"Sayang, kamu mau cemilan apa? kita di sana butuh banyak energi plus makan loh, soalnya kita banyak kegiatan." Altha melirik cemilan yang berjejer rapih dengan bandrol harga beragam.
"Terserah kamu lah, kan kamu yang ngurusin semuanya. Lagi pula aku gak mau ikut kegiatan apa-apa kok. Aku cuma mau duduk diem aja, palingan juga nyemangatin kamu aja, atau enggak ya minimal doa biar kamu gak tepar," balas Seza seadanya.
"Mana bisa gak ikut, sayang. Peserta wajib ikut loh. Kamu mah aneh, suka ngawur. Hitung-hitung olahraga, sayang, biar ada geram kamunya. Masa kamu diem aja kayak batu," Altha mencoba menyangga kemauan Seza.
"Ah gak mau ah, enak aja ngatur-ngatur. Aku ikut juga karena terpaksa." Seza langsung cemberut.
"Yaudah deh aku pilihin," putus Altha kemudian.
"Ribet banget sih kalian, tinggal ambil aja susah banget," Aqila mendengus, lalu dia langsung pergi mencari kebutuhannya.
Begitu juga dengan Danu, dia pergi mencari cemilan kesukaannya.
"Aku mau nunggu di situ aja, ada tempat duduknya. Capek berdiri." Seza pamit, lalu pergi meninggalkan Altha sendiri.
Altha langsung mengambil troli, dia mulai mengambil s**u kotak berbagai varian, kopi bubuk dan kopi yang sudah siap minum, mengambil buah, kacang-kacangan, cokelat keripik kentang, wafer, mie instan, keripik talas dan berbagai jenis keripik lainnya, serta berbagai cemilan lain yang tentu saja langsung memenuhi troli yang di bawanya.
"Seza pasti butuh shampoo, sikat gigi baru, sabun baru, tisu basah, tisu kering, sunscreen, minyak angin ... eummm ... terus apa lagi ya?" Altha tampak berpikir, yang ia sebutkan tadi sudah masuk ke dalam troli.
"Astaga, sayur mayur, Seza harus beli sayur plus daging buat nanti dimasak di sana. Terus beli beras juga, masa iya makan gak make nasi," Altha langsung berjalan menuju tempat sayur-sayuran, dia mengambil beberapa macam sayur segar, mengambil beberapa daging, lalu setelahnya mengambil satu karung beras.
"Apa lagi ya?" Altha tampak diam, matanya jelalatan ke sana ke mari mencari apa yang dibutuhkan oleh Seza esok hari.
"Antinyamuk, lotion antinyamuk, sereal, roti gandum, roti coklat, dan roti-roti lainnya," ujar Altha pelan. Alta langsung berjalan menuju rak antinyamuk dan lotion antinyamuk. Dia mengambil beberapa, sengaja ambil banyak supaya jika peserta kelupaan membawa, Altha bisa memberinya. Altha juga mengambil beberapa roti kering berbagai rasa, jaga-jaga bila Seza kelaparan tengah malam.
"Kayaknya semuanya uda deh. Sekarang gue bayar dulu aja dah. Nanti kalau ada yang kurang kan bisa ditambahi." Altha berjalan menuju kasir, karena belanjaan Altha banyak, dia menunggu lumayan cukup lama.
"989.000, semuanya, mas," ucap sang kasir ramah.
Altha langsung memberikan kartu kreditnya. Setelah membayar, Altha langsung pergi ke luar menemui Seza. Altha sendiri tidak tau bagaimana caranya membawa belanjaan segini banyaknya.
"Kayaknya gue harus bawa beberapa dulu deh," Altha mengambil beberapa kantong plastik, lalu dia membawanya ke luar menuju Seza.
Saat dalam perjalanan, Altha melihat sudah ada Aqila dan Danu bersama Seza.
"Kalian uda siap? cepat banget sih," ucap Altha sambil kesusahan meletakkan kantong-kantong plastik yang dibawanya.
Danu, Aqila dan Seza langsung melongo melihat bawaan Altha.
"Lo belanja bulanan sekalian, Tha?' tanya Danu penasaran.
"Enggak ah, gue belanja ini khusus untuk Seza. Kalau punya gue mah uda aman mama yang ngurusin," jawab Altha santai.
Danu, Aqila dan Seza langsung terkejut.
"Sebanyak ini untuk aku?" tanya Seza shock.
Altha mengangguk mengiyakan.
"Lahh ... memangnya kita mau camping sebulan makanya sebanyak ini belanjaannya?" tanya Seza.
"Cuma Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu kok," jawab Altha polos.
Seza menepuk jidatnya pelan. "Ya Allah, belanjanya uda kayak mau nyetok sebulanan," gerutu Seza pelan.
"Danu, ayo bantuin gue bawa barang-barang yang lainnya. Masih ada lagi tuh di dalam," ajak Altha.
Danu langsung membelalakkan matanya. "Masih ada lagi? serius?" tanya Danu tak percaya.
"Ya iyalah, masa gue bohong. Buruan ayo," Altha menarik tangan Danu paksa, lalu langsung mengajak Danu untuk mengambil beberapa kantong plastik yang masih ketinggalan.
Setelah kepergian Altha, Aqila langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha ... gila, itu cowo emang gak waras. Liat nih, apa aja yang dibeli dia. Ada tisu basah, tisu kering, minyak angin, shampoo botol besar, astaga! ini mah belanja buat rumah lo kali, bukan buat camping." Aqila tertawa saat melihat isi kantong plastik yang menumpuk di depannya.
"Kalau begini mah gue bisa gak usah bawa apa-apa kali, semuanya uda lengkap di elo. Ngapain gue repot-repot bawa yang lain," ujar Aqila.
Seza menatap Aqila tajam. "Enak aja lo! gue malu bawa segini banyaknya, lah elo? elo malah enak mau numpang ke gue. Males ah, enak di elo gak enak di gue," tolak Seza mentah-mentah.
"Lah itu! itu otaknya kurang cerdas. Padahal kalau punya lo bagi-bagi ke gue, dan gue gak banyak bawa lagi, itu malah menguntungkan elo loh. Kalau ditanya dan diledek teman-teman mau camping kayak mau pindahan, bilang aja ini semua punya gue dan elo, kalau bisa punya Altha dan Danu juga. Biar mereka gak ngeledekin lo lagi. Gimana sih lo? gak cerdas banget." Aqila menjelaskan pada Seza, sebenarnya Aqila memang sengaja supaya dirinya tak lagi repot-repot bawa barang yang banyak, kalau ada Seza kan lebih ringan. Because Seza yang ngurusin semua Altha.
"Iya juga ya. Bener juga apa kata lo. Yaudah kalau gitu, lo gak usah bawa apa-apa. Ini aja kita bagi empat. Gue, elo, Fandra sama Danu. Mana mungkin kan gak cukup." Seza menyetujui ide Aqila.
Aqila tersenyum senang. Akhirnya dari sekian lama Seza pacaran dengan Altha, baru kali ini Aqila dapat untungnya.
"Entar semuanya kita masukkan ke dalam box gede, disusun yang rapih. Biar nanti bawanya cuma box itu doang. Altha kan jadi mudah bawanya, gak repot-repot lagi. Palingan nanti kalau mau bawa ke bus atau bawa ke tenda si Altha sama Danu harus gotongan tuh bawanya. Ya gak apa-apa lah ya kan, mereka kan cowo, ya kali gitu aja gak kuat." Aqila sudah memikirkan box macam apa yang harus dibeli mereka nanti.
"Nahh iya bener juga ide lo," Seza tersenyum, setuju dengan ide cemerlang Aqila.
"Seza!! liat ini cowo lo gila! dia pake beli daging banyak, sayur banyak, buah banyak, ada berasnya sekarung pula. Astaga mimpi apa gue punya temen oon gini Ya Allah. Ini mah belanja buat emak Seza kali, bukan buat camping." Danu menggerutu, sejak tadi dia kesal melihat Altha.
"Tuh kan, apa kata gue. Kalau lo bawa beras karungan besar gitu pasti lo dikata-katain dah sama peserta lainnya," bisik Aqila pelan.
"Uda uda, gue uda punya ide cemerlang. Kalian tunggu sini. Jagain semua belanjaannya. Gue sama Aqila mau pergi bentar, ada yang mau kita beli." Seza berdiri, diikuti dengan Aqila juga.
"Mau beli apa lagi, sayang? ini kan uda lengkap semuanya," tanya Altha bingung.
"Uda deh, kamu diem dulu di sini. Aku sama Aqila pergi bentar." Seza pamit pada Altha.
"Hati-hati, sayang. Kalau ada apa-apa telepon aku," teriak Altha.
Dari jauh Seza hanya mengacungkan jempolnya ke atas saja. Seza dan Aqila langsung berjalan mencari tempat tujuan mereka. Mereka ingin membeli box atau wadah besar untuk tempat semua barang-barang yang dibeli Altha.