Kencan romantis Ruis dan Sekar. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Sekar. Sama sekali tidak, begitu juga dengan Ruis sebagai pria kaya terbiasa di lingkungan keluarga kelas atas. Tidak banyak yang bisa dilakukannya untuk merayu dan menggoda wanita, karena pada umumnya mereka sudah terlalu peka dan agresif menarik perhatiannya. Kali ini tempat yang menjadi pilihan Sekar untuk berkencan begitu sempurna untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Pria itu menggenggam lampu merah yang menyala seperti lilin sebagai penerang meja mereka dengan kepalan tangannya, lalu menghadap Sekar yang memandangnya penuh telisik. Alis berkerut, menunjukan ketidak percayaan pada apa yang akan dilakukan, tentu Ruis bisa membacanya. “Kenapa kau tegang begitu, Sayang?” goda Ruis membuat

