bc

Sang Pewaris Naga Hitam

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
friends to lovers
heir/heiress
drama
sweet
loser
mythology
like
intro-logo
Uraian

Putri mahkota telah mati. Kerajaan Valtoria berada di ambang kehancuran. Namun seorang gadis dari dunia lain tiba-tiba muncul dengan wajah yang sama dan membawa warisan Jantung Naga.

Kini Karina Amara harus bertahan hidup di tengah konspirasi, perebutan tahta, dan kekuatan suci sang Naga Hitam dengan seorang pangeran kerajaan Dravenhart yang bernama Theodoric ditugaskan untuk melindunginya.

chap-preview
Pratinjau gratis
001.Runtuhnya Kerajaan Valtoria
"Aurelia! Yang Mulia putri Aurelia! Tuan Putri, bangun!" Suara panik itu memaksanya terbangun dari tidur lelap. Aurelia mengernyit dengan mata yang masih terasa berat. "Yang Mulia Putri, bangun!" Mata birunya akhirnya terbuka. Cahaya merah mendadak memenuhi kamarnya. Untuk sesaat ia mengira matahari telah terbit. Namun, anehnya panas yang menyengat kulitnya membuat jantungnya berdegup tidak nyaman. "Apa...," Kalimatnya terhenti. Ia melihat asap mengepul masuk melalui sela-sela jendela kamar. Perempuan berambut gelombang hitam itu langsung terduduk. Ia menoleh ke samping, ada pelayan pribadinya yang kini menatapnya dengan wajah pucat. Di sebelah pelayan, ada seorang ksatria yang dipenuhi debu dan bercak darah berdiri dengan wajah sama shocknya. Dari kejauhan ia bisa mendengar suara benturan keras. Diikuti teriakan yang memecah keheningan malam. Pekikan orang-orang makin kuat. Suara yang membuat Putri Mahkota itu bergedik merinding. "Apa... yang terjadi? Kenapa...?" kalimatnya terhenti. Pelayan di depannya hampir menangis. "Istana diserang, Yang Mulia." "Apa?" Aurelia mengerjap kaget, masih tidak percaya. "Iya, para pemberontak sudah membunuh pelayan dan kstaria... di bawah sana ... sekarang anda harus segera kabur dari sini." Kata pelayan dengan panik. Aurelia membalak kaget. Ia mencoba berdiri dengan kaki yang terasa lemas. Ia mengedarkan pandangan, mencoba mendekat ke arah jendela kamar. Aurelia bisa melihat tubuh bersimbah darah dimana-mana di bawah sana. Perempuan berkulit putih bersih itu menggeleng pelan seakan tidak percaya. Kerajaan Valtoria adalah kerajaan yang terkuat di benua. Ksatria dan orang-orang yang bekerja di area istana juga bukan sembarangan. Dan konon katanya kerajaan Valtoria sudah berdiri beribu-ribu tahun lalu, bahkan jauh sebelum kerajaan lain lahir. Di dalam darah keluarga kerajaan mengalir warisan yang telah dijaga turun-temurun selama berabad-abad lamanya. Warisan Jantung Sang Naga Hitam yang membuat banyak orang menghormati mereka. Dan juga menjadi penyebab banyak pihak ingin menghancurkan kerajaan ini. Aurelia hampir memekik kaget saat mendengar suara ledakan keras yang mengguncang bangunan istana. Lampu Kristal di langit-langit berayun hebat. Debu berjatuhan dari ukiran emas yang menghiasi dinding kamar. "Kenapa bisa?" Aurelia masih kehabisan kata-kata. Ia kembali berlari ke arah balkon kamar, napasnya makin tercekat. Api dimana-mana. Sayap timur istana telah dilalap kobaran api. Asap hitam sampai mengepul ke langit malam. Ternyata masih ada ksatria yang tengah bertempur mati-matian. Sebagian telah tumbang, sebagian lain dikepung membuat teriakan memenuhi udara. Suara logam beradu memekakan telinga. "Tidak, apa yang sebenarnya terjadi? Bagimana bisa...," ujarnya dengan mata bergerak tidak tenang, "dimana Ayahanda?" pelayan dan ksatria kompak tidak menjawab. "Dimana Ibunda? Apa mereka sudah aman? Mereka baik-baik saja, kan?" Pelayan itu menunduk, tangannya gemetar hebat. Aurelia menoleh ke arah Ksatria. "Jawab aku, kenapa kalian diam saja?" Pelayan menarik tangan Aurelia sembari menyelimutinya dengan pakaian hangat. Ksatria juga mengekori di belakang. "Saya tidak bisa menjelaskan sekarang, Yang Mulia... kita harus pergi sekarang." Katanya masih menuntun sang putri mahkota. "Tidak, jawab aku sekarang, Anna." Aurelia membentak, ingin mendapat jawaban. Pelayan terdiam sesaat, "Baginda Raja dan Ratu telah tewas, mereka dibunuh... karena itu anda harus segera kabur. Kita tidak ada waktu untuk ini." Aurelia membeku, sorot matanya mendadak kosong. Dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar. Ia tidak memahami apa yang baru saja didengarnya. Ia tertawa miris. "Tidak, tidak mungkin." Gumamnya getir. "Tolong gendong Yang Mulia Putri," ujar pelayan pada kstaria. Pria berbadan tegap itu pun tanpa banyak bicara langsung menggendong Aurelia di punggungnya. Mereka tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Terlebih pemberontak sudah mulai mendekati kamar sang putri. Aurelia tersentak sadar dari shocknya saat semak-belukar melukai pipinya. Ia kaget tahu-tahu sudah berada di area hutan. Ia melihat sekelilingnya bergerak-gerak karena kini tengah digendong oleh salah satu ksatria kerajaan. Putri Mahkota itu sempat menoleh, melihat istana yang sudah diselimuti api. Ia juga mendengar suara derap kuda. Terdengar banyak. Semakin lama semakin jelas. "Turunkan aku!" katanya tegas. Kstaria berhenti dan menurunkannya. "Gawat Yang Mulia, sepertinya mereka tahu kalau kita kabur lewat sini." Kata pelayan tercekat. Jantung Aurelia seakan berhenti berdetak. Ia meremas kedua sisi piyama tidurnya. Di antara pepohonan gelap dan menjulang tinggi, cahaya obor mulai bermunculan. Satu. Dua. Lima. sepuluh. Dan makin lama makin banyak. Suara laki-laki juga berteriak dari kejauhan, menerikan nama Putri Mahkota. "Cari mereka di setiap sudut hutan, jangan sampai ada yang tersisa!" "Tangkap dia hidup-hidup! Dan biarkan yang lain mati!" Aurelia makin menggigil, kakinya tidak punya kekuatan untuk bergerak lagi. Orang-orang itu ternyata datang untuk dirinya. Bukan sekedar membunuh, tapi mereka mencarinya. Kstaria di sampingnya menoleh pelan. Untuk pertama kalinya ia melihat ksatria itu tersenyum tipis, senyum yang nampak getir. Anehnya membuat d**a Aurelia sesak. Ia tahu apa arti senyum itu. "Yang Mulia," "Tidak, ayo kita kabur bersama." Potongnya tegas. "Saya akan menahan mereka," "Tidak, aku bilang tidak," bantah Aurelia dengan keras kepala. "Sumpah saya adalah melindungi keluarga kerajaan, Yang Mulia!" "Kalau begitu ikut denganku," "Tidak!" Pelayan langsung menarik Aurelia dari sana, memaksanya berlari meninggalkan ksatria malang itu. Aurelia sempat menoleh ke belakang, ia bisa melihat obor yang menyala makin mendekat. Orang-orang yang datang mencarinya. Tidak, lebih tepat mencari jantung Naga Hitam yang ada dalam tubuhnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
725.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
961.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
348.4K
bc

Not just, the Beta

read
343.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook