2. Saran Seorang Sahabat?

1271 Kata
CIIIITTTTT!!!! Alvin tiba-tiba saja menginjak rem. Membuat kedua orang itu terpelanting ke depan. Untung saja sabuk pengaman menahan mereka. Emma sudah tidak tahan lagi. Ia tidak tahan menghadapi Alvin yang makin lama makin tidak bisa dimengerti. Sudah lama ia bersabar menunggu Alvin berhasil tapi kali ini ia sudah tidak kuat menghadapi Alvin. Pembahasan ini tidak akan habis dan ia benar-benar tidak menyukai Alvin yang terus mengelak, menyalahkan dirinya dan menyalahkan situasi. Alvin tidak mau berubah. Ia tidak mau berusaha lebih dalam bisnis yang dibangunnya. Dan ia tidak suka hal itu. Alvin yang harusnya jadi kepala keluarga yang menafkahi keluarga nyatanya tidak lebih dari seorang pria yang tidak becus. Pria yang dulunya anak konglomerat sekarang memang pria melarat! “Apa kamu bilang?” Emma menatap Alvin serius. “Perlu aku ulang lagi? Bukannya sudah jelas kalau kamu memang nggak bisa jadi suami yang baik. Yang ada aku malah menderita gara-gara kamu! Aku bekerja banting tulang sementara kamu Cuma bisa santai-santai di studiomu yang bahkan nggak menghasilkan itu. Aku sudah memberikan semua yang aku punya buat kamu, tapi pernah kamu mikir apa yang sudah kamu lakukan buatku?” Emma menatap Alvin dengan kilatan emosi di matanya. Ia lelah secara mental dan lelah hati dalam pernikahan ini. Serasa hanya dirinya yang bekerja keras dan suaminya tidak mempedulikan itu. Alvin membanting setirnya ke sisi jalan dan memberi tanda double sign, tanda mereka sedang ada keperluan di bahu jalan. Ia tidak bisa menyetir jika Emma terus membuat hatinya panas seperti ini. “Aku bukan nggak melakukan apa-apa, Emm! Aku juga berusaha. Kamu aja yang nggak pernah lihat dan menghargai usahaku! Nggak perlu mengerdilkan aku kaya gini terus. Malas jadinya berhadapan sama kamu! Selalu menuduh aku pemalas lah, nggak berguna. Kamu nggak lihat situasinya langsung main menghakimi gitu aja!” gerutu Alvin. Jelas ia tidak terima direndahkan. Emma menggeleng. “Kalau kamu berjuang lebih keras, nggak mungkin aku seperti ini! Aku nggak bisa tahan lagi. Lihat wajahmu aja bikin aku marah!” Alvin mendengus tidak percaya dan Emma memandang lurus ke depan, seolah tidak peduli dengan ucapan Alvin. Bagaimanapun Alvin menjelasakan alasannya, Emma akan menganggap itu semua Cuma dalih untuk mangkir dari kesalahannya. “Sudahlah, nggak usah dibahas lagi! Masalah ini terus yang ganggu hubungan kita,” putus Alvin. Tidak ingin situasinya berubah menjadi panas lagi. Ia pun kembali menyetir, tidak ingin Emma terlambat. Tanpa Alvin tahu, air mata Emma menetes. Bukannya ia tidak mau memahami Alvin, hanya saja tekanan situasi finansial dan kekuatiran masa depan keluarga mereka selalu menjadi bayang-bayang Emma. Semua beban ada di pundak Emma. Sepertinya Alvin memang tidak sadar bahwa Emma lelah. Hati dan mentalnya tak lagi kuat menghadapi kehidupannya. “Kamu begini ini pasti karena pekerjaan kamu kan? Aku tahu pekerjaan kamu lagi ada masalah. Tapi bukan berarti kamu mencampuradukkan begitu saja sama keluarga kita. Jangan sampai kamu menghakimi sembarangan, marah-marah nggak jelas, sensi di mana-mana. Itu nggak bener, Emm! Semuanya akan berubah jadi kacau kalau pikiranmu nggak tenang. Tenangin dirimu dulu, oke?” kata Alvin mulai melunak. Sampai kapanpun Alvin tidak pernah berniat menyakiti Emma. Bermula dari latar belakang yang sebenarnya sangat sederhana, kini semua masalah itu makin runyam. Seperti bola salju yang menggelinding dan makin besar. Itulah masalah yang pasangan ini hadapi. Dan parahnya bola salju itu akan terjun ke jurang jika tidak segera dihentikan. Emma tidak mau memberikan jawaban karena nyatanya ia memang tertekan. Tangan Alvin terulur untuk mengelus rambut Emma, tapi ia mengurungkan. Emma membutuhkan waktu tenang, begitu pikir Alvin. Padahal nyatanya tidak begitu. Emma ingin Alvin memberikan perhatian padanya. *** Selepas pertengkaran itu Alvin mengantar Emma ke kantornya, apalagi Michael lagi-lagi menghubungi Emma di tengah jalan, meminta segera ke kantor. Mengesampingkan apapun yang terjadi hari ini, Emma mengusap air matanya. Saat mobil SUV itu sampai di depan pintu lobby, Emma tergesa-gesa turun. Tanpa ada ciuman di pipi atau pelukan seperti saat tahun-tahun awal pernikahan mereka. Beberapa tahun belakangan hubungan Alvin dan Emma makin dingin, walau sebenarnya kedua orang itu membutuhkan kehangatan satu sama lain. Bahkan untuk kehidupan seksual pun jauh dari kata normal. Beberapa tahun belakangan malah sepertinya mereka tidak pernah saling menyentuh, karena jarak yang mereka bangun sendiri. Alvin menatap punggung istrinya yang tergesa-gesa masuk ke dalam lobby. Melihat Michael, pria lajang 37 tahun dengan wajah yang banyak orang berkata mirip Hyun Bin, si aktor kenamaan asal Korea Selatan. Selain sebagai atasan, Michael juga, setau Alvin, adalah sahabat Emma. Pria itu sudah menunggu di depan pintu lobby dengan cemas. Keduanya di-tandem-kan untuk menangani divisi penjualan yang kata orang penuh dengan tantangan dan tekanan. Keduanya sudah menjadi partner selama lebih dari lima tahun, jadi dipastikan keduanya bekerja dengan sangat solid. Kehilangan salah satu dari mereka saja, bisa dipastikan penjualan perusahaan akan terdampak. Begitu Emma datang, senyuman Michael mengembang dan ia langsung membukakan pintu lobby untuk Emma. Sepertinya pria itu sudah menunggu Emma dari tadi. Begitu Emma masuk, Michael langsung mengambil tas wanita itu dan membawakannya. Berjalan beriringan masuk ke dalam perusahaan sambil mengobrol sebuah pembahasan. Dari dalam mobilnya, Alvin hanya bisa memandangi kedua orang itu lalu menghela nafas panjang walau dalam hatinya terasa sesak. Alvin memang pernah berkompetisi dengan Michael untuk mendapatkan Emma, hingga akhirnya Alvin yang memenangkan hati Emma. Tapi, jika Emma terus bertemu Michael seperti ini dan kedekatan mereka di kantor melebihi kedekatannya dengan istrinya sendiri, bisa-bisa Michael akan merebut Emma dari sisinya kembali. Ia tahu betul Michael adalah orang yang sangat kompetitif dan oportunis. Sedikit kelengahan dari Alvin, ia tidak akan mungkin bisa membendung Michael. Bukankah intensitas kebersamaan dan jarak menentukan kedekatan seseorang? Sejauh apa hubungan kedua orang itu di belakangnya? Tidak salah kan jika ia berpikir yang tidak-tidak tentang Emma dan Michael? Apalagi Alvin sering melihat sendiri bagaimana keakraban keduanya. Bahkan untuk urusan panggilanpun, seringkali Michael memanggil Emma dengan sebutan “sayang”. Yah, walau Emma merasa tidak masalah dengan itu, toh itu hanya panggilan bercanda. Tapi bagi orang lain, atau lebih tepatnya bagi Alvin, ini masalah besar. Bisa-bisanya Emma menyematkan panggilan “sayang” pada pria lain dan bukan suaminya! Jelas semua perilaku janggal ini akan membuat Alvin semakin curiga. Beberapa waktu yang lalu Alvin sempat mengangkat panggilan dari Michael di tengah malam, bermaksud mengatakan bahwa ini jam tidur dan meminta Michael menghubungi esok hari. Tapi Emma malah sangat marah pada Alvin, seolah ada hal yang disembunyikan darinya. Bukankah berarti ada sesuatu yang memang terjadi di antara mereka? Mengapa Emma begitu sensitif jika menyinggung Michael? Alvin memukul setirnya lalu menjalankan mobilnya menuju ke studio fotonya sendiri dalam kekesalannya. *** “Kok kalian ini nggak ada manis-manisnya sebagai suami istri sih?” tanya Michael begitu Emma masuk ke dalam kantor. “Kami bukan anak bau kencur yang baru pacaran. Buat apa manis-manis? Apalagi pagi ini sudah bikin jengkel lagi,” jawab Emma sambil berjalan menuju ke sisi lobby. Membetulkan sepatu dan mengenakan blazer kerjanya. “Masalah yang sama?” “Ya… apalagi masalahnya kalau nggak tentang kerjaan Alvin, duit dan semua ketidakbecusannya sebagai suami. Kebangetan ini, aku bener-bener menikah dengan orang yang salah.” Emma selesai membetulkan blazernya lalu berjalan masuk dan Michael mengiring langkah Emma. “Itu yang dinamakan konsekuensi. Kamu sudah memilih orang yang salah dan sekarang hanya bisa menjalani konsekuensinya.” Emma berhenti dan menatap Michael. “Aku benci menjalani konsekuensi yang buruk seperti ini. Nggak ada cara buat memperbaiki situasi?” Michael mengangkat bahunya. “Cerai, I guess,” jawab Michael singkat. Tapi kata itu memang selalu terlintas di pikiran Emma dan sekarang Michael memantiknya lagi. Sepertinya itu solusi terbaik untuk mengatasi semua sakit hati dan ketidakcocokan ini. A/N: Hadiah tahun baru untuk para pembaca setia cerita ini. Happy new year dan semoga suka dengan lanjutan kisahnya. Jangan lupa masukin pustaka dan follow saya untuk tahu updatenya ya…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN