Part 18

1432 Kata

“Ana, lo dipanggil Pak Bos!” seru Marta saat aku baru saja kembali dari toilet. “Gue? Ngapain?” “Ya mana gue tahu. Mau minta jatah kali.” “Sembarangan kalau ngomong!” gertakku. Tumben sekali Ali memanggilku. Karena di jam-jam kerja seperti ini, Ali sangat jarang memanggilku ke ruangannya. Biasanya dia akan memanggilku saat jam makan siang atau saat jam pulang kerja. Dan itu membuatku langsung beranjak ke ruangannya. Tiba di lantai dua puluh, selalu kesepian dan kesunyian yang aku temui. Kadang aku berfikir, apa Kak Rendy tidak merasa bosan dengan keadaan seperti ini? Dia selalu bekerja tanpa bisa berbincang dengan rekan kerjanya. Suara high heels ku menggema di sepanjang lorong menuju ruangan Ali.“Hai, Kak,” sapaku pada Kak Rendy. Kak Rendy menatapku, disusul dengan senyum tipisnya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN