Huzam berjalan seperti biasa. Ia tidak terlalu mempeributkan masalah tuxedo yang ia kenakan meski tak nyaman. Suasana hatinya sedang baik. Pertemuan dengan Fatiya siang tadi cukup menjadi charger diri baginya. “Langsung ke taman belakang, Zam,” ucap Maria yang sudah lebih paham tentang rundown acara hari ini. “Kolam?” “Ya. Bapak menghendaki di sana.” Huzam pun mengitarkan pandangan. Ia rasa kediaman Anggoro cukup sepi jika Anggoro mengagendakan sebuah makan malam dengan pertemuan cukup besar. “Privat dan intimated, Zam.” “Maksudnya?” “Biar makan malamnya lebih terasa.” Huzam menggeleng. Ia tak terlalu memikirkannya dan terus berjalan menyusuri ruang-ruang besar di rumah itu. Entah konsep apa yang diusung oleh Anggoro saat membangun singgasananya itu. Semua terkesan begitu luas disa

