Aku bangun dengan kepala yang sangat pusing, rasanya seperti ingin pecah. Ini karena aku yang terus menangis sepanjang malam. Memikirkan bagaimana masa depanku nantinya. Dan yang pasti, memikirkan keputusan apa yang akan aku berikan pada mereka. Saat berada di kamar mandi, aku melihat pantulan diriku di depan cermin. Astaga. Ini sangat mengenaskan. Aku sudah seperti zombie. Rambut yang acak-acakan, lingkaran hitam yang begitu besar, ditambah rasa pusing yang belum juga reda. Lengkap sudah!
Setelah melakukan ritual pagi di dalam kamar mandi, aku kembali berkaca dan syukurlah, wajahku tidak begitu menyeramkan seperti tadi. Mataku memonitori setiap sudut kamar. Jika aku menerima perjodohan ini, itu artinya aku akan meninggalkan kamar ini. Singgasana ternyaman dalam hidupku. Kamar yang dipenuhi dengan segala macam pernak pernik kegemaranku, doraemon.
Aku memang pencinta makhluk kartun bertubuh besar itu. Sejak kecil, barang yang aku beli pasti selalu berhubungan dengan doraemon. Dan berhubung aku anak tunggal di rumah ini, Ayah dan Bunda selalu memberikan apa yang aku inginkan. Semalam suntuk aku memikirkan tentang ini. Memutuskan pilihan mana yang terbaik. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Meski itu sangat berat.
Aku ingin melihat Ayah dan Bunda bahagia. Karena aku tahu, sampai kapan pun aku tidak akan bisa membalas semua hal yang sudah mereka berikan padaku. Mungkin dengan keputusan ini, aku bisa meningkatkan rasa baktiku kepada mereka, sebelum akhirnya aku meninggalkan mereka dan ikut kemana pun suamiku pergi. Hahhhh, keadaan ini benar-benar membuatku gila. Aku yang biasa dimanja harus bersikap lebih dewasa. Aku yang biasa dilayani, sekarang harus melayani orang lain. Ya Tuhan!
Setelah mengambil flath shoes dari lemari sepatu, aku turun ke bawah. Langsung menuju meja makan. Di sana, terlihat Ayah dan Bunda yang menungguku. Selama sarapan, tidak ada obrolan yang terjadi. Kata Ayah, meja makan itu tempatnya makan, bukan untuk mengobrol.
Masih ada sisa waktu untuk membahas keputusanku, sebelum aku berangkat kuliah. Dan sekarang kami sudah berkumpul di ruang keluarga. Ayah dan Bunda terus menatapku penuh arti. Aku menunduk sebentar, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya kembali menatap mereka. “Ana terima perjodohan ini, Yah.” Dan senyum bahagia langsung tercetak indah di wajah mereka.
Mereka bangkit dari duduknya dan langsung memelukku dengan sayang. Sejujurnya aku ingin menangis, karena keputusan yang aku ambil ini sangat berat. Tapi aku menahannya, aku tidak ingin merusak susasana. Biarlah aku berkorban untuk mereka. Mengorbankan masa depan yang aku sendiri tidak tahu, akan seperti apa nantinya. Aku ingin berbakti pada mereka, dan mungkin ini untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih sayang. Nanti malam sahabat Ayah akan datang ke sini. Mereka akan melamarmu secara langsung,” ucap Ayah.
Ternyata sahabatnya. Pantas saja Ayah dan Bunda sangat bersikeras untuk menjodohkan aku, ternyata oh ternyata, ada rendang dibalik beha. Ya Tuhan, semoga engkau mencatat perbuatanku sebagai bentuk pahala, meski aku terpaksa melakukannya.
