Sekar membalas tatapan mata Ruis yang kini menjadi biru kelabu. Mereka tidak langsung pulang, tapi duduk bersama di tepian jembatan yang di bawahnya mengalir Danau Elisabeth sisi utara. Bila sisi barat mereka bisa menikmati dari kafe Yusakha. Kini mereka berdua ada di pinggiran pembatas jalan. Angin kembali menyibak rambut gelap indah Sekar. Sekali lagi, kontras warna itu membawa pesona dalam diri wanita hamil itu kian terpancar. Bila dulu Ruis seringkali menikmati keindahan tubuh seksi para wanita Mueensland keturunan Italia dan Jerman. Kini, rasanya ia ingin tertawa karena yang berhasil menarik minatnya untuk menikah justru wanita Asia yang sopan dan malu-malu dari Indonesia. Rasanya sangat konyol bila dipikirkan. Berapa banyak rintangan yang harus dilaluinya dan sepertinya belum akan

