Emma mengesampingkan masalah pribadi sekarang dan nanti saat jam makan siang, ia pasti menceritakan semuanya pada Michael. Ya, Michael tahu semua masalah yang Emma hadapi. Tidak di pekerjaan, keluarga bahkan pernikahan sekalipun Michael tahu. Ia menjadi teman, rekan sekaligus tempat curhat bagi Emma.
Sebenarnya secara etika, perlakuan Emma pada Michael memang bisa dibilang melebihi batas. Masalah pribadi apalagi yang berhubungan dengan pernikahan dan pasangan, tidak sebaiknya diceritakan pada lawan jenis. Mengapa? Rawan perselingkuhan.
Emma pun tidak ingin berlama-lama mengurus masalah pribadi. Ia pun mengalihkan topik. Menanyakan kabar dan perkembangan terakhir dari kasus yang mereka tengah hadapi. Dari sana barulah dia tahu bahwa atasannya marah besar karena masalah omzet yang terus turun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Selama beberapa tahun belakangan, Michael dan Emma terbilang selalu sukses untuk mencapai target perusahaan yang dibebankan pada divisi mereka. Namun kali ini situasinya berbeda.
Beberapa bulan belakangan, perusahaan diterpa masalah berulang kali dan itu dimulai dari divisi penjualan. Seperti hari ini, Michael mendapatkan kabar bahwa kiriman produk mereka ke Lombok terkena masalah.
“Masalah pengiriman yang raib karena kecelakaan kapal itu sudah diinformasikan pada pelanggan kita, tapi mereka tetap ngotot minta ganti rugi. Kita sekarang dalam posisi terjepit. Bagian keuangan minta kita tetap menagih 50% tapi pelanggan nggak akan mau bayar soalnya barangnya tidak terkirim,” kata Michael pada Emma.
“Lalu gimana dengan asuransi pengirimannya?”
Belum selesai mereka berdiskusi, kini beberapa orang rekan manajer yang lain berhenti di hadapan mereka. Hendak menyapa atau mungkin… menyindir.
“Well… well.. well… here is our best couple in town! Kalian ini pasangan yang serasi banget lho! Kemana-mana selalu berdua. Coba kalau kalian menikah, pasti jadi pasangan yang sempurna. Yang pria tampan, yang wanita cantik. Keduanya smart dan berkarisma. Sayang, Emma milih Alvin duluan,” kata Satria, manajer pembelian yang entah itu menyanjung atau menyindir. Tapi ucapannya memang tidak pernah serius, jadi seringkali diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya.
“Oh ya, serasi ya? Kalau begini bagaimana?” Michael melingkarkan lengannya pada pundak Emma. Bermaksud membalas candaan Satria. Emma malah melirik Michael dengan jijik lalu menurunkan lengan pria itu. Michael terkekeh. Setelahnya Emma pergi terlebih dahulu, meninggalkan Michael dan Satria.
Sebelum Michael beranjak dari hadapan Satria, Michael sempat berbisik pada Satria.
“Aku menantikan hari itu tiba. Anyway, terima kasih pujiannya,” bisik Michael sambil menepuk pundak Satria beberapa kali. Tersenyum dengan penuh arti lalu berlari kecil mengejar Emma yang sudah masuk ke dalam lift.
***
“Kalau dipikir-pikir omongan Satria masuk akal kan? Kita mulai merintis karir sama-sama, memulai semuanya dari bawah bersama dan sekarang kita membesarkan divisi yang sama. Sudah saling kenal luar dalam. Apalagi coba yang kita nggak punya sebagai pasangan? Nggak salah lho kalau kita sekarang ini dianggap pacaran,” ujar Michael yang mencoba menyombongkan diri.
Sedangkan Emma, ia hanya menganggap biasa ucapan Michael yang bercanda.
“Gimana kalau kita jadian aja?” Ucapan Michael yang terakhir sukses membuat Emma menoleh pada Michael.
“Bercandamu nggak lucu, Mike! Ingat, aku sudah punya suami dan anak-anak,” balas Emma dengan menunjukka cincin nikahnya di hadapan Mike.
“Percuma punya suami jika nggak becus membahagiakan istri. Sekarang di hadapanmu ada orang yang dengan tulus menyatakan pasti bisa membahagiakanmu kok malah ditolak.”
