Ribut Di Mall

1029 Kata
Hari ini Altha, Seza, Aqila dan Danu sedang ada di mall. Jangan tanya ini berkat siapa, tentu saja ini berkat Aqila sang pemaksa. Padahal Seza sudah menolak mentah-mentah, tapi Aqila tetap saja memaksanya dengan keras kepala. "Seza, kita mau bawa cemilan apa aja ya? kira-kira lo maunya apa?" tanya Aqila bersemangat. Seza mengedikkan bahunya acuh. "Gak tau gue, skip. Urusan gue semuanya Fandra yang ambil alih, lo tanya aja sama dia. Gue gak mau pusing," jawab Seza cuek dan terkesan tak mau tau. "Lahh bisa ya cowok yang diuruh-suruh. Biasa juga yang ngurusin beginian tuh cewek. Apa lo udah berubah jadi cewek, Tha? kenapa gak make rok aja?" tanya Danu sengit. Seza langsung menatap sinis ke arah Danu. Biasanya dia tak ingin ribut dengan Danu. Tapi lama-lama jika dibiarkan Danu semakin menjadi. "Lo bisa diam gak? kebanyakan ngedot oli lo waktu bayi, pantas aja mulutnya lemes plus licin. Uda potong aja tuh harta berharga lo. Lempar, kasi ke bebek, atau anjing-anjing jalanan yang kelaparan. Percuma bentuk lo cowok, kenyataanya lo itu lebih kek cewek, kayak emak-emak komplek yang tukang gosip!" balas Seza ketus. Aqila tersenyum lebar, dia langsung senyum semriwing melihat Seza tak tinggal diam dan langsung melawan. Aqila rindu Seza yang seperti ini. Semenjak masuk kuliah, Seza menjadi orang yang malas ribut, meski dihina juga Seza lebih memilih diam. Padahal dulu waktu SMP dan SMA, Seza paling anti melihat orang-orang di hina, dia akan maju paling depan untuk menghadapinya. Seza juga salah satu wanita yang terkesan galak dan wajib dinotice hati-hati oleh teman-temannya sekolahnya. "Bagus Seza, kalau lo gak suka sama kata-katanya, lawan aja. Emang siapa banget sih dia sampe harus mojokin lo terus. Mana Seza yang dulu selalu ngelawan saat ada yang gak klop di hatinya. Ayo bangkit, lawan virus nyinyir dengan kekuatan penuh!" timpal Aqila memanas-manasi. "Please deh, bisa gak sehari aja gak usah bertengkar? kita uda besar loh. Jangan seperti anak kecil deh, malu-maluin tau gak." Altha mulai melerai Seza dan Danu. "Ini tuh di tempat umum loh. Kalian apa gak malu diliatin orang banyak?" tanya Altha lagi. Altha melirik ke arah Danu. "Danu, please tolong dijaga itu mulut lemes lo, sehari ini aja. Setidaknya kalau gak bisa ya mohon dilakban dulu, mulut lo itu mulut iblis, suka ngundang emosi, jadi lebih baik dimingkemin dulu deh. Dari pada mengundang keributan," ucap Altha sedikit kesal. Dia juga kesal karena Danu selalu memojokkannya Seza. "Apaan? emang gue salah? yang gue bilang kan emang benar. Gue selalu bicara sesuai fakta, no tipu-tipu," Danu membela diri. "Itukan menurut lo!! menurut lo benar, pada dasarnya lo salah!! selalu salah!! lo selalu anggap pendapat lo dam cara pandang lo itu benar, tapi nyatanya? salah besar, njir," timpal Seza kesal dan penuh emosi. "Eh, lo kok jadi nyolot sih? perasaan gue gak segitu nyolotnya. Lo punya dendam pribadi sama gue?" tanya Danu pada Seza. "Ya jelas lah!! manusia mana yang gak ounya dendam pribadi sama lo? secara lo selalu ikut campur urusan orang lain. Gue yakin semua orang juga jijik liat lo!" jawab Seza ketus. "Contoh nyata yang ada di depan mata ya gue. Gue punya dendam kesumat sama lo! jijik banget dah gue sama elo, sumpah dah. Jijik tingkat dewa dewi malahan, level tinggi, setinggi langit ke tujuh," sambung Aqila tiba-tiba. "Aqila, uda deh, jangan semakin nambah-nambahin. Jangan makin manas-manasin. Uda, jangan ribut. Ingat tujuan utama kita ke sini belanja, bukan mau ribut. Kalau mau ribut sama di ring tinju," tegur Altha pada Aqila yang mulai ikut-ikutan dan memperkeruh suasana. "Ini cewek dua mulutnya emang tajam, kayak silet. Ngajak ribut aja taunya," ujar Danu membela diri. "Uda, Danu. Uda stop, jangan dilanjutin lagi. Sama-sama uda besar, jangan kek bocil yang dikit-dikit tengkar. Malu tau," Danu mengedikkan bahunya acuh. "Ck, iya-iya deh iya, yang lagi bucin mah beda. Bela-belain cewenya terus. Gue yang jomblo terhormat diam aja." "Jomblo terhormat gigi mu, jigong mu bau," sambung Aqila cepat. Seza tertawa terbahak-bahak. Aqila ini memang sangat bisa menyela dengan kata-kata lucunya. Danu langsung menatap Aqila tajam. "Apa, lo, jomblo dari janin? gaya bener lo ngeledek gue, dasar jomblo gak laku!" "Yeee ... lo kali yang jomblo gak laku. Jomblo berkarat," Aqila tak terima dengan ucapan Danu. "Heemm hemmm ... uda deh, jangan mulai. Coba aman beberapa jam ini aja, jangan adu mulut terus. Sakit kuping gue dengernya." Altha mulai kembali mengingatkan, dia tak ingin ada kericuhan saat ini. Selain malu, itu juga membuat moodnya rusak. "Yang waras mah ngalah, yang gila malah ketawa," celetuk Danu keceplosan. Seza melotot lebar. "Maksud lo apa, hah? lo bilang gue gila?" tanya Seza menantang. "Sayang-" "Diamm!! temen kamu ini gak ada akhlak! ngapain dia bilang-bilang aku gila!! kalau aku gila berarti kamu lebih gila dong, mau pacaran sama orang gila!" Seza malah memarahi Altha yang mencoba melerai. Altha diam, dia menatap tajam ke arah Danu. "Danu!! lo jangan ngadi-ngadi ya, lo bilang cewe gue gila, lo kali yang gila! gila, gak waras karena kelamaan jomblo! kayaknya lo harus cepat-cepat cari cewek deh, biar gak abnormal hidup lo! gedeg lama-kelamaan gue liat lo! punya mulut itu dijaga!! jangan ngomong sembarangan yang bisa nyakitin hati orang!" kali ini Altha memarahi Danu. Danu menaikkan sebelah alisnya. "Lo marahi gue? lo lebih belain cewe lo?" tanya Danu. "Ya iyalah! gue belain yang benar, kalau gue belain yang salah, mau jadi apa nantinya? emang dasar si elo, punya mulut lemes gak bisa dikontrol, taunya mancing keributan aja." Altha terus memarahi Danu bak memarahi anak kecil. Danu mendengus kesal. "Ah uda lah, skip-skip! malas gue, lanjut jalan aja! percuma ngomong sama b***k cinta. Yang namanya b***k mau gimana pun pasti bakalan nurut sama tuannya!" Danu jalan duluan, meninggalkan Aqila, Altha dan Seza di belakang. "Tuh kan, sinting!" gumam Aqila pelan. "Jangan mulai lagi, Aqila!" tegur Altha tegas. "Ya abisnya itu temen lo, ada gila-gilanya. Uda dia yang salah, eh dia yang ngerasa jadi korban. Aneh kan? abnormal bener. Kebanyakan minum oli kotor sih," Aqila nyerocos panjang lebar. "Yaudah kalau lo yang waras ya lo yang ngalah, diem. Jangan diladenin. Kalau lo ladenin, apa bedanya lo sama dia?" tanya Altha geram. Aqila hanya berdeham pasrah. "Heem ..., udah la ayo lanjut," ucapnya kemudian. Lalu mereka langsung melanjutkan perjalanan untuk mencari kebutuhan yang akan dibawa camping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN