Author's Pov
Terhitung empat minggu setelah kejadian itu. Kejadian yang mempertemukan kedua keluarga, dengan keputusan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh gadis mungil di keluarga Bram. Sebuah keputusan yang mampu memporak-porandakan hatinya, hingga semua cara selalu dia lakukan agar keputusan ini dapat dibatalkan.
Perjodohan.
Suatu hal yang menurut Ana, hanya ada dalam masa pra-sejarah, Siti Nurbaya, atau novel yang sering dia baca. Tapi nyatanya, kejadian itu harus dialami olehnya. Keputusan singkat yang harus Ana pilih selama semalam. Mempertimbangkan antara ego yang harus dia turuti atau kebahagiaan orang tuanya yang harus dia penuhi.
Sebuah keputusan yang mungkin kedepannya akan mengubah segala pola hidupnya. Mengubah segala hal yang biasa Ana lakukan dengan hal-hal baru yang akan Ana rasakan. Perjodohan dengan seorang laki-laki bernama, Aliandra Syahbani. Laki-laki yang sebelumnya tidak pernah Ana kenal. Laki-laki yang memiliki sifat dingin dengan sejuta pesona di dalamnya.
Hingga akhirnya, keputusan itu ditentukan.
Hari ini, tepat pukul sembilan pagi, sebuah ijab kabul yang terdengan khitmat telah berkumandang di sebuah masjid agung yang tidak jauh dari gedung yang akan menjadi tempat berlangsungnya resepsi pernikahan mereka.
Ballroom di dalam gedung berbintang ini telah disulap dengan begitu indahnya. Warna putih mendominasi di setiap sudutnya. Bau harum dari mawar putih dengan kualitas terbaik, akan langsung menyerbak di indra penciuman saat mereka memasuki balroom ini. Belum lagi dengan roti pernikahan yang menjulang tinggi, seperti permintaan sang mempelai wanita. Membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri.
Ah, pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang didamba oleh banyak wanita. Salah satunya adalah Ana Lovyta. Gadis mungil dengan segala tingkah lakunya yang selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Anehnya, mereka yang begitu dekat dengan Ana akan selalu berusaha untuk memenuhi semua yang diinginkannya.
Karena tingkahnya yang selalu unik mampu menarik rasa sayang, ingin melindungi, dan memilikinya seutuhnya. Salah satunya adalah Ali, laki-laki yang saat ini sudah resmi menjadi suami dari AnaLovyta. Ali selalu melakukan berbagai cara agar apa yang diinginkan oleh istrinya dapat terpenuhi. Entah itu permintaan yang aneh, atau sampai yang menguras kantong sekali pun, pasti akan dilakukan oleh Ali.
Benar-benar sosok suami idaman, bukan?
Dan sekitar sepuluh menit yang lalu, acara resepsi yang dihadiri oleh 1000 tamu undangan—dari berbagai negara, turut hadir memeriahkan pernikahan mereka. Semua berbaur menjadi satu di dalam ruangan yang didominasi dengan warna putih.
Di sana, di singgasana yang telah disiapkan, Ali dan Ana berdiri untuk menjabat tangan para undangan yang mulai berbaris secara rapi. Ali yang terlihat gagah dengan balutan kemeja dan jas putihnya, juga dengan celana kain berwarna senada, ditambah dengan aksesoris jam tangan warna silver yang melekat indah di tangan kirinya. Semua yang dikenakan laki-laki itu merupakan barang-barang dengan kualitas terbaik.
Sedangkan Ana, gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun bak putri kerajaan yang dipesankan langsung dengan kualitas terbaik. Rambutnya yang biasa tergerai panjang kini digulung dengan sedikit aksen kepang pada bagian atasnya. Sementara beberapa helaian rambut dibagian sisi kanan dan kirinya dibiarkan terlepas sedikit dari gulungannya. Dan tak lupa, hiasan aksesoris mahkota di atas kepalanya membuat penampilan Ana terlihat semakin menawan.
Pasangan raja dan ratu sehari yang sangat serasi.
♥♥♥
Ana's Pov
Hari ini aku menikah. Dan aku sudah resmi menjadi milik orang lain.
Kenapa semuanya masih terasa seperti mimpi. Ah, aku tidak menyangka jika di hari ini aku resmi menjadi istri dari seorang Aliandra Syahbani. Laki-laki yang paling aku benci dengan sifat dingin yang selalu dia tunjukkan. Laki-laki yang jauh dari sifat murah senyum. Dan laki-laki, yang sifatnya jauh dari kriteriaku. Jangan lupakan tentang usianya.
Aku tidak menyangka jika masa lajangku akan berakhir sampai di sini. Bahkan belum banyak hal yang aku lakukan. Tapi sekarang, aku sudah harus mengabdikan seluruh hidupku untuk laki-laki yang saat ini berdiri di sampingku. Menjabat tangan para tamu yang memberi selamat dan juga doa, dengan wajah datar yang sesekali dihiasi senyum tipisnya.
Tapi senyum itu tidak akan bertahan lama.
Dan sekali lagi aku katakan. Hari ini Ali kembali mengabulkan segala hal yang pernah aku sampaikan kepadanya. Tentang dekorasi pernikahan, bungan mawar, seserahan, bahkan roti pernikahan yang menjulang tinggi, dengan mudahnya Ali siapkan. Semua terlihat begitu mudah untuk Ali. Bahkan seserahan yang dia berikan pun, benar-benar dengan kualitas terbaik. Sampai barang yang selama ini aku incar dengan manisnya sudah ada di deretan seserahan yang dia berikan. Hah, ternyata Ali benar-benar serius dengan ucapannya.
Selama hampir sebulan ini kami bersama, baru kali ini aku terkesima olehnya. Hari ini Ali tampil sangat berbeda. Tidak ada lagi jambang dan kumis tipis yang menghiasi wajahnya. Itu membuat Ali terlihat semakin mempesona dengan lapisan bibir merah alaminya. Banyak mata para wanita yang memandang Ali dengan terang-terangan. Dan itu membuatku sedikit risih. Bukan berarti aku memiliki rasa terhadap Ali. Hanya saja...enahlah, aku merasa terganggu. Aku hanya tidak suka jika milikku dipandang dengan tatapan lapar seperti itu.
Wait! Milikku? Ali?
Oh God. Stop it!
“Curuttttttt...” pekikan yang melengking dari Kiki sukses membuatku sadar dari lamunan yang membuatku sedikit bingung. “Happy wedding ya buat kalian. Gue doain semoga kalian menjadi keluarga yang samawa. Dan jangan lupa, buruan kasih gue ponakan yang lucu-lucu ya.”
“Selamat ya buat pernikahannya. Kita seneng banget liat Ana akhirnya dapat pasangan. Dan yang sabar aja ya, kalau ngadepin sikap Ana. Dia orangnya sedikit somplak,” ucap Stefy yang sedikit mengecilkan suaranya di akhir kalimat.
Meski Stefy berbicara pelan, aku masih bisa mendengar apa yang Stefy katakan. Memang sahabat sableng. Dia masih saja menjelek-jelekanku di hari pernikahanku.
“Ana, Ali, sekali lagi selamat, ya. Kita akan selalu doain yang terbaik buat rumah tangga kalian. Oh iya, makasih juga buat souvenirnya. Keren banget!!” Fitri terlihat senang dengan souvenir yang dia tenteng di tangan kanannya.
Ali hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ocehan Fitri yang tidak ada hentinya. “Oya, Na, kado dari anak-anak udah gue titipin ke nyokap lo. Jangan lupa di pake ya,” bisik Fitri yang diakhiri kekehannya. Aku merasa was-was dengan kado yang mereka berikan. Aku tahu bagaimana sifat mereka. Ingatkan aku untuk tetap waspada saat membukanya nanti.
Setelah itu, mereka pergi dari hadapanku. Mereka berkata jika mereka akan mencari mangsa. Berhubung banyak laki-laki tampan yang datang di acara pernikahanku. Semua terbalut dalam setelan jas mahalnya.
“Kalau capek, duduk saja. Tidak usah dipaksa.” Tiba-tiba Ali berbisik di sampingku, masih dengan suara datarnya.
Aku mengalihkan perhatianku dari banyaknya tamu undangan yang hadir. Aku mulai merasa lelah dan kakiku terasa sangat kaku. Ah, kapan acara ini selesai. Aku sangat lelah. Lelah berdiri. Lelah tersenyum. Dan lelah menghadapi sikap dingin Ali yang sejak tadi hanya diam.
Di saat pasangan lain memanjakan wanitanya dengan perhatian kecil dan senyuman penuh cinta. Itu sangat berbanding terbalik denganku. Jangankan dimanja, berbicara saja seperlunya. Padahal ini acara penting. Pernikahan yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Tapi ekspresi Ali??
Wahh, dasar muka papan!!!
♥♥♥
Akhirnya setelah satu jam lamanya aku berendam di kamar mandi, sekarang tubuhku jauh lebih segar dan terhindar dari kuman-kuman laknat yang sejak tadi menempel di tubuhku. Aku tidak tahu apakah tadi aku terlalu lama berendam di kamar mandi atau tidak, karena saat aku membuka pintu, tidak ada tanda-tanda jika Ali berada di kamar ini.
Di mana laki-laki itu?
Tapi setidaknya aku bisa bernafas lega, karena terlalu bersemangat untuk mandi, aku sampai lupa membawa baju ganti. Jadilah aku hanya mengenakan kimono untuh menutupi tubuhku. Aku langsung membongkar koperku untuk mencari baju tidur dengan motif doraemon kesukaanku. Aku belum sempat mengemas seluruh pakaianku ke dalam lemari, jadi aku pikir, besok saja untuk membenahi seluruh kekacauan ini. Aku terlalu lelah untuk berkemas.
Setelah acara resepsi tadi berakhir, Ali langsung membawaku ke apartemennya. Katanya, jauh lebih nyaman berada di apartemen sendiri dari pada menginap di hotel. Apalagi jarak hotel tempat kami resepsi tidak begitu jauh dari apartemen Ali. Aku hanya menurut saja apa yang dikatakan Ali.
Bunda bilang, untuk menjadi istri yang baik, aku harus menuruti semua perkataan suami. Seperti Ali yang ingin segera kembali ke apartemennya, aku hanya bisa mengikutinya. Meski cukup berat, karena aku masih ingin bersama Ayah dan Bunda. Aku masih belum siap jika harus berpisah dengan mereka secepat ini. Tapi jika ditanya soal hubungan intim, sepertinya untuk sekarang jangan dulu. Aku belum siap.
Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Memang banyak orang yang berkata jika hubungan intim itu sangat nikmat. Tapi...aku belum siap. Aku masih ingin mempertahankan gelar perawanku, sampai waktu itu tiba.
Ya, harus!
Lagi pula aku dan Ali sudah membuat kesepakatan. Kami tidak akan melakukan hal intim sebelum aku benar-benar siap. Ali sendiri juga sudah tahu, jika aku menerima perjodohan ini karena terpaksa. Bukan murni karena cinta. Dan Ali juga tidak akan pernah menuntut hal tersebut. Ali akan menungguku sampai aku benar-benar siap, atau mungkin sampai perasaan cinta muncul di antara kami. Aku sendiri juga tidak tahu, apakah Ali mencintaiku atau tidak. Karena sampai saat ini, belum ada kata-kata cinta yang terlontar dari bibir merahnya.
Benar-benar hubungan yang rumit.
Sedari tadi aku mencoba untuk memejamkan mataku. Hari sudah malam, tapi sialnya mataku belum mau terpejam. Padahal tubuhku sudah sangat lelah.
“Hahhhhh...” Aku mendesah lelah. Inilah salah satu masalah dalam hidupku. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak dengan suasana baru seperti ini. Apalagi aku sendirian di kamar ini. Sebenarnya kemana Ali. Sejak tadi aku tidak melihatnya di kamar ini. Apa laki-laki itu sedang keluar?
Biasanya saat aku susah tidur seperti ini, Bunda atau Ayah yang akan menemaniku sampai aku terlelap. Tapi, sekarang? Hanya ada Ali di apartemen ini. Dan sampai detik ini pun belum ada tanda-tanda jika Ali akan segera kembali. Keadaan seperti ini membuatku semakin pusing dan haus. Aku butuh air dingin. Tanpa melihat sekitar, aku langsung keluar dari kamar.
Mengambil air dingin, menuangkan dalam gelas, dan langsung meminumnya dalam sekali tegukan. Hahh, ini jauh lebih baik. Dan sekarang, aku bingung harus berbuat apa. Aku ingin tidur, tapi mataku tidak mau terpejam. Tidak mungkin aku menelepon Bunda untuk datang kemari dan menemaniku. Aku berjalan gontai dengan kepala yang tertunduk menuju kamar. Membiarkan rambut panjangku menutupi sebagian wajahku. Sepertinya malam ini aku harus bergadang sampai rasa kantuk benar-benar menyerangku. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
“Kenapa jam segini belum tidur?”
Terdengar suara dingin Ali yang mengalun dengan lembut. Membuatku terlonjak kaget di tengah keadaan yang sangat sepi. Dan suara Ali barusan sukses membuat jantungku berdetak kencang. Aku tidak tahu sejak kapan Ali berada di ruang tv. Aku tidak memperhatikan sekitar saat berjalan ke dapur tadi, karena aku mengira Ali sedang pergi keluar.
“Ishh, Om, ni. Ngagetin aja,” dengusku dan berjalan ke arahnya.
Di depanku, terlihat Ali yang sudah segar dengan baju tidurnya. Sepertinya Ali memilih mandi di kamar mandi dekat dapur, karena terlalu lama menungguku. Dan tunggu, aku melihat laptop yang menyala di atas meja. Apa Ali sedang bekerja? Di malam pertama pernikahannya?! Oh God!
“Kenapa jam segini belum tidur?” tanya Ali lagi saat aku sudah duduk di sebelahnya.
“Gak bisa tidur,” jawabku singkat.
“Kenapa?”
“Gak terbiasa dengan suasana baru, jadi susah buat tidur,” jelasku dengan menumpu wajahku dengan tangan yang bersender pada pinggiran sofa.
“Kenapa tidak melakukan sesuatu yang biasa kamu lakukan saat susah tidur?”
Aku menghela nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan Ali.“Biasanya Bunda yang nemenin aku tidur, tapi kan, sekarang Bunda gak ada.”
Tidak ada jawaban dari Ali. setelahnya Ali beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. What the f**k?! Maksudnya apa ini, kenapa aku malah ditinggal sendirian?! Ya Tuhan, kenapa aku memiliki suami dengan model seperti ini?
Tapi tidak lama dari itu. Ali kembali dengan satu bantal dan selimut dalam dekapannya. Aku hanya melihatnya tanpa bertanya. Karena aku bingung dengan apa yang akan dilakukan Ali. Apa Ali akan tidur di sini dan membiarkanku tidur sendirian di kamar? Dengan keadaanku yang seperti ini?
“Kemarilah,” ucap Ali, saat dia sudah duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh dari posisi semula.
Aku hanya mengerjap tidak mengerti dan menggeser duduk ke arah Ali. Saat aku sudah berada di sampingnya, Ali langsung menarik tanganku. Membuatku duduk lebih dekat dengannya, kemudian Ali menarik pelan kepalaku. Mengarahkannya pada bantal yang berada di pangkuannya dan meluruskan kakiku yang menjuntai di lantai. Aku hanya menuruti semua perlakuan yang Ali berikan padaku. Kemudian selimut yang tebal dan juga hangat membungkus tubuhku, lagi-lagi Ali memperbaikinya agar aku terlihat nyaman.
“Tidurlah. Masih ada beberapa email yang harus aku selesaikan,” ucap Ali saat aku masih melihatnya dengan mata mengerjap kecil.
Kurasakan tangan kekar Ali mulai membelai puncak kepalaku, dengan mata yang masih tefokus pada layar 17 inch di depannya. Dan ini jauh membuatku lebih tenang. Ini yang aku butuhkan sejak tadi. Perlakuan kecil yang biasanya selalu Bunda atau Ayah lakukan saat aku susah tidur. Ah, ternyata Ali mengerti apa yang aku butuhkan. Aku sedikit bersalah karena tadi sudah berperasangka buruk terhadapnya. Ali tetap setia membelai puncak kepalaku, hingga makin lama rasa kantuk mulai menyerangku.
Aku sedikit memperbaiki posisiku untuk mencari kenyamanan, sebelumnya akhirnya aku berucap, “Good night, Om” dengan suara yang lirih. Karena setelah itu, alam mimpi sudah merenggut kesadaranku. Tubuhku terlalu lelah, otak dan fisikku pun juga lelah. Hingga akhirnya aku menemukan tempat yang terasa begitu nyaman untuk istirahat.
Terima kasih suamiku!