Sekolah; Perdarahan di Sekolah

1128 Kata
Bima menghela napas panjang sembari meremas ujung rambut bagian depan. Beberapa kali dia membuang muka ke arah lain untuk menghilangkan rasa takut yang menghantui diri sejak Cahya memberitahu kehamilannya. Rasa sesal tiba-tiba saja muncul di benak kepala dan ingin mengulang waktu agar tidak melakukan hal yang sangat bodoh. Semua yang dikatakan Cahya memang benar saat itu, tidak seharusnya Bima merayu dan menggoda Cahya untuk melakukan hubungan di luar nikah. Tapi semua sudah terlambat. Masa depan Bima mungkin akan hancur kalau aibnya terbongkar. Sebisa mungkin Bima harus menyelamatkan masa depan demi menjaga nama baik keluarga juga. Bima tidak mungkin melukai perasaan Ayah dan Ibu yang sudah membesarkannya. Tapi di sisi lain, dia juga sudah merusak dan menghancurkan masa depan seorang anak perempuan milik Ayah dan Ibu. Dia terlalu egois untuk melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. “Ayo kita gugurkan janin itu sebelum semua terlambat.” Bima tidak yakin berkata seperti itu, terdengar dari kalimatnya yang terbata-bata. Begitu mendengar Bima berucap, Cahya mulai naik pitam. Dia mendekati sang kekasih dan menarik kerah pakaian seragamnya agar menempel ke wajah Cahya. “Aku tidak percaya kamu sebangsat ini, Bim!” Bisik Cahya, suara lembutnya yang menjalar ke seluruh tubuh Bima membuatnya bergidik ngeri. “Lebih baik aku mati saja.” “Tapi …” Bima menghentikan kalimat di saat Cahya mendorong tubuhnya ke belakang. “Aku tidak mungkin mengecewakan Bapak dan Ibu. Aku tidak mau ya dikeluarkan dari sekolah.” Bima melanjutkan ucapannya sambil merapikan kerah seragam. “Bagaimana dengan perasaan Papa dan Mamaku?” Teriak Cahya tepat di depan wajah Bima. Suara itu tidak berhasil membuat raut Bima berubah menjadi kasihan. Dia benar-benar tidak peduli akan keadaan Cahya sekarang. Dipikiran Bima, dia hanya peduli akan masa depannya nanti. Dia belum siap menikah muda dan harus bekerja untuk membiayai kebutuhan istri dan anak. Apalagi keluarganya tidak mampu, dipastikan mereka tidak akan membantu Bima sama sekali. “Itu bukan anakku.” Bima menunjuk perut Cahya menggunakan telunjuk tangan, sambil membentak. Membuat Cahya mendelik ketakutan. Air mata terus mengalir dari pelupuknya. Kedua bahu Cahya semakin bergerak naik-turun tiada henti. Begitu kejamnya Bima berani berkata seperti itu pada Cahya, kekasihnya sendiri. Bima benar-benar laki-laki b******k. Dia begitu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan Cahya sama sekali. “Lebih baik kamu menemui siapa Ayah biologis dari janinmu itu.” Bima pergi meninggalkan Cahya begitu saja. Membiarkan gadis yang pernah ia cintai merasakan kesendirian dalam duka. Duka yang ia perbuat. Cahya sendiri tidak diberikan kesempatan untuk berbicara. Cahya pasrah akan keadaan dan tidak akan membiarkan orang lain mencelakai calon anaknya. *** Cahya memasuki ruang kelas sambil mengusap wajah agar tidak terlihat sedang menangis. Namun, kedua kantung matanya terlihat bengkak dan tidak berhasil ia sembunyikan. Teman-teman yang menatapnya hanya melihat dalam diam, membiarkan dia duduk di bangkunya. Kecuali Tania, seorang siswi yang duduk di depan Cahya. Dia begitu penasaran apa yang sedang terjadi pada temannya. “Kamu kenapa, Cay?” Tanya Tania sambil menoleh ke belakang. Sebelah kelopak mata dia kerlingkan seakan menggoda Cahya agar bisa tersenyum lebar. “Habis perang dunia ke berapa sama Ayang Bebeb?” Goda Tania. Cahya yang mendapatkan lemparan gumpalan kertas kecil dari Tania segera menangkis dan kembali mengenai wajah Tania. Hal itu membuat Tania memekik keras karena kaget. “Emang enak!” Seru Cahya sambil terkekeh. “Nah… itu bisa ketawa.” Tania menunjuk wajah Cahya dengan sumringah. “Kamu habis nangis dan kelihatan banget tau!” “Bawel banget deh,” Sahut Cahya. Tangannya sibuk mengeluarkan ponsel dari dalam tas. “Aku mau izin balik kayaknya. Perutku sakit.” “Kamu hamil ya?” Angga yang tiba-tiba muncul diantara Cahya dan Tania langsung meledek. “Wajahmu pucat. Dan aku tadi lihat kamu sama Bima dari gedung belakang sekolah.” Jelas Angga dengan meninggikan suara. Dia tentu saja sengaja melakukan hal itu agar seluruh penjuru warga kelas memfokuskan perhatian ke arahnya. “Eh… jangan fitnah.” Cahya tidak terima akan sikap Angga baru saja. Dia langsung berdiri mendekati Angga. Karena Cahya tidak bisa memarahi dan mencerca Bima, akhirnya dia mendapatkan tempat untuk mengumpat dan membuang kekesalannya dalam sesaat. Dengan gerakan santai, Cahya menarik kerah baju Angga, menaikkan sebelah alis. “Jangan macem-macem kamu ya!” “Loh.. kok marah sih?” Angga tertawa dengan tangan sibuk melepaskan diri dari cengkraman Cahya. “Kalau enggak hamil jangan marah dong. Kok sewot bener, Sist.” Cahya menghela napas panjang. Dia melirik Tania yang sedang memasang wajah ketakutan. “Terus maksud kamu bilang aku hamil apa? Terus kalau orang-orang mikir aku hamil beneran gimana? Jaga omonganmu, paham?” Cahya mendorong tubuh Angga dengan kasar, lalu kembali ke bangkunya. Angga tidak terima akan perlakuan Cahya di hadapan teman-teman. Sedetik kemudian, dia menjambak rambut Cahya hingga dia terpental beberapa sentimeter dari bangku, membuat dia meringis kesakitan. Tanpa sadar dia mengusap perut. “Kamu baik-baik aja, Cay?” Entah sejak kapan Bima muncul dan menjadi pahlawan kesiangan bagi Cahya. Tanpa berpikir panjang, Bima langsung membantu Cahya berdiri dan duduk kembali ke bangku semula. “Kamu baik-baik aja? Kok diem sih?” Cahya menahan napas beberapa detik sambil melihat raut Bima yang penuh dengan rasa khawatir. Padahal dia tidak peduli sebelumnya, namun kini dia menjadi peduli dengan Cahya. “Eh, kok kamu berani sama cewek?” Tanya Bima pada Angga. “Terus kenapa kalau aku berani sama cewek? Kamu enggak terima kalau Cahya aku jambak? Ayo kita duel di luar sekolah?” Bima yang terkenal polos dan pendiam hanya mematung. Sorot matanya berhenti ke seorang gadis di sebelahnya. Gadis itu sedang tertunduk tanpa balas menatapnya. Selain itu, Cahya sedang memegangi perut menggunakan kedua tangan. Teman-teman di kelas terdengar menyoraki Bima karena terlalu penakut. Dia begitu pengecut dan tidak bisa mengambil sikap akan perlakuan Angga pada Cahya, kekasihnya. Bima mengambil napas panjang, masih menatap Cahya tanpa berkedip. Setelah dia mengumpulkan seluruh tenaga, dia memberanikan diri menatap Angga. Angga melebarkan senyuman, merasa tantangan darinya disambut hangat oleh Bima. “Ternyata kamu jantan, Bim!” Teriak Angga begitu bahagia. “Ayo kita keluar sekarang, aku enggak sabar.” “Cukup!” Cahya tiba-tiba saja berdiri dan berjalan ke arah Angga. Hal itu membuat Bima panik setengah mati, dia bisa menebak apa yang akan dilakukan Cahya pada Angga. Dalam hitungan detik, Cahya menendang keras s**********n Angga. “Rasakan ya, b******k! Kamu berani banget menyentuh aku dan ini balasan dari aku!” Cerca Cahya setelah berhasil menjatuhkan lawannya. Tapi dia tidak sadar kalau perutnya sedang keram. Karena sudah tidak tertahankan, Cahya menjerit sambil mengusap perut berulang kali. “Ah… Bim! Perutku sakit!” Bisik Cahya. Wajahnya sudah berhadapan dengan Bima yang semula berdiri di belakangnya. “Tolong Bim!” Bima begitu panik dan berusaha terlihat santai. Tanpa menunggu lama, dia segera menggendong Cahya dan membawanya ke UKS. “Ah… darah Bim! Aku keluar darah.” Bisik Cahya sebelum dia tidak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN