Huzam hanya bisa diam. Sungguh pilihan yang sulit ada di depannya kini. Menolak berarti bisa kehilangan kesempatan menemukan Bintang, sedangkan menerima ia harus menikah dengan Jin Ha. “Paman jangan buru-buru. Nanti biar Jin Ha dan Huzam bicara dulu.” “Bicara tentang apa?” “Pernikahan bukan sebuah candaan, Paman. Jin Ha tidak mau mengulangnya. Jadi, Jin Ha lebih memilih pelan-pelan.” “Maksud kamu lebih suka penjajakan dulu?” Jin Ha tersipu malu. Ia mengangguk kecil. Huzam benar-benar kesal. Jin Ha tampak seperti rubah yang licik. Huzam pun memotong hidangan utama dengan sekuat tenaga. “Di mana table manermu, Huzam?” ujar Anggoro. “Maaf, Pak.” Refleks Huzam meletakkan pisaunya. “Silakan dinikmati Jin Ha. Anggap di rumah sendiri.” “Baik, Paman.” Jin Ha pun mulai menyantap hidanga