“Ha… Ha… Ha… Mike bercandamu makin nggak lucu!” Michael terkekeh melihat Emma yang berpura-pura tertawa.
Michael memang pernah menyukai Emma dan sampai sekarang pun ia masih mencintai Emma. Tapi Emma sudah menjadi kekasih Alvin saat Michael hendak mengutarakan isi hatinya pada Emma. Dan kini Michael hanya bisa menerima nasibnya karena Emma menikah dengan Alvin.
Ketiga orang itu memulai dari bawah bersama, sebagai staff management trainee dan berada dalam satu divisi yang sama. Hingga akhirnya Michael digabungkan dengan tim lain dan mengurus proyek yang berbeda dengan Emma dan Alvin yang berada dalam satu tim. Hanya beberapa bulan mereka berpisah, tahu-tahu kabar yang Michael dengar adalah Emma sudah menjadi kekasih Alvin. Ia patah hati. Namun entah mengapa hingga kini Michael tidak menikah atau dekat dengan wanita manapun. Sepertinya tidak ada yang bisa menggeser posisi Emma di hatinya, walau Emma sudah berkeluarga sekalipun.
“Siapa bilang aku bercanda? Aku serius. Seandainya dulu kamu menolak dipasangkan dengan Alvin di tim C dan minta bersamaku, kejadiannya tidak seperti ini sekarang. Aku sudah bilang aku akan menjagamu dan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu. Tapi kamu nggak percaya dan menganggapku gombal.”
“Ya memang gombal kan?”
“Kalau aku memang suka gombal, mengapa hingga sekarang aku belum menemukan pasangan?” Emma mengendikkan bahunya.
“Ya mana aku tahu. Ah.., aku tahu sekarang karena kamu memang nggak laku. Mana ada orang yang suka sama pria yang jayus kaya kamu. Yang ada wanita di luar sana menganggap kamu nggak serius lah!” Emma asal menjawab lalu terkekeh. Keduanya selalu akrab seperti ini, seolah tidak ada batas di antara mereka. Padahal Michael adalah atasan Emma secara struktural tapi Emma tidak pernah menganggap seperti itu. Itu sebabnya keduanya bisa akrab seperti sekarang.
Michael menggeleng, lalu ia menarik pergelangan tangan Emma dan menatapnya serius serta dalam. Membuktikan bahwa kali ini ucapannya tidak main-main. Seketika tawa Emma berhenti. Menatap Michael dengan terkejut.
“Sebenarnya ini karena kamu.” Emma tertegun. Apakah Michael benar-benar mengutarakan isi hati padanya yang sudah bersuami ini?
“Aku sudah bilang kalau aku…”
TING!
Pintu lift terbuka, ucapan Michael terhenti dan mereka sudah disambut dengan anak buah mereka yang terlihat panik. Menunggu atasan mereka mengambil keputusan.
Michael lagi-lagi tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Emma. Berulang kali ia mencoba saat itu, ia tidak pernah berhasil. Ada saja yang membuatnya mengurungkan niatnya. Itu sebabnya ia terlambat. Alvin menyatakan cintanya lebih dulu pada Emma.
Dan hari ini kejadiannya berulang. Di hadapan anak buahnya, mereka tidak boleh membicarakan masalah pribadi. Profesionalitas adalah yang terutama.
“Mike, masalah ini stop sampai di sini. Nggak usah dibahas lagi.” Emma berjalan keluar dari lift terlebih dulu.
***
Di sisi lain, Alvin baru saja sampai di studionya. Baru saja menginjakkan kakinya di depan studio, ia melihat sebuah banner besar di depan studionya terpasang tanpa izin. Banner bertuliskan [Disewakan].
Alvin sangat geram dengan pemilik gedung. Alvin masih ada di sana dan belum selesai masa kontrak sewanya, tapi tulisan itu tiba-tiba saja terpasang seolah akan mengusir Alvin. Iya, memang benar Alvin belum membayar tagihan sewanya selama dua bulan karena tidak ada penghasilan. Namun bukan berarti mereka bisa mengusir Alvin seperti ini bukan? Alvin tidak terima.
Mau meminta bantuan Ibunya, ia malu. Ia yang dulunya bersikeras untuk membesarkan usahanya sendiri itu, haruskah kini ia mengemis meminta suntikan modal? Alvin masih memikirkan harga dirinya sebagai seorang pria dan seorang anak. Ia mengaku ingin mandiri dan tidak mau melibatkan ibunya dalam hal ini. Ia mengatasi semuanya sendiri.
Ia masuk ke dalam ruangannya sambil menghela nafas berat.
“Selamat pagi!” sapa Alvin pada Edwin, editor di studionya. Ya, hanya tinggal Edwin yang bekerja bersama Alvin. Sebelumnya ada satu orang admin, satu orang editor dan satu orang marketing. Namun semuanya berhenti di saat yang hampir bersamaan. Alasannya adalah karena tidak terima Alvin menunggak gaji mereka hingga tiga bulan.
Mau bagaimana lagi? Itu cara satu-satunya untuk bisnisnya bertahan hidup. Ia membutuhkan ketiga staff-nya. Jika pada saat bisnis ramai, tentu saja ia membutuhkan mereka semua. Namun mempertahankan mereka semua di saat bisnis sedang sulit seperti sekarang, tentu tidaklah mudah.
Kini Edwin duduk di hadapan Alvin.
“Uhm… Bos… maaf kalau saya bertanya. Kapan ya kira-kira gaji saya dibayar? Ini anak dan istri saya juga lagi butuh uang.” Alvin sudah merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin menahan Edwin lebih lama lagi karena secara finansial nyatanya ia tidak bisa menggaji mereka semua. Tabungannya menipis dan ia tidak mampu bertahan lebih lama lagi.
“Win, saya bener-bener minta maaf karena saya nggak bisa mempertahankan kamu lagi. Karena yah… kamu juga tahu kondisi studio ini kan? Saya sendiri juga nggak punya tabungan untuk menggaji kamu lagi.
Kalau memang kamu merasa kamu mau berhenti sekarang, silakan. Saya nggak keberatan atau marah. Karena nyatanya memang bisnis ini nggak seperti dulu lagi dan saya tidak mampu menggaji kamu. Istri dan anakmu butuh makan. Kamu nggak bisa bergantung sama bos seperti saya yang nggak bisa menggaji kamu.
Nggak perlu sungkan untuk mengundurkan diri karena saya sangat tahu apa yang kamu alami,” kata Alvin dengan tersenyum. Ia cukup tahu diri dan ia memahami betul kondisi Edwin. Itu sebabnya ia rela melepas Edwin.
“Tapi, Bos… Saya berhutang budi sama Bos Besar. Dulu waktu saya kesulitan cari kerja, Bos besar yang ajak saya gabung. Ikutin saya kursus editing dan menggaji saya. Menganggap saya anak sendiri dan jarang marah. Saya benar-benar nggak bisa pergi karena merasa hutang budi.”
Alvin menepuk pundak Edwin hingga pria itu mendongak menatap Alvin.
“Win… istri dan anak kamu lebih penting. Mereka juga butuh makan. Nggak perlu sampai merasa berhutang budi seperti itu. Kalau kamu pakai istilah hutang budi, oke saya yang akan bilang kalau kamu sudah melunasi hutangmu.
Lagipula, saya paham kondisimu, Win dan saya rasa memang saya belum mampu membesarkan bisnis Papa ini lagi. Sudah saatnya kamu mencari yang lebih baik dari saya,” lanjut Alvin getir. Edwin mengangguk. Memang itu jalan terakhirnya. Ia harus pergi mencari pekerjaan lain.
Setelahnya Edwin memutuskan untuk mengundurkan diri dengan gaji terakhir yang Alvin bisa berikan. Kini studio itu kosong. Hanya ada Alvin di sana. Menghela nafasnya panjang dan menatap sekitarnya. Inikah akhir dari bisnis yang dibangun atas idealismenya? Dan apakah dengan begitu, ia mengiyakan ucapan Emma? Bahwa bisnisnya tidak menghasilkan? Dan bahwa dia bukanlah seperti ayahnya yang pebisnis sejati? Alvin benar-benar down.
Tidak demikian seharusnya.
Alvin merasa ini hanya sebuah siklus yang harus ia jalani dalam membangun bisnis. Setidaknya itu yang ia yakini. Ia yakin masih ada cara untuk membuat bisnisnya bangkit kembali. Alvin hanya butuh waktu.