Pulang kuliah langsung tancap gas ke mall untuk shoping adalah salah satu obat yang mujarab untuk menghilangkan rasa penat dan stress pikiran. Selain bisa berburu diskon, bisa juga untuk cuci mata. Saat ini, sudah ada tiga kantong kresek berwarna putih yang ukurannya cukup besar dan tiga paper bag yang sudah ada di atas meja pantry rumahku.
Isinya tidak banyak, hanya beberapa jenis sayuran, buah-buahan. Ada juga daging ayam, daging sapi, roti kering, keripik, coklat, sirup beberapa rasa, beberapa bumbu cepat saji, ice cream, dan beberapa hasil buruan diskon.
“Udah kayak belanja bulanan aja kita,” ucap Stefy diakhiri kekehan renyahnya.
“Hahaha, mana hampir semua masakan kita borong lagi,” sambung Kiki.
“Gak papa lah, lagian yang bayarin juga bukan kita, jadi tenang aja,” ucap Fitri.
Sahabatku ini memang sangat mengesalkan. Mereka mengambil bahan apa saja yang mereka mau. Tapi ujung-ujungnya aku yang harus membayar. Kata mereka, ini sebagai ganti traktiran yang belum terlaksana. Traktiran yang sangat luar biasa sampai menguras kantong.
“Terserah kalian aja deh, terserah.” Aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Dan mereka bertiga kompak menertawakan penderitaanku. Menyedihkan sekali nasibku memiliki sahabat seperti mereka.
“Ana, gimana persiapan pernikahan lo?” tanya Stefy.
“Semuanya udah kelar, urusan gedung, cetring beserta teman-temannya, Ali serahin langsung ke WO. Jadi gue sama dia tinggal urusin gaun, undangan, sama cincin nikahnya aja,” jelasku. Saat ini persiapan pernikahanku sudah 90% selesai. Tinggal beberapa hal yang harus diurus.
“Eh, cincin yang lo kirim ke group kemaren bikin gue ngiler tahu gak. Keren bangett!!!”
“Sama Fit, gue aja sampai melongo liat cincinnya. Gak kebayang deh harganya yang segunung,” sahut Kiki.
“Beruntung banget sih lo, Na, bisa dapetin calon suami kayak Ali. Lo minta apa aja pasti dituruti sama dia.”
Stefy benar. Semua permintaan yang aku ajukan dengan mudahnya dipenuhi oleh Ali. Sampai permintaan yang menurutku keterlaluan, dengan mudahnya Ali berikan. Dan itu malah membuatku bingung, antara sedih atau bahagia. Jadi aku hanya bisa menanggapi ucapan Stefy barusan dengan senyuman, karena aku bingung harus bereaksi seperti apa.
“Eh, berhubung sebentar lagi lo nikah dan jadi bini. Boleh dong masakin kita makanan. Sekalian latihan jadi istri yang berbakti.”
“Nahh, bener tuh Ki, setuju gue.”
“Alah, emang dasarnya kalian aja mau negrjain gue, bilang aja kalian lagi males masak. Pakai acara latihan segala,” cibirku.
Mereka bertiga memang selalu seperti itu, datang ke rumahku hanya untuk meminta makanan. Tidak tanggung-tanggung, satu wajan jika sudah dihadapkan dengan mereka, pasti langsung habis. Tapi, dasarnya sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, jadi Ayah dan Bunda tidak pernah mempermasalahkannya. Mereka malah merasa senang saat rumah ini terlihat sangat ramai dengan sikap berisik mereka bertiga. Orang tuaku memang sesantai itu.
♥♥♥
Aku baru saja selesai mandi. Berhubung hari ini aku tidak memiliki jadwal kuliah, aku akan menghabiskan waktuku di dalam kamar, ditemani dengan beberapa cemilan untuk menonton drama korea terbaruku. Jauh dari kebisingan, jauh dari kejahilan, yang ada hanya ketenangan. Ahh, benar-benar nikmat. Setelah selesai sarapan, aku langsung kembali ke dalam kamar. Mengunci diri untuk menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan.
Karena terlalu asik dengan film yang aku lihat, aku sampai lupa waktu. Angka yang tadinya baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi, sekarang sudah berubah menjadi setengah sebelas siang. Wahh, benar-benar tidak terasa. Terlebih jika pemeran utamanya seperti Lee Min Hoo, aku bisa saja lupa dengan keadaan sekitar.
Tiba-tiba suara Bunda terdengar melengking. “Ana!!” teriak Bunda dari lantai bawah.
Aku menghela nafas, merasa terganggu dengan teriakan Bunda. Tapi jika aku tidak segera turun, bisa-bisa Bunda mengeluarkan suara emasnya. Dan percayalah, itu sangat tidak baik.
“Iya Bunda, bentar!!” jawabku balik berteriak.
Dengan sedikit berlari aku menuruni anak tangga. Rambutku aku jadikan satu dan aku ikat secara asal. Aku langsung menghampiri Bunda yang sedang berkutat di dalam dapur. “Ada apa Bunda?” tanyaku. Badanku bersandar di meja pentry, memperhatikan Bunda yang sedang sibuk dengan masakannya.
Kecantikan Bunda akan semakin terpancar saat wanita itu menggunakan celemek yang digunakannya untuk berkutat di dapur. Seperti ada sesuatu yang bersinar dari dalam tubuhnya. Kerap kali aku menyebut Bunda dengan julukan ‘kanjeng ratu’, karena Bunda memanglah ratu di rumah ini. Belum lagi dengan berbagai macam masakannya yang selalu enak. Bunda memang yang terbaik.
Ah, iya, aku lupa bercerita. Di rumahku sebenarnya terdapat dua pembantu—satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka sepasang suami istri, yang sayangnya sampai sekarang belum dikaruniai keturunan. Usia mereka sekitar empat puluhan awal, jadi bisa dibayangkan, bagaimana sepinya mereka tanpa adanya suara tangis bayi di keluarga kecil mereka.
Tapi untungnya, semenjak aku lahir mereka mulai bekerja dengan Ayah dan Bunda. Mereka juga ikut merawatku saat kecil, bahkan sampai sebesar ini. Ayah dan Bunda juga sudah menggap mereka seperti kelaurga sendiri. Yang laki-laki namanya Pak Ahmad, dia sebagai tukang kebun dan juga sopir pribadi Ayah. Dan yang wanita namanya Bik Mira, dia yang bertugas untuk kebersihan rumah.
Untuk urusan memasak, Bunda sendiri yang akan mengambil alih. Selain merupakan hobinya, Ayah juga paling suka dengan masakan Bunda. Katanya, awal mula Ayah tergila-gila dengan Bunda, itu karena mencoba masakan Bunda. Sedikit aneh memang, tapi ya begitulah kisah cinta mereka. Kadang aku juga membantu Bunda dalam urusan memasak, walaupun aku anak yang manja, tapi hobi Bunda yang satu ini menurun langsung padaku. Jadi untuk urusan seperti ini bagiku sangatlah mudah.
“Kamu anterin makan siang ke tempat kerja Ali, ya. Kebetulan tadi Bunda masak banyak, sayang kalau sampai kebuang,” ucap Bunda dengan menata beberapa kotak makanan lalu dijadikan satu dalam paper bag yang berukuran sedang.
Aku mengernyitkan dahi. “Loh, kok Ana, Bun?” tanyaku heran.
“Ya, terus siapa lagi? Masak iya Bunda suruh Bik Mira yang nganterin, kan lucu jadinya,” balas Bunda.
“Bukan gitu juga maksudnya, Bun. Tapi kan—”
Belum selesai aku berbicara, Bunda sudah memotong ucapanku. “Udah sana siap-siap. Gak ada tapi-tapian. Cuma nganterin makan siang buat calon suami juga, apa susahnya sih!” cibir Bunda.
Aku merengut kesal. Mau tidak mau aku harus menuruti permintaan Bunda. Karena jika sang ratu sudah memerintah, akan sangat mustahil untuk dibantah. Hahh, gagal sudah rencanaku untuk melanjutan menonton film.
Lee Min Hoo, sabar ya.
Istrimu harus mengurus calon suami di dunia nyatanya.
Tepat pukul dua belas siang, aku sampai di rumah sakit yang cukup besar di Ibu Kota. Untung saja waktu itu aku sempat bertanya pada Ali di mana tempat dia bekerja, jadi aku tidak perlu pusing untuk mencari lokasinya. Aku sudah mengirim pesan pada Ali, mengatakan jika aku akan datang menemuinya. Tapi sampai sekarang belum ada balasan apapun dari Ali. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak. Jadi aku memutuskan untuk langsung ke ruangannya.
Kata resepsionis yang ada di depan, ruangan Ali berada di lantai 5, dan aku baru tahu, ternyata Ali seorang dokter bedah. Aku membayangkan saat Ali membelah kulit pasiennya, berkutat dengan organ-oran dalam tubuh yang dilumuri dengan darah. Ehh, seketika perutku terasa mual. Untung saja hari ini bukan jadwal praktek Ali. Jadi aku tidak akan terganggu dengan banyaknya antrian yang menunggu di depan ruangan Ali.
Rumah sakit tempat Ali bekerja ini benar-benar besar. Lihat saja bagaimana tingginya gedung ini, belum lagi halamannya yang sangat luas. Pantas saja semua permintaanku selalu dia turuti. Karena aku yakin, gaji dia setiap bulannya sudah lebih dari kata cukup. Jadi aku merasa tenang, setidaknya Ali bisa menjamin kehidupanku di masa depan.
Aku langsung masuk ke dalam ruangan Ali setelah mendapat jawaban dari sang pemilik ruangan. Disana, di kursi kebesarannya, Ali terlihat sibuk dengan beberapa berkas yang aku tidak tahu apa isinya. Setelah lima detik, Ali baru mengangkat wajahnya. Mata kami saling bertatapan.
“Ana?”
Aku bisa merasakan adanya rasa terkejut dan juga heran dari nada bicaranya. Mungkin Ali berfikir, untuk apa aku datang ke sini. Padahal sejak tadi aku sudah mengirimkan pesan padanya. Apa seperti ini Ali saat bekerja, sampai-sampai dia lupa dengan ponselnya.
“Ada apa?” tanya Ali dengan suara datarnya.
Aku sedikit mengangkat paper bag yang aku bawa, menunjukan pada Ali. “Disuruh Bunda buat nganter makan siang,” jawabku sambil meletakkan paper bag itu di meja dan aku langsung merebahkan punggungku pada sandaran sofa yang ada di ruangan Ali.
“Kenapa tidak bilang jika akan ke sini?” tanya Ali, dan laki-laki itu masih setia dengan kursi kebesarannya.
“Coba cek ponselnya,” ketusku.
“Aku tidak sempat membuka ponsel,” jawabnya.
“Hmmm.”
Aku tidak melihat adanya pergerakan dari Ali. Laki-laki itu kembali berkutat dengan tumpukan berkasnya. Mengabaikanku yang sejak tadi memandang kesal ke arahnya.
“Om, ini makanannya gimana?” tanyaku dengan nada geram. Ali sama sekali tidak
“Iya, nanti akan aku makan,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas-berkasnya.
“Padahal dia sendiri yang bilang ngga boleh telat makan. Tapi nyatanya, dia sendiri juga yang ngelanggar. Tahu gitu tadi, aku ngga usah ke sini,” gerutuku dengan sindiran halus.
Itulah kebiasaan Ali. Dia selalu mengingatkanku suapaya tidak telat makan, karena Ali sudah tahu bagaimana pola makanku yang tidak teratur. Mood makanku selalu naik turun dan tidak pernah stabil. Ini penyakit lama yang sangat sulit untuk dihilangkan. Aku terkekeh kecil saat melihat Ali akhirnya berdiri dari duduknya. Ali menghampiriku dengan wajah datarnya. Aku tahu dia sibuk, tapi kesehatan juga lebih penting. Dan seharusnya Ali sadar itu, karena dia sendiri seorang dokter.
“Ternyata kamu sangat cerewet, ya,” ucap Ali saat dia sudah duduk di sampingku.
“Emang. Kenapa, gak suka? Kalau gak suka batalin aja perjodohannya. Mumpung masih ada waktu,” godaku yang masih berharap usaha ini bisa berhasil.
“Jangan harap.” Nada dingin langsung terdengar dari suara Ali.
Haihhh. Dasar kulkas dua pintu.
♥♥♥
Setelah acara makan siang tadi, laki-laki yang bernama Aliandra Syahbani, yang saat ini sudah fokus dengan kemudinya. Laki-laki yang merupakan calon suamiku yang paling menyebalkan, langsung menculikku untuk dibawa ke rumahnya. Dia berkata jika Tante Lina merindukanku. Dan ini merupakan kunjungan keduaku ke rumah Ali.
Sebenarnya rumah Ali—lebih tepatnya rumah orang tua Ali, bukan sekedar rumah biasa. Bisa dibilang seperti mansion. Rumah dengan perpaduan warna putih dan cream itu, benar-benar membuatku kalap mata saat pertama kali datang ke sana. Belum lagi taman bunganya, hampir segala jenis bunga ada di sana. Rumah dengan ukuran tiga kali rumahku itu, benar-benar membius penglihatanku.
Itu berarti, semua kekayaan yang kedua orang tua Ali miliki akan jatuh ke tangan Ali. Karena di keluarga Om Samsul dan Tante Lina, hanya Ali yang akan menjadi penerus segala aset yang mereka miliki. Dan gilanya, laki-laki itu adalah calon sumaiku.
Daebakk!!!
Butuh waktu hampir dua jam untuk sampai di rumah Ali. Pantas saja Ali lebih memilih tinggal di apartemenya. Karena jarak yang harus dia tempuh benar-benar jauh. Belum lagi dengan kemacetan yang sangat menguras waktu. Tidak ada jalan pintas yang bisa diambil, karena rumah Ali melewati jalan utama.
Saat kami sudah sampai di ruang tengah, terlihat Tante Lina yang sudah menungguku. Senyum indah langsung terlihat di wajah cantiknya. Kedua tangannya merentang, mengisyaratkan agar aku memeluknya. Dekapan hangan keibuan begitu terasa dalam pelukan ini. Dekapan saat Bunda memelukku, juga aku rasakan dari Tante Lina, terasa sangat hangat dan juga nyaman.
“Mama kangen banget sama kamu.” Tante Lina melepas pelukannya, dia menyerang wajahku dengan banyaknya ciuman dari bibir merahnya.
Aku tertawa pelan melihat sikap Tante Lina. Aku menemukan sosok Ibu baru di diri Tanten Lina. “Ana juga kangen, Tante,” balasku dengan senyum manis.
“Mama sayang, bukan Tante,” koreksi Tante Lina. Wanita itu tidak pernah suka jika aku menyebutnya dengan sebutan Tante. Meski aku dan Ali belum menikah, tapi Tante Lina sudah menekanku untuk memanggilnya Mama di pertemuan pertama kami.
“Eh, iya, Ma.” Aku tersenyum canggung. Aku belum terbiasa memanggil wanita cantik ini dengan sebutan Mama dan itu yang membuatku terkadang lupa.
“Kamu sudah makan siang, sayang? Kalau belum, Mama temani makan, yuk. Atau kita makan di luar aja gimana?”
“Udah Ma, tadi Ana udah makan siang bareng Om...eh maksudnya Ali. Kebetulan tadi Bunda masak banyak, jadi sekalian bawain makan siang buat Ali,” jawabku.
Hampir saja aku keceplosan. Ash, jangan bertindak ceroboh Ana. Jangan permalukan dirimu sendiri di depan calon mertuamu. Aku merutuk diriku sendiri. Hampir saja aku melakukan kesalahan.
“Duhh, istri idaman banget sih kamu. Beruntung banget kamu Li, dapat calon istri seperti Ana.”
Pipiku terasa hangat saat mendengar pujian Mama Lina. Aku merasa tersanjung.
“Ali ke kamar dulu,” ucap Ali.
Ah, laki-laki itu selalu saja dingin. Aku heran, dari mana Ali mendapatkan sifat dingin seperti itu. Karena yang aku tahu, baik Om Samsul dan Mama Lina, tidak ada sedikit pun sifat dingin yang mereka miliki. Mereka selalu ramah dengan senyum hangat yang terpancar di wajah mereka.
“Hah, dasar anak itu. Selalu saja begitu,” dengus Mama Lina. “Kamu yang sabar ya sayang, ngadepin sikap Ali. Mama juga gak tahu, dari mana Ali dapetin sikap dingin kayak gitu.”
Aku hanya membalas ucapan Mama Lina dengan senyuman. Baiklah, mulai sekarang aku harus menambah stok kesabaran.