Part 7

3309 Kata
Panas, padat, dan penuh desakan. Menjadi kalimat yang cocok untuk menggambarkan keadaan Ibu Kota saat ini. Sudah satu jam lebih aku berada dalam keadaan ini. Sungguh mengenaskan. Untung saja aku tidak membawa mobil sendiri, aku memilih untuk naik taxi. Aku sudah menduga jika jalanan siang ini akan sangat padat dengan kemacetan. Dan baru lima menit yang lalu, taxi yang aku tumpangi berhenti di tempat kerja Ali.   Setelah meminta sopir taxi untuk menunggu, aku langsung masuk ke dalam lobi rumah sakit. Hari ini aku berencana mengantarkan makan siang untuk Ali, berhubung tadi pagi aku terlalu asik memasak sampai semua bahan aku olah. Alhasil, masakan yang aku buat terlalu banyak dan aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri. Karena sekarang posisiku sudah menjadi istrinya Ali, aku langsung berjalan ke ruangannya tanpa bertanya pada bagian resepsionis.   Sebelum ke sini aku sudah mengirimkan pesan padanya, jadi aku tidak perlu khawatir jika Ali tidak ada di ruangannya. Pelayanan di rumah sakit ini juga cukup memuaskan, orang-orangnya tergolong ramah. Tapi aku masih penasaran dengan sikap Ali jika memeriksa pasiennya. Apakah tetap dingin atau bagaimana?  Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan jawaban dari Ali, aku langsung masuk ke ruangannya dan menutup pintu dari dalam. Ali selalu sibuk dengan puluhan lembar yang menumpuk dan laptop yang menyala di depannya. Entah itu mengenai laporan pasiennya atau tentang laporan perkembangan saham serta usaha yang Ali miliki. Yang pasti, Ali selalu sibuk dengan wajah datarnya.  “Kamu gak kuliah?” tanya Ali yang mulai membereskan puluhan lembar yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Karena jika Ali masih sibuk di balik meja kerjanya, aku akan terus mengomel sampai laki-laki itu berhenti bekerja di jam makan siang.  “Kuliah Om, habis dari sini nanti aku langsung ke kampus,” jawabku. Aku mulai membuka satu persatu bekal yang aku bawa. Terhitung, ada sekitar lima lauk yang aku siapkan untuk Ali.  “Mmm, Om. Hari ini aku izin pulang telat ya?” kataku.  Ali hanya mengernyit dengan menaikkan sebelah alisnya, “Memangnya kamu mau kemana?”  “Habis pulang kuliah, anak-anak ngajakin jalan. Soalnya udah lama kita gak keluar bareng.” Aku mulai menuangkan nasi dan beberapa lauk pada piring kosong yang ada di depanku. Hari ini aku berencana untuk keluar dengan dengan teman-temanku. Beberapa minggu ini kami jarang keluar bersama. Kami hanya berkumpul saat di kampus, selebihnya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.  “Kemana?” Ali masih terus bertanya dengan nada dinginnya.  “Paling nanti ke bioskop, cari makan, kalau gak gitu ya belanja. Boleh ya Om?” pintaku. Kali ini sedikit menunjukan ekspresi memohon pada Ali. Agar Ali memperbolehkanku keluar dengan temna-temanku.  Ali mengangguk kecil, “Pergilah. Asal jangan pulang terlalu malam,” pesannya.  “Siap Om!” pekikku bahagia. Aku merasa sangat senang saat Ali memberiku izin. Aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan teman-temanku.  “Kartu kredit yang aku berikan padamu selalu kamu bawa, kan?”  “Iya Om. Kartunya tersimpan rapi di dalam dompet. Tenang aja, aku pasti menggunakannya dengan sangat baik,” jawabku.  Kalau perlu, aku akan menghabiskan semua isinya. Lagi pula kamu orang kaya, jadi gak masalah dong, hihihi, lanjutku dalam hati.  Ali hanya mengangguk, kemudian melanjutkan acara makan siangnya. Inilah enaknya memiliki suami kaya, apapun pasti akan diberikan.  ♥♥♥ Dua jam di dalam bioskop dengan pemain yang tampan, film yang dikemas dengan sangat apik, dan hati yang berdebar. Film action berjudul Mission Impossible : Fallout ini benar-benar membuatku kagum dengan segala aksi yang dilakukannya. Aku bahkan sampai menahan nafas saat melihat sang aktor terjun dari pesawat dengan ketinggian 7km, melompat dari gedung satu ke gedung lain, yang hampir membuatnya terjatuh dari ketinggian. Apalagi saat di tebing dengan jurang yang sangat curam tadi. Ah, membuatku semakin kagum dengannya.  “Coba aja Ethan masih muda, pasti udah gue embat. Umur setengah abad aja gantengnya kayak gitu, apalagi waktu muda,” ucapku yang masih belum bisa berhenti dengan rasa kagumku. Aku sudah sering melihat film action, tapi aku tidak pernah merasa berdebar seperti saat ini.  “Alah, gaya lo, Na. Punya laki satu aja, pdkt selama berminggu-minggu belum kelar, udah mau ngelirik cowok lain. Inget sama suami,” kata Stefy dengan menyenggol bahuku pelan. “Kalau kata Ali sih, inget status dan posisi,” lanjutnya.  Aku hanya memutar bola mata malas. Temanku yang satu ini paling bisa membuatku jengah dengan setiap katanya. Terutama kata yang selalu Ali ucapkan. Status dan posisi, haih!  “Walker juga ganteng sih. Tapi sayang dia jahat,” kata Kiki.  “Gak papa kali. Cocok tuh sama lo yang labil.”  “a***y lo, gue gak labil-labil amat kali.”  Aku dan Stefy hanya saling pandang dalam diam. Sudah terbiasa melihat perselisihan antara Kiki dan Fitri. Dimana pun dan dalam keadaan apa pun. Padahal itu hanya masalah sepele.  “Eh, ke time zone, yuk?” ajakku. Entah setan anak kecil mana yang merasukiku, tiba-tiba saja aku merindukan permainan yang dulu sering aku mainkan saat SD. Permainan yang membuatku melupakan semuanya. Hanya kesenangan yang aku dapat saat bermain, seolah tidak ada beban berat yang aku tanggung.  “Mau ngapain? Kita bukan bocah lagi Na,” gerutu Stefy. Mereka semua tahu, jika aku memiliki sifat seperti anak kecil yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Keinginan yang aku mau harus terpenuhi saat itu juga.  “Alahh, udah ayok!!” Tanpa menunggu persetujuan dari mereka, aku langsung menarik tangan mereka dengan paksa. Untung saja tempatnya tidak begitu jauh dari bioskop, jadi aku tidak perlu mengeluarkan tenagaku terlalu banyak.  Mungkin jika Ayah dan Bunda ada di sini, mereka akan geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Bagaimana tidak, gadis yang berusia dua puluh dua tahun dengan gelar seorang istri, harus berebut mainan dengan bocah berusia delapan tahun. Bahkan tidak ada rasa mau mengalah sedikit pun. Sampai anak itu pergi dengan menghentakkan kakinya dengan kesal.  “Dasar bocah!”  Aku tidak peduli dengan berbagai komentar dan u*****n yang mereka ucapkan. Yang pasti, saat ini aku ingin bersenang-senang sampai puas. Dan aku akan menjambak rambut mereka jika sampai mereka berani meninggalkanku.  “Ana! Ada pesan ni, dari Ali.” Stefy berjalan ke arahku dan menyerahkan ponsel yang tadi aku titipkan padanya. Saat aku membuka ponsel, ada satu pesan dari Ali. Aku langsung menekan pesan dari Ali yang berada di deretan paling atas. Kamu dimana?   Aku sedikit mengernyit, tumben sekali Ali menanyakan posisiku saat ini. Biasanya jika aku sudah izin, Ali tidak akan merecokiku dengan pesan seperti ini. Padahal ini baru jam...tujuh malam?! Hah, serius sudah jam tujuh malam?! Ya ampun, karena terlalu asik bermain aku sampai lupa waktu. Pantas saja Ali mencariku. Aku masih di mall, Om.   Aku membalas pesan Ali dengan sedikit berdebar. Aku tidak sadar jika sudah menghabiskan banyak waktu di sini. Aku terlalu asik dengan semua permainan yang menyenangkan ini. Dan aku sangat betah berlama-lama di tempat ini. Kenapa belum pulang?   Satu menit berikutnya Ali membalas pesanku. Habis ini aku pulang  Aku menelan ludahku dengan kasar. Dadaku semakin berdegup kencang. Meski ini belum larut malam, tapi melihat balasan dari Ali seperti ini membuatku sedikit takut.   “Balik yuk.” Aku memutuskan untuk pulang, lebih baik cari aman saja dari pada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Meski Ali tidak akan pernah memarahiku, tapi melihat respon dia yang dingin seperti ini membuat nyaliku menciut.  Kami berpisah di halaman depan mall, dengan aku yang lebih memilih pulang menggunakan taxi. Mereka tetap memaksaku untuk pulang bersama mereka, tapi aku tetap menolak. Jarak rumah mereka dengan apartemen Ali tidak searah, dan aku tidak mau membuat mereka harus bolak-balik. Apalagi cuaca malam ini mulai mendung.   Setelah meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja, kami berpisah. Aku yang mengambil jalur ke kiri dan mereka yang mengambil jalur ke kanan. Beruntungnya keadaan malam ini tidak terlalu macet, karena waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.  ♥♥♥ Cuaca di Ibu Kota saat ini sangatlah tidak stabil. Kadang matahari bersinar terik, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras. Seperti malam ini, padahal saat aku berangkat tadi, langit masih terlihat cerah. Tapi sekarang sudah terlihat pekat, dengan awan abu-abu yang menutupi bulan dan bintang. Semoga saja hujan belum turun sebelum aku sampai apartemen. Karena suhu saat ini sudah mulai dingin, ditambah aku yang tidak mengenakan jaket.  Setelah menempuh perjalan yang memakan waktu hampir satu setengah jam. Taxi yang membawaku hampir sampai di apartemen, sekitar lima ratus metes lagi. Bahkan dari sini aku bisa melihat apartemen yang Ali tinggali menjulang tinggi di depan sana. Tapi tiba-tiba saja taxi yang aku tumpangi berhenti mendadak, membuat tubuhku sedikit condong ke depan. “Ada apa, Pak?” tanyaku yang masih bingung.  “Saya juga gak tahu mbak. Sebentar ya, saya cek dulu.” Setelah mengatakan itu, supir taxi langsung keluar. Berjalan ke depan dan membuka kap mobil bagian depan. Dari sini aku bisa melihat kepulan asap yang mulai terbang ke udara.  Tanpa banyak kata aku langsung keluar. “Gimana pak?”  Sopir itu terlihat menggaruk sudut pelipisnya, raut wajahnya berubah menjadi tidak enak. “Maaf mbak, mobilnya mogok. Saya cuma bisa nganter sampai sini,” ucap Bapak itu dengan raut wajah sediki bersalah.  Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya Pak, gak papa. Lagian apartemen saya udah deket kok.” Setelah membayar tarif taxi, aku berjalan menyusuri trotoan dengan sedikit tergesa. Langit malam sudah terlihat mulai menghitam dengan kilatan petir yang bersinar. Jujur saja, aku tidak begitu suka dengan suara petir yang seperti memburu itu. Suaranya sangat mengerikan dan membuatku takut.  Baru lima puluh meter aku berjalan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mau meneduh, aku merasa tanggung karena sudah dekat dengan apartemen. Tapi jika aku memaksa lanjut, aku akan basah kuyup. Terlepas dari itu semua, tanpa memperdulikan sekujur tubuhku yang mulai basah, aku berlari dengan tas yang aku pakai untuk menutupi kepalaku.  Semoga setelah ini aku tidak demam. Semoga setelah ini aku baik-baik saja.  Masih berlari dengan keadaan yang benar-benar basah kuyup. Aku bisa menghembuskan nafas lega saat aku sudah berada di lobi apartemen. Berjalan ke arah lift dengan tubuh yang mulai gemetar, aku langsung menekan angka dua puluh di mana kamar Ali berada. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya lift terbuka dan aku segera masuk ke dalamnya.  “Huffttttt...” racauku dengan bibir yang mulai gemetar. Sungguh, ini sangat dingin.  Aku memang tidak terbiasa hujan-hujanan seperti ini. Terakhir kali aku hujan-hujanan, aku mengalami demam selama dua hari. Besoknya Ayah dan Bunda langsung membawaku ke rumah sakit. Dan bodohnya lagi, sekarang kondisi perutku dalam keadaan kosong. Aku melewatkan jam makan malamku karena terlalu asik bermain.   Setelah pintu terbuka, aku segera keluar dan berlari ke kamar Ali yang berjarak sepuluh kamar dari tempat lift. Setelah menekan beberapa kode, aku langsung masuk ke dalam. Biasanya di jam-jam seperti ini, Ali masih sibuk di ruang kerjanya. Tapi saat aku melangkah lebih dalam, dugaanku salah.  Ali sudah duduk di sofa dengan kedua tangan yang terlipat di depan d**a. Menatapku dengan mata dinginnya. Tanpa memperdulikan Ali dengan wajah yang sulit diartikan, aku masuk ke kamar. Aku sudah tidak tahan dengan rasa dingin ini. Melepas tas dan sepatu secara asal, aku langsung berlari ke kamar mandi. Aku butuh air hangat. Dan beruntungnya bathup di depanku sudah terisi penuh air hangat dengan bau aromaterapi. Mungkin Ali yang menyiapkannya.  Tanpa membuang waktu aku langsung berendam di bathup. Rasa hangat mulai menjalari permukaan kulitku, tapi tetap saja, rasa dingin itu masih ada. Aku baru keluar dari kamar mandi setelah setengah jam lamanya. Saat aku keluar, tatapan Ali langsung menghunus wajahku. Laki-laki itu duduk di sudut tempat tidur, masih dengan tangan yang terlipat di depan d**a. Dan firasatku mengatakan ini tidak baik.  Berjalan ke arah lemari hanya mengenakan kimono, aku mengambil baju yang cukup tebal dan kembali masuk ke kamar mandi. “Kenapa muka Ali jadi serem gitu, ya?” tanyaku sendiri. Selama memakai baju aku menggerutu kecil. Wajah Ali terlihat sangat aneh malam ini. Wajahnya jauh lebih dingin dibandingkan dengan hari biasanya.  Aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan ketar ketir. Seperti orang yang ketahuan mencuri. Berjalan ke arah Ali dengan wajah yang sedikit menunduk. “Om, maaf pulang telat,” cicitku dengan suara pelan. Aku sadar aku salah. Aku sedikit melewati batas waktu yang sudah Ali tetapkan. Ali membebaskanku untuk pergi kemana pun aku mau, tapi Ali membatasiku sampai jam delapan malam. Dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.  Ali tidak menjawab. Laki-laki itu berdiri dan berjalan menuju laci yang berada di samping tempat tidur. Mengambil satu gelas s**u dan memberikannya padaku. “Minum.”  Aku langsung menerima dan meminumnya sampai habis. Sekarang kehangatan yang menjalari kerongkonganku, tapi rasa dingin masih menyelimuti tubuhku. Setelah gelas ini kosong, Ali mengambilnya dan mengembalikan ke tempat semula.  “Kenapa tadi pulang terlambat? Dan kenapa sampai bisa kehujanan?” tanya Ali dengan suara datarnya yang semakin membuatnya terlihat dingin.  “Maaf. Tadi aku terlalu asik main sama mereka. Sampai aku lupa waktu,” jawabku dengan suara pelan di akhir kalimat, bahkan hampir menyerupai bisikan. “Tadi sebenernya aku udah mau sampai. Tapi tiba-tiba taxi yang aku naiki mogok dan akhirnya aku jalan kaki,” jelasku lagi. Tidak ada yang aku tutupi dari Ali, aku berusaha untuk tetap jujur padanya dalam keadaan apapun.  “Kenapa tidak meneleponku?”  “Gak kepikiran Om. Lagian tadi juga udah deket kok, makanya ak—”  “Dan berakhir dengan hujan-hujanan?!” potong Ali dengan kalimat sarkasnya.  Aku hanya menunduk. Malam ini Ali sangat berbeda, dia terlihat begitu datar dan dingin. Bahkan aura dingin yang Ali keluarkan malam ini terlihat sangat menakutkan.  “Sekarang tidur!”  Aku tidak membantah Ali, aku langsung berjalan ke tempat tidur. Membungkus tubuhku dengan selimut tebal. Rasa kantuk mulai menyerangku. Aku tidak tahu sejak kapan aku terlelap. Tapi aku terbangun saat merasakan tubuhku yang semakin menggigil dan perut seperti terkoyak. Saat aku melihat jam dinding, waktu baru menunjukan pukul setengah tiga pagi. Kepalaku terasa sangat pusing saat aku mendudukkan tubuhku. Semua benda yang ada di depanku rasanya seperti berputar-putar.   Dengan langkah yang sedikit berat, tubuh yang sempoyongan saat berjalan, aku masuk ke kamar mandi. “Huek, huek, huek.” Aku langsung memuntahkan seluruh isi perutku. Dan hanya ada cairan putih s**u yang keluar. Aku benci jika tubuhku sudah seperti ini. Badanku lemas, kepalaku sangat pusing dan pandanganku semakin kabur.  Obat pereda pusing yang Ali berikan sebelum aku tidur tadi, ternyata tidak memberikan efek apapun untuk tubuhku. Dengan berpegangan pada dinding kamar mandi, aku berjalan keluar. Menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan, dengan satu tangan yang masih berpegangan pada dinding.  “Ssstttt...”   Rasanya aku ingin menangis saat ini juga. Kepalaku benar-benar pusing dan berat. Seakan ada ratusan jarum tajam yang menghunus di atasnya. Aku masih memaksa untuk berjalan kembali menuju tempat tidur. Tapi baru dua kali aku melangkah, tubuhku semakin lemah dan pandanganku semakin kabur. Semua seperti berputa-putar di depanku. Kakiku mulai melemas, pandanganku semakin kabur dan akhirnya semua gelap. ♥♥♥ Aliand's Pov Suara berisik dari kamar mandi, membuatku terbangun di saat waktu masih jauh dari kata pagi. Saat melihat ke samping, ternyata tempat itu kosong. Kemungkinan besar tubuh Ana saat ini sedang bereaksi. Dan aku lebih memilih untuk tetap diposisi ini.Bukannya aku tega melihat kondisi Ana saat ini. Hanya saja, aku masih menunggu, sejauh mana wanita itu berhenti dari sikap keras kepalanya. Sebelum tidur tadi dia sudah mengeluh jika kepalanya sakit. Aku sudah menawarkan untuk mengajaknya ke rumah sakit. Tapi wanita itu menolak dengan keras, dan berakhir seperti saat ini.  Di ambang pintu kamar mandi, Ana keluar dengan dinding yang digunakan sebagai penopang tubuh. Wajahnya benar-benar terlihat pucat, bahkan butiran keringat sudah memenuhi dahinya. Ah, aku tidak tega sendiri melihatnya. Baru dua langkah aku berjalan ke arah Ana, tiba-tiba Ana semakin sempoyongan. Kakinya sudah tidak jelas dalam melangkah. Dan sebelum tubuh kecil itu jatuh ke lantai, aku langsung menangkapnya. Ana terpejam dengan dahi yang berkerut menahan sakit.   Menyeka buliran keringat yang memenuhi wajahnya, menyingkirkan beberapa helai rambut di pipinya, dan merasakan bagaimana panasnya tubuh Ana saat kulitku menyentuh kulit wajahnya. “Ana, hey, buka matamu.”  Tidak ada pergerakan dari bola matanya, hanya terdengar rintihan sakit yang lolos dari bibirnya. “Pusing Om,” erangnya.  Aku langsung menyelipkan sebelah tanganku di kaki Ana, mengangkat tubuh mungilnya yang masih merintih menahan sakit. “Kita ke rumah sakit ”  “Jangan! Aku gak mau ke rumah sakit, Om.” Dan dia masih bertahan dengan sikap keras kepalanya.  “Tapi badan kamu panas, Ana.”  “Please...”  Menghembuskan nafas kasar, hanya itu yang bisa aku lakukan. Ana tetap bertahan dengan sikap keras kepalanya. Jika aku tetap memaksanya wanita ini akan marah. Aku tahu seberapa besar bencinya Ana terhadap rumah sakit. Seharusnya Ana tahu kondisinya saat ini. Tubuhnya sangat butuh penanganan medis. Setelah merebahkannya di tempat tidur, aku keluar menuju dapur. Mengambil air kompresan dan obat pereda pusing.  “Minum dulu obatnya.”  Tubuh Ana benar-benar lemas, bahkan untuk bangun saja wanita itu sangat kesusahan. Setelah meminum obat pereda pusing, aku mulai mengompres dahi Ana. Semoga dengan ini demamnya cepat mereda. Kalau saja Ana tidak takut jarum suntik, sudah sejak tadi aku memberikannya vitamin untuk kekebalan tubuhnya.   Mata Ana kembali terpejam, diikuti hembusan nafas yang sedikit teratur. Tapi tak jarang, rintihan kesakitan masih keluar dari bibirnya. Keadaan Ana mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang menjadi alasan, kenapa aku lebih mementingkan profesi dokter dari pada seorang pengusaha. Flashback On  Saat itu, tepatnya tiga belas tahun silam. Seorang anak kecil yang menangis kencang karena terjatuh dari sepeda, membuatku mau tidak mau harus menghampirinya. Keadaan taman yang sangat sepi dan tidak adanya pengawalan dari orang tuanya, membuat anak itu semakin menangis kencang.  Kedua lututnya berdarah dan siku tangannya juga tergores. Aku tidak tahu pasti bagaimana anak itu terjatuh, tapi menurutku itu cukup parah. Berjongkok di hadapannya dan masih berdiam, melihat lebih jelas luka dan tangisan anak itu. Mata bulatnya mengerjap lucu saat melihatku dan dia berhenti menangis. Tapi masih sesegukan dengan bibir yang mengerucut lucu.  “Sakit kak,” lirihnya dengan air mata yang kembali turun di pipinya.  Tanpa mengatakan apa pun, aku memegang kedua bahunya. Membantunya berdiri, tapi belum sepenuhnya dia berdiri, gadis itu sudah kembali jatuh dengan posisi duduk. Dan itu membuatnya kembali menangis kencang.  “Ana gak bisa berdiri, kaki Ana sakit. Ayah, Bunda!!” pekik gadis yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘Ana’.  Aku kembali berjongkok di depannya, memunggunginya. “Ayo naik.”  Dengan sedikit tertatih, Ana naik di punggungku. Bobotnya sangat tidak terasa saat aku mulai berdiri dan berjalan. Aku seperti tidak menggendong apa pun. Berjalan ke arah bangku taman dan mendudukkannya dengan hati-hati. Aku mengambil sapu tangan yang ada di saku celanaku. Memberikannya pada Ily, supaya gadis itu membersihkan luka goresnya.  Tapi gadis itu menggeleng keras. “Ana gak bisa. Ana takut bersihin luka,” lirih gadis itu dengan bibir yang kembali mengerucut.  Mau tidak mau aku harus kembali berjongkok di depannya. Mengangkat sebelah kakinya dan menumpunya di atas pahaku. Ana terlihat sibuk dengan bungkusan permen yang baru saja dia ambil dari saku bajunya, mungkin itu cara dia untuk pengalihan rasa sakit. Aku membersihkan luka yang menghiasi kaki putih bersihnya dengan sangat hati-hati. Entahlah, aku merasa heran dengan diriku sendiri.  Tidak biasanya aku bersikap seperti ini pada orang lain. Apalagi orang yang tidak aku kenal. Tapi saat mendengar suara gadis yang menangis sangat keras, tiba-tiba saja langkah kakiku membawaku ke arahnya. Padahal aku sudah berniat pulang setelah melakukan kerja kelompok di taman ini.  Setelah kedua kakinya sudah cukup bersih dari bekas darah, aku kembali duduk di sampingnya. Memperhatikan wajah lucunya saat mengemut permen merahnya.  “Nama kakak siapa?” tanya Ily dengan mata yang mengerjap lucu.  “Aliandra.”  “Nama kakak bagus. Ganteng kayak orangnya, hihihi,” ucap Ily dengan kikikan lucu. “Kalau aku namanya Ana Lovyta kak, tapi Ayah sama Bunda panggilnya Ana. Katanya biar gampang.” Ana sudah tertawa lucu dengan ucapannya. Entah kemana rasa sedih, tangis dan kesakitan yang dia rasakan. Aku hanya menatap dingin ke arahnya, tidak ada kata yang aku ucapkan.  “Oiya, nanti kalau besar kak Ian mau kan jadi dokternya Ana?Ama takut sama dokter kak, mereka selalu suntik Ana kalau Ana sakit. Kan tadi kak Ian udah rawat Ana waktu Ana kesakitan, kak Ian juga gak bawa suntik. Jadi nanti kalau Ana sakit, Ana cukup dateng ke kak Ian. Kak Ian mau kan, jadi dokternya Ana?” celoteh gadis itu dengan segala ucapannya.  Aku hanya tersenyum tipis. Bagaimana mungkin anak kecil seperti dia memintaku untuk menjadi seorang dokter. Bahkan kami pun tidak saling mengenal dan baru bertemu hari ini. Aku hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis, tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Flashback Off  Tapi sekarang, kejadian itulah yang menjadikan alasan kenapa aku memilih profesi menjadi seorang dokter. Mengesampingkan jabatan yang sudah Papa berikan padaku. Sampai waktu itu tiba. Waktu saat kedua orang tuaku menjodohkanku dengan anak dari rekan bisnis dan juga sahabat Papa. Awalnya aku menolak, karena aku masih nyaman dengan keadaanku yang saat itu. Sendiri, jauh dari keramaian dan hanya ada ketentraman.   Tapi saat Papa menunjukkan sebuah foto gadis yang tersenyum dengan lebar, mataku seakan terpaku. Wajah itu seakan tidak asing di mataku. Dan saat semua informasi terkumpul, aku sangat yakin jika dia adalah Ana. Gadis permen yang menangis kencang karena kedua lututnya terluka. Gadis permen yang secara gamblang memintaku untuk menjadi seorang dokter. Dan gadis permen yang membuatku terpukau hanya karena mata bulatnya.   Dan mulai saat itu, sebuah prinsip yang tanpa aku sadari menyelinap di benakku. Merambat melalui sel-sel darahku dan terpatri secara sempurna di otakku. Prinsip yang kadang membuat ku bingung, kenapa aku harus seperti ini.  Dan ternyata inilah jawabannya.  Aku ingin selalu melindunginya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN