Sekar kini menggigil hebat setelah mendengar suara Hasan dan merencanakan untuk bertemu. Beberapa kali dia mencubit lengan dan menatap layar ponselnya dengan degup jantung tidak teratur. Air matanya luruh, kerinduan yang mendalam seakan tercurah untuk pria itu. Terdapat senyar kebingungan pada dirinya, Hasan yang berkhianat itu masih hidup. Dia lega untuk cintanya dan sakit hati untuk kekecewaan atas apa yang dilakukan Hasan padanya. “Aku harus mencari cara untuk menemuinya, hanya itu yang bisa kulakukan agar tahu alasan dia meninggalkanku,” batin Sekar menggenggam jemarinya yang gemetar. Sekar bisa melihat mobil Ruis memasuki gerbang utama Mansion dari balik jendela kaca kamar. Buru-buru dia menghapus air mata dan bergerak meninggalkan tempatnya menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka

