Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat, bagaimana pun juga, posisiku di kantor ini hanyalah seorang karyawan dan ini adalah perintah seorang pimpinan. Tanpa kata aku langsung masuk ke ruangan Ali, duduk di sudut sofa. Dari sini aku bisa melihat pemandangan Ibu Kota di siang hari. Setidaknya ini pemandangan yang bagus dari pada harus bertatapan dengan Ali. Sofa yang aku duduki terasa bergoyang saat Ali duduk di sampingku. Ali menatapku dengan tajam, aku tahu itu, tapi aku tidak ingin menatapnya. “Ada apa?” “Kenapa sejak pagi kamu selalu menghindar?” “Apa aku berbuat salah?” “Katakan padaku, dimana letak kesalahanku?” Semua pertanyaan Ali tidak ada yang aku jawab, karena semua masalah memang ada pada dia. Aku masih tetap setia pada posisiku. Rasa sakit itu kembali menjalar, menggerogo

