Fatiya membiarkan Huzam beristirahat di ruang tamu. Meski mengerti ini tidak baik untuk dilakukan, diam-diam ia menghubungi ayahnya. Fatiya menyampaikan dalam pesan itu bahwa biarkan Huzam menginap di rumah mereka. “Aku balik dulu, Fat,” ujar Huzam setelah merenung beberapa jam. Ia rasa hatinya sudah cukup tenang. “Pulang? Tidak menginap?” Huzam menggeleng. “Kamu bisa kena marah jika membiarkanku menginap di sini.” Giliran Fatiya yang menggeleng. “Tidak, tidak akan, Zam. Ini sudah sangat larut.” “Lain kali jika ada orang lain, Fat. Maaf aku menganggumu karena buru-buru memutuskan datang tanpa berpikir panjang.” Dalam hati Fatiya kecewa. Ia jelas senang saat ada Huzam di sini. Tapi, apa yang dikatakan Huzam ada benarnya. “Kamu pulang naik apa?” “Ayah kamu yang jemput. Aku sudah meng

