Ruis tersenyum saat layar ponselnya yang berkedip menampilkan nama seseorang yang jelas akan melayangkan nada marah. Ruis mengangkat bahu saat Alli yang berada di depan setir kemudi melayangkan tatapan penuh tanya padanya. Sudut bibir Ruis terangkat sebelah. Ledakan tawa yang masih bisa ditahan cukup untuk mendeskripsikan tentang apa yang sedang dirasakan pria itu. “Hai, Saudaraku!” sapanya ketika panggilan itu ia jawab. “Omong kosong macam apa ini!” sentak suara pria dari arah penelepon. “Di mana kau menyimpannya?” “Apa yang kau butuhkan? Katakan saja, aku akan mengabulkannya, sebisaku.” Ruis tidak terpancing untuk membalas bentakan itu. Namun, ia malah bersikap setenang batu karang agar pria yang menghubunginya semakin jengkel. Tidak ada balasan terjejam kecuali meremehkan kesulitan

