73. Hadiah Pertama

1245 Kata

Fatiya tak terlalu memusingkan ucapan Samuel. Toh seandainya itu benar, peringatan sudah lebih dulu muncul dari ayahnya. Ia memang harus sesiap itu saat bersedia membuka hatinya untuk Huzam. Fatiya berjalan di samping Huzam, ia perhatikan paras pemuda itu dengan terus memikirkan: benarkah? Akankah? “Kamu naik motor nggak?” “Kebetulan hari ini nggak. Tadi aku pakai ojek online.” “Kalau begitu langsung naik motorku saja, ya.” “Kamu bawa motor?” tanya Fatiya memastikan. Huzam mengangguk. “Aku hari ini free.” “Serius?” Refleks Fatiya menoleh ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk langkah antisipasi apabila ternyata ada ayahnya yang mengawasi. “Ayah kamu bahkan tak tau.” “Sungguh?” Huzam melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh Fatiya. Keduanya berjalan santai di paving blok area perpust

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN