Huzam kalap menyaksikan kejadian itu di depannya. Bagaimana mungkin Bintang memilih mengakhiri hidup dengan begitu menyakitkan. Ia yang sepenuhnya sadar pun terguncang dan jatuh pingsan. Setelahnya ia tak ingat apa-apa selain terbaring lemah di sebuah kamar hotel nan mewah. “Sebaiknya kita segera bersiap, Zam. Jenazah Bintang sudah diurus orang-orang kita.” Arbrito menyambut kesadaran Huzam dengan pemberitahuan yang tidak diharapkan Huzam tentunya. Huzam berusaha mengumpulkan kesadaran, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening. “Apa kamu bilang? Orang-orang kita?” Arbrito mengangguk. Ia memang sudah mengoordinasikan semuanya. “Kita akan membawanya ke Indonesia dan memakamkannya di Magelang, sesuai perintah Bapak.” Huzam sedikit tersentak. Ia sendiri tak memikirkannya. Ia bahkan

