruk dengan tangan. Tangan tempatnya kuman." Agus menuliskan resep untuk Ririn, lalu bertanya sambil tetap menulis. "Ada alergi?" Ririn menggeleng. "Tidak, dok." Agus bertanya lagi, kali ini ke Karina. "Kakak satunya tidak konsultasi juga?" Ririn menyenggol Karina, Karina yang sedari tadi melihat sekeliling ruangan, sontak menoleh. "Teman saya susah dok, diajak cantik tidak mau." "Oh," jawab Agus singkat. Karina tersenyum manis. "Ya. Saya tidak tertarik." Ririn mencubit paha Karina. Karina terkejut. "Maklum dok, perempuan gagah!" Ririn tersenyum. Karina menggosok pahanya yang panas. Mengeluh dalam hati sekaligus kesal pada Ririn, memangnya dia siapa sampai bisa mencubit dirinya hanya untuk menyenangkan hati dokter plastik gila itu. "Ngomong-ngomong dok, bagaimana keadaan si Rambo?" tanya Ririn setelah menerima kertas resep Agus. "Baik dia," jawab Agus dengan singkat sekaligus asal. Dia tidak terlalu peduli pada kambing kesayangan yang salah pergaulan itu. "Oh." Ririn terlihat masih ingin bicara dengan Agus tapi dia urungkan. "Kalau begitu saya permisi dok." "Ya." Rangga masih tetap menunduk menulis sesuatu. Karina mendengus kesal. "Anu dokter, untuk dokter Karina- apakah kulit wajahnya terlihat bermasalah?" tanya Ririn. "Ririn! Apaan sih?" sewot Karina. "Sudah dokter diam saja. Saya kan cuma mau menolong dokter." Ririn mendiamkan Karina dengan tidak sopan. "Menurut saya-" Agus melirik sebentar Karina. "Temannya membayar di depan baru saya akan beritahu, kecuali kalau temennya mau operasi plastik." Penghinaan. Ini namanya penghinaan! Karina mengeluarkan uang di dompet dan melempar sepuluh lembar uang kertas 5.000 tepat di depan wajah Agus, "Ini kalau mau uang!" "Dok!" Ririn menahan kedua lengan Karina. "KAMU TIDAK PUNYA HATI DAN OTAK!" Karina berusaha melepaskan diri dari Ririn. "Dok, tenang dok." Ririn berusaha menenangkan Karina. Perawat masuk ke dalam ruangan. "Ada apa ribut-ribut?" "Dia-" Agus berdiri dan menunjuk Karina. Karina mengibas tangan Agus, "TIDAK USAH NUNJUK-NUNJUK AKU!" "Dok-" Ririn mulai ketakutan. "Ayo Rin!" Karina menyeret Ririn dan membanting pintu klinik. Agus kembali duduk di tempatnya dengan kesal sambil melempar pulpen di atas meja. "s**t!" Perawat yang tidak mau kena getah amarah Agus, buru-buru keluar dari ruangan klinik tanpa mengganggunya. ___________ Andre bersiul senang mengikuti lagu lama tahun 70an di radio. Ica yang sedari tadi duduk di halaman depan rumah, sedang bermain masak-masakan, jadi melihat sang kakek yang sedang menyisir Rambo. "Hari ini kakek senang sekali." Ica menghampiri kakeknya. "Kakek hari ini bersyukur, ternyata Allah masih baik sama kakek." "Allah kan memang selalu baik sama kita kek." Ica membalas dengan raut wajahpolos. "Iya ya. Coba Ica kesini!" Andre menghentikan kegiatannya dan menepuk lantai supaya Ica duduk disampingnya. "Setiap hari kita sebagai manusia harus bersyukur." Ica mengangguk. "Papa selalu bilang begitu setiap Ica mau tidur." "Ica mau punya mama?" tanya Andre tiba-tiba. Ica mengerutkan kening kecilnya. "Biar bisa menemani Ica main masak-masakan, belanja teruuuussss merawat Matahari." "Mauuuu!" sorak Ica. "Kapan Ica punya mama?" sambungnya dengan senyum merekah. "Nanti dulu. Kakek sedang berusaha, tidak bisa cepat." Ica memiringkan kepalanya. "Yang mau punya mama kan, Ica. Bukan kakek, kok kakek yang berusaha?" "Nanti Ica tahu sendiri, ngomong-ngomong sudah dapat temannya matahari?" "Belum kek." Ica menggeleng cepat dengan perasaan kecewa. "Papa sama om sibuk terus, kakek mau temenin Ica?" Andre berdecak. "Papa sama om kamu itu memang sok sibuk, sama keluarga saja tidak punya waktu terus!" "Tapi om Andreas baik kok kek, kalau Ica pengen kemana-mana selalu dianterin om Andreas." Bela Ica, meskipun pembelaannya salah bagi Andre. Andreas adalah anak ketiga Andre, si bungsu yang kuliah di luar negeri bersama istri Andre yang ikut karena khawatir. "Kakek percaya itu." Tawa Andre. "Kalau begitu Ica siap-siap ya, kita cari teman buat Matahari." "Benar kek?!" seru Ica dengan bahagia. "Iyaaa. Tapi kita naik angkot ya, tidak apa kan?" "Iya kek! Ica ganti baju yaaa!" Ica berlarian kecil masuk ke dalam rumah. "Mbaaakkk! Kita pergi yuk, Ica sama kakek mau nyari teman Matahari!" Panggil Ica ke baby sitternya. ____________ Ditya dan Bima yang sudah berhasil membuktikan bahwa anjing yang ditangkap warga bukan jin seperti yang dituduhkan, segera membawa anjing itu ke klinik di kamp sementara Cinta sibuk membawa barang-barang mereka berdua. Mungkin jika dilihat orang lain, sangat tidak pantas dua orang pria menyerahkan barang bawaan ke seorang wanita mungil, tapi Cinta tidak keberatan karena dua pria itu dibutuhkan pasien. Setelah dua hari menginap di rumah salah satu warga yang dekat dengan perkampungan itu, akhirnya mereka bertiga bisa pulang. Ditya dan Bima harus saling melindungi dan berhati-hati membawa si anjing. Sesampainya di kamp, salah satu perawat hewan segera membawa tempat tidur dorong dan membawa anjing itu ke ruang emergency. Donny yang melihat kedatangan Ditya, Cinta dan Bima, jalan mendekati mereka berdua. "Kerja kalian sangat bagus, aku butuh laporannya hari ini untuk aku serahkan ke kepolisian, supaya tidak ada yang menuntut kalian, rekaman sudah ada bukan?" Ditya dan Bima mengangguk lalu menoleh ke Cinta dengan tatapan penuh harap. Cinta yang menurunkan barang-barang, menghela napas panjang. "Baik-baik, aku akan membuat laporannya, kalian berdua bisa bertugas dengan tenang." Ditya dan Bima menghela naps lega. Donny bertanya ke Cinta. "Mereka berdua tidak membuat masalah kan?" Ditya tidak terima dengan pertanyaan Donny. "Mereka yang mulai duluan, hendak memukul anjing itu. Gila saja mereka, mengaku paling agamis tapi tidak bisa menjaga pikiran dan tangannya untuk menyakiti makhluk lain." Bima tidak aneh dengan kelakuan mereka. "Perkampungan seperti itu ada banyak di Indonesia, setiap ada hewan yang tidak dikehendaki pasti mereka bunuh. Aku rasa edukasi saja tidak cukup, tapi orang-orang yang berkecimpung di dunia politik juga tidak mampu mengangkat kasus ini." Donny mengangguk setuju. "Para politikus juga tidak mau ambil rugi mengenai masalah hewan, ada banyak pihak pasti yang tersinggung." Cinta berjalan meninggalkan tiga orang yang berdiskusi dengan serius, bisa sakit kepalanya jika harus membahas masalah politik ataupun hal lainnya, lebih baik fokus ke dua masalah, percintaan dan juga hewan. Jika dia memikirkan masalah alasan manusia menyakiti hewan, tidak akan ada habisnya. Karena manusia merasa memiliki hak dan kewajiban atas dunia yang mereka tempati, seolah hanya manusialah yang boleh tinggal di tempat yang telah diciptakan Tuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN