Part 9

3300 Kata
Seharian membersihkan rumah, ternyata adalah hal yang melelahkan. Padahal ini hanya apartemen, aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi bik Mira, atau pembantu-pembantu lainnya yang membersihka rumah mewah, seperti rumahku. Pasti itu sangat melelahkan.   Dan sejujurnya ini sangat menyiksaku, karena dari kecil, aku terbiasa dimanja. Aku tidak pernah diperbolehkan untuk ikut membersihkan rumah. Tapi sekarang, mau tidak mau aku harus turun tangan. Karena di apartemen Ali memang tidak ada pembantu.  Tinggal satu ruangan yang harus dibersihkan. Ruang kerja Ali. Biasanya ada Ali yang akan membantuku membersihkan rumah. Tapi saat ini, laki-laki itu tidak ada di rumah, ada urusan yang harus dia selesaikan di rumah sakit.   Membereskan beberapa buku yang tergeletak di meja kerja Ali dan mengembalikannya di rak buku. Ali selalu memberikan skat untuk setiap buku yang berbeda. Bahkan Ali juga memberi abjad di setiap skatnya, dan itu memudahkanku untuk mengembalikan buku-buku ini.  Dari sekian deretan buku yang Ali miliki, ada satu buku yang menarik perhatianku. Buku ini terlihat cukup usang, ditambah warna abu-abu yang menjadi sampulnya, membuat buku ini terlihat cukup lawas. Buku ini hanya berisikan motivasi-motivasi hidup, bagaimana cara kita dalam menentukan sebuah keputusan, juga tentang beberapa langkah-langkah dalam mencapai kesuksesan.  Tapi, saat aku membuka halaman berikutnya, ada selembar kertas yang jatuh, dan itu tepat di depan kakiku. Aku membungkuk untuk mengambil kertas itu, ah ralat, ternyata ini adalah selembar foto. Ada sederet kalimat yang tertulis di balik foto dan itu menarik perhatianku. Membuat mataku memicing tajam saat membacanya, karena aku kenal dengan sederet huruf itu. Itu adalah tulisan tangan Ali. Kata mereka, Cara terbaik untuk melupakan adalah bagaimana kita bisa merelakan apa yang telah berlalu Sehingga tidak menjadi sesuatu yang setiap saat datang menghantui Sudah kucuboba cara itu, bahkan berulang kali Namun, tetap saja tak bisa mengeluarkanmu dari ingatanku Ah, bagaimana bisa aku melupakan seseorang, yang pernah menjadi perubahan dalam setiap rutinitasku dan membuatku porak poranda, saat kepergianya menjadi sebuah bencana yang tiba terlalu awal. -Dikutip dari buku ‘KAMU’  Sederet kalimat itu, sukses membuatku terdiam di tempat. Kenapa kalimat ini terdengar sangat puitis. Meski itu bukan Ali sendiri yang membuatnya, tapi, kenapa kaliamt ini terasa begitu dalam? Dan saat aku membalik foto itu, sebuah perasaan aneh menyelinap di rongga dadaku. Perasaan yang membuat dadaku terasa begitu sesak. Bahkan, sepersekian detik, aku hanya mematung di tempat, dengan mata yang terpusat tajam pada foto itu.  Meski ini hanya foto biasa, yang tidak menunjukkan adanya sentuhan fisik, tapi keduanya terlihat sangat serasi. Wanita itu terlihat begitu cantik, ditambah senyum bahagia yang menghiasi wajah ovalnya. Ali memang tidak pernah menceritakan masalalunya padaku. Tapi aku yakin, wanita ini memiliki arti untuk Ali. Entah itu di masa lalu, atau masa sekarang.  Aku bisa berspekulasi seperti ini, karena aku kenal siapa Ali. Walau pun baru satu bulan lebih aku mengenal Ali, aku sudah tahu, bagaimana sifat suamiku itu. Dan perbuatan seperti ini sangat jauh dengan Ali—atau mungkin, aku yang tidak pernah melihat Ali seperti ini. Tiba-tiba sentuhan hangat mendarat di pundakku, refleks aku menoleh ke belakang. Dan di sana aku melihat Ali, masih dengan pakaian dokternya.  “Sedang apa kamu di sini?”   “Eh, itu... Tadi aku lagi bersih-bersih, terus gak sengaja ketemu buku sama foto ini.” Aku ingin tahu, bagaiamana reaksi Ali saat melihat foto ini. Dan ternyata benar dugaanku. Saat Ali melihat foto ini, ada sedikit keterkejutan di matanya, meski itu hanya sebentar. Karena Ali kembali menunjukkan wajah datarnya.  “Ah, foto itu.” Hanya itu respon Ali. Dan aku menangkap sebuah nada, yang terlihat enggan saat mengucapkannya.  “Ini... mantan Om?” tanyaku hati-hati.  Ali hanya terdiam, dia tidak menjawab juga tidak mengelak. Laki-laki itu malah berjalan ke arah meja kerjanya. Melepas jas dokternya, dan menyampirkannya di punggung kursi. Kemudia dia kembali berjalan ke arah sofa, merebahkan punggung tegapnya di sana. Ali menyuruhku duduk di sampingnya lewat mata tajamnya.  “Dia Bianca,” kata Ali saat aku sudah duduk di sampingnya.  Harusnya saat ini aku menyambut kedatang Ali. Menawarkan secangkir teh panas atau air putih. Bukan malah bertanya tentang masa lalu Ali. Jangankan untuk menyambut, aku saja tidak sadar kapan Ali pulang. Aku terlalu fokus pada sederet kalimat yang mengusik hatiku, juga tentang siapa wanita yang ada di foto itu.  “Dia, mantan Om?” Lagi-lagi aku mempertanyakan pertanyaan yang sama. Aku masih penasaran dengan wanita ini.  “Iya, dia mantanku. Kami kenal saat aku kuliah di London, dia juniorku,” kata Ali.  “Emang Om punya berapa mantan?” Ini pertanyaan yang wajar dalam sebuah hubungan. Aku ingin tahu seperti apa masa lalu Ali. Aku hanya ingin lebih dekat dengan Ali. Karena aku ingin menciptakan suatu hubungan yang harmonis.  “Hanya dia mantanku,” jawab Ali.  Jadi, dia cinta pertama Ali?  “Terus, kenapa dulu Om bisa putus sama dia?”   Bukannya berhenti, aku terus saja bertanya. Entahlah, seperti ada dorongan keras yang menyuruhku untuk terus bertanya.  “Dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya, dan kami terpaksa mengakhiri hubungan kami,” jelas Ali.   Selama penjelasan itu, tidak ada ekspresi apa pun di wajah Ali. Dan itu membuatku sulit menebak, perasaan apa yang ada di hati Ali. Dan kenapa kisah cintanya dengan mantannya itu, sama dengan perjalanan asmaraku. Sama-sama dijodohkan?  Setelah pembahasan tentang foto itu, Ali lebih banyak diam. Walau pun setiap hari Ali tidak banyak bicara, tapi kali ini intensitas dia dalam mengeluarkan kata sangatlah sedikit. Bahkan setelah makan malam pun, Ali masih saja diam. Aku tidak tahu, apa sebenarnya yang membuat Ali seperti itu. Apa karena foto tadi, atau ada hal yang lain?  Sampai akhirnya sebuah pemikiran datang menghampiriku. Pikiran yang mungkin terlalu sempit, tapi pikiran itu terus mengusikku. Apa benar, Ali masih menyimpan rasa untuk wanita itu? Dan pernikahan ini, Ali menerima perjodohan ini dengan sangat mudah.   Apa pernikahan ini hanya pelampiasan untuk Ali, karena kekasihnya juga dijodohkan oleh orang tuanya. Apa karena dia sakit hati, hingga dengan mudahnya Ali menerima perjodohan ini? ♥♥♥ Saat ini aku dan Ali dalam perjalan menuju rumah Bunda. Beberapa hari ke depan, Ali harus menghadiri pertemuan yang ada di Palembang. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi Ali menolak. Laki-laki itu tidak mau jika aku harus bolos di jam kuliahku, apalagi sebentar lagi aku akan magang.  “Padahal aku bisa tinggal di apartemen, Om. Kalau gini kan, kasian kamu harus bolak balik.”  “Aku tidak mau mengambil resiko. Di apartemen kamu hanya sendiri, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Jadi lebih baik, sementara waktu kamu tinggal di rumah Bunda,” jawab Ali. Dimana pun tempatnya, keselamatanku memang selalu menjadi prioritas utama untuk Ali. Karena dia sudah berjanji pada Ayah, bahwa dia akan selalu menjagaku. Itu yang selalu dikatakan Ali padaku.  “Emang, Om di sana berapa hari?”  “Mungkin tiga hari, tapi akan aku usahakan untuk pulang cepat,” balasnya. Mata Ali selalu fokus pada jalanan yang ada di depannya. Tidak ada senyum atau apa pun, hanya ada wajah datar dan sikap dinginnya.  “Om, bisa gak sih, kalau ngobrol sama aku jangan terlalu dingin,” protesku kesal. Padahal kami sudah menikah, tapi Ali masih saja menunjukan sikap dinginnya padaku. Aku memang sudah terbiasa dengan sifat Ali, tapi aku juga tidak suka jika Ali terus-terusan seperti ini padaku.  Ali menoleh padaku, dia menunjukan seringai kecilnya. “Dan bisa, kamu berhenti memanggilku dengan sebutan, Om? Aku sumaimu, Ana, bukan Om-mu,” ucapnya.  “Hehehe, terus panggil apa dong? Mau panggil nama, keenakan kamu nanti disangkanya masih muda. Honey, baby, sweety, sweethart, tapi kok kesannya alay ya...”   Aku masih terus bertahan dengan kecerewetanku, tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Bahkan saat mobil Ali berhenti, dan Ali yang mencondongkan badannya ke arahku pun, aku masih belum sadar. Sampai hembusan nafas segar dengan bau mint dan parfum maskulin Ali yang selalu memabukkan, membuatku sadar dengan keadaan sekitar.  Ini bukanlah posisi yang baik!  Wajah Ali terlalu dekat denganku, bahkan hanya berjarak sejengkal, mata kami bersitatap. Posisi seperti ini, seakan-akan Ali akan menciumku. Dan itu membuatku sangat gugup. “Om, ma-mau ngapain?” Aku menggigit bibir bawahku untuk menutupi rasa gugupku.  “Sudah menemukan panggilan yang tepat untukku?”  Sumpah demi apa pun. Suara Ali kali ini terdengar berbeda dari biasanya, ada nada serak dan juga berat yang terselip di dalamnya. “U-udah Om...eh, hub...by.” Lidahku rasanya sangat kaku, posisi Ali saat ini benar-benar mempengaruhi daya kerja otakku.  Senyum puas tercipta di wajah Ali. Setelah itu, Ali mendaratkan kecupan kecil di pipiku. Lagi-lagi perlakuan Ali sukses membuat seluruh tubuhku terasa panas. Aku hanya berharap, semoga wajahku tidak menunjukkan adanya rona kemerahan, karen itu akan membuatku sangat malu.   Akhir-akhir ini, Ali memang sering melakukan kontak fisik denganku. Seperti memelukku saat tidur, mencium keningku sebelum laki-laki itu berangkat kerja, dan yang terakhir, mencuri kecupan kecil di pipiku. Seperti yang dia lakukan barusan.  Setelah setengah jam berikutnya, kami tiba di rumah Bunda. Sebenarnya aku ingin sesekali menginap di rumah Mama. Tapi belakangan ini beliau sangat sibuk, selalu ada perjalanan bisnis yang Mama Papa lakukan. Dan untuk kali ini, Mama menjanjikanku sebuah tas Chanel keluaran terbaru. Ah, benar-benar mertua idaman.   Setelah melakukan obrolan kecil dengan Ayah dan Bunda, Ali langsung pamit, karena sebentar lagi pesawatnya akan take off. Aku hanya mengantarkan Ali sampai halaman depan rumah Bunda. Diakhiri dengan pelukan hangat yang selalu Ali berikan, beberapa pesan yang harus aku lakukan, dan sebuah kecupan lama di keningku. Setelahnya, Ali benar-benar pergi.  Kembali ke dalam rumah, aku melihat Ayah dan Bunda yang sedang berduaan di ruang tengah. Ini yang aku suka dari mereka, meski usia Ayah dan Bunda tidak terbilang muda, tapi pasangan ini selalu terlihat harmonis dan romantis. Aku bahkan tidak pernah melihat mereka bertengkar, seperti tidak pernah ada masalah di dalam rumah tangga mereka. Tiba-tiba ide jahil muncul di otakku, kebiasaan yang selalu aku lakukan dengan mereka.  Dengan sedikit berlari, aku menghampiri mereka. Menerobos dan duduk di tengah-tengah mereka, membuat jarak pemisah untuk pasangan yang selalu mencinta. Mereka berdua hanya menggeleng pelan, terlalu hafal dengan sifat putrinya. “Kebiasaan ya kamu,” kata Ayah dengan jari yang menoel hidungku. Tapi setelah itu, Ayah langsung memelukku. Pelukan yang sangat aku rindukan dari cinta pertamaku.  “Ana kangen Ayah,” balasku yang tak kalah erat memeluknya.  “Udah nikah juga, masih aja manja,” komentar Bunda. Tapi selanjutnya, wanita cantik itu ikut bergabung memelukku. Dan aku sangat bahagia dengan momen ini. Momen yang mulai sekarang, akan sangat aku rindukan.  “Gak nyangka ya, ternyata anak Ayah udah besar sekarang. Bahkan udah jadi istri orang. Padahal, rasanya baru kemarin Ayah nemenin Bunda lahiran. Gendong kamu, nemenin kamu belajar jalan, main sama boneka kucingmu, nganter kamu sekolah. Tapi ternyata, waktu terlalu cepat berjalan,” ucap Ayah menerawang masa-masa yang pernah kami lalui. Saat aku kecil, aku memang lebih dekat dengan Ayah, dan Ayah selalu memanjakanku dengan semua hal yang aku inginkan.  “Ali ngejaga kamu dengan baik, kan?” tanya Ayah  “Iya, Ayah, Ali ngejaga aku dengan baik kok. Ayah tenang aja, permata Ayah ini selalu bahagia kok,” Ayah memang selalu proktektif kepadaku. Kebahagiaanku adalah prioritas utama untuk Ayah. Dan Ayah akan sangat marah, jika dia tahu, ada orang lain yang membuatku bersedih.  Selanjutnya, hanya ada tawa bahagia yang menemani kami. Mengulang kembali momen-momen yang pernah kami lakukan, melimpahkan segala bentuk kasih sayang, dengan pelukan hangat yang selalu menemani. Saat itu juga, aku ingin kembali menjadi anak kecil mereka. Aku ingin bertahan di masa-masa balitaku, masa yang begitu indah. Karena di masa itu, aku tidak akan pernah jauh dari Ayah dan Bunda.  Melewati sore hari bersama Bunda, ditemani alat dan bahan pembuat kue adalah sesuatu yang menyenangkan. Sudah lama kami tidak menyalurkan hobi bersama, dan kali ini, kami ingin kembali menguji kemampuan masing-masing. Menjajal berbagai resep terbaru dengan variasi rasa yang menggoda.  Bisa berkumpul bersama seperti ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk seorang anak. Karena, jika anak sudah menikah, maka kesempatan seperti ini sangatlah langka. Oleh sebab itu, untuk semua anak yang masih memiliki seorang Ibu. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin, percayalah, waktu seperti ini akan sangat kalian rindukan nantinya.  Tapi, saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Bunda, saat itu juga aku ingin menghilang dari hadapan Bunda. “Kapan kamu kasih Bunda cucu?” Yah, pertanyaan seperti itu yang sangat menyebalkan. Saat kita masih single, selalu ditanya ‘kapan nikah?’, ‘kapan nyusul?’. Dan setelah kita berumah tangga, pertanyaan baru akan selalu dilontarkan. Tanpa mereka sadari, bagaimana sengsaranya orang yang mendapat pertanyaan seperti itu.  “Iya Bunda, nanti pasti dikasih kok, tunggu aja,” jawabku seadanya. Ini lebih baik dari pada aku tidak menjawab sama sekali.  “Ya, tapi, kapan? Udah hampir dua bulan loh, kalian nikah, masak belum ada tanda-tanda?” Ternyata pertanyaan Bunda belum juga selesai. Cukup tersenyum manis untuk menjawab pertanyaan Bunda.   Suara getokan sendok di meja, membuatku terlonjat kaget, diikuti pertanyaan Bunda yang semakin menyudutkanku. “Jangan bilang, kamu belum kebobolan?!” Dan wajah Bunda kali ini, berubah jadi serius.  Aku hanya diam, bingung harus menjawab apa. Jika aku menjawab sudah, sama saja aku membohongi Bunda. Karena kenyataannya pun, kami memang belum melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Dan respon Bunda seperti orang frustasi saat melihatku hanya diam. Aku yakin, sebentar lagi ceramah dari Mama Dedeh akan segera keluar.  “Duh, Ana, kamu kok kebangetan gini sih. Kamu tahu kan, menunda hak suami itu dosa? Padahal sebelum kamu nikah, Bunda juga udah kasih kamu petuah, kan?! Terus kenapa hasilnya malah kayak gini?!” geram Bunda. “Emang kamu mau, kalau nantinya Ali jajan di luar, karena hak-nya gak kamu kasih?!” sambung Bunda dengan pelototan tajamnya.  “Eh, ya jangan dong Bun! Istri mana coba, yang mau diselingkuhi kayak gitu?” jawabku cepat. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Ali untuk menduakanku.  “Terus, kamu masih mau bertahan sama ego kamu? Ngebiarin suami kamu menderita karena hak-nya gak kamu kasih?” desak Bunda.  “Tapi kan, Bunda tahu sendiri kalau ak—”  “Apa?! Kalau kamu apa?” Bunda langsung menyerobot dengan kalimat jengahnya.   “Gini ya sayang, kalau dari kamu sendiri gak mau mencoba, ya selamanya akan seperti ini. Hubungan itu, bukan hanya satu orang yang berjuang. Tapi keduanya harus sama-sama melangkah, saling menguatkan. Kamu gak bisa selamanya bertahan sama ego kamu, apalagi sekarang kamu udah jadi seorang istri. Hak suami itu wajib untuk kamu kasih. Karena kepuasan batin itu, yang nantinya akan menguatkan ikatan kalian. Kamu pahan kan, maksud Bunda?”  Aku hanya mengangguk. Aku sudah paham dengan semua petuah yang Bunda berikan, juga dalih-dalih agama yang sering Ayah sampaikan. Tapi aku ingin melewati itu semua atas dasar cinta, bukan keterpaksaan. Dan aku masih belum yakin, apakah rasa yang aku rasakan saat ini, sudah bisa dikatakan sebagai rasa cinta? Aku dan Ali memang saling menyanyangi, dan merasa nyaman saat bersama.   Bagiku, Ali sudah seperti suami idaman untuk para wanita. Meski laki-laki itu selalu menunjukkan sikap dinginnya, jarang berbuat romantis, tapi perhatian yang dia berikan sudahcukup untuk mewakili segalanya. Ali juga selalu membahagiakanku, membuatku selalu aman saat bersamanya, dan aku juga tidak ingin jauh darinya. Aku selalu ingin bersamanya.   Tapi, apakah itu semua sudah bisa dikatakan sebagai rasa cinta?  Apakah getaran asing yang selalu aku rasakan ini pertanda adanya sebuah cinta?  Dan apakah aku sudah yakin untuk menjalin sebuah hubungan? ♥♥♥ Dua hari berada di rumah Bunda, tanpa adanya sosok Ali disampingku, membuat perasaan aneh itu lagi-lagi muncul. Aku seperti kehilangan suatu hal yang biasa aku lakukan. Dekapan hangat Ali. Setiap tidur, Ali selalu mendekap tubuhku, memberikan ciuman kecil di kening dan pipiku. Tapi dua hari ini, aku kehilang momen itu. Mungkinkah ini perasaan rindu?  Padahal sebelum hadirnya Ali di hidupku, boneka Doraemon yang selalu menjadi teman tidurku. Tapi saat ini, semua itu terasa sia-sia. Karena yang aku butuhkan dekapan Ali, bukan dekapan sebuah boneka. Meski keduanya sama-sama memberikan kehangatan, tapi rasanya sangat jauh berbeda.  Kadang aku heran dengan diriku sendiri. Sebelum dengan Ali, aku sudah banyak menjalin hubungan dekat dengan banyak laki-laki, tidak hanya sekali dua kali. Tapi saat bersama Ali, aku seperti kembali menjadi diriku yang dulu. Gadis polos yang sulit membedakan, mana cinta dan mana rindu. Padahal dibandingkan Ali, aku jauh lebih berpengalaman dalam menjalin sebuah hubungan. Tapi lihatlah sekarang, Ali seakan memegang kendali penuh akan diri dan juga hatiku.  Lagi-lagi pertanyaan itu kembali lagi. Pertanyaan yang setiap saat selalu menghantuiku. Mungkinkah semua ini perasaan cinta? Tapi kenapa begitu rumit? Dan apakah Ali juga mencintaiku? Bahkan sampai sekarang pun, laki-laki itu tidak pernah melontorkan kalimat cinta kepadaku. Lalu, salahkah jika aku ragu dengan rasa ini?  Aku kembali menyeruput capucino hangat yang berada di genggamanku. Ditemani langit sore Ibu Iota dan diikuti hembusan angin yang menerpa wajah kami. Itu yang saat ini aku dan Stefy lakukan. Duduk bersebelahan di balkon, dengan langit sore yang menjadi panorama. Juga melihat sekumpulan burung yang terbang kembali ke sarangnya, bagaikan lukisan alam yang tersaji sangat indah. Belum lagi garis-garis orange yang membentang di langit, menunjukkan betapa kokohnya dia meski hadir hanya sementara.  Benar-benar menakjubkan. Keindahan alam yang tersaji sangat sempurna.  Sore ini Stefy berkunjung ke rumahku. Dia tahu jika aku sedang kesepian. Setelah menyelesaikan urusannya di luar, Stefy langsung datang ke sini. Menemaniku melewati sisa sore hari. “Gimana hubungan lo sama Ali?” pertanyaan itu kembali terlontar dari Stefy. Entah itu kalimat keberapa yang sudah dia tanyakan kepadaku—setelah pernikahanku dengan Ali.  “Ya, kayak gini. Belum ada perubahan,” jawabku.  “Mau sampai kapan sih, lo kayak gini terus. Cobalah, lo buka hati lo buat Ali. Harusnya lo beruntung punya suami kayak Ali. Zaman sekarang susah buat dapetin pasangan kayak dia. Lah elo, udah tahu Ali ada di depan mata, tapi malah dianggurin.”   Ada nada jengah yang terselip di kalimat Stefy. Mungkin dia sudah terlalu bosan menasehatiku tentang masalah ini, karena bukan hanya sekali dua kali Stefy memberikan nasehat kepadaku.  “Iya, gue tahu. Gue juga udah berusaha buka hati gue buat Ali. Gimana pun juga, sekarang Ali udah jadi suami gue. Tapi, gimana ya...kadang gue suka bingung sama diri gue sendiri.” Dan hal seperti ini yang selalu saja menghantuiku.  “Maksudnya?”  “Lo tahu sendiri kan, sebelum sama Ali, gebetan gue ada dimana-mana. Bahkan sampai gak kehitung, berapa banyak gue jalan sama cowok. Tapi kalau sama Ali, gue ngerasa beda. Gue kayak awam sama yang namanya cinta dan gue kayak orang oon yang gak kenal, apa itu cinta?” jelasku. Aku menerawang ke depan, merasakan lebih dalam getaran-getaran aneh yang kerap kali aku rasakan.  “Bahkan, kadang gue susah bedain. Mana yang namanya cinta, sayang, rindu. Dan itu yang bikin gue suka bingung sama hubungan ini,” lanjutku. Setelah itu, aku hanya dapat menumpu wajahku dengan tangan kananku.  Dari sudut mataku, aku bisa melihat wajah Stefy yang menatap lurus ke depan. Sepertinya dia sedang memikirkan, bagaimana jika dia berada di posisiku. Aku juga bisa melihat beberapa kernyitan yang muncul di keningnya. Apakah hubunganku ini terlalu rumit? Sampai Stefy pun harus berpikir keras seperti itu?  “Sekarang gini deh, lo jujur sama gue. Perasaan apa yang sekarang lo rasain sama Ali?” Stefy sudah memulai proses introgarasinya, itu artinya keadaan ini benar-benar harus diselesaikan.  Menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, sebelum akhirnya aku menjawab, “Gue selalu nyaman kalau sama Ali. Selama ada dia di samping gue, gue seakan punya tameng yang selalu ngelindungi gue. Gue juga gak munafik, kalau gue juga sayang sama dia. Tapi, apa semua rasa itu bisa dikatakan sebagai rasa cinta?”  “Ana Lovyta!” pekik Stefy yang sudah berdiri dari duduknya.  Apa perkataanku ada yang salah?  “Sumpah, demi dewa neptunus. Kali ini gue akui lo bener-bener oon. Itu namanya cinta, Ana. Perasaan yang lo alami saat ini namanya cinta. C I N T A. Duhh, kenapa lobisa oon gini sih?” geram Stefy yang sudah mondar mandir di tempatnya. Seakan perbuatan yang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang fatal.  “Kan gue udah bilang, kalau sama Ali, gue seakan bukan diri gue sendiri. Gue susah bedain mana cinta, mana rindu. Makanya gue pusing,” keluhku yang tidak mau disalahkan. Karena memang itu yang aku rasakan.  Stefy sudah berhenti dari aktivitasnya, dia kembali duduk di sampingku. “Terus, setelah lo tahu jawaban dari kepusingan lo yang gak bermutu itu, apa yang bakal lo lakuin kedepannya?”  Aku menggeleng kecil. Otakku seakan blank jika pembahasannya sudah seperti ini, selama ini aku hanya menjalankan apa yang ada di depan mata. Tanpa memikirkan apa yang harus aku lakukan kedepannya, karena aku sangat sulit menemukan jawabannya. Ditambah dengan bayang-bayang pertanyaan yang selalu menghantuiku.  Genggaman hangat tangan Stefy yang membungkus tanganku, membuatku mengalihkan pandanganku sepenuhnya ke arahnya. Senyum hangat tercipta di wajah cantiknya, “Dengerin gue baik-baik. Semua ini tergantung sikap lo kedepannya. Lo udah tahu jawaban yang selama ini lo cari, lo juga udah dewasa buat nyelesain masalah ini. Gue tahu, ini emang gak mudah. Tapi kalau lo masih kayak gini terus, tanpa lo berusaha buat mengubah segalanya. Semua bakal sia-sia, dan selamanya lo bakal tetep ada di posisi lo saat ini.”  Ini yang aku sukai dari Stefy, dia akan selalu memberikan nasihat yang membangun untukku. Entah seberapa banyak dan seberapa jengah dia memberikan nasihat seperti ini, tapi Stefy tetap melakukannya. Aku bersyukur bisa memiliki sahabat sepertinya. Kadang pemikirannya terlalu dewasa disaat umurnya baru dua puluh dua tahun, sama sepertiku. Aku hanya bisa tersenyum haru menyikapi se mua nasihat yang diberikan Stefy padaku. Bagiku, Stefy sudah seperti kakakku sendiri.  “Makasih Stef.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN