“Gak mau tahu! Jelasin sejelas-jelasnya. Gak ada yang boleh ditutupi sama sekali!” seruku saat aku baru saja sampai di tempat biasa kami berkumpul. “Sabar, Ana, duduk dulu,” ucap Kiki mencoba menenangkanku. Katakanlah aku lebay, tapi memang ini yang aku rasakan. Bagaimana mungkin sahabatku sendiri akan menikah tapi aku tidak tahu sama sekali? Kasus ini sudah termasuk dalam pelanggaran persahabatan pasal tiga. Dimana tidak boleh ada rahasia apapun diantara kami, apalagi hal yang membahagiakan seperti ini. “Buruan jelasin!” seruku lagi. “Ampun, punya sahabat kok ganas banget ya,” lirih Fitri. “Gak usah banyak bacot!” Fitri memutas bola matanya malas. Dia sudah tahu bagaimana watakku, jadi hal seperti ini sudah biasa baginya. Tarikan nafas panjang diambil oleh Fitri, sebelum akhirnya di

