“Kau akan terus bungkam? Setelah ayah dan ibumu mati-matian tidak memuluskan langkah Mursaka mendapatkan secuil saham pun dari kita. Kau berani menyerahkan lima persen untuk Sally. Apa yang ada di dalam pikiranmu, Ruis?” Suara datar, lebih tepatnya menahan makian kini tertuju pada Ruis. Pria itu tidak memandang ayahnya saat berbicara. Memilih untuk menunduk dengan tatapan kosong ke depan. Hatinya berteriak sekeras mungkin untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun, akalnya menahan. Hasan hanya boleh dihukum dengan cara yang layak, dan itu tidak bisa dilakukan siapa pun, kecuali dirinya sendiri. “Ruis!” Kini teriakan ibunya yang gantian mendesak agar Ruis mengatakan apa yang menjadi alasan melakukan tindakan tanpa konsultasi dengan orang tuanya itu. Namun, lagi-lagi Ruis memilih untuk di

