Bima mengepalkan kedua tangan seraya berjalan tak tentu arah di depan toilet. Wajahnya dapat ditebak kalau dia panik akan keadaan Cahya yang dibawa pulang oleh keluarganya beberapa menit lalu. Meskipun Bima tidak mengakui janin di perut Cahya adalah anaknya, dia sangat khawatir mengenai kondisi Cahya yang melemah. Kulitnya yang sudah putih menjadi semakin menakutkan saat kesakitan.
Gerakan Bima dihentikan oleh Azam, teman sebangku. Sentuhan lembut mendarat ke bahu Bima begitu Azam berdiri di belakangnya tanpa menimbulkan suara.
“Eh… Azam!” Seru Bima begitu terkejut melihat keberadaan Azam yang sekarang ada di hadapannya. Beberapa detik lalu, Bima memutar tubuh untuk mengetahui pemilik tangan yang menyangkut di bahunya. “Sejak kapan kamu disini? Kamu mau ngapain?” Tanya Bima penasaran.
“Cahya pasti baik-baik aja kok.” Ucap Azam, menepuk bahu Bima beberapa kali untuk memberikan rasa tenang. “Tapi dia beneran hamil ya?” Bisik Azam, nadanya terdengar nakal dan iseng. Lantas, Bima membulatkan bibir begitu menangkap suara Azam ke pendengarannya.
“Aku udah berpengalaman, lho!” Goda Azam sekali lagi.
“Maksud kamu apa sih?” Bima mulai terganggu dengan keberadaan Azam. Bukannya dia membantu Bima untuk tenang, malah semakin mengacaukan keadaan. “Jangan ganggu aku. Sana pergi jauh!”
“Eh.. Aku beneran tau kalau Cahya hamil. Berani taruhan enggak?” Azam menantang, sambil bibirnya nyengir tanpa rasa bersalah. Bahkan, tidak takut dia menyikut tangan Bima agar dia segera mengiyakan ucapan Azam yang sangat penasaran.
“Emang dia kelihatan hamil? Dia kan Cuma sakit, kasihan tau kalau difitnah.” Bima mendengus kesal, meninggalkan Azam yang masih memperlihatkan wajah jahilnya.
“Aku udah bilang kan, kalau aku udah berpengalaman.” Azam tiba-tiba muncul di depan Bima sambil berjalan mundur, menghadang jalan Bima. “Maksudku, Mamaku hamil yang ke empat kali. Jadi aku tau ciri-ciri wanita hamil itu gimana.”
“Kamu jangan sok tau!” Bima menyingkirkan bahu Azam yang menghalangi jalannya dengan gerakan kasar, hampir membuat Azam terjungkal. Untung saja temannya itu berhasil menyeimbangkan tubuhnya dengan gesit.
***
Sebuah rumah besar di kawasan perumahan mewah tampak sepi tak berpenghuni. Lebih tepatnya, sebuah kamar di ujung sana tidak memiliki penerangan sama sekali. Bima yang berdiri di depan pagar hanya menatap kosong ruang kamar tersebut. Dia ingin sekali masuk ke dalam sana. Meskipun rumah besar yang merupakan tempat tinggal Cahya itu tidak memiliki satpam, beberapa titik CCTV terpasang jelas di setiap sudut.
Bima yang sudah memacari Cahya beberapa tahun tentu saja sangat hafal titik-titik tersebut . Sebenarnya Bima juga tidak ingin masuk menyelinap tapi mengingat sekarang sudah tengah malam, dan Cahya tidak bisa dihubungi sejak siang tadi, membuat Bima ingin sekali menemui pujaan hatinya.
***
Cahya menghembuskan napas panjang, melihat tirai jendela sedikit bergerak padahal tidak ada angin sama sekali. Dia juga tidak menyalakan pendingin ruang dan hanya membuka sedikit kaca jendela. Beberapa detik kemudian, dia menutup mulut dengan membekap saat melihat seorang laki-laki menyelinap ke dalam kamar.
Cahya hanya pasrah dan membiarkan tubuhnya dicabik-cabik kalau laki-laki penyelinap itu ingin membunuh seseorang. Daripada bunuh diri ada baiknya dia dibunuh saja. Cahya mengalami frustasi sejak mengetahui kehamilannya, bahkan tidak mendapatkan pertanggungjawaban dari kekasih. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat bagaimana.
“Cahya?” Seru Bima saat mendekati Cahya. Meskipun ruangan terlihat gelap, Bima dapat melihat keberadaan Cahya dari sela-sela lampu taman yang memantul ke kamar Cahya. “Bagaimana keadaanmu?”
“Bima?” Cahya terkejut melihat Bima berada di dalam kamar. Lalu, gadis itu langsung mendekap tubuh Bima dengan erat tanpa melepasnya sama sekali. “Kenapa kamu jahat sama aku? Kenapa kamu tega ninggalin aku?”
“Kata siapa?” Bima berbalik bertanya sambil berusaha melepas dekapan Cahya. Setelahnya berhasil, Bima memegangi kedua bahu Cahya dengan erat. “Setelah berpikir panjang, aku akan bertanggungjawab dan akan menikahi mu.”
“Hah?” Cahya hampir menjerit namun segera tersadar akan tindakan konyolnya. Dia terlihat begitu bahagia dan memeluk Bima, lagi. “Kenapa kamu berubah pikiran? Kamu bahkan enggak mengakui kalau ini anakmu.” Cahya mengambil tangan Bima, membawanya ke perut Cahya yang masih terlihat datar.
Bima terlihat kaku dan pasrah. Setelah Cahya menempelkan ke perut, Bima cepat-cepat membuang tangannya. Dia masih risih akan hal seperti ini.
“Tapi izinkan aku menyelesaikan belajarku. Aku akan menikahi kamu setelah lulus nanti.”
“Tapi perut ini nanti semakin membesar.” Cahya melemahkan suara. Tentu tidak setuju dengan keputusan sepihak dari Bima yang merugikan hidup Cahya. “Kalaupun aku tidak memberitahu siapa Ayah kandung janin ini, semua orang pasti tau, Bim.”
“Kamu tega melihat aku putus sekolah? Gimana sama keluargaku nanti? Mereka susah payah mencari uang buat sekolahin aku.” Bima sedikit meninggikan suara, membuat Cahya pergi meninggalkannya. “Kamu orang kaya, beda banget sama aku.”
Cahya yang semula akan duduk di sofa yang berada di ujung ruangan, menghentikan langkah. Lalu, dia berbalik menghadap Bima. “Terus?” Tanya Cahya singkat.
“Kamu bisa melakukan apa aja, bahkan membeli ijazah. Sedangkan aku, untuk makan aja susah!”
Cahya menghela napas panjang, memijat kening berulang kali. “Kalau kamu banyak omong, mending pulang aja. Atau aku teriak maling? Pilih mana?”
“Kamu tega melakukan itu?”
“Justru aku yang seharusnya tanya seperti itu, kamu tega melakukan itu ke aku? Caramu jahat banget. Kamu seakan membuat penilaian jelek orang lain tentang aku.”
“Kamu nyuruh aku buat enggak kasih tau siapa yang menghamili aku, kan? Maksud kamu itu, kan?” Tambah Cahya sangat geram dengan Bima.
“Bukan begitu,” Bima menggelengkan kepala.
“Lebih baik kamu tidak usah bertanggungjawab. Dan aku akan membesarkan sendiri anakku, dengan uang Ayah yang kamu bilang banyak itu!” Cahya mendorong tubuh Bima agar keluar dari kamar. “Aku masih bersikap baik sama kamu. Cepat pulang sekarang, jangan banyak nawar ke aku.”
Bima hanya pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Membiarkan tubuhnya didorong Cahya sampai jendela kamar. Perpisahan mereka malam ini begitu menyedihkan.
***
Cahya sudah memutuskan tidak mempedulikan laki-laki sialan bernama Bima lagi. Dia berniat akan menceritakan semua pada Ayah saat kehamilannya sudah mulai terlihat. Sore ini, Cahya memberanikan diri untuk melakukan pengecekan kehamilan di Rumah Sakit Swasta yang berjarak sekitar dua jam dari daerah tempat tinggalnya. Tentu saja untuk menghindari orang-orang yang mengenalinya.
Cahya berangkat seorang diri menggunakan mobil milik Ayah. Jangan pernah mempertanyakan keberadaan Bima. Cahya sudah membuang laki-laki tidak berguna itu ke tempat sampah dan berharap tidak ada orang yang memungutnya.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Cahya berjalan dengan menoleh ke segala arah. Tidak lupa dia menggunakan topi hitam dan masker hitam guna menutupi wajahnya yang tidak brutal. Selesai pendaftaran, Cahya berjalan ke Poli Kandungan seorang diri. Melihat kursi kosong di depan ruang Poli Kandungan, Cahya berniat mendudukkan diri di sana, karena semua kursi terisi penuh. Tapi sialnya, seorang wanita dengan perut yang sudah membesar mengambil alih kursi yang akan diduduki Cahya.
“Ah… sial!” Cahya merutuk dengan suara yang berhasil didengar oleh wanita di depannya.
“Hah… sial?” Wanita itu terkejut. Terkejut bukan karena umpatan yang keluar dari mulut kotor Cahya, melainkan dia mengenali pemilik suara. “Cahya? Kamu Cahya, kan? Kamu kenapa ada di Poli Kandungan?”