Seperti biasa rumah bergaya minimalis itu terlihat sepi. Fatiya yang membukakan gerbang untuk Huzam mempersilakan masuk setelah ia menguncinya lagi. Di kompleks perumahan, keluarganya terkenal paling tertutup. Maka tak heran saat ia lebih memilih mencari aman. “Aku ke dalam dulu. Kamu tunggu sini, Zam.” Huzam mengangguk. Meski pernah menginap, momen kali ini sedikit berbeda. Huzam tidak berani untuk mengabaikan posisi Fatiya sebagai tuan rumah. Fatiya masuk ke kamarnya. Sejenak ia rasai sakit yang ditimbulkan oleh tarikan Samuel. Pria itu tak hanya satu kali mengancamnya. Samuel kerap melakukan hal-hal yang tidak diinginkan Fatiya hanya karena urusan ayahnya. Fatiya memejamkan mata. Kadang, ia menyesal menjadi putri dari seorang yang ... Fatiya menggeleng. Tidak ia tidak boleh terlalu

