Part 8

2627 Kata
Setelah penderitaan yang menyiksaku semalam, pagi ini tubuhku mulai membaik. Hanya menyisakan sedikit rasa pusing, lemas dan mual yang sesekali mengoyak perutku. Ali hari ini tidak masuk kerja, dia tidak mau meninggalkanku sendirian saat tubuhku belum sepenuhnya sembuh. Padahal aku sudah bilang, jika dia mau kerja, aku bisa menelepon Bunda atau Mama untuk menemaniku di sini. Tapi Ali tetap kekeh dengan jawabannya, “Aku tidak ingin merepotkan orang lain. Kamu istriku dan sudah kewajibanku untuk merawatmu.”  Setidaknya jawaban Ali membuatku lega, sejak semalam dia selalu menjagaku dan merawatku. Sehingga rasa pusing yang aku rasakan tidak sesakit semalam. Bagaikan ratusan jarum tajam yang menghunus kepalaku. Sejak pagi buta, di saat matahari masih malu-malu kucing. Ali sudah berkutat di dapur. Menyiapkan bubur dan juga sup ayam untukku. Kadang aku suka heran denga Ali. Padahal dia orang kaya, usaha yang dia miliki juga banyak. Tapi kenapa tingkah lakunya tidak mencerminkan bahwa dia orang yang dilimpahi dengan segala harta.   Seperti yang dia lukakan tadi pagi. Padahal Ali bisa memesan makanan di dekat apartemen, tapi Ali lebih memilih masak dan berkutat dengan panci dan spatula. Ali juga lebih memilih tinggal seorang diri di apartemen, dari pada di istana megah yang orang tuanya bangun. Pernah waktu itu aku bertanya alasan Ali memilih semua ini dan jawabannya sangatlah sedernaha. “Aku ingin membangun semuanya dari bawah. Walaupun orang tuaku kaya, itu harta mereka, bukan hartaku.”  Dan aku kembali kagum dengan jawaban Ali. Saat orang lain berusaha berpenampilan keren agar mereka dipandang orang berada, Ali malah justru sebaliknya. “Lagi pula, untuk apa aku memamerkan harta yang bukan sepenuhnya milikku sendiri. Lebih baik tampil apa adanya sesuai kemampuan. Dari pada tampil berlebihan tapi berimbas penyiksaan.” Itu komentar Ali saat aku mempertanyakan soal penampilan anak zaman sekarang.   Entah laki-laki itu kerasukan jin dari mana sampai bisa berkata seperti itu. Meski jawaban yang Ali berikan memang sepenuhnya benar. Kebanyakan anak zaman sekarang, mereka terlalu senang menghambur-hamburkan uang. Padahal mereka sendiri masih meminta uang pada orang tua mereka. Berbeda denganku. Walau pun aku ingin menghabiskan berjuta-juta uang yang aku miliki, itu tidak masalah. Karena suamiku sudah kaya dengan berbagai usaha yang dia miliki.   Tapi aku masih sehat. Aku mengeluarkan uang banyak hanya seperlunya saja, contohnya berburu dalaman keluaran terbaru. Aku dan anggota Cangcutter, akan berada di urutan paling depan. Setelah meminum beberapa obat dan vitamin yang Ali siapkan, aku hanya duduk terdiam di atas kasur dengan bantal yang dijadikan sandaran. Tubuhku masih panas dingin. Ali masuk ke kamar dengan setelan santainya, celana training dan baju polo warna putih.   “Bagaimana kondisimu?” tanya Ali dengan mata melirik ke arah bungkus obat. Dan setelah itu dia menarik senyum tipis.   “Udah lumayan mendingan. Tapi masih meriang.” Ali tetap berdiri di tempatnya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. “Om, bisa kerokan gak?”  Ali menautkan kedua alisnya dengan pandangan bingung, “Kerokan?”  “Iya Om. Biasanya kalau demamku belum reda juga, Bunda selalu kerokin aku. Setelah itu demamnya pasti langsung hilang.” Ini kebiasaan lamaku. Entah dimulai sejak kapan, setiap kali aku demam, Bunda akan selalu melakukan kebiasaan ini. Dan itu berlangsung sampai aku besar.  “Aku tidak bisa.”  “Cari tutorial di google aja, Om. Kalau gak gitu nanti gak sembuh-sembuh. Emang Om mau, istri Om yang cantik tiada tara, centar membahana ini sakit-sakitan?” pintaku. Aku tidak betah dengan kondisiku yang seperti ini.  Ali masih bergeming di tempatnya. Tidak ada suara atau perilaku yang menandakan adanya sebuah tindakan. “Atau Om telepon Bunda aja deh, suruh ke sini. Biar nanti Bunda yang ker—”  “Aku akan mencari tutorialnya,” potong Ali. Ali berjalan ke arah samping, mengambil ponsel yang dia letakkan di atas nakas.  Aku terkekeh kecil saat melihat wajah Ali yang sedang serius memperhatikan ponselnya. Setelah hampir setengah jam berkutat mencari tutorial cara kerokan yang baik, inilah saatnya mempraktekannya. Saat ini aku sudah tengkurap di atas ranjang dengan punggung yang polos. Sebenarnya aku sangat malu dengan keadaanku yang seperti ini. Tapi jika dibiarkan, demamku tidak akan reda.   “Om, nanti matanya jangan jelalatan. Fokus ngerokin aja!” ingatku. Aku hanya takut jika mata Ali tidak akan fokus saat melihat punggung mulusku. Bisa-bisa nanti dia... Big no! Itu tidak boleh terjadi, aku belum siap. Lima menit awal, semua masih berjalan lancar. Meski Ali sedikit kaku saat proses pengerokan, tapi setidaknya masih cukup nyaman untuk dirasakan. Sampai lima menit berikutnya, semuanya kacau balau.   “OM PELAN-PELAN!”  “TANGANNYA JANGAN TURUN-TURUN! BISA DIEM GAK SIH!”  “AWW, SAKIT OM!”  “AYAH! KULIT ANA MAU DIROBEK SAMA ALI!”  Dan masih banyak lagi berbagai macam u*****n yang keluar. Jika Ali menghentikan kerokannya aku tidak akan histeris seperti ini. Tapi nyatanya Ali tetap melanjutkan kerokannya samapi punggungku berwarna merah pekat. Ini terkahir kalinya aku minta dikerokin sama Ali, setelah ini tidak ada lagi. Cukup kali ini saja Ali membuat punggung mulusku terasa memar.   Setelahnya aku berendam dengan air hangat, membuat tubuhku sedikit rilex. Meski punggungku masih terasa perih akibat kekejaman Ali. Benar-benar suami durhaka, dan Ali masih bisa tertawa keras saat melihat diriku yang tertindas karena ulahnya. Dan aku semakin mengumpat kasar saat sadar jika aku lupa membawa dalamanku.   Double s**t!   Baju yang aku gunakan tadi sudah aku masukan pada keranjang pakaian, aku tidak mungkin menggunakan lagi, itu terasa sangat risih. Ditambah tidak ada handuk yang tergantung di kamar mandi. Benar-benar s**l! Tidak ada pilihan lain, aku harus minta tolong pada Ali. Menyembulkan kepala di balik pintu, menatap ke samping kanan kiri mencari keberadaan Ali. Dan laki-laki itu duduk di sudut sofa dengan mata yang menatap aneh ke arahku.   “Om, boleh minta tolong gak?” tanyaku. Demi apapun, aku malu sekali untuk mengatakannya.  Sebelah alis Ali terangkat saat menatapku, “Apa?” tanya Ali dengan nada datarnya.  “Ambilin k****g sama kancutku dong,” lirihku dengan senyuman kuda. Ini sangat memalukan.   “Itu apa?” Pertanyaan polos itu meluncur dengan sempurna dari mulut Ali. Membuatku menepuk dahi dengan jengah.   Aku memutar bola mataku. Bagaimana bisa Ali tidak tahu apa itu k****g dan k****t. “Dalaman Om,” kataku.  “Oh. Kenapa tidak bilang sempak dan ** saja, jadi aku tidak bingung.”  Semvak bolong!!   Suamiku kenapa gamblang sekali sih bicaranya. Aku saja mewanti-wanti untuk menahan urat maluku, tapi dia...malah... Ya Tuhan!!   “Frontal banget sih Om!”  “Jangan salahkan aku. Ini karena kamu yang terlalu sering membahas dalaman dengan Stefy,” kata Ali.   Aku hanya terkikik kecil. Itu memang benar, aku terlalu sering membahas berbagai macam dalaman yang saat ini sedang tren. Tanpa memikirkan ada atau tidaknya Ali di sini. Ali sudah berjalan ke lemari pakaianku yang ada di walk in closet. Aku bisa melihat Ali yang sedang membuka dan memilih dalaman mana yang akan aku pakai dari pantulan cermin yang ada di samping dinding. Dan aku semakin melongo saat tangan Ali mengangkat tinggi salah satu kancutku.  “Aku baru tahu kalau sempak ada motif donat dengan taburan meses warna-warninya. Selain ini ada motif apa lagi, Ana?!”  “Om!!!” pekikku keras. Demi apa pun, rasanya aku ingin menerjang Ali saat ini juga. Kenapa dia harus bersikap gila seperti itu? Dan pertanyaan tentang motif tadi? Itu bukan aku yang membelinya. Itu kado pernikahan yang Kiki berikan padaku. Hiks, rasanya aku ingin menangis.  “Yang motif keju ada gak,Ana?”  Aku menggerang semakin kencang saat sikap Ali semakin menyebalkan. Laki-laki s****n. ♥♥♥ Dua hari paska kejadian aku sakit, semua kembali dengan normal. Ali sudah sibuk dengan pasiennya dan aku juga sibuk dengan kuliahku. Masih teringat jelas, kejadian yang terjadi dua hari yang lalu. Saat suara langkah kaki yang memburu terdengar dari arah luar, diikuti suara bel yang berbunyi seperti alarm. Keras dan memekakan telinga.   Tepat saat pintu sudah terbuka, aku terhuyung ke belakang karena rasa kaget. Bagaimana tidak kaget, jika di depanku saat itu ada Mama-Papa, Ayah-Bunda, seorang dokter, juga beberapa pegawai restoran dengan kantung plastik yang ada di tangan mereka.  Aku tidak tahu mereka dapat informasi dari mana tentang keadaanku yang sedang sakit. Karena aku sudah melarang Ali untuk tidak memberitahu anggota keluarga jika aku sakit. Lagi pula, sudah ada Ali yang menjagaku, apalagi dia juga seorang dokter. Jadi aku percaya dia bisa merawatku, meski diakhiri dengan adegan Ali yang merobek kulit punggungku.  Tapi saat mereka tahu aku sakit, Mama mertuaku sampai membawakan dokter keluarga mereka. Dengan sifat cerewet yang dimiliki beliau, Mama mewanti-wanti agar dokter itu memeriksaku secara detail. Bahkan jika perlu, dilakukan pemeriksaan laboratorium supaya hasilnya akurat. Benar-benar mertua yang baik, bukan?!  Sampai sekarang pun, aku masih sering tertawa sendiri jika mengingat kejadian itu. Meski terkesan berlebihan, tapi aku sangat menyayangi mereka. Mereka memperlakukanku layaknya seorang putri. Menyenangkanku dengan segala ucapan manisnya, yang diselingi perdebatan kecil, sampai tawa bahagia memenuhi setiap sudut apartemen ini. Berbeda dengan anak lelakinya yang selalu datar.  Tapi satu hal yang tidak aku lupa, tepat pada tragedi kerokan, yang dipenuhi derai air mata. Saat itu aku melihat jelas, bagaimana Ali yang tertawa lepas. Wajahnya terlihat berseri dengan mata yang menyipit. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Tapi yang membuatku kesal adalah laki-laki itu tertawa lepas di atas penderitaanku. Dia membiarkan aku mengerang kesakitan karena ulahnya, sedangkan dia yang tertawa lepas tanpa rasa bersalah.  Jujur saja, aku terpesona dengan Ali saat itu. Rona wajahnya sangat berbeda, membuat laki-laki itu semakin tampan. Coba saja setiap hari aku bisa melihat rona wajah itu, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi sepertinya itu mustahil. Ali tetaplah Ali dengan wajah datar dan dinginnya.  Menghembuskan nafas pelan, aku kembali menyeruput coklat panasku. Suasana Ibu Kota malam ini sedikit memberikan kesan dingin untukku. Mungkin karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Duduk bersila pada single sofa yang ada di sudut ruangan, dengan kaca jendela yang menjulang tinggi.   Memperlihatkan hiruk pikuk Ibu Kota saat malam hari dan ditemani secangkir coklat panas, sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Tapi ketenangan ini tidak berlangsung lama, saat aku merasakan sesuatu di bawah sana basah. Tepat saat Ali masuk ke dalam kamar. Dia hanya menatapku dengan wajah datarnya, tanpa senyum atau ekpresi lainnya. Dan aku hanya mendengus, aku sudah terbiasa dengan sikap Ali yang seperti ini. Tapi sekarang yang menjadi masalah bukanlah wajah datar Ali, melainkan sesuatu yang semakin basah di bawah sana.  Buru-buru aku masuk ke dalam kamar mandi, mengabaikan tatapan Ali yang memandangku aneh. Firasatku mengatakan sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi. Tepat saat aku menurunkan celanaku, bencana itu datang.   “Mampus lo!”  Mengumpat dan menghembuskan nafas jengah, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku baru ingat jika ini pertengahan bulan, dan itu adalah waktu dimana tamu spesialku datang. Menyembulkan kepala dibalik pintu, seperti orang bodoh, lagi-lagi aku harus meminta bantuan pada Ali.  “Om..” panggilku selembut mungkin.  Dan sepertinya Ali sudah hafal dengan intonasi suaraku yang berbeda. Dia hanya menatapku jengah, “Apa lagi sekarang?”  “Hehehe. Om, beliin aku pembalut dong.”  “Hah?!”  “Iya pembalut. Aku lupa kalau persediaanku udah habis.” Tersenyum layaknya seekor kuda, aku tidak peduli jika Ali menganggapku aneh. Yang jelas, sekarang aku butuh pembalut.  “Harus aku yang beli?” tanya Ali dengan nada herannya.  “Ya terus?! Emang Om tega, liat aku turun ke bawah buat beli pembalut, dengan tetesan darah disetiap langkahnya?! Emang Om mau, aku diketawain banyak orang?! Peka dikit dong jadi suami!” Pada akhirnya, hormon kewanitaanku langsung keluar. Apalagi jika keinginan yang aku perlukan, tidak segera dituruti. Dan Ali semakin membuatku mendidih, saat laki-laki itu masih setia di tempatnya.  “Buruan ih! Apa perlu aku tendang dari balkon, biar cepet sampai bawah?!” ♥♥♥ Aliand's Pov Ada sebuah buku yang menyatakan, jika kita menikah dengan seseorang, sama saja kita memelihara seekor singa. Kita harus pandai-pandai membuat singa itu jinak dan menurut pada kita. Jangan pernah membuat dia marah, jika kamu tidak ingin diterkam olehnya. Dan saat ini, aku sependapat dengan pernyataan itu.   Malam ini, Ana sudah seperti singa betina. Aku tahu, hormon wanita akan meningkat drastis saat menstruasi seperti ini. Tapi aku tidak menyangka, jika sikap itu akan menyeramkan seperti tadi. Dan sekarang, wanita itu menyuruhku untuk membeli perlengkapan kewanitaannya?   Hah, bagaimana bisa dia lupa dengan kebutuhannya sendiri. Benar-benar ceroboh. Aku seperti orang bodoh di sini. Aku hanya berdiam pada deretan estalase yang menyediakan keperluan wanita. Dan karena sikapku ini, banyak pasang mata yang menatapku dengan kerlingan geli. Aku tidak tahu, pembalut seperti apa yang biasa wanita itu pakai. Apakah yang bersayap atau tidak. Karena di depanku, terlalu banyak jenis pembalut dengan berbagai merk.   Pembalut seperti apa yang harus aku beli?   Aku tidak tahu pembalut seperti apa yang biasa Ana gunakan. Jadi sebelum aku pergi, aku memberikan ponselnya. Agar aku mudah menghubunginya saat aku kebingungan seperti ini. Lewat tiga puluh detikAna baru membalas pesanku. Softex comfrat slim warna pink, sama Charm safe night ukuran 29 cm. Yang sayap semua ya  Aku mengernyit, Ana akan menggunakan itu semua? Apakah memang seperti ini saat seorang wanita mengalami menstruasi? Jangan lupa, beliin jajan yang banyak  Masih diam terpaku. Aku tidak menyangka Ana akan serakus itu. Apakah semua wanita akan seperti Ana, rakus dan galak saat menstruasi? Aku rasa, wanitaku ini lebih dari pada singa betina. Karena seekor singa, akan jinak jika diberi daging segar. Sedangkan Ana?   “Beli pembalut buat istrinya, ya, Mas?” Pertanyaan itu keluar dari ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Dia tersenyum ramah padaku.  Aku hanya tersenyum simpul. Anak kecil itu menatapku dengan mata bulatnya. Mengingatkanku dengan Ana kecil, yang sampai sekarang belum bisa lepas dengan kebiasaannya. Mengkonsumsi permen. Setelah melakukan transaksi, aku segera kembali. Tidak ingin membuat Ana terlalu lama menunggu. Atau wanita itu akan semakin murka.   Suasana apartemen masih sepi. Sepertinya Ana masih bertahan di dalam toilet. Setelah memasukan semua pesanan Ana ke dalam kulkas, aku kembali ke kamar. Dengan satu kantong kresek perlengkapan yang dia butuhkan.   “Om?” panggilnya cepet. Sepertinya dia mendengar pergerakan pintu yang terbuka.   Aku hanya berdehem sebagai jawaban. Terlalu malas menanggapi omelannya yang sangat cerewet.   “Om, buruan ih! Udah basah semua ini!”  Kenapa kalimat itu terdengar berbeda di telingaku. Seperti kalimat menggoda? Menggeleng pelan untuk menghilangkan pikiran yang tidak seharusnya aku pikirkan. Tidak. Ini belum saatnya.   “Buka pintunya.”  Pintu sedikit terbuka, tapi hanya tangan Ana yang menjulur keluar. Jari-jarinya bergerak, meminta barang yang sedari tadi dia butuhkan. Tanpa kata, aku langsung menyerahkan barang itu. Cukup geli jika aku memegangnya terlalu lama.   “Om, tolong ambilin kancutku dong!!” teriak Ana dari dalam sana.   “Apa, Ana?”  “Ambilin sempak!”  Setelah itu aku mendengar u*****n dari Ana. Jujur saja, kadang aku masih bingung jika Ana menyebut barang itu dengan sebutan k****t dan k****g. Kenapa juga harus ada istilah seperti itu. Bagi laki-laki, kalimat itu terlalu membingungkan. Lebih baik langsung mengucapkan sempak dan **, karena itu lebih jelas.   Berjalan ke arah lemari Ana. Lagi-lagi aku harus mengambil barang yang memiliki unsur menggoda. Aku laki-laki normal, yang juga membutuhkan kepuasan batin. Apalagi sekarang aku sudah menikah. Kadang aku ingin menerjang wanita itu, saat melihatnya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut tubuh mungilnya. Atau saat dia hanya menggunakan hot pans dan kaos oblong kebesarannya. Walau tubuh dia terbilang mungil. Tapi percayalah, itu begitu menggoda untuk kaum laki-laki.   Aku tidak menampik, jika pikiran-pikiran yang menjerumus ke arah b******a sering menyelinap di otakku. Bagaimana mendengar suara indahnya yang mendesah di bawahku. Menghirup wangi aroma strawberry yang menguar di tubuhnya. Melewati malam panjang dengannya. Dan berakhir pada penyatuan yang luar biasa hebatnya. Tapi aku selalu ingat dengan perjanjian yang kami buat. Aku tidak akan pernah memaksa Ana untuk memberikan hak yang aku punya. Aku akan menunggu sampai wanita itu siap.   Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan juga Ayah mertuaku, untuk selalu menjaga Ana. Menemani selalu wanita itu dalam situasi apa pun.   “Om, mau?” tanya Ana menyodorkan ice creamnya padaku.   Aku hanya menggeleng. Aku tidak terbiasa memakan makanan seperti itu. Ana sudah menghabiskan setengah jajanan yang aku belikan tadi. Itu berarti, setiap bulannya aku harus menyiapkan cemilan ringan untuk Ana. Melihat bagaimana rakusnya wanita itu saat hormon kewanitaannya meningkan. Apakah dia tidak takut gemuk, mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar penyedap rasa di saat malam seperti ini?   Dan sekarang, lihatlah. Ana sudah terlelap dalam tidurnya, setelah mengenyahkan berbagai macam bungkusan yang berserakan di tempat tidur. Padahal belum ada sepuluh menit, tapi dia sudah terlelap. Lagi-lagi aku hanya menggeleng kecil karena melihat sikapnya. Selama ini, hanya Ana yang mampu membangunkan sisi lain di tubuhku. Sebelumnya aku sangat sulit tersenyum, dingin pada siapa pun, dan tidak pernah melakukan hal-hal konyol. Tapi Ana, wanita itu mempu memberikan warna baru dalam hidupku. Menciptakan suasana baru, yang membuatku ingin selalu memenuhi semua permintaannya. Itu semua hanya karena Ana.   Mencium lembut keningnya dan menarik tubuh mungil itu untuk aku dekap. Sejauh ini, hanya kontak fisik seperti ini yang kami lakukan. Dan Ana tidak pernah menolak, wanita itu justru terlihat nyaman dalam dekapanku. Untuk sekarang, biarkan semuanya seperti ini. Biarkan semuanya berjalan sesuai alur yang telah ditetapkan. Biarkan sampai waktu itu tiba, waktu yang akan mengubah semuanya.   "Good night... My life."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN