Baru saja Damian ingin merebahkan tubuh lelahnya, dering ponsel sudah memaki untuk segera diangkat. Damian menghela napas panjang, tatkala melihat nama Leon menghiasi layar, dan malas-malasan menggulir lambang hijau bergoyang-goyang. "Apa?" lesu Damian setelah panggilan tersambung. "Keluarlah, aku sudah di depan." Si penelepon langsung mengejutkan lelaki yang sekali lagi mengurungkan niat duduk. "Ka—kau gila?! Tidak ada yang memintamu datang!" kesal Damian, menekan suara sembari menatap gusar pintu kamar tertutup. "Aduh, dasar sial! Aku sedang berbicara, kenapa dia mematikannya begitu saja?!" umpatnya, ketika tidak mendengar jawaban dan menatap layar sudah tak ada lagi detik panggilan berjalan. Damian melangkah kebingungan, ke kamar atau ke pintu utama. Sampai sesuatu muncul dalam piki

