Nyaris tidak ada yang memahami isyarat itu sebelum akhirnya Franco terbahak menyadari Ruis begitu siap menghadapinya. Pria itu memutar tubuh dan mulai menarik perhatian Ruis dengan gayanya yang mulai sok berkuasa. “Kau berada di pihak siapa?” kata Ruis masih menjaga ekspresinya yang tenang dan tegas. “Kau tentu saja. Apalah aku tanpamu, Saudaraku.” Franco mulai memasang wajah serius, tidak lagi mengeluarkan selera humornya yang sebenarnya cukup baik. Ruis menyesap minumannya, melirik ke arah Alli yang mengangguk mengerti. Pria itu pun mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop berwarna cokelat lalu meletakkan ke atas meja. Tatapan curiga kini hadir menyelimuti wajah Franco, ia menatap Ruis dan Alli bergantian. Namun, tidak menunggu lama, rasa penasarannya lebih kuat alih-alih mempe

