Kekesalan tersirat dari wajah Ruis saat mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya mengikuti arah pandangan Sekar mencari sosok Hasan di antara banyak pengunjung taman dari dalam restoran. Sekar beringsut tidak tenang saat pria itu menoleh sekilas padanya lalu melangkah pergi, menyelinap bersama kerumunan orang yang berjalan. “Tadi ... i-itu jelas kak Hasan!” seru Sekar dengan wajah gugup. Dia mencoba untuk menunjukkan kepada Ruis bahwa apa yang dilihatnya tidak hanya bayangan. Pria itu nyata dan tengah menatapnya. Sekar hafal betul bagaimana rupa kekasihnya. Namun, lagi-lagi saat yang didapatnya dari Ruis tanggapan mata berkilat marah, tentu dia hanya bisa memendam perasaan itu dalam-dalam. “Tidak ada Hasan! Okay, kau bisa mendengarku, Sekar?” tegas Ruis tidak mau diberi bantahan. “T-t

