Ikatan yang Terhubung

1397 Kata
Hai namaku Namikaze Sisame dan usiaku menginjak 11 tahun aku sudah menjadi Jounin, aku mengikuti kepintaran ayahku aku lulus di akademi di usia muda. Aku tidak sempat menikmati masa kecilku, aku disibukkan dengan berlatih dan terus berlatih, entah kenapa aku ingin menjadi kuat. Aku tinggal dikediaman keluarga Sarutobi atau lebih tepatnya dikediaman kakek hokage, aku tinggal bersama mereka semenjak diriku bayi. Aku sudah menjadi kakak angkat dari konohamaru. Tanpa merubah nama klan ku. Orangtuaku meninggal disaat insiden ngamuknya Kyubi 11 tahun lalu berketepatan hari kelahiran ku. Bagaimana aku tau, ya tentunya mereka tidak menutup cerita tentang siapa aku, dikarenakan aku termasuk anak jenius tentu saja aku tau. Kecuali tentang orang tua ku. Aku hanya diberi tahu bahwa aku anak angkat dari keluarga Sarutobi. Dan aku mempunyai ciri fisik yang cantik dan mengemaskan, aku mempunyai warna rambut kuning panjang dan lurus, iris yang berwarna biru gelap, bulu mata lentik serta senyuman yang manis selalu menghiasi wajahku. Mereka bilang aku sangat mirip dengan ibuku dari warna mata, bentuk wajah serta senyuman ku yang hanya membedakan hanyalah warna rambut, warna rambut ku sama dengan ayahku. Dan perlu kalian tau, ayahku adalah Yondaime hokage atau Namikaze Minato. Aku hanya tau kalau aku hanya anak Hokage saja dan patung yang menghiasi dinding desa, aku tidak tau apapun selain itu bahkan aku hanya tau nama ayahku saja hanya nama Ayahku. Bahkan aku tidak tau nama ibuku mereka seakan bungkam bahkan dinding seakan enggan memberi tahu ku. "Sisame_chan!!!!!" ck menyebalkan, ingin rasanya aku menghilang. Lihatlah sekarang aku jadi pusat perhatian, ini sesuatu yang sangat ku benci, aku benci tatapan warga seakan aku adalah sesuatu yang sangat menyedihkan.Heh sudahlah tak perlu memberiku tatapan kasihan aku tak perlu dikasihani. Dengan malas aku menoleh dan membalik badan melihat kearah orang yang memanggilku tadi. "Ada apa Naruto??" ujarku malas Ya dia adalah Naruto teman yang selalu ada, teman yang selalu memberikan semangat, teman yang selalu memberikan senyuman cerah secerah matahari yang menyinari. Dan lihatlah dengan melihat senyum mentarinya membuat ku juga ikut tersenyum. Inilah yang kusukai darinya, senyuman yang seakan tidak pernah merasakan luka, bukannya aku tidak tau luka apa yang tersembunyi dibalik senyum itu, Luka yang sama dengan ku tapi ia sangat pandai menutupi. "Hei lihat bocah monster itu, dia tidak punya rasa malu ya, berani sekali dia mendekati Sisame-sama." "Ia benar, aku kasihan dengan Sisame-sama selalu diikuti sama pembunuh ayahnya" "Sisame-sama terlalu baik sama monster itu" bisik warga desa. Inilah yang paling ku benci, aku benci tatapan kasihan itu, aku benci kata kata mereka yang menghina Naruto, sakit terasa aku melihat senyumnya memudar, ingin rasanya aku memeluknya dan berteriak bahwa iya bukanlah pembunuh. (Flashback) "Menjauhlah dari tokoku" "Kau monster" "Dasar pembunuh" "Pembunuh sepertimu harus menjauh dari sini" "Kau monster pembunuh" "Dasar rubah monster" Itu adalah kata yang terucap oleh warga desa kepada bocah yang berusia lima tahun. Bocah itu meringkuk menahan sakit karena pukulan dari warga . Cacian, hinaan dan pukulan adalah makanan sehari hari dari bocah bersurai kuning dan ber iris biru langit yang cerah serta tiga garis di kedua pipi seperti kumis kucing. Badan penuh luka dan lebam yang ia dapat setiap harinya. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Yang aku ketahui dari warga desa bahwa karena dialah kedua orangtuaku meninggal. Dulu aku mencoba untuk membencinya karena ia aku kehilangan orang yang sangat aku inginkan keberadaannya tapi entah kenapa aku tidak bisa membencinya bahkan melukainya. Ada sisi lain hariku melarang keras buat aku melakukan itu. Hati dan pikiranku berbanding terbalik, hal yang aku lakukan sangat tidak menurut dengan apa yang aku pikirkan. Dengan langkah tegas aku pergi mendekat ke aranya. Melihat ia terguling meringkuk diatas tanah kedua tangan melingkar melindungi kepalanya dari berbagai pukulan. Darah segar keluar dari sudut bibirnya yang membuat darahku mendidih amarahku bergejolak, aku sangat marah dengan apa yang mereka lakukan padanya. Hatiku sakit meraung tidak terima dengan apa yang mereka lakukan padanya. "BERHENTI SEMUANYA!!!!!" Berbagai tatapan yang aku terima. "APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH!!!!" Dengan takut takut ia mencoba duduk sambil menatap kearahku. "MENJAUHLAH DARINYA" dengan rambut terangkat dan langkah pelan aku berdiri di sampingnya sambil memegang tangannya membantu ia untuk berdiri. Mataku menajam melihat sekelilingku. "Sisame-sama Jangan dekat dekat dengan nya, ia adalah monster rubah yang telah membunuh Yondaime hokage Ayah dari Sisame-sama" ujar salah satu warga kepadaku. "AWAS MENYINGKIR" berbagai tatapan heran para warga menatap kearahku dan tanda tanya besar diwajah mereka tetapi aku acuhkan. dengan erat aku menggenggam telapak tangannya membawanya menjauh dari kerumunan. Serasa cukup jauh dan sepi buat ku, aku berhenti di dekat tepi danau. Aku berbalik menatap kearahnya, memegang pundaknya dan mengarahkan dengan daguku menyuruhnya untuk duduk. Dengan pelan aku juga duduk disampingnya searaya merogoh saku mengambil saputangan yang setiap harinya aku bawa. Dengan hati hati aku membasahkan sedikit ujung saputangan dan mengarahkan kewajahnya. Menatap heran kearahku dan mata berkedip lucu. "Bibirmu terluka dan bersihkan sisa debu di wajahmu" kataku menjawab kebingungan diwajahnya. Sedikit canggung ia menerima saputangan dari ku. "Apakah kau selalu di perlakukan seperti itu??apa kau terluka setiap harinya?" Tanyaku lembut sambil menatap kearahnya serta tangan ku terjulur mengelus rambut kuningnya . Tatapan heran dan terkejut ia tujukan padaku. "Mengapa??" "Apa kau tidak takut padaku?" Tanyanya heran. "Kenapa aku harus takut?" Ujarku sambil mencelupkan kakiku kedalam dinginnya air. *btw sepatu Sisame udah dicopot ya "Aku adalah monster rubah, karena aku telah membunuh ayahmu" lirihnya sambil menunduk. "Aku tidak merasa kalau kau yang membunuh ayahku , kau seumuran dengan ku dan kejadian itu saat kelahiranku bagaimana anak bayi yang seumuran dengan ku membunuh ayah, ayahku hebat tak mungkin kau yang membunuhnya dan kurasa bukan kau. Jadi jangan berkata seperti itu didepanku" jelasku sambil menatap kearah langit. "Maaf"lirihnya "Maukahkau berteman dengan ku?"ujarku menatap kearahnya, wajah terkejut lagi yang ditampilkannya. "Mengapa kau ingin berteman dengan ku, kau adalah putri hokage, bagaimana nanti orang juga akan membencimu karena ku" jawabnya cepat dengan satu tarikan nafas. "Hahh sudahku katakan jangan ucapkan hal yang sepeti itu lagi, bola mata mu unik matamu secerah langit dan warna rambutmu sama denganku. Dan aku baru melihat orang yang berambut kuning , saat melihamu aku merasa seperti bercermin, Jadi mau kah kau berteman denganku??" Jelasku. Entah kenapa aku merasa sedikit mirip dengannya ya walau warna kulitku lebih cerah dibandingkan ia. "Tentu saja, Yoshh kau adalah teman pertamaku Namaku UZUMAKI NARUTO dan aku akan menjadi Hokage dimasa depan dan mereka akan mengakuiku dattebayo" katanya penuh semangat membara serta senyum yang cerah. " Hhum Namaku Namikaze Sisame aku akan jadi kunoichi terkuat" jawabku heboh. Kami sangat cepat akrab karena sifat kami yang ceria dan cepat beradaptasi. Canda tawa dan tingkah konyol membuat kami seakan lupa waktu. Aku ingin selalu berada disampingnya, mendukung nya serta melindungnya. Aku ingin merangkulnya kepelukanku dan berkata "kau tidak sendiri masih ada aku di samping mu" itulah yang ingin aku lakukan. Dia dan aku sama, sama sama tidak memiliki orang tua aku masih beruntung masih ada yang peduli padaku, masih ada yang memperhatikan ku dan memberikan senyuman hangat. Aku tidak tau kenapa seperti ada sesuatu ikatan yang terjalin kuat bagaikan sepasang kaki. Tidak ada pertemuan yang kebetulan... Walau terkadang tak mesti harus terus-terusan berpapasan Layaknya sepasang kaki yang kadang berada diposisi yang berbeda Yang kadang tak mampu saling akrab menyapa, Yang kadang lebih banyak berseberangan dengan alasan keadaan Tapi keberadaan akan kebersamaan mereka adalah Takdir. Aku,kamu sahabat sampai Mati. Mereka berganti mencipta jejak dengan saling percaya,Si kiri percaya ketika kanan berada didepanx maka ia akan aman dibelakangan sana Sama dengan si kanan yg selalu percaya bahwa ketika ia berada dibelakang si kiri tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melindungi dirinya... Mereka saling percaya walau dalam kekikukan dan jarak yang entah kapan akan mendekatkan.. Tapi bukankah sebuah perjalanan tidak ada tercipta jika kedua kaki itu tak pernah paham tentang arti sebuah jarak Bukankah sebuah perjalanan yang berkisah tentang sejarah panjang tidak akan terjadi jika kedua kaki itu selalu memaksakan diri untuk menawar harga dari sebuah kedekatan.. Maka mereka memilih untuk percaya bahwa jarak tidak melulu tentang luka menganga Tapi lebih pada sebuah konsekuensi agar mereka mampu untuk berlari menapaki rentetan-rentetan cerita yang pasti akan berganti Maka mereka memilih menyimpan percaya dalam doa... Doa yang akan selalu memelihara berjuta kata, Kata yang mengerti betul,tentang seperti apa pemaknaan rasa yang sebenarnya.. Lihatlah walaupun kaki itu berjarak dalam menyusun sebuah langkah, berpisah saat berganti merapikan giliran untuk berada didepan ataukah dibelakang.. Tapi bukankah hakikatnya mereka selalu bersama? Tidak lekang,Tak padam karena mereka memang telah dinasibi oleh takdir melalui kata bernama "sepasang" (.........) Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN