Part 6

3218 Kata
Aku sayang kamu, Ana.   Tuhan! Demi dewa neptunus. Demi seorang Shawn Mendes yang seharusnya menjadi jodohku. Empat kata yang Ali ucapkan semalam benar-benar membuatku senewen. Kalimat itu terus saja terngiang di otakku, bagaikan kaset film yang diputar berulang kali. Belum lagi hatiku, ya Lord, seakan tempat disko berpindah ke dalamnya. Terus-menerus berdetak dengan kencang. Percayalah, ini tidak baik untuk kesehatan jantungku. Aku belum mau mati muda.  “Ana...”   Ah, suara itu. Suara yang sejak semalam membuat jantungku semakin bergetar. “Eh, iya, Om. Kenapa?” Aku tergagap saat tangan Ali memegang lenganku.  “Kamu kenapa?”  “Kenapa apanya Om?” Aku balik bertanya saat tidak paham dengan maksud Ali.  “Kamu melamun terus sejak tadi,” kata Ali  “Eh...” Aku menggigit bibir bawahku, menyadari kebodohanku yang sedang melamun saat bersama Ali. Ah, benar-benar ceroboh. Bagaimana bisa aku melamun saat objek yang menjadi lamunanku berada di sampingku.  “Ada apa? Kamu bisa cerita padaku,” ucap Ali dengan mata yang sesekali melirik ke arahku.  Aku menggeleng. Memberitahu bahwa tidak ada hal yang perlu diceritakan. Lagi pula, aku tidak mungkin menceritakan jika aku sedang memikirkan tentang perkataan Ali semalam. Aku hanya malu jika mengingat kejadian semalam. Bisa-bisanya pipiku langsung memerah hanya dengan mendengar perkataan Ali. Padahal itu hanya kalimat biasa, banyak laki-laki yang mengatakan kalimat seperti itu padaku. Tapi dasarnya hatiku yang bermasalah, mendapat perhatian sedikit saja langsung bereaksi berlebihan.  “Kabari aku jika kuliahmu sudah selesai,” ucap Ali saat mobilnya berhenti di halaman kampusku.  Aku mengangguk kecil. Setelah mencium tangan Ali dan Ali yang mencium keningku dengan dalam, aku langsung keluar dari mobil Ali. Aku tidak berani melihat ke belakang, aku tidak sanggup menatap Ali. Jantungku saat ini sudah berpacu dengan sangat cepat, membuat kedua pipiku terasa menghangat.   Aku berjalan ke arah kelasku dengan kedua tangan yang memegang pipiku. Aku berharap pipiku segera kembali normal agar semburat merah di pipiku segera menghilang. Sudah menjadi rahasia umum jika keadaan kelasku selalu dalam keadaan ramai—kecuali saat ada dosennya. Kelasku terbagi dalam beberapa kelompok. Kelompok rumpi—termasuk aku, kelompok game, kelompok penikmat film, kelompok tukang tidur, kelompk konser dadakan, dan kelompok kutu buku. Untuk yang terakhir bisa dihitung dengan jari.  Sampai sekarang aku masih berfikir. Sebenarnya ini perkuliahan atau kelasnya anak SMA? Jadi bisa dibayangkan bagaimana ramainya suasana kelasku. Sudah seperti pasar senin yang pindah tempat. Heboh dengan segala nyinyiran manjanya.  “Ini dia, ni, pengantin baru yang dari tadi kita tunggu-tunggu!” seruan Demon barusan mengundang semua pasang mata untuk menatapku. Meninggalkan aktivitas masing-masing.  “Gimana Na, malam pertamanya? Lancar jaya sentosa dan tidak ada halangan, kan?” Pertanyaan dengan nada minta dibunuh itu terlontar dari mulut Angga. Dua makhluk s****n itu memang selalu kompak dalam urusan membully.  “Jebol berapa ronde, Na?”  “Gimana Na, semprotan sanyo si Ali, kenceng gak? Encer apa menggumpal?”  “Selai rasa vanilanya gimana, Na? Sedap apa nikmat?”  “Lu gak ganas kan, Na?”  “Selai vanila sudah menyatu dengan roti tawar kan, Na?”  Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Terus lakukan seperti itu Ana, jangan pedulikan setan terkutuk itu. Abaikan gelak tawa teman-temanmu yang ada di kelas ini. Abaikan puluhan ponsel yang tertuju padamu. Dan abaikan suara tikus terjepit dari anggota cangcuters.  Kamvret! Sahabat laknat!  Hinaan demi hinaan kembali bermunculan. Membuat hati dan telingaku terasa semakin panas. Aku mengepalkan kedua tanganku untuk menahan emosiku yang sebentar lagi akan meledak.   “Oh, iya Na, gue punya jamu kuat ni. Lo mau gak? Biar lo gak mudah loyo gitu. Kan gak keren kalau setengah permainan lo udah ngeluh capek.”  “Eh Na, gue saranin mending—”  “ANGGA! DEMONN! BANGKE YA KALIAN BERDUA!!!”   Demi apapun aku sudah tidak bisa menahannya. Emosiku sudah menggunung diubun-ubun. Mungkin bagi mereka yang memiliki indra keenam, mereka akan tahu jika saat ini kedua telingaku sudah mengeluarkan asap lahar panas. Dan aku semakin geram saat seisi kelas malah menertawakanku habis-habisan. Ohhh, belum tahu saja mereka bagaimana murkanya Ana Lovyta. Baiklah, kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan.  Dengan sorot mata yang memicing tajam ke arah iblis neraka j*****m yang sedang duduk lima kursi dariku. Aku berjalan dengan santai ke arahnya. Menyunggingkan senyum sinis yang menunjukkan tanda adanya bahaya. Beruntungnya, laki-laki pecinta roti tawar itu masih belum menyadarinya.  Saat aku sudah berdiri dihadapannya, Demon masih saja tergelak dalam tawanya. Dan itu semakin membuatku tersenyum lebar, sebelum akhirnya aku memengan tangannya. “Demon sayang, bisa berdiri sebentar, gak?” pintaku dengan nada mendayu-dayu.  Laki-laki pemilik nama lengkap Ardian Demonsyair, hanya mengernyit bingung menatapku. Tapi kemudian, senyum geli tersungging di bibir penuhnya. Mengedipkan sebelah matanya ke arahku. “Kenapa Ana sayang? Hmm?” tanyanya saat sudah berdiri di hadapnku.  Aku mundur dua langkah darinya. “Bisa ulangi pertanyaan lo tadi, Demon sayang?” Rasanya aku ingin muntah saat memanggil pria badak ini dengan sebutan sayang. Aku menyeringai tajam saat persiapan yang aku butuhkan sudah terkumpul dengan sempurna.  “Gimana pertempuran lo kemarin? s*****a pamungkas laki lo dahsyat gak? Terus—ANJIR o***g GUE SEKARATT!!!”  “BUAHAHAHAHA.”  “BANGKE LO Ana!” teriak Demon dengan tangan yang masih setia menutupi s*****a pamungkas miliknya.  “Makan tu, malam pertama!” tegasku sambil berlalu dari hadapan Demon. Aku pernah berkata pada Demon, jika laki-laki doyang roti tawaritu masih mencari masalah denganku. Kaki ini tidak akan segan-segan untuk menendang selakangannya. Rasain lo Mon. And see, i do it.  “b*****t! DIEM LO SEMUA!!”   “BUAHAHAHA.”  Sekarang aku benar-benar puas dengan atraksi yang baru saja aku lakukan. Bahkan puluhan kamera yang sejak tadi menyorotku, kini beralih menyorot ke arah Demon yang masih game over pada posisinya. Ada juga beberapa pasang mata yang bergidik ngeri melihatku. Mungkin mereka tidak menyangka, wanita selembut dan seimut diriku bisa melakukan hal yang sungguh-sungguh luar biasa.   But, i don’t care. Cause i lake it.  Semoga saja setelah ini, vidio Demon yang sedang game over menjadi viral. Kemudian, muncul sebuah artikel dengan judul; LAKI-LAKI BERNAMA ARDIAN DEMONSYAIR INI, MENGERANG KESAKITAN. SETELAH OTONGNYA DITENDANG ANA LOVYTA KARENA PEMBAHASAN MALAM PERTAMA. ♥♥♥ Ini adalah minggu ketiga aku hidup bersama Ali. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai tahu, kebiasaan atau keperluan apa saja yang laki-laki itu butuhkan. Sejauh ini, hubungan kami berjalan dengan lancar. Tidak ada sentuhan fisik sesuai dengan kata-kata yang Ali ucapkan.    Sampai saat ini, belum ada pembahasan mengenai honeymoon. Semua masih sibuk dengan urusan masing-masing. Ali yang masih sibuk dengan aktivitas kerjanya. Dan aku, yang masih sibuk dengan urusan kuliah.   Apalagi sebentar lagi, jadwal akademikku memasuki waktu Praktek Kerja Lapangan. Tentunya banyak hal yang harus aku urus. Sejak kami menikah, Ali tidak lagi membuka jadwal praktek di hari weekend. Dia lebih memilih menghabiskan waktu di apartemen bersamaku. Meski terkadang Ali sibuk dengan laptopnya, tapi laki-laki itu bisa membagi waktu, antara waktu bekerja dan waktu untukku. Dan hari ini kami berencana untuk menghabiskan waktu di luar.  Ceklek  Suara bunyi pintu yang terbuka, mengalihkan pandanganku dari cermin yang sejak tadi menjadi objek penglihatanku. Setelah merias diriku dengan polesan make up yang natural, aku masih duduk termenung di depan cermin. Sesekali juga menyisir rambutku yang sudah tertata rapi. Dari pantulan cermin yang ada di depanku, aku bisa melihat bayangan Ali di dalamnya. Bayangan yang membuatku susah menelan ludahku sendiri.   Memang bukan pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini. Tapi aku selalu mengalami hal yang sama, tiap kali berjumpa dengan keadaan ini. Ali yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana jeans panjang hitamnya. Membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos secara sempurna. Menampilkan lengan kekar dengan otot tegasnya, kedua d**a yang bidang, serta belahan dan otot-otot perutnya yang keras. Rambutnya sedikit basah, membuat tetesan air berjatuhan melewati d**a bidang Ali dan membentuk garis lurus sampai ke perutnya.   Dan sekarang mataku terfokus pada d**a bidang Ali. d**a yang tentunya akan terasa empuk seperti bantal jika aku bersandar di sana. d**a yang memberikan ketenangan dengan dekapan lengan kekar Ali. d**a yang menciptakan suara degupan jantung yang terdengan indah. Dan itu semakin membuatku gugup sendiri saat memandanginya.  Aku menggeleng kecil saat tersadar dari lamunanku. Bisa-bisanya aku membayangkan hal seperti itu. Ah, s**l. Semoga saja Ali tidak melihat diriku yang menatapnya dengan pandangan mendamba. Ini sangat tidak baik. Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Berusaha untuk tidak tergoda dengan badan kekar yang Ali miliki.  Tapi sepertinya usahaku sia-sia saat setelahnya Ali bertanya, “Kamu kenapa?” dengan sorot mata yang memicing tajam ke arahku. Tatapan mengintimidasi.  “Eh, gak papa kok, Om,” cicitku dengan senyuman lebar. Semoga pipiku baik-baik saja, semoga tidak ada warna tomat di sana. Dan semoga Ali tidak menemukan gelagat gugupku.  “Tapi matamu menunjukan ketertarikan saat melihat tubuhku,” ucap Ali. Dari pantulan cermin aku bisa melihat Ali sedang menyeringai kecil. Membuat jantungku semakin berdebar kencang.  Aku menggigit bibir bawahku. Mencoba mengontrol debaran jantungku yang kian menderu. Aku mulai merasakan rasa hangat di pipiku saat mataku kembali melirik ke arah Ali. Ali masih berdiri di tempatnya dengan mata yang kian menajam menatapku. Ah, bisa-bisanya aku seperti ini.   Tiba-tiba aku merasakan gugup yang luar biasa saat Ali mulai mendekat ke arahku. Langkah kakinya bagaikan predator yang siap menerkam mangsanya.  “Om, ma-mau ngapain?”  Aku menelan ludahku saat langkah Ali semakin dekat ke arahku. Aku segera berdiri, memutar badan dan menghadap ke arah Ali. Saat ini posisiku hanya berjarak lima langkah dari Ali. Aku bisa mencium wangi tubuh Ali, wanginya terasa sangat segar dan menenangkan. Bukannya berhenti, Ali malah semakin mendekat ke arahku. Pandangan Ali semakin memicing tajam. Seakan menelanjangi tubuhku hanya dengan tatapan tajamnya. Belum lagi seringaian tipis yang ada di bibirnya.  Jika terus-terusan seperti ini, aku tidak akan bisa berkutik. Sebelum Ali mendekat, aku langsung mencari alasan. Aku harus pergi dari sini. “Om, aku ke dapur dulu ya. Mau minum. Aku tunggu di depan,” ucapku dalam sekali tarikan nafas. Setelahnya aku pergi dari kamar, membanting pintu kamar dengan sedikit keras. Dan sebelum pintu tertutup sempurna, aku mendengan Ali terkekeh karena sikap konyolku ini.   Aku langsung berjalan ke arah dapur, mengambil air dingin di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Air dingin yang membasahi kerongkongaku yang kering layaknya padang pasir, sedikit mengurangi rasa gugup dan debaran jantungku. Baru berdekatan dengan tubuh Ali yang setengah t*******g saja, aku sudah mati gaya seperti ini. Apa jadinya jika kami sampai melakukan hubungan intim?   Ashh, otak lo Ana!   Lantunan musik yang dinyanyikan oleh Ed Sharen, memecahkan keheningan di dapur ini. Dari layah pipih yang menyala, tertera Id Caller dari Kiki. Setelah meletakan gelas di atas meja, aku mengangkat panggilan Kiki. “Ada apa, Ki? Tumben banget telepon gue,” tanyaku. Mataku menatap pada pintu kamar, memastikan Ali tidak akan keluar dalam waktu dekat. Aku belum siap berhadapan dengan Ali.  “Tugas lo udah kelar belom?” tanya Kiki di ujung Line.  Aku mengernyit bingung, “Tugas apaan?” aku balik bertanya. Seingatku tidak ada tugas yang harus dikerjakan. Semua tugas sudah dikumpulkan minggu lalu.  “Jangan bilang kalo lo lupa?” tanya Kiki. Suaranya sedikit teredam dengan suara berisik yang ada di sekitarnya, seperti suara gesekan kertas yang keluar dari mesin printing.  “Emang ada tugas ya? Kok gue lupa sih?!” Serius, aku benar-benar lupa jika memang ada tugas. Karena seingatku semua tugas sudah dikumpulkan minggu kemarin.  “Bangke lo, Na. Tugasnya Pak Arkan! Masak lo lupa sih? Besok udah harus di kumpulin. Mampus lo, bisa digolok sama Pak Arkan kalau sampai gak setor tugas ke dia,” cicit Kiki dengan tawa yang membahana di ujung sana.  “Bangke lo, Ki. Bukannya bantuin, ini malah nakut-nakutin!!”  “Hahaha, emang gue harus bantu kayak gimana? Copy-paste gitu? Behhh, yang ada bisa dimutilasi kalau ketahuan copas.”   “Lo udah ngerjain?” tanyaku, saat ini aku mulai panik. Aku tahu bagaimana sadisnya Pak Arkan saat mengajar di kelas. Dosen galak itu, tidak ada toleransi untuk mahasiswanya yang melakukan kesalahan. Tidak pandang bulu. Entah itu laki-laki atau perempuan, jika mereka melakukan kesalahan atau tidak mengumpulkan tugas. Siap-siap saja, hukuman ganas akan segera menimpa.  “Ya udah dong. Ini baru selesai gue print out,” jawab Kiki dengan begitu tenang. “Udah dulu deh ya, gue mau jalan. Mau nge-refresh mata setelah semalam suntuk bergadang. Dan buat lo, selamat begadang ya nyet!! Hahahaha.”  Dan setelah itu sambungan telepon terputus. s****n! Kenapa baru sekarang ngomongnya kalau ada tugas! Sudah tahu aku orangnya pelupa. Dan jadwal kuliah Pak Arkan adalah besok. Duhhh, alamat harus begadang semalam suntuk ini. Belum nanti cari bahannya, ngeresumnya, rangkai kata-kata agar bagus, terus harus diteliti lagi, baru bisa di print out. Aihhhh lamanyaaa. Gak bisa jalan-jalan sama Ali!  “Ayo, Ana!” seru Ali yang baru saja keluar dari kamar, dengan tangan yang sibuk mengenakan jam tangan.  “Mmmm, Om. Kayaknya jalan-jalan kita hari ini di pending dulu aja ya. Aku baru inget kalau hari ini ada tugas dan besok udah harus dikumpulin,” cicitku dengan senyuman lebar.  Ali menghembuskan nafas beratnya, “Kenapa kamu bisa ceroboh lagi seperti ini?” tanyanya dengan nada jengah. Memang bukan sekali dua kali ini saja, aku melakukan hal yang ceroboh. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga lupa. Manusiawi.  “Ya sudah. Sekarang kamu ambil keperluan kamu, kita kerjakan di ruang kerjaku,” ucap Ali. Dan setelah itu Ali pergi ke sudut ruangan dan masuk ke dalamnya.  Aku tahu, pasti Ali sedikit jengkel denganku—atau mungkin memang benar-benar jengkel. Karena lagi-lagi aku bertindah ceroboh. Seharusnya saat ini kami sudah dalam perjalanan menuju rumah Mama mertuaku. Tapi karena aku yang lupa dengan tugasku, batal sudah semuanya. ♥♥♥ Tidak ada yang istimewa di ruang kerja milik Ali. Selayaknya ruang kerja pada umumnya. Ruangan ini didominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Sangat cocok dengan karakter Ali yang dingin dan datar. Ada satu meja kerja yang cukup besar dengan kursi putar di belakangnya, satu set sofa berhadapan di dekat pintu. Rak-rak dengan ratusan buku di dalamnya. Kaca bening di sudut ruangan yang memperlihatkan aktivitas Ibu Kota yang selalu dihiasi dengan kemacetan. Selebihnya, hanya hiasan-hiasan klasik yang mengisi ruang kosong di tempat ini.  Dan aku lebih memilih untuk duduk di bawah dengan beralaskan karpet berbulu berwarna abu-abu. Sudah ada laptop, flashdisk, dan buku coretan yang ada di depanku.  “Tugas kamu tentang apa?” tanya Ali. Laki-laki itu sekarang berada di depan rak bukunya, aku tidak tahu apa yang sedang dia cari.  Sedangkan aku sendiri masih sibuk menyiapkan laptopku. “Tentang Statistik Bisnis, Om,” jawabku dengan tangan yang sibuk menancapkan flashdisk.  “Kamu cari beberapa referensi di internet. Biar aku yang mencari referensi di bukunya.” Ali berbicara tanpa melirikku sedikit pun. Dia masih sibuk dengan ratusan buku yang dia pilah satu persatu. Dan itu membuatku mengernyit bingung.  “Emang Om, punya bukunya?” tanyaku heran. Ali seorang dokter, tapi kenapa dia memiliki buku anak Ekonomi?  “Ada. Dulu aku kuliah mengambil fakultas Ekonomi.”  “Hahh?! Ambil fakultas Ekonomi, tapi kok jadinya dokter, Om?”  “Aku kuliah dua kali dan mengambil fakultas kedokteran,” jelasnya.  Dan itu semakin membuatku bingung. Maksudnya gimana sih, “Gak paham, Om.”  Sebelum menjelaskan, Ali berjalan ke arahku. Dengan buku yang berada di tangan kanannya. “Aku kuliah S1 dua kali. Pertama aku mengambil fakultas Ekonomi dan yang kedua aku mengambil fakultas Kedokteran, Ahli Jantung,” jelas Ali dengan sangat tenang. “Setelah itu aku melanjutkan S2, masih tentang kedokteran. Tapi Ahli Bedah,” sambungnya.  Penjelasan Ali sukses membuatku terdiam di tempat. Aku mengerjap beberapa kali mendengar penjelasan Ali barusan. “Itu otak, apa mesin kabulasi Om. Buset dahhhh!” Aku akui, kali ini aku kagum dengan kecerdasan Ali. Apalagi semua pembelajaran itu hanya ditempuh dalam waktu enam tahun?! Seberapa tinggi IQ yang dimiliki Ali?!  “Terus Om, tentang usaha yang Om bilang kemarin itu, juga bener?”  “Kapan aku pernah membohongimu?”  “Oh my God!! Damn! My husband is rich man!!” pekikku. Aku tidak bisa menyembunyikan raut bahagiaku. Bagaimana tidak bahagia. Selain menjadi seorang dokter, Ali juga memilik saham sendiri yang dia tanam di perusahaan Papa mertuaku. Meski pada akhirnya Ali adalah pewaris tunggal SM Corp, tapi Ali tetap ingin merintis semuanya dari bawah. Selain itu, Ali juga mendirikan restoran di London, yang saat ini dikelola oleh orang kepercayaan Ali.  Ali sendiri hanya menerima laporan tentang perkembangan saham dan usahanya melalui e-mail tiap bulannya. Dan dengan bodohnya, saat Ali mengatakan bahwa dia memiliki usaha di London, aku malah tidak percaya dengannya. Dan ternyata, laki-laki itu benar-benar kaya, and he’s my husband.  Ali hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajahku—wajah kesenangan mengetahui bahwa suaminya soerang rich man. “Sudah, cepat kerjakan tugasmu. Sudah dapat referensinya, kan?”  “Sudah Om,” anggukku dengan mata yang mulai menyorot beberapa referensi yang sudah aku dapatkan. Setelah itu, keadaan menjadi hening. Aku yang sibuk dengan referensi yang harus aku resume, dan Ali yang fokus dengan buku Statistik Bisnis yang dia pegang.  Statistik bisnis adalah suatu ilmu yang digunakan untuk menganalisis data dalam sebuah perusahaan. Statistik sendiri tidak dapat digunakan untuk menganalisis kinerja suatu perusahaan. Tapi statistik ini dapat dipergunakan untuk menganalisis peningkatan omset perusahaan sesuai data yang ada.  “Masukan yang ini juga,” ucap Ali yang memberikan buku bersampul itu kepadaku. Aku kembali membaca materi yang Ali maksud. Dan itu sesuai dengan tugas yang aku kerjakan. Ah, dengan begini Ali sangat membantuku dalam mengerjakan tugas.  Skala interval adalah suatu skala pemberian angka pada klarifiksai atau kategori dari objek yang mempunyai sifat ukuran ordinal dan ditambah satu sifat lain, yaitu jarak atau interval yang sama dan merupakan ciri dari objek yang diukur.  Beginilah nasib menjadi mahasiswa. Hari weekend pun harus tetap bercengkrama dengan tumpukan tugas yang mencekik. Meski pun kesalahan juga terjadi padaku, yang ceroboh sampai melupakan tugas dari Pak Arkan.   “Om, dulu kenapa, Om buka usahanya di London? Kenapa gak di Indonesia aja?” Aku bertanya untuk menghilangkan rasa hening yang terjadi. Hanya ada suara ketukan keyboard yang menemani kami. Dan aku tidak suka kesunyian. “Padahal di sini banyak tempat wisatanya. Kenapa gak coba bangun di; Bali, Lombok, Raja Ampat, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Sol—”  “Usaha itu aku bangun saat aku kuliah di sana,” jawab Ali yang langsung memotong perkataanku. Haihh, padahal aku belum selesai menyebutkan kota-kota yang ada di Indonesia. “Lagi pula, usaha itu awalnya aku dirikan hanya untuk mengisi waktu longgarku. Tapi ternyata bisa berkembang sampai sekarang,” sambungnya.  “Kapan-kapan ajak aku ke sana dong, Om. Sekalian jalan-jalan gitu,” pintaku dengan wajah seimut mungkin. Kata Ayah, kalau ada kesempatan itu harus dimanfaatkan, kalau perlu sikat sampai habis.  “Hmm.”  Yeay! Akhirnya bisa jalan-jalan ke luar negeri lagi!  “Tapi setelah kamu selesai magang,” lanjut Ali yang langsung meruntuhkan harapanku. Karena itu masih lama!  Aku terus berlarut dengan semua tugasku sampai tidak memperhatikan waktu. Empat jam berada di depan layar laptop merupakan sebuah hal yang sangat menyiksa. Mataku seperti ingin lepas dari tempatnya, terasa sangat perih dan lelah. Susahnya menjadi anak kuliah yang mendapatkan dosen galak. Semua hal dituntun harus perfect. Mulai dari tata letak paragraf, ukuran font, rata kanan-kiri, cover, kata pengantar sampai kata penutup, semua harus rapi. Ah, dan jangan lupakan tentang daftar pustakanya. Jika itu semua tida lengkap, jangan harap bisa mendapatkan nilai bagus.  Jangan kira kuliah di dunia nyata seperti perkuliahan yang ada di ftv atau pun sinteron. Yang jauh dari tugas, jauh dari deadline, dan jauh dari namanya dosen kejam. Itu semua imposible. Hidup itu bukan seperti drama korea yang suka menye-menye. Meskipun aku salah satu penggila drama korea. Tugas dan didline bagaikan satu paket komplit yang dosen berikan untuk mahasiswanya. Belum lagi ceramah tujuh turunan yang diberikan jika tugas yang dikerjakan tidak sesuai dengan keinginan sang dosen. Dan jika hal itu terjadi. Kembali ke poin pertama. Dosen maha benar dan selalu benar.  “Ahh, capekkk!” seruku dengan mengangkat kedua tangan, otot-ototku terasa sangat kaku. Untung saja ada Ali yang mau membantuku. Jika tidak ada Ali, aku tidak yakin saat ini tugasku sudah selesai. Karena jika aku sudah bosan aku akan berhenti mengerjakan tugas dan mencari aktivitas lain yang menyenangkan.  “Lebih baik sekarang kamu bersih-bersih. Setelah itu kita makan,” ucap Ali.  “Bentar lagi Om. Mau beresin ini dulu.” Kekacauan yang aku ciptakan di ruang kerja Ali ini cukup parah. Banyak kertas yang berserakan dimana-mana. Dan aku memiliki kewajiban untuk membereskan kekacauan ini.  “Tinggalkan saja, biar aku yang memberesinya.” Ali menahanku yang akan memunguti gumpalan kertas yang aku ciptakan tadi.  Aku mendongak menatapnya, “Tapi kan, Om—”  “Ana!”  “Iya Om, iya. Aku ke kamar,” jawabku pasrah.   Ali kalau sudah mengeluarkan nada tegasnya, jangan harap untuk bisa melawan. Dia itu tipe laki-laki yang otoriter...dan menyebalkan. Sampai sekarang aku masih heran. Bagaimana mungkin Ayah memilihkan laki-laki yang menyebalkan, dingin, dan otoriter ini sebagai suamiku. Walau tidak aku pungkiri, jika terkadang Ali juga bersikap manis. Tapi tetap saja, sikap menyebalkan sangat mendominasi di diri Ali.  Coba saja saat itu Ayah tidak gegabah. Mungkin saat ini aku sudah bertunangan dengan Shawn Mendes. Menjadi salah satu pusat perhatian dunia internasional, karena mendapatkan salah satu laki-laki tertam pan di dunia. Tapi sayang, takdir berkata lain. Takdir lebih suka aku bersama Ali dari pada bersama Shawn Mendes.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN