Bayang tentang wajah itu tak bisa ditampik Huzam. Begitu sampai di Rubico, Huzam membuka kotak berharganya yang ia sembunyikan dengan baik di dalam lemari. Beruntung, saat memutuskan pergi dari Borobudur ia membawa serta kenangan yang tak seberapa itu. Huzam menghela napas. Ia pandangi tutup kotak itu seraya membukanya. Yang pertama sudah pasti ia akan menyapa foto sang ayah. Sayang, ia tidak memiliki foto sang ibu dan juga Bintang. Andai ada, mungkin ia bisa menyampaikan rindunya dengan memandangi semua foto tersebut. Huzam tersenyum kecil. Masih baik Pak Hamzah memberikannya. Ia masih punya sedikit sisa rasa tentang Borobudur dan kampung halamannya. Huzam meletakkan kembali foto tersebut. Matanya berganti menatap sebuah buku yang di dalamnya terdapat tul

