Sekar merasakan mulutnya melengkung kala menatap pria di sampingnya yang sedang memasang wajah masam. Beberapa kali meraih pundaknya lalu memeluk tubuh wanita itu dengan perasaan gemas. Kerinduan dan kecemasan acap kali dirasakan. Namun, dorongan untuk tidak melibatkan hatinya memaksanya bertindak demikian. “Terima kasih, Kak Sakha,” ucap Sekar merasakan bahagia karena pria itu datang di saat yang tepat. “Andai saja kau menerimaku dan tidak berhubungan dengan orang asing,” komentar Sakha dengan wajah mendesis kesal. “Bukankah kita sudah sepakat sejak awal. Kita akan menjaga hubungan tetap saudara,” sahut Sekar menelan ludah pahit. “Lagipula Kak Sakha yang melarang untuk menyukai,” lanjutnya dengan bibir mencibir. “Aku cemas, bodoh! Sejak menikah aku tidak bisa menemuimu. Kau menghilan

