Aku tidak tahu kenapa orang-orang di kelasku isinya somplak semua. Makin hari, bukannya makin sadar, ini malah semakin menjadi. Ya, walau pun tidak semua yang seperti itu, ada beberapa di antara mereka yang masih sadar, tapi, itu pun dapat dihitung dengan jari. Sebenarnya penyakit somplak ini dimulai saat kami berada di semester tiga, dimana saat itu kami benar-benar gila karena tugas yang makin hari semakin menumpuk dan juga susah.
Dan kesomplakan inilah yang kami lakukan untuk menghilangkan rasa stress akibat tugas yang begitu mencekik. Tapi aku tidak tahu jika penyakit itu akan bertahan sampai detik ini. Siapa sih, yang tidak kenal dengan Fakultas Ekonomi? Baik dosen maupun seluruh mahasiswa di sini juga pasti kenal. Karena kelas ini dikenal dengan kelas gila, yang mayoritas isinya adalah orang somplak semua. Tidak laki-laki, tidak perempuan, semua sama saja. Bahkan yang awalnya pendiam pun lama-lama juga akan menjadi somplak seperti ini. Ya, contohnya saja aku.
Padahal sebelum masuk kampus ini, aku adalah seorang Ana yang sedikit pendiam, baik hati, lemah lembut dan tidak sombong. Tapi sekarang, tidak usah ditanya lagi bagaimana somplaknya aku. Bahkan Ayah dan Bunda sampai geleng-geleng kepala menghadapi sifatku yang sekarang ini. Hahaha maafkan anakmu ini Bunda. Tapi untuk sikap manja dan sedikit cerewet, dari pabriknya aku memang sudah seperti ini.
PLUK
Gumpalan kertas yang mendarat sempurna di kepalaku, menyadarkan aku dari lamuman. Kedaan kelasku hari ini benar-benar kacau akibat adanya kuis dadakan yang baru saja kami lakukan. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada kompromi, tiba-tiba saja saat dosen masuk langsung diadakan kuis dadakan seperti ini. Sang dosen dengan segala kebebasannya.
“Sorry Na, gue sengaja!” Itu suara Demon, laki-laki yang paling somplak di antara laki-laki yang ada di kelas ini.
“k*****t lo,” cibirku.
“Hahaha, ya, habis dari tadi ngelamun terus. Kemasukan jin tomang baru tahu rasa lo.” Aku hanya bergumam menanggapi ucapan Demon. “Eh, Na, gimana sama perjodohan lo?” tanya Demon.
“Ya, gak gimana-gimana,” kataku.
“Eh, seriusan si Ana mau kawin?” tanya Hendra yang mendapat anggukan dari Demon. Memang di kelasku, belum banyak yang tahu soal perjodohan ini. Lagi pula, untuk apa aku berkoar-koar, toh, aku menerima perjodohan ini juga karena terpaksa.
“Busett, badan kayak kutil naga aja, udah berani kawin lo, Na,” sahut Angga yang menghadirkan gelak tawa seisi kelas, aku hanya memutar bola mata malas. Lihat saja, sebentar lagi pem-bully-an pasti akan segera terjadi. Dan aku lah korbannya kali ini.
Beginilah nasib memiliki tubuh mungil. Sampai-sampai mereka menjulukiku si gadis semampai, semeter tak sampai. Miris bukan? Meskipun aku termasuk di salah satu jajaran primadona kampus, tapi jika aku memasuki kelas ini, aku hanyalah gadis malang yang selalu menjadi bahan bully-an mereka. Karena mereka sudah tahu, seperti apa sifat dan sikapku terhadap mereka.
“Tahu ni, badan pas-pasan aja udah mau kawin. Mau lo kasih makan apa entar laki lo?” ejek Angga. Aku hanya tersenyum kecil mendengar ejekan Angga barusan. Merasa sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
“Ana, mau gak, gue kenalin sama temen gue? Dijamin deh dia bakal bantu lo,” ucap Demon dengan kerlingan nakalnya. Tapi dengan bodohnya, aku malah menanggapi dengan bertanya ‘siapa?’
“Pembesar b****g dan d**a. Hahahaha.”
Dan seketika keadaan kelas lebih ramai dari sebelumnya.
♥♥♥
Cuaca yang panas siang hari ini, paling nikmat jika ditemani dengan semangkuk bakso Kang Mamat dan juga secangkir es campur ekstra. Hahhh, benar-benar surga dunia. Dan itulah yang kami lakukan saat ini. Iya kami, si geng Cangcutters yang paling eksis seantero kampus. Tempat yang kami pilih saat ini berada tepat di samping kampus. Ini adalah tempat tongkrongan kami yang kedua, setelah mall yang menjadi tempat kami berburu diskon.
Di tempat ini segala jenis pembahasan pasti akan terjadi. Tidak tangung-tanggung. Dari kelas atas sampai kelas bawah, semua ada di sini. Tidak ada yang namanya jaim-jaiman. Apalagi jika di tempat ini sudah ada Stefy, biangnya gosip sejagat raya, lengkap sudah.
“Ada hot news apa lagi, ni?” Itu suara Fitri, orang yang paling tidak sabaran jika sudah menyangkut pergosipan diantara kami berempat.
“Elahh, sabar dulu kenapa. Baru juga mau makan bakso. Bentar, biar gue kalarin dulu ngunyah baksonya, baru gue cerita,” balas Stefy yang terlihat begitu nikmat memakan baksonya. Sedangkan kami bertiga hanya mengangguk patuh saja, menunggu ratu gosip menyelesaikan ritualnya.
“Kalian pada kenal Fida anak Sastra, gak?” tanya Stefy, itu menandakan bahwa pergosipan ini akan segera dimulai. Kembali, kami hanya menggeleng, karena memang kami—terutama aku pribadi, tidak begitu dekat dengan anak fakultas lain.
“Menurut kabar yang beredar, katanya bulan depan dia mau nikah sama...sama...siapa ya tadi. Bentar-benar gue mikir dulu...ah ya, sama Firman anak psikolog. Tapi gak tahu juga, sih, berita itu bener apa enggak, soalnya masih simpang siur,” jelasnya.
“Lo gimana sih, Stef, dapet berita gak akurat gitu. Biasanya kan, lo kalo dapet info pasti sampai keakar-akarnya lo kupas. Lah ini, masak baru simpang siur yang belum pasti kebenaranya,” keluh Kiki, dan aku juga sependapat dengan dia. Karena tidak biasanya Stefy seperti ini. Temanku yang satu ini, jika sudah menyangkut dunia pergosipan, terkadang bisa berubah menjadi detektif dadakan. Berita yang tersimpan rapat-rapat pun, kalau sudah berurusan dengan Stefy pasti langsung terbongkar.
“Ya, mana gue tahu, soalnya kemaren gue juga lagi sibuk, jadi gak terlalu ngupas sampe dalemnya. Baru kulitnya aja yang gue lihat.”
“Fix, hari ini lo gak asik,” dengus Fitri, yang langsung mengalihkan pandangannya pada segelas es campur ekstranya.
“Terus, perjodohan lo sama si Ali gimana, Na? Persiapannya udah sampai mana?” tanya Kiki yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Mengalihkan sih mengalihkan, tapi kenapa harus pada perjodohan s****n ini?
“Ya gitu, tiga minggu lagi gue bakal resmi jadi milik orang,” dengusku kesal. “Kenapa harus gue sih, yang jalani perjodohan s****n kayak gini? Padahal gue masih muda, yang suka sama gue juga masih banyak, ngapain coba pakai acara jodoh-jodohan segala. Gue masih pengen habisin masa muda gue sama kalian, bukan malah jadi bini orang gini,” cerocosku dengan entengnya, lagi pula memang itu yang aku rasakan.
Dan berikutnya, aku malah mendapat toyoran yang cukup keras dari Fitri. “Lo itu g****k, oon, atau gimana sih, Na?! Harusnya lo itu bersyukur bisa dapet calon suami kayak Ali. Udah mapan, ganteng, nurutin semua keinginan lo. Ali itu termasuk suami able tahu gak, dan harusnya lo seneng.”
Tapi bukan masalah suami able atau enggaknya, masalahnya adalah hati. Jika suatu hubungan harus dijalani dengan terpaksa, itu akan percuma. Apalagi ini pernikahan, hubungan sakral yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup.
Mungkin untuk orang lain akan setuju dengan apa yang disampaikan Fitri dan kedua sahabatku. Ali memang termasuk dalam kategori suami idaman. Dalam urusan finansial, dia juga bisa dikatakan sangat mapan. Siapa pun yang akan menjadi pasangannya nanti juga akan terjamin kebutuhan jasmaninya. Tapi bagaimana dengan kebutuhan batinnya, apakah ada yang bisa menjamin?!
Bagiku, pernikahan adalah menyatukan dua kepala dengan isi yang berbeda dalam ikatan yang sakral di bawah naungan satu atap. Jika dua kepala itu tidak dapat menyatukan jalan pemikirannya, lalu mau dibawa kemana hubungan ini kedepannya? Aku juga seperti orang pada umumnya. Menginginkan suatu hubungan rumah tangga yang terjalin lama, bahkan sampai maut memisahkan.
Tapi jika keadaannya seperti ini, apakah itu mungkin? Sedangkan perasaan itu saja tidak ada.
♥♥♥
Sedari tadi yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garbu yang beradu di atas piring. Seperti biasa, tidak ada pembahasan jika kami berada di meja makan. Dan malam ini nafsu makanku seakan hilang bersama angin, seperti suasana hatiku yang saat ini sedang mendung. Aku masih terbayang-bayang dengan pernikahanku yang tiga minggu lagi akan dilaksanakan. Bahkan aku sampai tidak sadar jika Ayah dan Bunda sudah menyelesaikan makan malamnya. Jika bukan karena usapan Bunda di lenganku, mungkin aku masih akan terus bertahan dengan posisiku saat ini.
“Kamu kenapa sayang?”
Aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Tapi dasarnya orang tua, mereka pasti merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya. Dan sayangnya, Bunda ku termasuk dalam kategori orang yang sangat peka. Jadi disinilah aku, duduk di ruang tengah dengan Bunda yang sedari tadi membelai rambut panjangku. Hanya kami berdua, karena Ayah sudah asik berpacaran dengan berkas-berkasnya.
“Ada apa? Kalau ada sesuatu, bilang ke Bunda. Jangan malah kamu simpan sendiri kayak gini,” lirih Bunda. Aku masih bertahan dengan kebisuanku saat ini, karena aku bingung harus bagaimana aku mengungkapkan semua sesak yang aku rasakan saat ini.
“Apa karena perjodohan itu?” tebak Bunda.
Pada akhirnya aku tidak bisa mengelak, aku hanya mengangguk kecil dan mulai menyandarkan kepalaku di bahu Bunda. Sandaran ternyaman setelah bahu Ayah. Tanpa diminta, air mataku mulai menetes, semuanya terlalu sesak jika harus aku pendam sendirian. Dan Bunda terus mencercaku dengan pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa?
“Aku belum siap aja Bunda dengan kenyataan ini. Semuanya terlalu cepat dan aku juga belum siap buat jalaninnya. Bunda juga tahu sendirikan, aku gak punya perasaan apapun sama Ali, terus nanti gimana sama rumah tangga aku kalau dari awal semuanya gak didasari dengan cinta?” tanyaku dengan isakan kecil. Aku membiarkan saja air mata ini saling berjatuhan. Aku merasa sesak jika harus menahannya terlalu lama.
“Bunda tahu ini berat buat kamu. Tapi, apa yang Ayah sama Bunda lakuin juga demi kebaikan kamu, sayang,” ucap Bunda mengelus rambutku, yang perlahan membuatku tenang. “Kami gak mungkin asal pilih pendamping buat kamu. Apalagi Ayah, kamu juga tahu sendiri kan gimana posesifnya Ayah sama kamu. Seseorang yang harus jadi pendamping kamu nanti, harus benar-benar sesuai dengan kriteria Ayah, dan itu semua ada pada Ali. Percaya sama Bunda, rumah tangga kalian nanti pasti bakal berwarna. Kalian akan menemukan kejutan-kejutan baru setelah menikah.”
“Dan dengan seiringin berjalannya waktu, rasa kasih sayang, cinta, dan kenyaman pasti akan tumbuh di benak kalian,” sambung Bunda.
Andai semuanya semudah seperti apa yang Bunda katakan, mungkin aku tidak akan sekacau sekerang. Tapi nyatanya, perkataan terlalu mudah untuk diucapkan tapi begitu sulit untuk dijalankan. Apa aku bisa membina hubungan dengan baik? Sedangkan aku saja tidak suka dengan suatu hubungan yang terikat. Ah, ralat. Bukan tidak suka, hanya saja ini terlalu dini untuk memikirkan hubungan yang terikat, apalagi seserius seperti ini.
♥♥♥
Pagi ini adalah jadwalku dan Ali untuk melakukan fitting baju di salah satu butikternama yang berada di kawasan Depok. Perancangnya sendiri kini sudah mulai berkiprah di kalangan Internasional, jadi tidak perlu diragukan lagi bagaimana hasil karyanya. Dan berhubung hari ini jadwal kami sama-sama kosong, aku dan Ali akan menghabiskan waktu bersama seharian ini. Kata Ali, ini sebagai bentuk pendekatan sebelum nanti kami tinggal bersama.
Karena memang sejauh ini intensitas kedekatan kami tidak begitu baik. Komunikasi hanya seperlunya, kecuali jika ada sesuatu yang penting. Ali yang sibuk dengan pekerjaanya, dan aku yang sibuk dengan kuliahku. Bahkan aku sendiri tidak tahu profesi Ali sebagai dokter apa, yang aku tahu, Ali hanyalah seorang dokter.
Saat kami duduk bersebelahan seperti ini pun, tidak banyak obrolah yang terjadi. Terlalu banyak keheningan yang menemani kami. Ali yang sibuk dengan pemikirannya, yang aku tidak tahu itu apa. Dan aku yang sibuk dengan pemikiranku sendiri.
Jalanan yang tidak terlalu padat, memudahkan mobil yang kami kendarai melesat di jalanan Ibu kota. Untung Ali tepat memilih waktunya, sehingga kemungkinan terjadinya macet dapat dihindari. Tepat pukul sembilan pagi, mobil Ali berhenti di pelataran parkir butikdengan gedung dua lantai ini. Seperti biasa, Ali yang hari ini menggunakan kemeja hitamnya turun lebih dulu setelah melepaskan sabuk pengamannya. Dan masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada acara membukakan pintu untuku.
Sedangkan aku yang hari ini memilih menggunakan dres lengan pendek berwarna dusty pink, masih berkutat dengan beberapa benda yang tadi sempat aku keluarkan dari dalam tas. Tapi bedanya hari ini, Ali masih menungguku di depan pintu masuk. Karena biasanya jika Ali sudah keluar dari mobil, Ali akan memilih masuk lebih dulu dan menungguku di dalam. Dan saat aku sudah berdiri di depannya, tanpa aba-aba Ali langsung menggenggam lembut tanganku. Membawaku masuk ke dalam butik.
Saat ini aku merasa jantungku akan lepas dari tempatnya. Ini memang bukan pertama kalinya tanganku digenggam oleh laki-laki, mengingat begitu banyak gebetan yang pernah jalan denganku. Tapi entahlah, kali ini rasanya berbeda. Ada sensasi yang berbeda yang tidak aku temukan dari gebetan-gebetanku sebelumnya. Sampai salah satu karyawan di butikini menghampiri kami, Ali belum juga melepaskan genggamannya.
Setelah terjadi beberapa obrolan singkat, pegawai itu menuntun kami menuju sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk fitting baju. Sepanjang jalan yang kami lewati, begitu banyak deretan gaun-gaun dengan berbagai jenis model terpajang disana. Benar-benar membuat khilaf mata, terutama untuk wanita sepertiku. Belum lagi harganya yang puluhan bahkan sampai ratusan juta, sudah pasti bahannya akan terasa sangat lembut saat bersentuhan dengan kulit. Sayangnya hari ini pemilik butik sedang berhalangan untuk hadir, beliau sedang mengadakan pameran busananya di Amerika. Padahal aku ingin sekali dapat bertemu dengannya langsung.
“Silahkan,” ucap pagawai itu dengan senyum ramahnya. Sontak aku tersadar dari keterpukauanku pada gaun-gaun yang sangat indah ini. Dan bisa aku lihat Ali yang sudah duduk di salah satu sofa yang sudah disiapkan, tentunya tidak jauh-jauh dengan ponsel yang ada digenggamannya.
Tepat setelah kakiku masuk ke dalam, mataku kembali dibuat melebar dengan pemandangan yang aku lihat. Gaun ini...gaun ini...aaa gaun ini adalah gaun impianku selama ini! Gaun dengan warna putih gading, bermodel lance dibagian dadanya, dengan lengan panjang sebatas siku, ditambah asken bunga-bunga yang hampir menghiasi seluruh gaun ini, serta beberapa taburan kristal yang menghiasi dadanya. Belum lagi pada bagian pinggang yang terlihat sangat ramping, juga bagian pinggul yang mengembang sampai mata kaki. Tuhan, ini benar-benar sempurna. Kenapa Ali bisa tahu sedetail ini selera gaun yang aku inginkan?
Pegawai itu membantuku menggunakan gaun ini. Menggulung rambut panjangku ke atas, dia juga menambahkan mahkota kecil di kepalaku. Aku terpukau saat melihat penampilanku di depan cermin besar yang ada di ruangan ini. Aku terlihat sangat berbeda dan gaun ini terlihat sangat pas di tubuhku.
“Anda terlihat seperti putri kerajaan, Nona. Gaun ini sangat cocok untuk Anda,” komentar pegawai itu. Aku mengangguk kecil dengan senyum lebarku. Aku sangat menyukai gaun ini.
Aku keluar dari ruangan, sedikit mengangkat gaunku untuk memudahkanku berjalan. Pegawai wanita itu membatu mengangkat ekor gaunku yang sedikit panjang. Saat aku berdiri di depan Ali, terlihat jelas jika Ali memandangku tanpa berkedip. Membuat senyuman tipis tercetak di bibirku. Ali terpukau dengan penampilanku.
Begitu tersadar, Ali mengerjab kecil. Kemudian senyum tipisnya terlihat saat menatapku. Sepertinya Ali benar-benar serius dengan pernikahan ini, bahkan semua syarat yang aku ajukan padanya, dengan mudahnya Ali lakukan. Ali berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arahku dengan langkah tenangnya. Tangannya dimasukan ke kantung celana. Matanya menyorot hangat padaku. Kembali memandang penampilanku dari atas sampai bawah.
“Cantik,” bisik Ali tepat di samping telingaku. Membuat pipiku terasa menghangat. Sebelum akhirnya Ali masuk ke dalam untuk mencoba setelan jas putihnya.
Setelah keluar dari butik yang ada dikawasan Depok, kami—lebih tepatnya aku yang memilih, langsung memutuskan untuk pergi ke salah satu mall yang ada di Jakarta. Tujuan awal kami ke sana sebenarnya hanya untuk singgah makan siang, tapi saat aku melihat poster yang menarik perhatiaku, saat itu juga aku langsung menyeret Ali ke arah bioskop. Salah satu idolaku filmnya hari ini sedang diputar. Dan beruntungnya Ali tak menolak semua permintaanku, dia selalu menurut.
Aihhhhh, calon suami pintar.
Tidak hanya berhenti sampai di sana, sekitar pukul dua siang, aku kembali mengajak Ali bermain di wahana Dufan. Hari ini aku ingin mengabiskan sisa hariku dengan bersenang-senang di dunia fantasi itu. Sampainya di sana, wahana yang pertama kali kami coba adalah roller coaster. Wahana yang benar-benar sukses memompa degup jantungku berkali-kali lipat. Dan teriakan belasan manusia yang menaiki wahana super dahsyat ini sangat menggelegar.
Ada yang berteriak histeris. Ada yang menangis. Ada yang semangat. Dan ada pula yang hanya menutup matanya sambil berkomat kamit membaca doa. Sedangkan aku, sudah pasti aku berteriak karena semangat. Karena jarang-jarang aku menaiki wahana seperti ini. Soal Ali, ah, jangan ditanya lagi. Laki-laki itu sama saja, tidak ada ekspresi yang ditunjukan olehnya.
Selama wahana ini membolak balikkan tubuh manusi dengan mudahnya, Ali hanya diam dan sesekali menghela nafas jengah. Mungkin dia tidak terbiasa dengan kebisingan seperti ini, belum lagi teriakan wanita-wanita yang sungguh dahsyat itu. Tapi, ya sudahlah, sesekali tidak masalah. Tidak berhenti sampai sini, masih banyak wahana yang kami coba. Kami hanya beristirahat sebentar, sekedar untuk makan dan menjalankan ibadah wajib.
Bahkan kami sampai berganti pakaian karena basah kuyup saat menaiki wahana air. Beruntungnya di tempat ini menyediakan toko baju, jadi setelah kami selesai bermain dengan wahana air yang menyenangkan ini, Ali langsung pergi ke salah satu toko baju yang ada sini. Tapi anehnya, baju yang dia beli adalah baju couple dengan warna putih dan biru langit.
Sebelum pulang, aku kembali mengajak Ali menaiki biang lala yang jika malam hari akan terlihat semakin indah dengan lampu-lampu yang menghiasinya. Dan sekali lagi, Ali menuruti permintaanku. Ah, hari ini Ali benar-benar membuatku senang. Meski tidak banyak ekspresi yang dia tunjukkan, tapi setidaknya dengan perhatian kecil yang dia berikan, itu sudah cukup bagiku.
“Om,” panggilku.
“Hmm?”
“Makasih ya, buat hari ini,” ucapku tulus. Dan Ali hanya membalas ucapanku dengan senyum simpulnya, membuat pipinya sedikit tertarik ke atas.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan padanya, tapi aku sedikit ragu. Saat aku kembali menatapnya, Ali juga menatapku. Laki-laki itu seakan tahu jika ada sesuatu yang aku pikitkan, membuat kedua alisnya terangkat ke atas seolah bertanya ‘ada apa?’
“Mmmm, Om. Emang dari dulu sikap Om selalu kayak gini ya?” tanyaku sedikit ragu.
Satu alisnya kembali terangkat, “Maksudnya?”
“Cenderung...dingin.” Jawabku pelan, bahkan hampir menyerupai bisikan.
Tapi sepertinya Ali masih bisa mendengarnya, membuatku meringis ke arahnya. Belum sempat Ali menjawab, tiba-tiba biang lala yang kami naiki berhenti mendadak, membuat keseimbanganku sedikit goyah. Untung saja Ali langsung memegang kedua lenganku, kalau tidak, sudah dipastikan aku akan jatuh ke arahnya. Dan saat itulah mata kami kembali bertemu. Mata Ali terlihat begitu teduh, membuatku sedikit enggan untuk berpaling.
Bahkan aku sampai lupa dengan pertanyaan yang baru saja aku ajukan. Karena mata hitamnya seakan membiusku, mengunci pandangku agar terus menatap ke arahnya. Menghadirkan perasaan yang tiba-tiba menjalar pada rongga dadaku. Menciptakan perasaan yang cukup...nyaman.
♥♥❤
Aliandra's Pov
Ana yang baru saja tertidur sekitar dua puluh menit di sampingku, terlihat damai dalam tidurnya. Sepertinya dia kelelahan, mengingat tingkahnya yang seharian ini tidak pernah diam. Padahal usianya sudah menginjak dewasa, tapi tingkahnya masih terlihat seperti bocah berusia sepuluh tahun. Bahkan aku sendiri hampir kewalahan menghadapi sikapnya yang terlalu hyperaktiv. Mobil yang aku kemudikan baru saja keluar dari jalan tol sekitar sepuluh menit yang lalu, tapi Ana sudah tertidur pulas di tempatnya.
Hanya ada keheningan yang menemaniku sepanjang perjalanan ini. Tidak ada suara radio, tidak ada suara cerewetnya, hanya keheningan, yang sesekali terusik karena suara bunyi klakson yang saling bersahutan. Saat mobil ini berhenti untuk kesekian kalinya karena trejebak lampu merah, Ana dengan tubuh mungilnya terlihat menggeliat, mencari tempat yang nyaman. Tanpa permisi tanganku mulai terulur ke arahnya, menyibak anak poninya yang sedikit menutupi wajah imutnya. Ya, aku akui, Ana memang memiliki wajah imut, ditambah dengan lesung pipit yang ada di bawah matanya. Membuatnya semakin terlihat lucu.
Kembali dia menggeliat kecil, kadang juga mengeluarkan gumaman kecil yang tak dapat aku dengar dengan jelas. Persis seperti bocah, bukan? Untung saja baju yang aku pilih tadi memiliki lengan yang panjang, setidaknya dengan ini Ana tidak akan kedinginan. Bibirku sedikit terangkat saat menatap wajah damainya. Ternyata Ana sudah lupa dengan kejadian itu. Dan aku juga tidak bisa menyalahkannya, karena kejadian itu juga sudah lama terjadi. Wajar jika dia lupa.
“Mmm, bentar lagi Bunda,” gumannya pelan. Bahkan di saat seperti ini pun, dia masih sempat-sempatnya mengigau.
Dasar gadis permen.
Tepat pukul sembilan malam, mobilku terparkir di pekarangan rumah Ana. Tapi Ana masih saja tidur, tidak merasa terganggu dengan keadaan sekitarnya. “Ana, bangun. Kita sudah sampai.” Sudah ketiga kalinya aku membangunkan Ana. Bukannya bangun, dia malah menggeliat kecil. Bahkan tepukanku di pipi chuby-nya seakan tak ada pengaruhnya untuk Ana.
Aku hanya bisa menghela nafas jengah, mau tidak mau aku harus menggendong dia sampai ke kamarnya. Tubuh mungilnya terasa begitu pas dalam rengkuhanku. Aku tidak tahu berapa bobot Ana, aku seperti menggendong seorang bocah, bukan wanita yang berusia dua puluh dua tahun.
“Loh, Li. Ana kenapa?” tanya Tante Rosa, saat pintu berwarna putih s**u itu terbuka.
“Ketiduran,” balasku.
“Ya sudah, langsung bawa ke kamarnya ya.” Tante Rosa melebarkan pintu masuk. Membuatku semakin leluasa untuk membawa Ana. Aku semakin mengeratkan pelukanku saat tubuh mungilnya kembali menggeliat.
Ini kedua kalinya aku masuk ke dalam kamar Ana, dan baru kali ini aku bisa mengamati lebih jelas suasana kamarnya. Kamar yang didominasi dengan warna putih dan biru, juga dengan berbagai macam aksesoris dari kartun berwarna biru.
Jujur saja, aku cukup merindukan masa-masa singkat saat bersamanya dulu. Meski itu sudah lama sekali, tapi semua masih tersimpan jelas di otakku. Tapi untuk sekarang aku hanya diam, aku tidak mungkin memberitahunya secepat ini. Biarlah sekarang seperti ini dulu sampai saat itu tiba, atau setidaknya sampai dia sadar dengan sendirinya.
“Apa sih lo muka papa, gue tampol juga lo.”
Aku menggelengkan kepala saat kembali mendengar rancauan Ana yang tidak jelas. Dan aku tahu, kata ‘muka papan’ itu pasti ditunjukkan kepadaku. Dasar. Baiklah, sudah cukup aku berada di kamar ini. Aku ingin segera pulang karena tubuhku sendiri juga terasa sangat lelah.
“Mau langsung pulang, Li?” tanya Tante Rosa saat aku melewati ruang tengah.
“Iya, Tante,” jawabku.
“Oh ya sudah, hati-hati ya.”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Kota Jakarta memang tidak pernah tidur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, tapi masih banyak mobil yang berlalu lalang di jalanan ini. Belum lagi anak-anak motor yang dengan sengaja mengubah knalpot motornya, membuat keadaan semakin terasa bising. Dan itu sedikit mengusikku. Aku memang tipe orang yang tidak begitu suka dengan keramaian. Karena kata itu jauh dari kedamaian.
Lagu dari salah satu idolaku terdengar nyaring dari benda tipis yang ada di dasbord mobil. Aku sedikit menepikan mobilku ke kiri jalan, karena tidak baik jika menerima panggilan sambil mengemudi. Di sana tertera nama Fahmi, salah satu patner kerjaku di rumah sakit.
“Selamat malam dokter Ali. Maaf malam-malam mengganggu,” sapanya dengan bahasa formal.
“Selamat malam dokter Fahmi. Ada apa?” tanyaku. Punggungku bersandar pada sandaran mobil. Ini terasa sangat melelahkan.
“Ada pasien yang memerlukan tindakan operasi dok. Dan dokter yang bertugas berhalangan hadir karena mengalami kecelakaan. Kami kekurangan tenaga medis, jadi bisakah dokter Ali datang kemari? Situasinya sedikit darurat dok.”
Aku bisa mendengar nada khawatir dan juga panik dari salah satu rekan kerjaku. Seharusnya hari ini adalah jadwalku libur dari semua pekerjaan, tapi jika situasinya seperti ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengambil tindakan. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku.
