Sinar matahari yang menyeruak masuk dari tirai yang dibiarkan terbuka, mengganggu mataku yang senantiasa terpejam. Aku masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidur. Tapi semakin lama sinar matahari itu semakin menggangguku. Akhirnya dengan terpaksa aku membuka mataku yang masih terasa berat. Menyesuaikan dengan cahaya yang masih terlihat mengabur.
Aku menggeliat kecil di bawah selimut tebalku. Saat aku mengedarkan pandangan pada seluruh isi kamar, aku baru ingat jika sekarang aku berada di apartemen Ali. Oh my God, itu artinya ini hari pertamaku menjadi seorang istri. Dan dihari pertama ini pula aku bangun terlambat?!
Dengan cepat aku keluar dari kamar, menyepol rambut panjangku dengan asal. Berjalan ke kamar mandi sekedar untuk membasuk muka dan gosok gigi. Sejak tadi aku tidak melihat keberadaan Ali. Kemana laki-laki itu. Dan saat aku sudah keluar dari kamar, aroma masakan yang sangat lezat langsung tercium di hidungku. Tepat di depanku, laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suamiku terlihat sibuk dengan spatula yang ada di tangannya. Ali terlihat begitu ahli saat memasak.
Menyadari akan keberadaanku, Ali langsung menyapaku tanpa menolehkan wajahnya. Dia terlalu sibuk dengan masakannya. “Sudah bangun?”
Aku tersenyum, menampilkan deretan gigiku. Merasa tidak enak karena sudah bangun terlambat. “Hehehe, iya Om.” Sekarang posisiku sudah berada di samping Ali. Ternyata aroma lezat yang menguar tadi, berasal dari ayam goreng kecap buatan Ali.
“Kenapa tadi Om gak bangunin aku? Harusnya yang siapin sarapan aku, bukannya Om. Apalagi ini hari pertamaku jadi seorang istri,” kataku.
“Tidak apa. Kamu terlihat sangat lelah, lagi pula aku sudah biasa seperti ini.” Ali menambahkan sedikit air untuk masakannya. Membuat kepulan asapnya semakin menguar di udara.
“Tapi kata Bunda—”
Belum selesai aku bicara, Ali sudah memotong perkataanku. “Sudah, lebih baik sekarang kamu mandi. Aku tunggu di meja makan.” Ali sangat cocok dengan sebutan laki-laki otoriter. Aku mengangguk kecil. Kembali ke dalam kamar meninggalkan Ali yang menyiapkan sarapan pagi ini sendirian.
♥♥♥
Walau pun di hari seperti ini, Ali tidak pernah lepas dari pacar setianya. Kadang laki-laki itu sibuk dengan ponselnya, kadang dengan dokumen, laptop, dan juga buku tebal yang ada di depannya. Apakah Ali tidak lelah? Aku saja yang melihatnya belum ada lima menit sudah bosan. Padahal tayangan televisi pagi ini cukup menarik. Tapi itu tidak menyita rasa penasaran Ali untuk sejenak beristirahat dari pekerjaannya.
“Om,” panggilku
“Hmmm.” Ali hanya menanggapiku dengan gumaman dalamnya.
“Om gak capek apa tiap hari kerja terus. Padahal ini waktunya Om libur.” Ali memutuskan untuk mengambil cuti selama satu minggu. Dia berkata ingin lebih dekat denganku. Tapi kenyataannya, Ali terus saja bercengkrama dengan pekerjaannya.
“Aku sudah terbiasa seperti ini.” Selalu jawaban ini yang Ali katakan setiap aku protes dengan segala kegiatannya.
“Tapi kalau begini terus, kapan Om istirahatnya?”
“Hmm.”
“Ah tau ah, kesel ngomong sama Om!” dengusku.
Tidak ada jawaban dari Ali. Hanya senyum tipis yang tersungging di bibir merahnya. Ali tidak melihatku sama sekali. Sejak tadi dia selalu fokus dengan laptop di depannya. Lagi-lagi aku mendengus sebal, merasa diabaikan oleh Ali. Aku memilih menikmati tayangan televisi, berusaha mengabaikan keberadaan Ali yang ada di sampingku.
Suara getaran ponsel terdengar di sekitar kami. Aku mengira itu suara ponselku, ternyata bukan. Itu milik Ali. Saat aku menoleh ternyata Ali sudah tidak ada di tempatnya. Dia berjalan ke arah dapur sambil berbicara dengan seseorang di sebrang sana. Tangannya yang akan menuang air putih ke dalam gelas menggantung di udara. Kerutan bingung begitu terlihat di dahi Ali saat dia berbicara, diikuti dengan hembusan nafas yang berat.
Bahkan saat Ali meletakkan ponselnya di meja makan terlihat sangat kasar. Ali langsung menuangkan air putih yang tadi sempat menggantung dan langsung meminumnya dalam sekali tegukan.
“Ada apa, Om?” tanyaku pelan saat Ali sudah duduk di sampingku. Tangannya terulur untuk memberesi berkas-berkas yang sejak tadi menemaninya.
Terdengar hembusan nafas berat sebelum Ali menjawab, “Aku harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien yang harus segera dioperasi. Dokter yang saat ini sedang bertugas kekurangan tenaga medis. Sedangkan dokter yang lainnya juga sibuk dengan tugasnya masing-masing.”
Ali terlihat sangat tergesa saat mengambil keperluan yang biasa dia gunakan. Ali masuk ke dalam kamar, mengganti baju santainya dengan kemeja putih dan celana kain hitamnya.
“Dengar, jika kamu bosan, kamu boleh keluar kemana saja. Tapi ingat, kamu harus mengabariku dan kamu juga harus pulang tepat waktu,” ucap Ali saat laki-laki itu memakai jas kebesarannya. “Aku harap, kamu tidak melanggar aturan sebagai seorang istri selama aku tidak bersamamu. Mengerti?”
Aku hanya mengangguk. Merasa terkejut dengan deretan kalimat panjang yang barusan Ali ucapkan. Ternyata Ali bisa berbicara panjang juga. Karena selama ini Ali hanya berbicara singkat dan seperlunya saja. Ali tipikal laki-laki yang tidak senang berbasa-basi.
Aku mengantar Ali sampai pintu apartemen. Menyerahkan tas kulit berwarna hitam miliknya. Dan seperti yang biasanya Bunda lakukan pada Ayah, aku mengambil tangan Ali dan menciumnya. Aku melihat Ali tersenyum dan aku terpesona pada senyumannya. Senyum yang selama ini belum pernah aku lihat. Dan aku semakin terkejut saat Ali mendaratkan ciumannya di keningku. Ini kedua kalinya Ali menciumku di tempat yang sama—setelah acara ijab qobul kemarin. Tapi saat itu, Ali melakukannya karena arahan dari penghulu, itu pun tidak sedalam ini. Sedangkan kali ini, ciuman yang diberikan Ali begitu dalam dan juga lembut.
Tepat setelah Ali pergi, aku langsung meraup udara sebanyak-banyaknya. Aku terlihat begitu rakus saat bernafas, karena memang sedari tadi aku menahan nafas. Entahlah, kenapa bisa seperti ini. Tunggu, jantungku...kenapa jantungku berdetak seperti ini. Dan pipiku...ya Tuhan, kenapa rasanya sangat panas.
Apartemen milik Ali tergolong apartemen mewah, dengan perpaduan warna abu-abu dan putih. Tapi apartement ini terlihat sangat sepi saat hanya ada aku di dalamnya. Sejak semalam, aku tidak memperhatikan dengan detail setiap sudut yang ada di apartemen ini. Dan kini, saat mataku memonitori seluruh sudut yang ada di dalamnya, aku dibuat takjub dengan selera yang dimiliki Ali.
Apartemen ini mempunyai tiga kamar; satu kamar utama, satu kamar tamu, dan satunya lagi tempat kerja Ali. Dan aku yakin, di dalamnya pasti berisikan tumpukan buku-buku tebal yang tidak pernah aku pahami. Selain itu, letak tempat kerja Ali berada di sudut ruangan. Dari sini saja aku sudah bisa menilai, jika Ali adalah laki-laki yang tidak terlalu menyukai keramaian.
Selebihnya sama seperti apartemen pada umumnya. Mungkin yang membedakan adalah ukuran apartemennya yang luas dan juga perabotan yang dipilih Ali—semuanya sangat berkelas. Hehh, aku menghela nafas sebal. Beginilah nasib jika memiliki suami dengan profesi dokter, terlebih dokter bedah. Di hari pertama pernikahannya pun, aku sudah harus ditinggal bekerja.
Saat aku masuk ke dalam kamar, tatapanku langsung tertuju pada tumpukan hadiah yang sangat banyak di sudut ruangan. Semalam aku sudah terlalu lelah untuk membongkar semua hadiah ini. Dan bisa aku pastikan, hadiah yang aku dapatkan kali ini pasti jauh dari kata biasa. Lihatlah posisi yang Ali miliki saat ini, belum lagi teman bisnis Ayah dan Papa mertuaku. Aihhh aku sudah tidak sabar untuk membukanya.
Aku terlalu bersemangat, sampai aku tidak sadar sudah menghabiskan waktu setengah jam untuk membuka tumpukan hadiah ini. Tapi tetap saja, masih banyak tumpukan lainnya yang belum terbuka. Aku tidak sanggup untuk membuka semua hadiah ini sendirian, ini terlalu banyak. Aku mengamati sekitar, hanya ada suara televisi yang menampilkan iklan minuman. Sesekali gesekan gorden yang tertiup angin dari luar.
Aku mulai bosan di apartemen ini sendirian. Aku belum terbiasa dengan suasana di tempat ini. Aku masih merasa asing dengan keadaan yang saat ini aku jalani. Lebih baik sekarang aku pergi ke rumah Bunda. Aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan Bunda. Mengobati sedikit rasa rindu yang mulai ada. Selama ini aku tidak pernah jauh dari Bunda dan saat aku berpisah seperti ini, rasa rindu itu hadir, meski hanya sebentar.
Tapi sebelum itu aku mengirim pesan singkat kepada Ali. Memberitahunya jika aku ingin pergi ke rumah Bunda. Bagaimana pun juga aku sudah menjadi seorang istri dan izin dari seorang suami sangat penting bagiku. Bunda bilang, satu langkah seorang istri keluar rumah tanpa izin suami, setiap langkah yang akan dia ambil berikutnya adalah dosa baginya. Karena haram hukumnya seorang istri berpergian tanpa adanya izin suami di setiap langkahnya.
Aku mulai bersiap. Mengganti baju dan menyisir rambut. Memoles wajahku dengan seditik make up, agar terkesan natural. Aku tidak terlalu suka dengan make up tebal, itu membuat wajahku terlihat sangat dewasa.
Trng
Ponselku berbunyi, setelah memoles lip teen di bibirku, aku mengambil ponsel yang berada di sampingku. Ternyata pesan balasan dari Ali.
Pergilah. Setelah operasi selesai aku akan menjemputmu
Izin sudah aku dapatkan. Dengan seperti ini, aku bisa menghabiskan beberapa jam di rumah Bunda. Karena aku tahu, waktu yang di butuhkan Ali saat operasi tidaklah sedikit. Dan berhubung hari ini hari minggu, aku akan mengganggu Ayah agar lelaki paruh baya yang menjadi laki-laki pertamaku itu memanjakanku dan mengabaikan selingkuhan setianya—pekerjaanya.
♥♥♥
“Habis ini, kita kemana, Om?” tanyaku menatap Ali yang sibuk dengan kemudinya. Lima belas menit yang lalu, Ali baru saja menjemputku di rumah Bunda. Ali menjemputku masih dengan setelan dokternya.
“Kamu pengennya kita kemana?” tanya Ali padaku.
Setelah sepuluh detik berfikir, akhirnya aku memutuskan, “Kita ke mall aja yuk, Om. Sekalian kita nonton.” Kebetulan di bulan ini, banyak film-film dalam negeri yang sedang tayang.
Ali hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Selebihnya hanya keheningan yang kembali melingkupi. Dan inilah salah satu hal yang aku benci jika satu mobil dengan Ali. Laki-laki itu hanya berbicara seperlunya dan lebih fokus pada kemudinya. Sangat jauh berbeda dengan mantan gebetan-gebetanku sebelumnya. Mereka selalu mencari topik pembicaraan saat bersamaku, karena mereka tahu, aku paling tidak suka jika keadaan mobil sangat hening seperti saat ini. Kadang mereka juga membuat lelucon yang kadar lucunya tidak begitu lucu, tapi itu cukup untuk membuatku tertawa.
Tapi dengan Ali, lihatlah, bahkan laki-laki itu tidak ada niatan untuk memulai obrolan. Ali akan bersuara jika aku bertanya, atau jika ada sesuatu yang ingin dia tanyakan. Selebihnya Ali akan diam. Baru kali ini, aku bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat dingin, jarang tersenyum, bahkan irit bicara. Kadang aku berfikir, dengan sifat Ali yang seperti itu, bagaimana dia menangani pasiennya? Bukankah seorang dokter harus ramah dengan pasiennya? Selalu tersenyum, berkata lembut dan masih banyak lagi. Tapi, apakah itu semua diterapkan oleh Ali?
Dan sekarang aku mulai meragukan dokter yang satu ini.
Hampir dua jam jarak yang kami butuhkan dari rumah Bunda untuk sampai di mall. Jika dari apartemen, mungkin hanya membutuh waktu tiga puluh menit. Dan setelah mendapat tempat parkir di basement, kami langsung menuju lantai tiga, bioskop.
Hari weekend dan keadaan bioskop sangat ramai. Itu yang terjadi sekarang. Bahkan saat kami baru keluar dari lift, sederet antrian panjang sudah menyambut kedatangan kami. Sepertinya kali ini, aku terpaksa mengeluarkan jurus andalanku. Menyalip dan menyelinap.
“Yahh, Om. Kenapa antriannya panjang banget?” keluhku. Jika seperti ini, bisa aku pastikan aku akan mendapat tiket di satu jam berikutnya.
“Om tunggu sini deh, biar aku liat jadwal tayangnya apa aja. Sama sini dompet Om, sekalian biar aku cari tiket,” kataku, mataku menyorot pada banyaknya antrian di depanku.
“Biar aku saja yang urus tiketnya,” kata Ali, nadanya terdengar sangat tenang. Seakan antrian di depannya adalah hal biasa.
“Ah, kelamaan kalau harus antri di sini, Om.”
“Budayakan sifat antri, Na.”
Haih, suamiku terlalu taat pada aturan. “Aturan itu, dibuat buat dilanggar, Om. Lagian kalau harus antri kayak gini, bisa-bisa satu jam kita belum dapet tiket.”
“Tapi An—”
“Udah deh Om, gak usah bawel. Siniin dompetnya, Om tunggu sini aja.” Aku merasa gemas dengan Ali. Ali menjadi laki-laki yang terlalu kaku dan itu sangat menyebalkan. Setelah dompet Ali berpindah ke tanganku, aku langsung masuk ke dalam. Menyelinap dengan licah dan tanpa celah. Ada untungnya juga aku memiliki tubuh mungil.
Dua jam menghabiskan waktu di dalam bioskop adalah hal yang sangat menyenangkan. Setelahnya Ali menarik tanganku ke arah supermarket. Ada beberapa hal yang harus dibeli dan aku juga akan membeli kebutuhan dapur. Tadi aku sempat melihat bahan-bahan dapur yang tinggal sedikit. Setelahnya, kami sibuk dengan berbagai macam bahan dapur yang kami perlukan. Hari ini aku ingin makan makanan yang berbau daging. Dan steak, mungkin pilihan yang tepat.
“Ana...”
Saat aku sibuk dengan daging segar pilihanku, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Dan itu cukup keras. Saat aku menoleh, ternyata Stefy, dia berdiri di hadapanku dengan senyum lebarnya. “Sendirian aja lo?” tanya Stefy.
“Enggak, gue sama Ali. Tapi dia lagi ke toilet. Lo sendiri?” tanyaku balik. Ali memang sedang ke toilet. Saat kami sedang memilih buah segar, ada anak kecil yang tidak sengaja menumpahkan minumannya di sepatu Ali. Ali tidak mempermasalahkan saat Ibu dari anak kecil itu meminta maaf atas kecerobohan anaknya. Lagi pula ini hal biasa untuk anak kecil. Steelah itu Ali langsung pergi ke toilet, mungkin sebentar lagi dia akan kembali.
“Gue nemenin nyokap.” Aku hanya mengangguk kecil. Stefy memang sering menemani Mamanya berbelanja seperti ini. Ibu dan anak ini memang hobi berbelanja. “Eh, gimana ni yang pengantin baru?”
Tiba-tiba firasatku mengatakan sesuatu yang tidak enak. Aku kenal siapa Stefy dan dari kerlingan matanya yang nakal, aku sudah paham apa yang ada di pikiran Stefy.
“Udah kebobol berapa ronde nih?” cicit Stefy diakhiri dengan tawanya.
Aku hanya mendengus menanggapi ocehan Stefy, sesuai dengan dugaanku, pertanyaan ini yang akan Stefy tanyakan. Jika saja aku tidak ingat harga daging saat ini sedang mahal, mungkin aku akan menimpuk Stefy dengan daging sapi. Berharap otaknya akan kembali ke jalan yang benar. “Udah sana, lo balik ke nyokap lo. Bisa-bisa darah tinggi gue, kalau ngomong sama lo.”
“Alah, gak usah main rahasia-rahasiaan segala, kasih bocoran dikitlah, enak, kan?” goda Stefy.
Ampun Tuhan, beri aku stok kesabaran yang banyak. Jangan biarkan aku mempermalukan diriku sendiri di tempat umum.
“Stef, gue timpuk ya muka lo!!” gertakku. Lagi pula, mana mungkin aku menjawab enak atau tidak. AKU MASIH PERAWAN. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya. Apakah nano-nano, mentos, relaxa, kiss, atau foxs, karena aku belum mencoba.
“Ya udah deh, gue tunggu ceritanya di grup ya?” Mata Stefy mengerling semakin nakal, ada senyum jahat yang terukir di sudut bibirnya. “Ah, satu lagi, salam buat Ali. Nanti kalau mau fasther suruh yang kenceng ya, biar tepat sasaran.” Setelah membisikkan kalimat itu, Stefy langsung lari terbirit-b***t. Karena dia tahu, sebentar lagi aku akan meledak.
“STEFYYY!!!”
♥♥♥
Ada seseorang yang bertanya kepadaku, sebenarnya apa ikatan itu?
Dan aku menjawab, bahwa ikatan adalah suatu tali pengikat yang kedua sisinya harus ada yang mencengkramnya dengan kuat. Karena untuk tetap bertahan pada suatu ikatan, butuh perjuangan yang sangat besar. Akan ada banyak hal yang selalu menggangu agar ikatan yang terbentang itu segera putus.
Belum lagi jika ikatan itu terhubung dengan perasaan cinta. Gelombang cobaan yang menghadang pun, akan semakin besar. Ikatan itu, ibarat tali yang menghubungkan dua hati manusia yang berbeda. Mempertemukan dalam satu ruang dan berlabuh dalam kata cinta. Menciptakan warna tersendiri untuk tali yang dimiliki sepasang kekasih yang mencinta.
Ikatan juga bisa menjadi bukti kuat dalam sebuah hubungan. Apakah keseriusan atau hanya permainan semata. Dan aku seperti ditampar dengan keras akan kenyataan yang saat ini aku jalani. Aku berkata, seolah-olah semuanya sudah berjalan dengan sempurna. Nyatanya?
Apakah ikatan yang aku miliki sudah seperti ikatan yang aku definisikan barusan? Apakah hubungan yang aku jalani saat ini, sudah beralaskan dengan kata cinta, sehingga dua hati tersebut harus menjaganya dengan kuat?
Bahkan aku sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan yang aku buat. Karena semuanya masih dalam untaian benang hitam, yang sampai sekarang aku belum menemukan celah untuk meluruskan benang tersebut. Semuanya masih terlalu rumit.
- Ana Lovyta
Aku meletakkan pena dan buku yang baru saja aku gunakan sebagai tempat bercerita. Selama ini tidak ada yang tahu, jika buku dengan sampul biru ini menjadi tempat pelampiasan akan rasa penat yang aku pendam. Ada kalanya aku menceritakan banyak hal pada mereka para sahabatku. Dan ada kalanya juga, aku harus memendamnya sendirian.
Kehidupan yang aku jalani saat ini terasa begitu rumit. Pernikahan. Suatu hubungan dengan tali pengikat yang suci. Bukan seperti hubungan-hubungan yang sudah aku jalani sebelumnya. Yang dengan mudahnya aku berpindah haluan, jika rasa bosan sudah menyerang. Bukan juga seperti hubungan pacaran, yang dengan mudahnya putus nyambung, putus nyambung, sesukanya.
Hubungan yang aku jalani saat ini, sudah mengikut sertakan nama Tuhan di dalamnya. Membuat semua keputusan yang akan dilakukan nantinya, harus dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Benar-benar pelik bukan?
Aku masih sangat ingat dengan pesan yang Bunda berikan. Bahwa sekarang, surgaku bukan berada di telapak kaki Bunda, tapi berada di tangan Ali. Laki-laki yang saat ini sudah resmi menjadi suamiku. Tapi kembali aku bertanya, apakah mungkin, aku mendapatkan surga itu, jika semua hal yang aku lakukan atas dasar keterpaksaan? Bukan cinta dan kasih sayang?
Dan apakah mungkin, aku masih bisa bertahan pada hubungan yang sampai saat ini masih sulit untuk aku terima? Sedangkan kedua belah keluarga, menginginkan agar hubungan ini terbina selamanya. Tuhan, kenapa aku harus di tempatkan pada situasi yang sulit seperti ini? Bagaikan bongkahan karang yang tiap saat menghujam.
Sedangkan aku tidak tahu, bagaimana perasaan yang saat ini dirasakan oleh Ali. Apakah sama denganku, atau malah sebaliknya? Setelah pernikahan kami pun, belum ada obrolan yang serius untuk hubungan kami kedepannya. Dan haruskah aku kembali bertindak? Menanyakan akan semua keluh kesah yang saat ini aku rasakan. Tapi bagaimana dengan tanggapannya nanti?
“Aku pusing.”
♥♥♥
Malam beranjak. Suasana makan malam kali ini terasa sedikit canggung, tidak sehangat tadi pagi. Jujur saja, aku masih terbawa suasana dengan perasaan yang aku rasakan. Terlalu sulit bagiku untuk mengabaikannya, seolah-olah semua sudah berjalan dengan semestinya.
“Ada apa?” tanya Ali.
Pertanyaan Ali sontak membuatku mendongak dari objek makanan yang sejak tadi aku pandang. “Eh, kenapa Om?” Aku bertanya ulang, saat ini aku merasa sangat tidak fokus. Terlalu banyak cabang yang ada di pikiranku, membuatku tidak bisa bertahan pada satu tempat.
“Kamu kenepa? Tidak biasanya kamu murung seperti ini,” ucap Ali lagi dengan potongan steak yang masuk ke dalam mulutnya.
“Mmm, gak papa kok, Om,” dustaku.
“Kamu bisa cerita apapun kalau kamu mau.”
Terjadi keheningan selama lima menit. Itu karena aku yang masih memikirkan, apakah harus mengatakannya sekarang atau nanti. Sedangkan Ali, laki-laki itu sesekali melirikku. Menungguku untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Meski Ali hanya diam, tapi sorot matanya seakan menyuruhku untuk mengatakan semuanya saat ini juga.
“Mm, Om?” panggilku lirih.
“Kenapa?” jawabnya.
“Aku pengen ngomong soal hubungan kita,” cicitku. Bahkan untuk menyebut kata ‘kita’ pun, lidahku masih terasa kaku.
Saat merasakan atmosfer yang berbeda, Ali meletakkan pisau dan garbunya di piring. Menggeser ke sebelah kiri, dan menumpukan kedua tangannya di atas meja. “Memangnya kenapa dengan hubungan kita?” Ali memandangku dengan tatapan hangatnya. Matanya terlihat sangat hitam dan tajam, tapi selalu terlihat lembut saat mata itu menatapku.
“Ya, gak papa sih. Cuma, gimana buat kedepannya?”
Badanku sedikit bergetar karena merasakan gejolakan hebat di dalam hati. Aku mengepalkan tangan kiriku yang berada di bawah meja dengan kuat. Menahan setiap desiran hebat yang aku rasakan.
“Ya, gak gimana-gimana. Kita jalani layaknya pasangan suami istri pada umumnya,” jawab Ali dengan tenang. Ali seperti sudah mulai terbiasa dengan hubungan kami. Dari matanya aku bisa melihat ketenangan, tidak ada kegelisahan sedikitpun seperti yang aku rasakan. Aku menundukan wajahku, aku tidak ingin menatap Ali terlalu lama.
Melihat aku yang masih diam, dengan jemari yang saling memilin satu sama lain. Ali menghembuskan nafas berat, sebelum kembal berkata, “Lihat aku, Ana,” ucapnya dengan nada tegas. Dan itu membuatku kembali menatap mata hitamnya.
“Aku tahu kamu menerima perjodohan ini karena terpaksa. Dan aku juga tahu, tidak ada perasaan apapun yang kamu miliki untuk aku. Tapi kamu harus ingat, hubungan yang saat ini kita bina bukan hanya permainan. Tapi keseriusan. Dan aku rasa, kamu sudah cukup dewasa untuk mengartikan hubungan ini.”
Ali menatapku semakin dalam, sorot matanya kian menajam. Lagi-lagi desiran aneh itu muncul saat aku menatap mata Ali terlalu lama. Menghadirkan getaran kecil diantara getar kebimbangan. Getaran ini sangat menyiksaku. Kenapa getaran ini selalu muncul di saat yang tidak tepat. Membuatku semakin terkoyak dalam banyaknya getaran yang menikamku.
“Dengar, seperti yang sudah aku katakan di awal. Kita jalani hubungan ini sebagaimana mestinya. Kamu jangan beranggapan, setelah kita menikah, aku akan mengekangmu. Aku akan membebaskanmu melakukan apapun hal yang kamu suka. Asalkan kamu tetap ingat dengan posisi dan status kamu saat ini.”
“Aku harap, mulai sekarang kita saling terbuka. Jika kamu ada masalah, kamu bisa berbagi denganku. Aku juga akan seperti ini padamu. Memang sekarang kamu tidak memiliki perasaan apapun untuk aku. Tapi kita tidak tahu bagaimana kedepannya.”
Aku ingin mengis saat ini juga. Melihat Ali yang meyakinkanku, melihat matanya yang menenangkanku, dan melihat banyaknya kata yang Ali ucapkan, membuat air mataku saling berdesakan untuk keluar. Kedewasaan Ali sangat terlihat dari banyaknya penjelasan yang dia berikan padaku. Aku semakin bimbang dengan perasaanku, aku takut jika aku akan mengecewakan.
“Ketika aku menjabat tangan Ayah kamu saat ijab qabul. Itu artinya tanggung jawabmu berpindah sepenuhnya padaku. Pernikahan kita memang diawali dengan perjodohan, tapi aku berharap agar hubungan ini bisa bertahan sampai akhir,” ucap Ali.
“Harapan kita sama. Aku ingin hubungan kita bertahan lama. Bagiku, pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup. Tapi...semuanya masih terlalu berat buat aku Om. Jujur, aku masih belum siap dengan pernikahan ini. Tapi aku juga gak mau bikin Ayah sama Bunda kecewa. Aku bingung, Om,” isakku. Air mata sudah tidak bisa aku tahan lagi. Sekuat apa pun aku menahannya, akhirnya air mata ini luruh. Hatiku terlalu sesak untuk menahan semuanya. Aku butuh seseorang untuk bisa mendengar semua rasa sakit yang aku rasa.
“Sstt, jangan menangis. Aku tahu ini berat untukmu. Aku tidak masalah jika saat ini, belum ada cinta yang mendasari hubungan kita. Aku juga tidak akan menuntut hak lebih dari kamu, sebagai seorang istri. Aku akan menunggumu sampai kamu siap.” Ali mencoba menenangkanku yang masih terisak. Meyakinkan padaku bahwa ini semua bukan kesalahan.
Tapi perkataan Ali semakin membuatku menangis, isakanku semakin terdengar kencang. Ali berhasil membuat perasaanku semakin tidak karuan. Aku merasa seperti di jungkir balikkan oleh Ali hanya melalui setiap ucapannya. Dan sekarang tangan Ali terulur menggenggam tangan kananku.
“Kamu mau kan, memulai semuanya dari awal denganku?” tanya Ali. Matanya kian meredup. Sekarang aku bisa melihat adanya sebuah harapan besar yang Ali simpan di balik matanya. Harapan yang nantinya akan berpengaruh sangat besar untuk hubungan kami.
Yah, mungkin ini awal dari semuanya. Bagaimana pun juga, sekarang Ali adalah suamiku. Dan aku sudah tidak bisa melangkah mundur, kembali pada masa lajangku. Mungkin masa depanku ada bersama Ali. Mau tidak mau, aku harus mulai terbiasa dengan hadirnya Ali di hidupku. Sosok yang mulai saat ini, memegang kendali penuh akan tanggung jawabku. Aku manarik nafas, meyakinkan pada diriku bahwa ini bukanlah kesalahan. Memantapkan hatiku bahwa semua akan berjalan dengan lancar. Semua akan berjalan seperti harap an yang aku inginkan selama ini. Aku menarik senyum tipis dan menjawab, “Iya Om, aku mau.”
“Aku sayang kamu, Ana.”