Hanya karena perjodohan ini, aku menjadi tidak fokus. Aku tidak tahu materi apa saja yang dijelaskan Pak Reno. Di dalam kelas, aku hanya duduk di kursi paling belakang, menopang dagu dan melamun. Yah, hanya itu yang aku lakukan. Temen-temenku sampai heran, kenapa aku duduk di belakang, ini bukan kebiasaanku. Karena biasanya, aku selalu duduk di depan. Mottoku adalah posisi mementukan prestasi. Tapi untuk hari ini, persetan dengan motto atau prestasi. Aku tidak perduli, kepalaku terlalu pusing.
Aku masih memikirkan cara apalagi yang harus aku lakukan agar perjodohan ini batal. Sikap seperti apa yang harus aku tunjukan, agar laki-laki yang dijodohkan denganku mau membatalkan perjodohan ini. Aku belum siap untuk terikat dalam sebuah hubungan.
“Woy, An. Lo kenapa sih, gak di kelas, gak di kantin, bengong mulu dari tadi. Awas kesambet,” cerca Stefy. Dia ini sahabat yang paling dekat denganku dari sekian banyaknya teman. Sahabat yang paling rempong, cerewet, bawel, dan ratu rumpi sejagat raya. Tapi dia sahabat baikku, dia selalu bersedia menjadi tempat s****h untuk menampung segala ceritaku. Dan satu hal yang membuat dia berbeda, dia adalah pecinta dalaman, sama sepertiku.
“Gue pusing Stef, kepala gue rasanya mau pecah,” keluhku.
“Kenapa sih, kenapa? Ada masalah apa lagi?” tanya Stefy, tangannya terulur mengambil gorengan yang baru saja dia pesan pada mak Lasmi.
“Ini masalahnya besar banget Stef, menyangkut hidup dan mati gue.” Aku tahu ini terlalu mendramatisir, tapi memang ini yang aku rasakan.
“Lebay lo, pakai bawa-bawa hidup dan mati segala. Paling-paling juga, b*a yang lo incer udah sold out, atau gak, lo kalah saing pas lagi ada diskon gede-gedean.”
“Bukan itu, ini lebih parah lagi,” keluhku. “Gue dijodohin, Stef.” Suaraku mulai bergetar mengingat perjodohan ini. Bagaimana pun caranya, perjodohan ini harus batal. Titik.
Stefy tersedak, buru-buru dia mengambil minuman yang ada di depannya. “Gue gak salah denger ni? Lo mau di jodohin?!” tanya Stefy dengan hebohnya. “Seorang Ana Lovynta yang umurnya baru dua puluh dua tahun, yang pakai b*a gue aja, kadang masih suka salah ngancingnya, sekarang mau dijodohin? Ckck, gue gak bayangin gimana nasib suami lo nanti.”
Aku menahan diriku untuk tidak mengumpati Stefy saat ini juga. “Stef, gue serius!!” geramku.
Dan aku semakin pusing, karena Bunda sejak tadi mengirimiku pesan. Jika hanya sekali dua kali tidak masalah, tapi ini berkali-kali. Dan isinya selalu sama, pulang kuliah aku harus langsung pulang dan tidak boleh keluyuran kemana-mana. Cerita dengan sahabat, bukannya membantu tapi malah menjerumuskan. Katanya, terima saja perjodohan ini, siapa tahu laki-lakinya tampan dan kaya. Mereka membuatku semakin merasa sesak.
Saat sampai rumah pun, suasana yang aku lihat benar-benar kacau. Rumah yang biasanya damai dan tenang, hari ini menciptakan suara musik yang sangat nyaring, kolaborasi antara wajan dan spatula. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Dari cerita yang Ayah sampaikan, orang yang akan dijodohkan denganku adalah anak dari sahabat dekat Ayah dan Bunda.
Laki-laki itu bernama Aliandra Syahbani.
♥♥♥
Gedoran di pintu kayu itu benar-benar mengusik tidur nyenyakku. Mataku mengerjap kecil, menyesuaikan dengan sinar cahaya yang begitu terang. Saat aku menoleh ke kiri dan ke kanan, aku baru sadar jika aku tertidur di kamar Bunda dengan pintu yang aku kunci dari dalam.
Aku baru ingat, setelah lima belas menit yang lalu Bunda keluar dari kamar untuk menyiapkan segala keperluan yang kurang, seharusnya aku sudah kembali ke kamarku. Menyiapkan diri untuk acara malam ini. Tapi, bukannya kembali, aku malah mengunci pintu kamar Bunda dan merebahkan diri di atas kasur, sampai aku tidak sadar jika aku tertidur di sini.
“Apa sih Bun, pakai teriak-teriak segala?” tanyaku saat pintu kayu berwarna putih itu aku buka. Aku menutup mulutku yang baru saja menguap. Mengucek mataku yang masih terasa lengket.
“Ya ampun Ana, kamu gimana sih kok belum siap-siap! Dan ini apa?” Tangan Bunda menunjuk piyama dengan warna polkadot dan sandal doraemon yang aku pakai. “Tamu kita udah dateng lo. Kenapa penampilan kamu kayak gelandangan gini, sih?”
Ada kata yang lebih buruk dari gelandangan gak, Bun? Aku membatin sebal.
“Buruan cuci muka, ganti baju yang udah Bunda siapin di kamar kamu. Dan itu wajahnya, jangan lupa pake bedak sama lipstick, biar gak kayak orang hilang.”
Aku hanya mendengus sebal. Berlalu dari hadapan Bunda sambil mengucir rambutku asal. Sebelum aku menaiki anak tangga yang ada di ruang keluarga, pandanganku jatuh pada sosok laki-laki yang duduk di ruang tamu. Tidak begitu jelas, karena mataku belum sepenuhnya terbuka. Yang aku lihat, laki-laki itu memiliki kumis dan brewok tipis yang menghiasi wajahnya. Sampai orang yang aku maksud tadi menoleh ke arahku, buru-buru aku menaiki tangga.
Aku tidak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi. Mata dan mulutku langsung terbuka lebar saat melihat tempat tidur. Aku menenteng baju itu di depan wajahku, serius Bunda menyuruhku memakai baju ini? Baju ini seperti gamis dengan model yang sudah modern dan terdapat beberapa corak batik. Tapi sumpah, ini bukan seleraku. Teriakan Bunda kembali menyentakku, buru-buru aku memakai gamis ini. Menyisir rambut hitam panjangku, memoles bedak dan lip-cream seadanya.
Saat aku sampai di ruang tamu, semua orang sudah berkumpul di sana. Ayah, Bunda, laki-laki yang aku maksud tadi dan dua orang yang seumuran dengan Ayah. Eh, tunggu, itu artinya aku akan dijodohkan dengan laki-laki pemilik kumis dan brewok tipis yang aku lihat tadi? Seriusan Ayah menjodohkanku dengan Om-Om?
“Sini sayang,” pinta Bunda.
Aku duduk diantara Ayah dan Bunda, posisiku langsung berhadapan dengan laki-laki yang bernama Aliandra Syahbani. Jujur saja, aku merasa risih dengan baju ini, aku tidak bisa bergerak bebas. Padahal aku sudah memiliki rencana untuk memakai hot pans dan tangtop yang baru saja aku beli dengan Stefy minggu lalu. Apalagi tangtop ini keluaran terbaru, dengan belahan d**a rendah. Dan nantinya rambutku akan aku gulung ke atas, menampilkan leher jenjangku yang mulus.
Tapi sayang, Bunda sudah mempunyai rencana lain. Gagal sudah rencanaku untuk membuat laki-laki ini merasa ilfil dipertemuan pertamanya denganku. Sejak tadi para orang tua ini berbicara tentang hal-hal yang aku tidak begitu paham, tentang perjuangan mereka yang jatuh bangun besama.
“Ana, ajak Ali ke taman. Sekalian kenalan, biar lebih akrab,” perintah Bunda.
Aku hanya mengangguk kecil. Tanpa basa-basi aku langsung berjalan keluar, tanpa mengajak Ali. Tapi aku tahu jika Ali sudah mengikutiku. Baju yang aku kenakan membuatku kesusahan saat berjalan. Akhirnya aku sedikit mengangkatkanya, menjinjingnya layaknya orang kebanjiran.
Sampai di taman belakang, belum ada obrolan apapun yang tercipta diantara kami, hanya bunyi jangkrik yang terdengar. Aku memilih duduk di gazebo yang berdekatan dengan kolam ikan kesayangan Ayah.
“Om,” panggilku. “Kenalin, aku Ana Lovyta, kali aja Om belum kenal.” Sebenernya ini sedikit aneh, tapi aku sangat tidak suka dengan keheningan.
Tangan Ali terulur menjabat tangaku. “Aliandra Syahbani,” balasnya.
Jika dilihat dari radius sedekat ini, wajah Ali tidak begitu buruk. Dia memiliki alis yang tebal, hidung mancung, bibir merah alami, rahang kokoh, dan pastinya kumis juga brewok yang tipis.
“Om.”
“Cukup panggil nama saja,” protesnya. Merasa risih dengan panggilan yang aku berikan.
“Gak enak kalau panggil nama, lagian umur kita kan beda, Om.”
“Umur kita hanya beda lima tahun, Ana.”
“Ya, tetep aja lebih enak panggil Om, udah nyaman.” Prettt, padahal aslinya aku ingin muntah. Sedangkan Ali hanya mendengus kecil.
“Om, kenapa sih, mau terima perjodohan ini? Padahal kita gak saling kenal dan gak tahu sifat masing-masing. Lagian di luar sana banyak lo, Om, yang lebih oke dari aku dan lebih indehoy. Ya emang sih aku seksi, tapi kan, enakan sama yang indehoy. Om gak ada gitu niatan buat batalin perjodohan ini?” Please Om peka, jawab iya dan aku akan sujud syukur dihadapanmu.
“Enggak.” Singkat, jelas, padat dan akurat.
Tenang, jangan putus asa, kita coba cara lain. “Om, yakin gak bakal nyesel kalau nikah sama aku? Aku itu anaknya petakilan banget, Om. Udah manja, ceroboh, urakan. Terus ni ya, Om, kalau tidur aku gak bisa diem, muter terus kayak gasingan. Udah gitu, nanti sawal bantal Om, bakalan ada genangan danau tobanya, kerak telor dimana-mana, bantal yang tadinya wangi seketika jadi apek. Masih yakin ni, Om, gak bakal nyesel?”
Untuk kali ini tidak masalah aku menjelek-jelekan diriku sendiri. Semoga dengan ini Ali mau mengubah keputusannya.
“Tidak masalah. Setidaknya saya tahu bagaimana sifat kamu dari cerita yang baru saja kamu bilang,” katanya dengan santai.
Jadi menurut dia, aku ngomong panjang kali lebar kali tinggi menghasilkan volume, dia menganggapnya sebuah cerita? Wuah, laki-laki ini. Padahal sudah sangat jelas, jika aku menolak perjodohan ini. Tapi kenapa dia tidak paham?
“Kamu tidak perlu mencari alasan untuk membatalkan perjodohan ini. Karena sampai kapan itu tidak akan terjadi.”
s****n, sekalinya ngomong pedes banget itu mulut.
“Sekarang kamu tinggal bilang, kamu pengennya pernikahan kita nanti seperti apa?”
Aku mengukir senyum sinis menanggapi perkataan Ali. Baiklah, mari kita mulai permainan ini. Aku hanya berharap Ali tidak akan menyesal. “Aku mau undangan yang berkelas, dekorasi pernikahan serba warna putih. Dengan gaun mengembang layaknya putri kerajaan. Dipesan langsung dari butik ternama dengan kualitas bahan yang paling bagus. Bunganya harus mawar putih yang wanginya tahan lama. Roti pernikahannya menjulang tinggi. Aku mau pernikahan kita meriah dan berkesan, melebihi pernikahannya Raisa sama Hamiz.”
Ali hanya menggangguk kecil, dia kembali berkata, “Lalu, mas kawin apa yang kamu minta?”
“Emas putih dengan hiasan berlian di atasnya dan seperangkat alat sholat.”
“Ada lagi?” tanya Ali.
Aku mengambil nafas sejenak. Merasa heran dengan sikap Ali yang terlihat biasa. “Aku minta seserahannya nanti semua serba branded. Aku mau barang yang saat ini aku pengen ada disalah satu seserahan yang bakal Om kasih dan itu tugas Om buat cari tahu barang apa yang aku maksud.”
Dari awal aku sudah bilang, jangan bermain-main dengan seorang Ana. Jangan salahkan aku jika kamu mengalami kebangkrutan saat itu juga. Terserah mau dibilang cewek matre atau apa, aku tidak perduli. Ini konsekuensi yang harus dia ambil. Sudah aku katakan untuk membatalkan perjodohan ini, tapi Ali tetap bersikeras dengan pendirianya.
“Cuma itu saja? Tidak ada yang lain?”
Whattt?! Ali bilang cuma? Semua permintaan yang aku mau jika ditotalkan lebih dari 2 milyar, dan Ali dengan mudahnya mengatakan cuma? Sebenarnya apa pekerjaan laki-laki ini? Ali terlihat sangat biasa, seakan semua permintaanku bukanlah masalah baginya.
“Gimana, Ana?” tanya Ali memastikan.
“Sekarang itu aja, nanti kalau ada yang lain aku bilang ke Om,” jawabku.
Panggilan Bunda membuat obrolan kami selesai. Bunda langsung mengajak kami makan malam. Kembali membicarakan bagaimana perjodohan ini kedepannya dan yang membuatku kaget bukan kepalang adalah pernik ahan ini akan dilaksanakan bulan depan.
s**t! Double s**t!
♥♥♥
Mata kuliah yang harusnya masuk pagi, tapi oleh dosennya diganti masuk siang, itu rasanya nano-nano, antara senang dan juga kesal. Senangnya, aku masih ada waku untuk bersantai dan beristirahat di dalam kamar. Kesalnya, kenapa infonya harus dadakan?
Aku meriang, aku meriang, aku meriang, merindukan kasih sayang. Aku meriang, aku meriang, aku meriang, aku butuh kamu sayang.
Bibirku dengan sendirinya bergerak mengikuti lantunan musik yang diputar tetangga sebelahku. Laki-laki paruh baya yang sangat mencintai musik dangdut. Aku ikut menggerakan pinggulku saat alunan musik dangdut terdengar sangat menyenangkan. Sesekali memutar tubuhku, membayangkan jika aku sedang melakukan sebuah konser besar di atas panggung.
Tiba-tiba tubuhku menjadi kaku saat mendapati Ali sudah bersandar pada kusen pintu dengan kedua tangannya yang terlipat di depan d**a. Sejak kapan pintu kamarku terbuka lebar seperti itu? Padahal sebelum aku mandi, pintu sudah aku tutup rapat. Aku semakin gugup saat Ali mulai berjalan masuk ke dalam kamar. Menatapku datar dan dalam dengan mata tajamnya. Seingatku, hari ini aku tidak membuat janji dengan Ali.
“Om, ngapain disini?” tanyaku sedikit gugup. Pasalnya Ali berdiri tepat di depanku.
“Bersiaplah, aku ingin mengajakmu mencari cincin pernikahan kita,” ucap Ali. Seperti biasa, intonasi suaranya selalu datar.
“Terus tadi kenapa gak ketuk pintu dulu?” Dari dulu sampai sekarang, aku paling tidak suka jika ada orang yang seenaknya masuk ke dalam kamarku tanpa ketuk pintu terlebih dahulu, apalagi orang asing. Itu berlaku untuk siapa pun, termasuk Ayah dan Bunda.
“Sudah lebih dari lima kali, tapi tidak ada respon.”
Loh, iyakah? Tapi sejak tadi aku tidak mendengar ketukan pintu. Apa karena aku terlalu asik menikmati lagu dangdut tadi? Eh, tunggu! Jika pintunya sudah terbuka sejak tadi, berarti Ali melihat jogetanku?
“Ternyata benar ya, kalau kamu itu petakilan,” sindirnya diakhiri dengan senyum sinis. Rasanya aku ingin menonjok wajah Ali saat ini juga. Wajahnya terlihat sangat menyebalkan. “Bersiaplah. Aku tunggu di bawah,” lanjutnya.
Baru satu langkah Ali berjalan, dia berbalik menatapku. “Ah, satu lagi, kamu lebih cocok dengan baju tidurmu dari pada pakain seperti itu,” ucapnya dan langsung keluar dari kamarku setelah menutup pintu.
Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Ali barusan. Memangnya ada yang salah dengan penampilanku? Seketika aku melihat penampilanku di depan cermin dan…kyaa! Aku baru sadar jika aku masih menggunakan hot pans dan tangtop! Oh My God, kenapa aku harus ceroboh di saat seperti itu. Sangat memalukan.
♥♥♥
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang berarti. Ali hanya bertanya model cincin seperti apa yang aku suka, dan sudah pasti, mulutku yang manis ini tidak tanggung-tanggung dalam menjawab. Apa yang ada dipikiranku pasti langsung aku katakan. Sampai sekarang aku masih heran, kenapa Ali bisa menerima perjodohan ini dengan mudah. Padahal di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih kaya, sukses, dan matang. Aku yakin, walaupun Ali hanya mengedipkan matanya saja, sudah banyak wanita yang berebut untuk bersanding disampingnya. Tapi masalahnya, kenapa harus aku yang dia pilih?
Padahal sebelumnya kami tidak pernah bertemu. Aku tidak tahu siapa Ali, dan Ali juga tidak tahu siapa aku. Tapi dengan mudahnya dia menerima perjodohan ini. Jika hanya karena orang tuanya, entah kenapa aku merasa sedikit aneh. Memang aku menerima perjodohan ini karena Ayah dan Bunda, tapi aku melakukannya dengan terpaksa, dan aku tidak pernah mau perjodohan ini terjadi. Tapi berbeda dengan Ali, dia seakan tidak memiliki beban dalam perjodohan ini. Seolah ini adalah hal yang wajar.
Meski aku tahu ini terpaksa, aku harus mencoba untuk menerimanya. Lagi pula, percuma jika aku bersikeras untuk tetap menolak, semua usahaku selalu gagal dan tidak ada pilihan lagi. Kadang aku suka menangis dalam diam. Tidak menyangka diumurku yang terbilang masih muda ini, aku harus ditempatkan pada posisi yang rumit. Padahal masih banyak hal yang ingin aku lakukan, cita-citaku pun juga belum sepenuhnya tercapai.
Tapi, tiba-tiba ada orang asing yang tidak aku kenal. Datang dikehidupanku dengan mudahnya dan sebentar lagi orang itu akan menjadi pemegang kendali sepenuhnya atas hidupku. Jujur, ini sangat berat untuku. Aku masih ingin bebas, aku masih ingin mengejar karir, mengukir banyak cerita dengan sahabat-sahabatku, tapi setelah ini, apa mungkin itu masih bisa terjadi?
Seminggu ini, Bunda selalu memberiku wejangan atau petuah-petuah tentang bagaimana cara menjadi istri yang baik, mendidik anak, dan membina keluarga yang harmonis. Dari banyaknya wejangan itu, banyak sekali hal-hal yang berbanding terbalik dengan sifatku. Dan masalah anak, aku belum berpikir sampai sana. Aku belum siap. Aku masih muda, masa depanku masih panjang. Aku masih ingin fokus pada karir yang selama ini menjadi cita-citaku.
Tapi tanpa permisi, keadaan ini datang dalam kehidupanku secara tiba-tiba. Kenapa harus serumit ini, Tuhan! Aku memang ingin menikah, tapi nanti disaat aku sudah siap. Bukan seperti ini. Menikah karena terpaksa. Aku tahu menikah adalah lapang pahala yang sudah Tuhan siapkan, walau hal kecil pun yang dilakukan sudah dapat dihitung sebagai pahala. Tapi, jika semuanya dilakukan dengan terpaksa, apa mungkin masih bisa disebut sebagai pahala?
Setelah menempuh perjalan yang memakan waktu hampir satu setengah jam, mobil berwarna hitam mengkilap ini berhenti disalah satu toko perhiasan yang terkenal dengan brend dan harganya yang selangit. Aku tahu dan sangat amat tahu bagaimana kualitas perhiasan disini, belum lagi harganya yang benar-benar menguras kantong.
Jika di film romantis dan novel yang sering aku baca, disituasi seperti ini laki-laki akan turun dengan gaya kerennya, membukakan pintu dan mengulurkan tangannya. Membantu sang wanita turun hingga menimbulkan semburat merah di pipi dengan sensasi romantis. Tapi jika kalian berada di posisiku, JANGAN BERHARAP itu akan terjadi.
“Ayo turun.” Hanya kalimat singkat yang Ali keluarkan. Dan tanpa menungguku Ali langsung masuk ke dalam toko.
Aku mengambil nafas, mengukir senyum tipis, mencoba bersabar menghadapi sikap dingin Ali. Setelah merapikan tatanan rambutku, aku turun dengan tas tangan di tangan kananku. Saat aku memasuki toko, sudah ada pelayan yang menungguku. Dia terlihat masih muda, aku perkirakan umurnya masih dua puluh tahun.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa pelayan itu ramah.
“Tunjukan cincin pernihakan paling bagus yang kalian miliki,” jawab Ali dengan nada datarnya.
Seketika aku seperti orang bodoh. Mulutku menganga mendengar sederet kalimat yang keluar dari bibir merahnya. Ali tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Pelayan itu mengangguk, dia membawa kami pada deretan kaca bening yang menampilkan puluhan cincin berlian. Kepalaku menjadi pusing melihat banyaknya cincin indah di depan mataku. Aku menganga dan melotot lebar saat pelayan itu menunjukan tiga koleksi cincin berlian yang terpisah dari deretan cincin lainnya. Berliannya terlihat sangat mengkilap dengan ukiran yang sangat mulus.
“Ini adalah koleksi cincin terbaik yang kami miliki,” ucapnya dengan senyum hangat.
“Cobalah, dan pilih mana yang kamu suka,” perintah Ali.
Tanganku terasa bergetar saat akan mencoba cincin ini. Tiga cincin yang ada di depanku, seakan diciptakan khusus untuku. Semuanya sangat pas di jari manisku. Aku bingung harus memilih yang mana, semuanya sangat indah, rasanya aku ingin membungkus semuanya.
Ali masih menungguku. Matanya seakan tidak pernah lepas memandangku, melihat setiap ekspresi yang aku tunjukan. Aku semakin bimbang untuk menentukan cincin mana yang aku pilih. Dan sepertinya Ali mengetahui itu. Jadi, sebelum aku menjawab, Ali sudah mengambil cincin pertama yang aku coba dan memberikannya pada pelayan.
“Bungkus yang ini,” ucap Ali dan memberikan black card miliknya pada pelayan.
Ali menariku ke meja kasir untuk menyelesaikan transaksi ini. Aku hanya diam, masih berpikir tentang cincin yang dipilih Ali. Cincin yang dipilihnya adalah cincin dengan berlian putih yang sangat indah. Aku langsung jatuh cinta saat melihatnya pertama kali, belum lagi ukiran indah yang membingkainya. Aku tersenyum kecil, tidak menyangka Ali akan bertindak sejauh ini. Padahal aku tahu, harga cincin biasa di toko ini sudah sangat mahal. Tapi dengan mudahnya Ali memilih cincin terbaik di toko ini.
Tiba-tiba desiran aneh muncul di dadaku, terasa sangat hangat. Desiran yang terasa sangat asing untuku. Desiran yang menciptakan haru atas tindakan yang baru saja Ali tunjukan padaku. Ali memberikanku paper bag dengan brand ternama. Desiran itu semakin kuat saat Ali menghunusku dengan tatapannya yang sangat dalam. Membuatku seakan tersesat hanya dengan menatap mata hitamnya.
♥♥♥
Jalanan yang padat merayap membuatku berulang kali menghembuskan nafas lelah. Inilah salah satu permasalahan di Ibu Kota, kemacetan yang tiada akhir. Aku tidak tahu usaha apa lagi yang akan dilakukan pemerintah untuk mengurangi kemacetan ini. Karena setiap tahun selalu saja begini. Untung saja hari ini matahari terlihat malu-malu, jadi tidak begitu panas.
Tapi rasa lelahku terbayar saat mataku melihat ke arah paper bag dengan brand ternama. Coba saja ini bukan cincin pernikahan, sudah pasti aku memakainya sejak tadi. Aku tidak tahu, sebenarnya seberapa kaya laki-laki yang sekarang sedang fokus dibalik kemudinya ini. Apapun yang aku minta, pasti dengan mudah untuk Ali penuhi. Kadang aku bingung, aku harus merasa senang atau sedih. Bukan masalah seberapa banyak kekayaan yang Ali miliki. Bukan juga soal profesi dia yang menjabat sebagai dokter. Tapi, entahlah, hatiku masih bimbang. Yang pasti, aku belum siap jika harus menikah secepat ini.
Hampir satu jam kami terjebak dalam kemacetan dan akhirnya jalanan dapat berjalan dengan lancar. Masih beruntung kami hanya terjebak selama satu jam. Dan sekarang, perutku terasa sangat lapar. Untung saja tidak sampai berbunyi, aku akan sangat malu jika Ali sampai mendengarnya. “Om, laper!” Jika sudah seperti ini, aku tidak tahan lagi untuk menahan rasa laparku.
“Memangnya tadi pagi kamu tidak sarapan?” tanya Ali tanpa menoleh ke arahku.
“Udah sih, tapi cuma sarapan roti sama s**u,” jawabku.
“Kenapa tidak makan nasi?” tanyanya lagi. Tangannya begitu lihai dalam memutar kemudi saat kami berada ditikungan.
“Aku gak biasa sarapan pakai nasi.” Aku menunjukan senyum lebar, sampai deretan gigiku terlihat.
“Mulai sekarang kamu harus terbiasa sarapan dengan nasi. Asupan yang kamu makan pertama kali, itu yang akan menjadi energi yang akan kamu gunakan nantinya. Sebenarnya tidak masalah kalau kamu sarapan pagi dengan roti, tapi lebih baik lagi kamu sarapan dengan nasi. Karena kandungan gizi yang ada di dalamnya juga berbeda.”
Aku tidak akan lupa jika Ali adalah seorang dokter. Sekalinya dia berbicara tentang kesehatan, layaknya sebuah khutbah di hari Jum’at. Aku hanya mendengus dan memutar bola mata malas. Saat ini yang aku butuhkan adalah makanan, bukan ceramah.
“Terus sekarang gimana? Om mau cariin aku makanan apa enggak?” geramku. Sepertinya aku harus menambah stok kesabaran menghadapi laki-laki yang modelnya seperti Ali. Dan balasan dia hanyalah anggukan kecil. Bener-bener cocok jika aku menyebutnya dengan nama muka papan.
Sekitar sepuluh menit berikutnya, Ali memarkirkan mobilnya di salah satu restoran keluarga. Terlihat dari tulisan yang terpampang di depannya. Ditambah lagi dengan suasanan yang begitu bersahabat. Seperti sebelumnya, jangan berharap untuk mendapat perlakuan manis dari Ali. Setelah melepas sabuk pengamannya, Ali langsung keluar dari mobil t anpa menungguku lebih dulu. Dasar muka papan.