“Setengah jam lagi saya sampai. Minta suster untuk menyiapkan semua kebutuhan selama operasi, dan selalu pantau kondisi pasien,” ucapku.
“Baik dok.”
Setelah itu sambungan terputus. Aku memilih jalur pintas agar cepat sampai di rumah sakit. Dan berhubung jarakku saat ini tidak begitu jauh, jika perkiraanku tidak meleset, aku akan sampai di sana sekitar dua puluh menit.
♥♥♥
Menjadi seorang dokter bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak waktu yang akan terkuras untuk menangani banyaknya pasien di ruangan yang serba putih ini. Belum lagi jika ada operasi dadakan dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Ada yang menghabiskan waktu dua jam, tiga jam, empat, bahkan sampai enam jam. Tergantung separah apa keadaan pasien yang harus dioperasi.
Jadwal yang seharusnya kosong, tiba-tiba saja terisi oleh operasi dadakan seperti yang saat ini sedang aku lakukan bersama para medis lainnya. Dan operasi yang kami lakukan saat ini adalah laminectomy surgery, atau menyelamatkan saraf tulang belakang yang terjepit. Penyakit ini biasanya ditandai dengan adanya rasa nyeri dibagian pinggang, atau sering nyeri punggung bagian bawah bahkan sampai ke lutut. Selain itu juga karena adanya riwayat terjatuh atau adanya benturan yang mengangibatkan ketegangan pada otot saraf tulang belakang. Dan jika keadaan ini tidak segera mendapatkan tindakan yang serius, maka akan berakibat fatal bagi kesehatan pasien.
Membutuhkan waktu hampir dua jam dalam proses operasi kali ini. Untungnya operasi berjalan dengan lancar, dan itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk kami para dokter. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruanganku. Aku tidak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini. Seluruh tulangku rasanya remuk. Jadi lebih baik aku beristirahat satu sampai dua jam di ruangan ini, atau lebih parahnya aku akan menginap disini. Berhubung ada ruangan yang menyerupai kamar mini di ruangan ini, yang pastinya hanya orang-orang tertentu yang tau ruangan itu.
Tok...Tok...Tok
Rencanaku untuk istirahat harus kembali tertunda. Padahal waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam, dan seharusnya itu waktu untuk istirahat. “Masuk,” kataku kembali menegakan punggung yang baru saja aku sandarkan.
Ketika pintu kayu berwarna coklat itu terbuka, masuklah laki-laki yang masih lengkap dengan setelan jas dokternya. Dia Om Herman, adik dari Papa. “Belum balik Li. Bukannya hari ini jadwalmu libur, ya?” tanya Om Herman. Laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan Papa itu berjalan ke samping kanan, mengambil air mineral yang ada di kulkas mini.
“Ada operasi dadakan Om. Dokter yang tugas kecelakaan,” jelasku.
Om Herman menganggukan kepalanya tanda mengerti. Kemudian, dia kembali berkata, “Tadi Mama kamu pesen, katanya dia kangen sama kamu. Sesekali pulanglah ke rumah, jangan di apartemen terus.”
“Kalau jadwalku sudah longgar, aku akan pulang.” Sejak dua tahun yang lalu aku memang memutuskan untuk tinggal di apartemen. Tempat itu adalah lokasi yang paling dekat dengan ke rumah saki. Aku hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai sini.
Om Hendra akhirnya keluar dari ruanganku setelah sekali lagi menyampaikan pesan dari Mama. Aku memang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya. Terakhir aku ke sana saat malam aku datang ke rumah Ana. Itu sekitar dua minggu lalu. Sebenarnya aku tidak ingin pulang ke rumah, aku berencana untuk langsung ke rumah Ana. Tapi Mama memaksaku, membuatku mau tidak mau harus kembali ke rumah. Setelah acara dari rumah Ana, aku memutuskan untuk kembali ke apartement. Entahlah, aku merasa tidak pernah betah berada terlalu lama di rumah Mama. Aku tidak bisa menemukan ketenangan.
Berbeda dengan apartemenku. Di sana aku bisa mendaptkan apa yang aku cari.
Kedamaian.
Ketentraman.
Dan kenyamanan.