“Nona belum bersedia untuk pulang, Tuan. Kami sudah membujuknya,” lapor pengawalnya melalui sambungan telepon. “Baiklah, biarkan saja. Kalau sudah lelah, dia pasti akan pulang,” jawab Ruis seraya menyandarkan kepalanya pada bahu sofa di ruangan kerjanya. Alli masuk ke ruangan kerja bersama tumpukan berkas. Ia sangat sibuk, bahkan membawa serta dua akuntan dan dua penasihat hukum perusahaan. Ruis memandang sekilas kedatangan mereka lalu meletakkan ponsel ke atas meja. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti perintah Hasan. Sejauh apa pun ia akan menikmati proses ini sementara otaknya memikirkan jalan keluar. “Anda bisa melepaskan kepemilikan saham Anda sebesar empat puluh lima persen, Tuan,” kata Ruis duduk di sofa bersama empat orang yang dibawanya. “Apa akan berpengaruh pa

