61. Parkiran Kampus

1155 Kata

Maria mengamati gerak gerik Huzam pasca mendapat surat tersebut. Ia khawatir Huzam yang notabene adalah remaja bengal, menjadi tidak stabil. Maria tentu harus menanggung banyak kerugian jika itu terjadi. “Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” tanya Maria saat mereka hendak sarapan bersama. Huzam mengangguk kecil. Tidak mungkin ia ceritakan bagaimana ia terpejam. Maria seharusnya bisa melihat dari kantung matanya yang menggelap. “Hari ini kamu boleh bawa motor sendiri,” ujar Maria sambil mengoleskan selai kacang ke atas selembar roti. Huzam terbelalak. “Ya, Pak Arbrito harus menemani Bapak. Tidak sempat mengantar dan menjemputmu kuliah.” Huzam mengangguk. Ini adalah angin segar. Ia bisa memiliki waktu yang lebih banyak dibandingkan saat Arbrito mengawasinya. “Tidak untuk main-main. Mes

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN